Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.14 Kecupan?


__ADS_3

Setelah terjebak macet di jalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Mobil yang mereka kendarai memasuki pekarangan sebuah rumah yang besar nan megah itu, Axel melepas sabuk pengamannya setelah memarkirkan mobilnya. Ia melirik ke sampingnya istrinya masih tertidur pulas, ia mendekat ke arah Bianca tangannya menyentuh pipi istrinya itu dan mengelus lembut pipi itu.


Bianca sedikit terusik dengan sentuhan itu perlahan matanya terbuka alangkah terkejutnya dirinya saat melihat wajah Axel yang sangat dekat dengannya, jantungnya berdebar-debar dan nafasnya sedikit tercekat.


“Kenapa kau terkejut seperti itu? Seperti melihat hantu saja” ucap Axel santai lalu menjauhkan wajahnya dari hadapan Bianca.


Dalam hatinya Axel sangat ingin tertawa melihat wajah terkejut wanita itu, matanya yang membelalak sempurna itu membuat wanita itu terlihat sangat lucu namun ia sebisa mungkin untuk tetap tenang.


“Cepat turun kita sudah sampai” ucap Axel meninggalkan Bianca di dalam mobil dan turun terlebih dulu.


Bianca memegang jantungnya yang berdegup kencang itu, ia keluar dari dalam mobil mengikuti Axel. Ia di buat bingung karena Axel membawanya ke rumah mertuanya, Bianca menoleh ke arah Axel saat hendak bertanya pria itu sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan yang ingin ia tanyakan.


“Mama merindukanmu” ucap Axel saat melihat wajah Bianca yang penuh tanda tanya itu.


Mereka berdua kemudian memasuki rumah mewah itu dan ternyata benar saja kini ibu mertuanya itu sedang menunggu kedatangan mereka di ruang tamu.


“Oh kalian sudah datang, akhirnya” ucap ibu mertuanya bahagia mendekat ke arah mereka lalu memeluk kedua anaknya itu.


“Aku sangat merindukan menantuku ini” ucap nyonya Kevlar


Bianca tersenyum hangat ke arah mertuanya itu “Bianca juga merindukan mama” ucapnya di sambut hangat oleh ibu mertuanya.


“Beruntung sekali aku memiliki menantu sepertimu” ucap nyonya Kevlar mencubit gemas pipi Bianca.


Bianca kembali tersenyum ke arah wanita paruh baya itu “Justru aku yang beruntung karena mama menerima kehadiranku dengan tulus” ucap dalam hati.


Bianca mengedarkan pandangannya saat menyadari jika di antara mereka tidak ada ayah mertuanya “Papa di mana ma?” tanya Bianca.


“Ah papamu, katanya ada yang perlu di urusnya di perusahaan” jelas nyonya Kevlar yang diangguki oleh Bianca mengerti.

__ADS_1


Bianca meletakkan tas dan buku-bukunya di atas sofa, kemudian ia mengikuti ibu mertuanya yang beranjak ke dapur. Sedangkan Axel duduk si sofa dengan tablet yang ada di tangannya sebenarnya ia masih ada pekerjaan di kantor tapi karena ibunya memaksa dirinya untuk membawa Bianca ke rumah maka ia tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan ibunya itu.


Ketika sedang fokus-fokusnya dengan tablet yang ada di tangannya itu Bianca datang menghampirinya membawakan segelas air jeruk dingin.


“Ini minumlah” ucap Bianca


“Terima kasih”


“Kau tidak kembali ke kantor?” tanya Bianca melirik ke arah jam tangan yang melingkar di lengannya.


“Kau mengusirku?” tanya Axel dengan nada yang terdengar kesal


Bianca menggeleng cepat saat ia menyadari bahwa ia sudah membuat Axel kesal dengan pertanyaan yang ia ajukan “Ah tidak-tidak, aku hanya bertanya saja” jelasnya.


“Lalu?” tanya Axel singkat


“Tidak ada, aku akan ke dapur” ucap Bianca beranjak pergi meninggalkan Axel sendiri di sana.


Bianca kembali ke dapur, ibu mertuanya itu mengajarkannya menu baru lebih tepatnya masakan yang disukai Axel. Mereka banyak berbincang bahkan tertawa bersama dan berkat ibu mertuanya itu ia menjadi lebih banyak tahu tentang Axel apa yang disukai dan tidak disukai pria itu.


“Ma” panggil Axel sambil berjalan menuju dapur


“Ya, kenapa sayang?”


“Maafkan aku ma tapi aku harus kembali ke kantor sekarang juga ada urusan mendesak” jelas Axel pada ibunya.


“Sayang sekali, apa kau tidak bisa perginya nanti saja? Padahal istrimu sudah susah payah memasakan masakan kesukaanmu” ucap nyonya Kevlar.


