
Setelah menyusuri jalanan Singapura di senja hari akhirnya mereka pun sampai di rumah orang tua Axel. Bianca berjalan berdampingan dengan Axel yang kini sedang menggenggam erat tangannya, meskipun ini hanya sandiwara tetap saja ada perasaan yang tidak biasa menjalar di hatinya.
“Kalian sudah datang?”
“Kenapa bertanya hal yang sudah pasti” ucap Axel lalu melepas genggaman tangannya pada Bianca.
Nyonya Kevlar tersenyum lalu menepuk lengan anaknya itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah Bianca “Ya ampun, menantuku cantik sekali. Sudah lama sekali rasanya enggak ketemu” ucapnya langsung memeluk menantunya itu.
“Kau baik-baik saja kan nak?” tanya nyonya Kevlar melepas pelukannya.
Bianca tersenyum dan mengangguk malu “Iya ma, tentu saja”
“Syukurlah, ayo kita masuk” ajaknya.
“Apa kau tidak merindukan kami?” suara yang mengalun lembut terdengar dari arah belakang, saat ia berbalik ia di buat kaget dengan kehadiran kedua orang tuanya.
Dengan cepat ia berhambur ke pelukan orang tuanya “Mama, papa aku merindukan kalian, sangat” ucap Bianca.
Bianca melepas pelukannya dan Axel menyalami kedua mertuanya itu, Bianca menggandeng lengan ibunya dan berjalan masuk ke dalam rumah mertuanya.
“Sepertinya benar-benar ada acara penting di sini” ucap Bianca pada ibunya yang di dengar oleh mertuanya.
Nyonya Kevlar berbalik badan menatap bingung Bianca “Kau datang kemari tanpa tahu untuk apa?” tanyanya.
Bianca hanya tersenyum canggung “Apa suamimu tidak mengatakannya? Ah apa ini kejutan?” tanya nyonya Kevlar menatap Bianca dan Axel secara bergantian.
Axel hanya diam tidak mengatakan apa pun dan Bianca hanya menatap bingung mertuanya, ia tidak tahu apa yang terjadi di sini dan entah kenapa ini terasa canggung untuknya hanya dia yang tidak mengetahui acara malam ini.
Nyonya Kevlar menepuk pundak Axel sedikit keras “Seharusnya kau katakan jika ini kejutan. Hah, ini jadi gagal karenamu” ucapnya mengomeli anaknya.
“Aku dan ibumu membuat pesta kecil-kecilan untukmu” ucap nyonya Kevlar pada Bianca
“Untukku?”
“Ya, untukmu” ucap mertuanya lalu menghela nafasnya “Seharusnya ini kejutan tapi karena pria kaku ini menggagalkannya jadi ya begini” keluhnya
“Apa pun itu, selamat atas sidangmu sayang” ucap nyonya Kevlar bahagia begitu pula dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bianca sedikit kaget dan tersenyum haru, ia melirik ke arah Axel sekilas ternyata suaminya itu tidak sejahat itu “Terima kasih” ucapnya.
Nyonya Kevlar tersenyum lalu menggandeng lengan Bianca dan membawanya ke ruang tamu “Kau tau sayang dia dengan gembiranya memberitahuku tentang sidangmu dan memintaku untuk menyiapkan ini semua untukmu”
Nyonya Kevlar terlihat sangat senang menggoda anaknya “Tapi dia malah mengacaukan semuanya”
Bianca hanya diam, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ia dapat melihat Axel yang sedang tersenyum palsu, dan kedua orang tuanya dan mertuanya yang tersenyum penuh kebahagiaan, entah kenapa itu terasa aneh untuknya karena ia tahu semua ini hanya sandiwara yang di buat oleh suaminya.
Mereka semua akhirnya memutuskan untuk makan malam bersama-sama di kediaman keluarga Kevlar, setelah makan-makan mereka pun berbincang ria bersama. Bianca dan Axel menginap di rumah itu tapi tidak dengan kedua orang tua Bianca, mereka pulang lebih awal karena takut kemalaman di jalan.
Axel sudah berada di dalam kamar, ia naik ke atas terlebih dahulu setelah mertuanya pergi pulang. Bianca menyusul Axel ke kamar yang di tempatinya bersama, saat ia menutup pintu kamar itu terdengar suara guyuran air dari arah kamar mandi pria itu sedang membersihkan tubuhnya, ia melirik ke arah kamar mandi sekilas lalu melangkahkan kakinya menuju balkon.
Bianca melihat langit yang gelap saat ini tidak ada bintang dan bulan di sana, hari mendung cuacanya pun terasa lebih dingin. Hingga gerimis perlahan satu per satu mengenai wajahnya, ia menatap kosong jauh ke depan berdoa agar orang tuanya baik-baik saja di jalan.
Bianca tersenyum, ia mengulurkan telapak tangannya merasakan air hujan yang perlahan mengenainya itu. Mungkin terdengar aneh namun hatinya terasa sedikit lega saat hujan turun, ia menghela nafasnya lalu tersenyum kembali rasanya beban yang ada dalam dirinya sedang bersatu dengan hujan malam ini.
