Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Nasib Si Bujang Lapuk


__ADS_3

Kei yang sedang melakukan virtual meeting dengan para kolega bisnis Noghoghi Holding menghentikan rapat sejenak setelah Andrian sang asisten menyampaikan bahwa nenek Syarifah sedang berada di line telepon.


Kei menyambut gagang telelon yang diberikan Andrian setelah menghela nafas untuk mengatur tone suaranya.


"Pagi, Nek."


"Pagi! Pagi! Assalamualaikum! Orang tua-tua Aku dari dulu selalu tunjuk ajar, kalau berjumpa tu ucap salam, bukan ucap pagi siang malam! Kau nih macam anak tak dapat tunjuk ajar!"


Kei menggelengkan kepala. Beberapa kali ia menghela nafas panjang.


Hajjah Syarifah binti Haji Ismail. Nenek yang kalau berbicara dengannya selalu dengan suara melengking. Ngegas, kalau kata anak Jakarta!


Tapi hanya dengan sang nenek inilah Kei tidak pernah bisa marah.


Ia selau mati langkah jika berhadapan dengan neneknya. Ia seperti tidak tahu caranya marah.


"Hei, kenapa diam je ...! Kau masih di situ, tak? Tak jawab salam, tak jawab cakap ...!"


"Iya, nenek. Wa'alaikumussalam. Kei masih stay kat sini. Nenek cam mana kabar? Janganlah marah-marah, nanti cepat tua ... Masih pagi, nih ..." Kei lebih menurunkan lagi tone suaranya.


"Nanti cepat tua? Hei, budak kecik! Aku nih dah tua sangat. Hampir delapan puluh dah umur aku! Kau nak aku lebih tua macam mana lagi, hah?!"


"Ampun!" Kei menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Andrian yang sedari tadi berada di ruang kerja Kei, terbahak tak bersuara.


Kei yang menahan kesalnya, melempar Andrian dengan sebuah notebook kecil di atas meja kerjanya.


Andrian lebih duluan membungkukkan tubuh jangkungnya, sehingga benda tersebut hanya mengenai udara.


"Iya, Nenek. Kei minta maaf, ya? Tapi Kei juga bukan budak kecik lagi. Dah besar lah nih cucu, Nenek. Dah bisa buat budak kecikpun." Kei tertawa sendiri dengan kalimat terakhirnya.


"Hei, budak kecik! Berani kau cakap macam tu kat Nenek?! Tak sopan, tau!"


Aduh! Salah lagi gue! Kei kembali menggaruk, kali ini tengkuknya.


"Okay ... okay, nenek sayang. Double sorry, ye ... Mohon maafkan Kei si budak kecik, nih ..."


Kei tersenyum sendiri. Berkali ia menggelengkan kepala. Sudah berlalu lima belas menit, tapi belum ada main point dari pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Baiklah, nenek tersayang ... Nenek nelpon Kei pagi-pagi nih pasti kerana rindu sangat kat budak kecik handsome nih, kan?"


"Handsome ... Ishh, Mamat narsis!"


"Narsis? Sejak kapan kosakata anak Jakarta nyangkut di kepala nenek?"


"Aku nih call kamu tuh nak mintak tolong lah, nih?"


"Minta tolong? *Okay, what can I di for you*, Nenek?"


"Ah, tak perlu lah cakap-cakap macam orang kulit pucat, tuh!"


"Okay ... eh, iya nek?" Kei menepuk mulutnya beberapa kali.


"Nenek nak kamu hantarkan nenek ikan bilis akhir pekan, nih. Yang banyak sikit, ye ..."


"Hah? Ikan bilis? Oh, s-hiitt!"


Kenapa harus ikan bilis? Benda itu mengingatkannya pada kejadian tiga hari yang lalu saat mereka hunting ikan bilis di beberapa mall di Jakarta.


Entahlah ia juga tidak tahu kenapa ingin sekali makan ikan tersebut. Padahal ia tahu pasti, agak sulit mendapatkan ikan jenis tersebut.


Ia ingat saat masih kecil dulu ia, Ken dan kak Ifah bisa sering makan ikan bilis karena selalu dikasih oleh Ayah Zain dan Bunda Dijah yang mendapat kiriman dari keluarga mereka di Batusangkar, Sumatera Barat sana.


Bagaimana tidak kesal? Analogi Naya yang sengaja mengalah dengan salah seorang ARTnya karena merasa ia tidak terlalu membutuhkan ikan bilis itu entah kenapa membuatnya begitu ingin marah.


