
Rolls-Royce Ghost metalic itu melaju menyusuri jalanan kota Seremban yang cerah berawan.
Tan Sri Abdul Hamid yang langsung mengendarai sendiri mobil keluaran Britania Raya tersebut. Di sebelahnya sang istri, Puan Sri Latifah nampak duduk dengan angun.
Sesekali Puan Sri mendekat kepada sang suami sambil matanya melirik ke kursi belakang melalui rear-vision mirror.
Di kursi belakang terlihat Naya dan sang nenek mertua, Nenek Syarifah duduk berdampingan.
Naya lebih banyak diam. Ia hanya berbicara sesekali saat menjawab pertanyaan yang memang ditujukan kepadanya, atau ikut tertawa kecil menimpali kelakaran yang dikeluarkan oleh Nek Sya.
Entahlah. Sungguh banyak saat ini hal yang terasa memenuhi isi kepala dan menganggu pikirannya.
Mulai dari pertengkaran Kei dengan orang tuanya tadi malam, yang diakhiri dengan kepergian Kei dalam keadaan marah, hingga penampakan sesosok bayang di dekat jendela rumahnya tadi pagi.
Sejak kedatangannya kemaren siang, Naya sebenarnya sudah sangat ingin mengunjungi rumahnya. Namun karena mama dan nenek mertuanya masih menahannya tetap stay dulu dirumah mereka, menjadikan Naya sungkan untuk menolak permintaan kedua orang perempuan yang sangat dihormatinya itu.
Bagaimanapun bagi Naya, Puan Sri Latifah bukan hanya sekedar seorang ibu mertua namun sudah dianggapnya seperti ibu sendiri.
Ikatan hati mereka telah dimulai jauh sebelum pertunangan Naya dengan Ken Husein, putra ketiga Puan Sri ataupun pernikahannya dengan Kei Hasan, sang putra kedua.
Namun ikatan hati mereka telah tertaut semenjak Naya kecil. Pertemanan Ayah Bunda Naya dengan Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah membawa hubungan mereka menjadi bertambah dekat. Bahkan sebelum Naya lahirpun, kedua keluarga ini telah bersepakat untuk mempertemukan putra putri mereka kelak dalam ikatan perkawinan.
Itulah sebabnya ketika pertunangan Naya dan Ken terputus akibat meninggalnya Ken dalam kecelakaan tragis yang juga merenggut nyawa kedua orang tua Naya, Tan Sri dan Puan Sri tetap bertekat untuk melanjutkan kesepakatan yang telah dibuat berpuluh tahun sebelumnya.
Tan Sri dan Puan Sri meminta Kei melanjutkan kesepakatan dua keluarga tersebut. Bahkan Nenek Syarifah yang turun langsung membujuk Kei.
Namun mereka tidak menyangka, kesediaan Kei untuk melanjutkan kesepakatan dua keluarga dengan menikahi Naya adalah awal dari petaka berikutnya.
Puan Sri baru menyadari 'permainan sandiwara' Kei saat secara tidak sengaja mendengar perkapan telepon putra keduanya itu dengan seseorang yang diyakini Puan Sri sebagai kekasih Kei, tepat dua hari setelah majelis perkahwinan Kei dan Naya
"Don't be so worry, babe. It's just a play!" Don't over thinking, okay?
"Love? Of course not. No love at all!
I just wanna see, what can they do when I play a little game to a lovely girl of their beloved son!"
This marriage will be a sweet hell for her!"
__ADS_1
"Hurt this girl will hurt them deeply. Absolutely!
"I swear, I will make a little sweet hell for their little girl!"
"Ha ... ha ...ha...!"
Puan Sri memejamkan matanya. Kemudian terdengar hembusan nafasnya kasar.
Maafkan Mama, Nay. Mama telah menyeretmu ikut dalam pusaran konflik ini. Entah di mana ujungnya Mama masih belum tahu, nak. Tapi Mama janji satu hal, Mama akan segera kembalikan pendar bahagia di binar indah mata Nay. Mama janji, nak.
"Alhamdulillah, dah sampai pun. Ayuukk Nay, turun", suara Nek Sya memecah keheningan diantara mereka.
Naya melayangkan pandangannya sejenak. Dibawa berkembara oleh pikirannya, ia tidak lagi menperhatikan jalanan yang mereka lalui.
Masjid Jamek Bandar?
Naya tertegun. Matanya terpaku pada bangunan indah di depannya.
Di sinilah lima tahun yang lalu Pak Ngah Zainal, saudara laki-laki Ayahnya yang menjadi wali nikah Naya, menjabat erat tangan Kei saat ijab kabul dilafazkan. Masih lekat diingatannya saat Kei menjawab lafaz Pak Ngah Zainal dalam satu tarikan nafas. Sah! Satu persatu adegan itu seperti menari di pelupuk mata Naya.