“Masuk, kau akan sakit”
Suara itu mengejutkannya Bianca sedikit tersentak, ia memalingkan kepalanya menatap Axel yang tengah bersandar di pintu balkon dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.
“Apa yang kau lakukan di situ? Masuklah, udaranya sangat dingin” ucap Axel lagi.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Bianca tiba-tiba
“Apa?”
“Kenapa kau melakukannya? Aku bisa memberitahu mereka sendiri” ucap Bianca tiba-tiba mempermasalahkan tentang Axel yang memberitahukan tentang sidangnya dan bahkan membuat acara seperti tadi.
“Aku hanya melakukan hal yang menurutku perlu kulakukan”
“Kau tidak perlu repot-repot melakukannya”
Axel menatap heran Bianca yang sedang duduk di tepi ranjang “Kau tidak suka?” tanyanya.
“Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu?” ucap Bianca membuat Axel menatapnya bingung.
“Bukankah kau tidak menyukai semua ini? Aku ini beban untukmu lalu kenapa kau menyusahkan diri dengan melakukan hal seperti ini?” tanya Bianca lagi.
__ADS_1
Bianca sebenarnya tidak mempermasalahkan Axel yang memberitahukan semua ini kepada keluarga mereka, ia menyukainya bohong jika tidak. Tapi ia tidak suka dengan kenyataan bahwa hatinya yang dibuat terombang-ambing hanya karena satu hal yang dilakukan pria itu karena menurutnya harus.
“Bukankah itu bisa dikatakan kewajibanku sebagai seorang suami, bukankah semuanya baik-baik saja? Lalu apa yang kau permasalahkan” ucap Axel menjawab santai pertanyaan Bianca.
“Cukup, hentikan omong kosongmu itu. Sejak kapan kau memperdulikan hal seperti itu? Aku tidak menyukai itu, kau selalu mempermainkan perasaanku kau yang membuatku berharap padamu” ucap Bianca menangis, ia mengatakannya.
“Buanglah perasaanmu itu” ucap Axel datar.
“Kalau itu mudah pasti sudahku lakukan”
Axel memutar bola matanya malas “Lalu apa masalahmu sekarang?”
Bianca diam, ia meremas kuat bajunya. Ia menunduk dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya, ia sama sekali tidak menyangka jika itu respons yang ia dapat setelah mengatakan perasaannya.
“Pernikahan ini seharusnya tidak pernah terjadi” ucap Bianca terisak.
“Ya, kau benar”
“Lalu kenapa kau menyetujuinya kau bisa saja menolakku. Aku memang salah di sini tapi kau juga bersalah, jika kau menolaknya makan semua ini tidak pernah terjadi” ucap Bianca frustasi.
Matanya menatap Axel terluka, hatinya seperti di remas begitu kuat. Ini sangat mencekiknya bahkan hampir saja membunuhnya.
“Bukankah kau lebih mengerti situasinya? Aku tidak bisa melakukannya hanya karena aku ingin”
“Kenapa? Kenapa kau tidak bisa jika kau menolak ini semua tidak terjadi” ucap Bianca tangisannya semakin kencang.
Axel menatap tajam Bianca lalu menghela nafasnya kasar dan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dan berbaring di atasnya dengan tangan sebagai bantalannya.
“Bukan hanya kau saja yang menderita nona, aku juga menderita asal kau tau saja. Hanya karena perjodohan konyol itu aku harus terikat dengan wanita yang tidak kucintai” ucapnya
Axel kembali melanjutkan perkataannya “Jangan terlalu berlebihan, jangan berpikir bahwa kau yang paling tersakiti di sini” Axel menghela nafasnya kembali “Lagi pula aku sudah terlalu sempurna menjadi suamimu, aku sudah memenuhi semua kebutuhanmu. Ah apa itu kurang? Aku akan memberimu uang bulanan mulai sekarang”
Bianca hanya bisa meratapi nasibnya kenapa ia harus mendengar semua itu, bukankah ini saatnya untuk dirinya mengungkapkan semuanya “Kau salah, kau sama sekali tidak sempurna kau sudah gagal menjadi seorang suami. Seorang suami bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan istrinya” ucap Bianca tertahankan dalam hatinya.
“Ini sudah larut, kau tidurlah. Jangan meributkan hal bodoh seperti ini lagi” ucap Axel lalu mengatur posisi baringnya untuk segera tidur.
Bianca memejamkan erat matanya, baru saja pria itu mengatakan bahwa pernikahan yang sedang mereka jalani ini hal yang bodoh. Jika memang pria itu segitu tersiksanya dengan pernikahan ini kenapa tidak menceraikannya saja? Kenapa harus memberinya waktu selama setahun.
__ADS_1
Dan jika perceraian itu di lakukan sekarang maka pria itu tidak akan merasa tersakiti lagi dan Bianca tidak akan menderita lagi, tidak harus merasakan sakit hati yang teramat sangat lagi, tidak ada sandiwara lagi, dan ia tidak harus lagi berpura-pura bahagia untuk menipu keluarganya.
Ini sangat kejam. Bianca menghapus kasar air matanya saat itu ia tersadar bahwa selama ini ternyata ia bukan wanita kuat tapi ia hanya seorang wanita lemah dan secengeng ini.