“Tidak bis... Di bekalkan saja ma” ucap Axel bukan tidak ingin mengecewakan Bianca melainkan tidak ingin mengecewakan ibunya.

__ADS_1


Bianca dengan cepat menyiapkan bekal untuk suaminya itu dan memasukkannya ke dalam kotak bekal lalu memberikannya kepada Axel “Maaf kalo tidak seenak buatan mama soalnya ini pertama kali untukku” jelas Bianca.


Axel menganggukkan kepalanya lalu tersenyum ke arah Bianca ia mencoba bersikap seramah mungkin pada Bianca di depan ibunya, Axel memeluk ibunya berpamitan lalu memeluk dan mencium kening Bianca.


Bianca sangat terkejut dengan perlakuan lembut Axel terhadapnya, ia tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya dan jantungnya kini berdegup kencang ia merasa sangat malu di hadapan ibu mertuanya.


“Aku pergi dulu, hari ini kita menginap di sini saja. Aku akan pulang setelah pekerjaanku selesai” ucap Axel tersenyum ke arahnya.


“Jangan menungguku kalo aku pulang larut, tidur saja duluan mengerti?” ucap Axel yang hanya di angguki oleh Bianca rasanya ia tidak sanggup berucap saking berdebarnya karena kecupan yang diberikan Axel tadi.


Bianca mengantarkan Axel hingga ke pintu depan saat pria itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun padanya saat itu ia sadar bahwa pria itu hanya berlaku manis seperti itu saat berada di depan orang tuanya saja saat hanya berdua saja pria itu kembali menunjukkan sifat aslinya Bianca hanya tersenyum getir lalu menghela nafasnya kasar.


Di sisi lain, seorang pria kini tidak dapat menahan bibirnya untuk tidak tersenyum saat mengingat apa yang sudah ia lakukan terhadap wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu. Axel melirik ke samping di sana terlihat kotak makan yang berisi bekal buatan Bianca entah kenapa ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat mengingat wajah merona istrinya itu.


**


Bianca kini berada di ruang keluarga kediaman keluarga Kevlar Bianca terlihat sedang mengerjakan tugasnya sekaligus menunggu Axel pulang, ia sangat ingin beristirahat tapi ia tidak bisa. Ibu mertuanya sudah menyuruhnya untuk tidur duluan saja tapi ia tidak melakukan hal itu dan memilih untuk mengerjakan tugas-tugasnya saja.


Bianca merenggangkan otot-otot lengannya lalu menutup laptopnya, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa dan memutuskan untuk menonton televisi saja. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan kedua mertuanya sudah pasti sedang tidur saat ini dan Axel tak kunjung datang.


Karena sudah hampir tengah malam acara televisi tidak ada yang seru untuk di tonton perlahan kantuk melandanya namun ia mencoba menahannya karena orang yang ia tunggu belum datang hingga akhirnya ia tidak dapat menahan kantuk itu dan terlelap di sofa dengan televisi yang masih menyala.


Tak berselang lama sebuah mobil memasuki pekarangan rumah mewah itu orang yang sedari tadi ditunggu oleh Bianca akhirnya tiba. Setelah memarkirkan mobilnya Axel masuk ke dalam rumah langkah ya terhenti saat melihat televisi yang masih menyala dan ia di buat kaget saat melihat seorang wanita tertidur di atas sofa dengan meringkuk seperti bayi dan Axel juga melirik ke atas meja yang terdapat sebuah laptop dan beberapa lembar kertas serta buku-buku.


“Hah dasar keras kepala” ucap Axel.


Axel mendekat ke arah Bianca lalu berjongkok di hadapan istrinya itu mengamati wajahnya, jemarinya bergerak untuk menyematkan rambut yang menutupi wajah Bianca. Wajahnya terlihat sangat damai jika sedang tertidur, jujur saja Axel sangat menyukai saat melihat wajah Bianca yang sedang tertidur seperti sekarang ini.


Axel kemudian menggendong Bianca ke arah kamarnya yang kemarin sempat mereka tempati bersama. Ketika sampai di kamar tersebut ia membaringkan tubuh istrinya itu lalu menyelimutinya dan Axel kembali menatap wajah polos Bianca.

__ADS_1


Tak lama kemudian terdengar suara helaan nafas kasar yang keluar dari mulutnya, ia berjalan menuju balkon ia membuka dasinya lalu membuka dua kancing atas kemejanya dan menggulung lengan tangan bajunya. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Jujur saja Axel sama sekali tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ada hal yang berbeda yang dapat ia rasakan saat ia bersama Bianca terlebih saat menatap wajah damai Bianca yang sedang tertidur itu. Hal itu membuatnya tidak yakin dengan hatinya, ia benar-benar tidak mengerti apa yang sudah terjadi kepadanya saat ini.


__ADS_2