"Nay? Naya? Oh, my little sister ... Miss you so much ...!Jeritan kecil tertahan di sampingnya, membuat Naya menolehkan wajahnya.
"Kak Ifah? Miss you so much ... much more, Kakak! How is new with you?"
"Me?" Afifah tersenyum sambil meraih tangan Naya dan menempelkannya ke perutnya yang masih rata.
"Are you ...? Really? Ya Allah ya Rabb. Alhamdulillah ..."
"Ssttt ... Mama dan Papa belum tahu. Kak Ifah nak kasih big surprise. So, please ... Nay bantu, ya?"
Naya tersenyum dari balik niqab yang berwarna maroon, menyatukan ibu jari dan terlunjuk membentuk tanda okay.
"Btw, how are things with you? Semuanya okay, tak?"
"Alhamdulillah. Everything is okay, kakak."
"Mama cakap La Cantique Boutique makin berjaya kat Jakarta tu?"
__ADS_1
"Alhamdulillah. Rezeki adik sholehah kakak, nih ..." Naya mengecilkan suaranya saat Master of Ceremony dari acara memberitahu bahwa prosesi akad nikah akan segera dilangsungkan.
Prosesi diawali dengan kedua mempelai yang meminta restu dari kedua orang tua mereka. Terlihat Mak Lung Salma saling berpelukan dengan Kak Zahra.
Ayah Bunda ... Nay rindu.
Mata Naya mengerjap, berusaha menahan buliran hangat yang mulai membasah di sudut matanya.
Ia tidak lagi menyatu dengan suasana sekitarnya. Hingga telinganya sayup mendengar riuh orang berucap ...
Sah ...! Sah ...!
Naya mengangkat kepalanya, terlihat Kak Zahrah yang menangis haru dalam dekapan Mak Lung Salma.
Acara dilanjutkan dengan nasehat pernikahan yang disampaikan oleh imam Masjid Jamek Bandar yang tadi juga bertindak sebagai saksi hari pihak pengantin lelaki.
"Pernikahan diawali dari sebuah niat suci yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala, tidak ada yang lainnya", terdengar suara beliau yang berat dan dalam.
"Akad pernikahan yang baru saja dilakukan adalah mitsaqan gholizon, sebuah perjanjian agung, perjanjian yang kuat. Seorang ulama hadits terkenal di masanya, Sufyan As Sauri meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maksud dari mitsaqan ghalizhon ialah memegang dengan cara yang patut atau melepaskan dengan cara yang baik. Ibnu Katsir mengutip dari Shahih Muslim yang menyatakan bahwa ketika seorang laki-laki mengambil perempuan dari orang tuanya dengan maksud dinikahi, berarti laki-laki tersebut telah melakukan perjanjian atas nama Allah sebagaimana ia telah menghalalkan melalui kalimat Allah. Oleh karenanya, pasangan suami istri tidak boleh sembarangan, ada tanggungjawab serta konsekuensi di dalamnya. Dalam kondisi apapun suami harus menjaga janji pernikahan tersebut. Jika suatu pernikahan tidak bisa dipertahankan, sehingga memilih jalan perceraian, maka untuk melakukan perceraian juga harus dengan cara yang baik ..."
Naya perlahan beringsut dari duduknya. Entah kenapa hatinya serasa tercubit oleh nasehat perkawinan yang masih sedang disampaikan oleh sang imam.
Naya melangkah mendekati pintu keluar masjid. Ayunan kakinya serasa melemah. Lunglai segala persendiannya.
Naya merasa tidak sanggup lagi untuk terus berada di sana. Suasana majelis pernikahan dan nasehat-nasehat yang disampaikan seakan menggulung Naya dalam ombak dan gelombang peliknya pernikahan yang tengah dijalaninya. Perceraian adalah sesuatu yang dibenci Allah, namun dibolehkan.
Apakah perceraian adalah takdir hidup yang harus ditempuhnya?
Mitsaqan ghalizhon ... Perjanjian agung ... Perjanjian yang kuat ... Pegang dengan cara yang patut atau lepaskan dengan cara yang baik.
Semua kalimat-kalimat itu berkejaran di kepalanya. Naya terus berjalan, namun lututnya terasa goyah. Naya menyerah, ia tidak lagi mampu menyanggah tubuhnya yang akan luruh saat sebuah tangan kekar menahan tubuhnya yang hampir jatuh.
...***...
To be continued
Nasehat pernikahan dikutip dari madaninews.id "Al-Qur'an Sebut Pernikahan Sebagai Mitsaqan Ghalizhon, Apa Maksudnya?
__ADS_1