Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Be a True Man!


__ADS_3

Kei PoV


Aku tidak tahu bagaimana ponselku yang awalnya kutaruh di dashboard, tiba-tiba sudah berada di dalam genggaman Naya.


"Ingin hidupnya simple, practical and happy, kan? Jom, bicara dengan Mama", katanya sambil mengarahkan ponsel di genggamannya kepadaku.


Tidak sempat mencerna apa maksud perkataannya, aku hanya diam saja saat benda persegi empat itu sudah menempel di telinggaku.


Aku terkejut saat telingaku mendengar suara seorang perempuan di line panggilan.


"Hallo, Hallo Nay... Naya sayang ... Kamu masih kat sana, kan?"


Suara yang lembut bersahaja. Suara yang sudah begitu lama tidak lagi menyapaku dengan nada seperti itu.


Berpuluh purnama berlalu, dan baru hari ini takdir memberiku kesempatan untuk bisa lagi mendengar suaranya yang lembut dan bersahaja, karena biasanya dia akan berteriak dengan ekspresi marah atau malah dingin saat berbicara kepadaku.


Hilang sudah semua gundah dan gulana yang menghimpit jiwa, meskipun aku tahu pasti suara dengan nada lembut itu bukan ditujukan untukku namun untuk menantu kesayangannya yang sedang duduk di sampingku.


Sesaat aku terdiam tak mampu bersuara. Suaraku seperti tercekat di kerongkongan. Tiba-tiba canggung mengungkungku.


Lama tak menyapanya dalam ramah dan tamah, aku kehilangan perbendaharaan kata. Diam dengan hanya mendengarkannya, aku berusaha merangkai kata demi kata.


Berkali dia masih memanggil Naya. Terdengar jelas kekhawatiran dalam nada dan kata yang diucapkannya.


"Ehemm... Ini Kei, Mama," ucapku pada akhirnya, setelah berhasil mengatasi kecanggungan.


Tak terdengar respon dari seberang sana. Satu detik ... Dua detik ... Sepuluh detik ... Berlalu tanpa suara dari perempuan yang tetap kupanggil Mama, meski kadang hanya di dalam hati.


"Naya okay je. Menantu kesayangan Mama ada kat samping Key. Sedang duduk manis dia", lanjut ku setelah beberapa saat masih juga belum kudengar suaranya meresponku.

__ADS_1


Kalimat terakhirku itu langsung bersambut dengan cubitan kecil di lenganku. Namun aku mengabaikan saja rasa perih akibat cubitan Naya, aku memilih mengenggam tangannya, erat. Berharap untuk bisa berbagi gundah.


Rangkaian peristiwa demi peristiwa yang terjadi beberapa hari kebelakang dan hari ini, sedikit banyak agak mengguncangku. Bohong bila kukatakan, everything is okay, nothing to be worried ... No! Absolutely not!


Aku melakukan tindakan manipulatif dengan berusaha untuk tampil sebagai lelaki kuat bagi gadis di sebelahku. Aku tidak mau membuatnya risau. Aku tahu pasti, incident penculikan itu masih berbuah traumatis baginya. Dan aku tidak mau semakin membebani pikirannya.


Beberapa saat berlalu. Aku masih menunggu respon dari seberang sana yang masih saja tetap diam.


"Mama, my longing for you is great!"


Aku tidak tahu proses pembentukan kalimat itu di otakku. Atau di otak bagian mana tadi kalimat itu tercipta. Yang aku tahu kalimat itu sudah meluncur dari lisanku.


Masih belum ada suara dari seberang sana. Aku menunggu, dan sepertinya masih akan menunggu dalam beberapa waktu ke depan.


Entah menunggu dalam hitungan hari, bulan atau malah tahun? Sepertinya episode demi episode akan tetap berlanjut, sedikit lebih lambat. Jadi, yah ... Bersabar saja!


Mhhem ... Sepertinya ini memang ini hukuman buatku. Bertahun aku mengambil peran antagonis dalam hidupnya. Membuatnya malu dengan segala perangai burukku.


Belum pernah kulihat ia mengambil jalan yang bersimpangan dengan mereka berdua. Meski cuma sekali.


Aku? Sekali lagi, aku adalah kebalikan dari seorang Ken Husain.


Bukannya menjadikan Mama dan Papa bangga dengan beragam prestasi seperti Ken, aku malah sengaja menjatuhkan marwah keluarga dalam hampir semua gerak langkahku, dulu.


Ah sudahlah aku saja malu dan enggan mengingat semuanya, apalagi Mama? Seorang perempuan yang menjunjung tinggi sebuah nama baik dan prestise keluarga!


Bila kukilas balik semuanya, aku memang layak mendapatkan hukuman dari Papa, apalagi Mama.


Selama ini aku selalu menolak dikatakan Sitanggang atau Malin Kundang. Namun hari ini sepertinya aku harus mengakui, aku mungkin gambaran dari keduanya.

__ADS_1


Bukan hanya telah melewati jalan yang berbeda dari Mama dan Papa, aku malah dengan sengaja, berani mengambil sisi yang selalu bertentangan, selalu bertolak belakang dengan mereka berdua.


Lalu dengan tidak tahu malunya, aku malah berharap banyak hari ini? Setelah semua apa yang aku lakukan selama bertahun-tahun? Bodoh! Betapa naifnya seorang Kei Hasan, the Black Eagle of Malaya!


Tapi, apa salah aku berharap lebih? Aku tetap saja seorang anak, kan? Seorang anak yang senantiasa merindu dan mendamba sosok Mama.


Mama yang selau membela meski kadang anaknya salah.


Sshhiittt! Sial! Bodoh! Kenapa hari ini aku seperti anak gadis yang sedang mengalami PMS, premenstrual syndrome?


The Black Eagle of Malaya mengalami mood swing, anxious dan feeling upset seperti ini? An embarassing one!


Tapi bro, ini bukan dunia halu seperti di film, drakor ataupun novel-novel online itu! Your life is real! This is a reality!


Sekali lagi, hidup elu bukan novel online yang tokoh utamanya selalu perfect tanpa cela, strong tak pernah lemah. Bukan bro! Elu asli lelaki biasa!


Elu mo nangis, boleh! Mo teriak meluapkan rasa, sah-sah aja! Mo jungkir balik, juga tak masalah!


Tapi ingat bro! Lelaki sejati tidak menangis dengan kata-kata, apalagi air mata!


Maka, come on, bro ... Tegakan kepala! Bila kau pernah dengan gagah menabur angin, maka hari ini bersiaplah menuai badai dengan perwira!


You are a man! A true man!


..._________*****_________...


To be continued


Alhamdulillah, akhirnya up juga hari ini meskipun telat lagi... Terimakasih tak terhinga buat teman-teman yang sudah mengirimkan doa dan masih setia, mau menunggu hadirnya KeiNaya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan commentnya, ya biar aku tambah semangat up nya.


__ADS_2