Entah kenapa ia merasa tersindir dengan perumpamaan tersebut. Ia merasa Naya seakan ingin mengatakan bahwa gadis itu tidak membutuhkan seorang Kei Hasan.


Bahkan dengan tenangnya Naya mengatakan kalau ia masih bisa mendapatkan gantinya di tempat lain.


Mendapatkan gantinya di tempat lain ... S-hiitt! Kiasan apa itu?! Bullsh-hiitt!


Ingin mengganti Kei dengan seorang yang lain?! Jangan mimpi! Seorang Kei Hasan tidak akan pernah melepaskan miliknya kepada orang lain!


"Hei, budak kecik. Kenapa diam lagi? Kau masih kat situ, tak?!"


Teriakan nenek Syarifah mengagetkan Kei. Telinganya berdenging beberapa saat. Kei langsung menjauhkan gagang telepon.


"Iya, nek. Kai dengar, lah nih ... Baik , Kei akan minta Putra untuk mengantarkan ikan bilis tu ke tempat nenek. Best, tak?"

__ADS_1


"Tak! Aku mahu, kamu yang hantarkan ikan tu. Bukan si Putra! Kalau budak tu, Aku dah jumpa dia hari-hari, pun!"


"Ha ... Ha ... Ha ... Kenapa tak cakap je dari tadi? Kei, my handsome grandson ... I miss you so much ... Please come and visit me, soon. Ha ... Ha ... Ha ..."


Kei tertawa terbahak-bahak. Ia lupa dengan kekesalannya beberapa hari ini.


Andrian yang mendengar tertawa Kei, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu, tak banyak yang bisa membuat tersenyum apalagi tertawa seorang Kei Hasan.


Andrian yang masih sepupu jauh Kei, telah membersamainya selama bertahun-tahun. Ia yang tahu bagaimana pasang surut kehidupan putra kedua dari Tan Sri Abdul Hamid tersebut.


Kei Hasan, seorang yang keras dalam prinsip hidup. Bila ia telah merasa diabaikan, pantang baginya untuk menghamba, meminta-minta, bahkan kepada kedua orang tuanya sekalipun!


Dan itulah yang terjadi dalam tahun-tahun kelam kehidupan Kei.


Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah, menganggap Kei sebagai anak durhaka, tak tahu balas jasa. Hanya membuat malu keluarga. Sedangkan bagi seorang Kei Hasan, kedua orang tuanya ibarat timbangan rusak, berat sebelah.


Namun Andrian meyakini bahwa yang terjadi hanyalah miss communication yang menyebabkan miss understanding diantara anak dan orang tua tersebut.


Bukan tak menasehati, Andrian sudah beberapa kali berusaha meyakinkan Kei untuk mau "kembali" kepada keluarga besarnya. Namun jawabannya hanyalah tatapan membunuh Kei untuknya tanpa kata.


"Iya, baik Nek. Kei akan hantarkan ikan bilis tu untuk Nenek ujung pekan, nih. Sabar ya ... Ada yang lain, tak?"


Andrian tersadar dari kembaraan pikirannya saat mendengar kembali suara Kei yang masih berbicara dengan nenek Syarifah.


"Tak! Eh, ya ... Tolong sampaikan ke bujang lapuk depan kamu tuh, kapanlah nak meminang anak gadis orang. Jangan besibuk dengan kerja ... kerja ... je!"


Kei kembali terbahak mendengar kalimat neneknya. Ia yang memang sengaja mengaktifkan speaker telepon dari tadi melirik ke arah Andrian yang juga sedang menatapnya.


Asisten jangkungnya tersebut gantian menatap Kei tajam, seraya memutar bola matanya. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin nenek Syarifah tahu kalau ia sedang berada di depan Kei sekarang.


"Dah, Nek. Dah didengar si bujang lapuk, pun. Ha ... ha ... ha...!"


Andrian langsung meraih notebook yang tadi berhasil dielakkannya dari lemparan Kei.


Namun niatnya untuk melempar Kei dengan notebook tersebut tidak kesampaian karena Kei yang duluan melemparnya kembali dengan sebuah pena.


Dan kali ini, Andrian tidak sempat menghindar. Pena tersebut tepat mengenai keningnya. Sambil meringis ia berbalik meninggalkan Kei dengan menutup keras pintu ruangan tersebut.


Braakk!!!

__ADS_1


...***...


To be continued


__ADS_2