
Kuala Lumpur, pukul 03.10 a.m
Kei memacu motor RC213V-S miliknya dengan kecepatan maksimal. Jalanan kota yang sudah lengang seakan merestuinya untuk melaju bebas tanpa hambatan.
Lelaki itu meliukan tubuhnya bersama motor besar tersebut saat tiba di sebuah tikungan yang cukup tajam. Namun Kei sedikit terkejut ketika tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna hitam metalik juga melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha mendahuluinya di tikungan itu.
Dengan sedikit merebahkan tubuhnya ke samping kiri, Kei berupaya untuk tidak kehilangan kontrol atas motornya yang sedang melaju dengan kecepan tinggi.
Tanpa mengurangi kecepatan, Kei masih berusaha menyeimbangkan motornya ketika secara tiba-tiba mobil sport hitam itu mengerem mendadak setelah berhasil mendahului Kei.
Kei yang terlambat mengantisipasi kejadian tiba-tiba itu hanya bisa membanting stang motornya ke kiri, berusaha untuk tidak menabrak mobil tersebut.
Saat Kei berhasil menghindari mobil sport hitam itu, sebuah motor Ninja Kawasak* sudah memepet Kei dari arah samping kirinya. Kei terkesiap saat pengendara motor besar itu sengaja semakin menempelinya dengan ketat dan tiba-tiba menyikut keras tulang kering pergelangan tangannya.
Kei sedikit meringis saat merasakan kebas bercampur ngilu di area pergelangan tangannya.
Kei mulai wapada! Instingnya langsung bekerja dengan cepat. Ujung mata kanan dan kirinya melirik sekilas secara bergantian dua kendaran yang kini terlihat dalam formasi sedang mengurungnya.
Kei memindai tajam sang pengendara motor besar di samping kirinya. Berpakaian serba hitam. Celana jeans hitam, jaket kulit hitam dan dilengkapi dengan helmet yang juga berwarna hitam, menutupi seluruh permukaan mukanya.
__ADS_1
Kei mengetatkan rahangnya. Dari balik helm yang sedang dipakainya sekarang, matanya menyorot tajam dengan merah yang menyala.
Pertemuan Kei dengan M'squad beberapa menit yang lalu, memang mengerucut pada satu kesimpulan bahwa ada pergerakan dari 'sebelah' dimana mereka sedang menyusun rencana untuk melancarkan sabotage pada press confrence pagi nanti.
Namun sabotage saat ini, yang sekarang sedang dihadapi Kei, memang di luar perkiraan lelaki itu.
Kei melirik kaca spion motornya. Terlihat di belakangnya, dengan jarak pandang sekitar dua puluh meter, sebuah motor besar juga bergerak mengiringi mereka.
Sekarang Kei mengalihkan pandangannya kembali pada mobil sport hitam metalik yang masih mengurungnya dari sisi kanannya. Kei mencoba mengkalkulasikan keberuntungannya sekarang.
Dalam hitung-hitungan kasar Kei, ada dua orang pengendara motor di samping kiri dan di belakangnya, ditambah pengendara dan kemungkinan penumpang di mobil sport metalik hitam di samping kanannya. Berarti jumlah lawannya sekarang bisa tiga sampai enam orang. Well, let's see what can you do, men!"
Perlahan tangan kiri Kei meraba sekilas Dessert Eagle-nya yang terselip di pinggangnya. Benda yang pernah membersamainya, menjadi malaikat maut bagi para musuhnya.
Pertahanan terbaik adalah dengan menyerang! Kaidah taktik perang dari Tsun Zu itu yang senantiasa dipegang teguh oleh Kei dalam setiap 'pertempurannya'.
Dengan gerakan tak terduga Kei melesatkan motornya sambil merundukan badan, seraya tangan kirinya bergerak cepat mencabut Dessert Eagle miliknya. Hanya dalam hitungan detik senjata api itu sudah meluncurkan beberapa peluru.
Satu peluru tepat menuju ban motor yang tadi berada di samping kiri Kei. Dua peluru berikutnya menyasar ban depan dan belakang mobil sport hitam metalik yang sebelumnya mengurung pergerakan Kei dari sebelah kanannya. Beberapa detik kemudian, masih dengan merundukan tubuh, Kei memutar kepalanya membentuk sudut 90 derajat seraya kembali memuntahkan sebuah peluru dari Dessert Eagle-nya.
__ADS_1
Terjangan peluru demi peluru dari pistol semi otomatis itu langsung melumpuhkan ketiga kendaraan yang sebelumnya mengurung Kei.
Decitan panjang suara ban yang beradu kuat dengan aspal terdengar sahut menyahut, suara yang mengerikan di tengah hening dan sunyinya jalanan Kuala Lumpur dini hari itu.
Detik berikutnya, Kei memutar kembali arah laju kendaran bermotornya menuju tiga kendaraan yang saling bertabrakan karena pergerakannya tidak lagi bisa dikendalikan setelah terjangan timah panas pada ban motor dan mobil mereka.
Kei berhenti dan turun perlahan dari motornya. Melangkahkan pasti kakinya, Kei segera menuju pengendara bermotor yang tadi terlihat seperti mengiringnya dari belakang. Pengendara yang diyakini Kei sebagai Azki Abraham itu berguling di jalanan kota.
Kei berhenti tepat di depan tubuh yang tergeletak bersimbah darah. Tangannya bergerak cepat membuka helm yang menutupi wajahnya.
S-hiiittt!!! Kei merutuk kesal saat terlihat sebuah wajah Melayu yang sama sekali tidak dikenalinya. Kei mengetatkan rahangnya dengan tangan yang mengepal kuat. Terlihat buku-buku jarinya memutih.
"Who are you looking for? Me?!" Sebuah suara berat terdengar dari arah belakang Kei diiringi dengan sesuatu yang sudah menempel kuat di tengkuknya.
..._________*****_________...
*To be continued!
Happy reading, allππ*
__ADS_1