
Naya merapikan kembali perlengkapan yang baru saja dipakainya untuk melaksanakan sholat Subuh.
Sambil menunggu Kei yang belum kembali dari surau di sebelah rumahnya, Naya keluar dari kamar tidurnya. Gadis itu langsung mengayunkan kakinya, melangkah menuju dapur.
Meskipun tak terlalu berharap menemukan sesuatu yang bisa dimasak, namun Naya tetap mendekati sebuah lemari es yang berukuran cukup besar di sudut dapur, dekat dengan kitchen set. Sepertinya masih baru.
Saat membuka lemari es tersebut, mata Naya langsung membulat sempurna. Benda persegi empat itu penuh dengan berbagai macam bahan masakan, mulai dari daging sapi dan ikan air tawar segar hingga aneka ragam buah dan juga sayur. Bahkan Naya juga menemukan beragam bumbu masakan dan juga ada beberapa bahan dan makanan kemasan seperti oatmeal, yoghurt dan santan di sana. Wow! Ini mah niat bet.
Walaupun sedikit heran dan dengan kepala yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, Naya tetap mengeluarkan beberapa bahan yang bisa diraciknya. Ia berencana membuat sarapan pagi sederhana untuknya dan Kei.
Belum selesai menata dua mangkuk sarapan di atas meja makan, Naya terjengkit kaget ketika merasakan sepasang lengan berotot yang hinggap dan memeluk pinggangnya. Semangkuk salad buah yang masih di tangan Naya hampir saja jatuh bila gadis itu tidak mengeratkan pegangannya pada pinggir mangkuk saji tersebut.
Setelah berhasil menaruh mangkuk itu dengan baik, Naya langsung memukul kecil tangan yang saat ini sudah melingkar manis di pinggangnya. Meski masih membelakangi, tapi Naya tahu pasti siapa yang sepagi ini sudah menjailinya.
Aroma mint yang menguar lembut dan hembusan hangat di tengkuknya meyakinkan Naya siapa si pemilik lengan itu.
Kei tergelak kecil menerima pukulan dari tangan mungil sang istri tanpa sedikitpun melonggarkan kungkungan tangannya di pinggang Naya.
"Istri siapa sih, pagi-pagi begini udah di dapur?" Kei sengaja berbisik kecil di telinga Naya dengan menempelkan bibirnya di sana.
Naya berupaya merenggangkan tubuhnya dari Kei dengan membungkukan badan sambil menutup kedua belah telinganya. Namun Kei mengikuti gerakan membungkuknya sehingga tubuh mereka semakin menempel erat.
"Bukan istri sesiapa!" Naya berseru ketus dengan wajah yang ditekuk.
"Masih pagi dilarang marah, tuan puteri. Apalagi siang hari, dilarang bet". Kei masih membisik kecil sembari mengangkat tubuh munggil Naya.
Naya yang tidak siap, terpaksa rela membiarkan tubuhnya melayang digendong Kei.
Kei yang tidak merasakan sinyal penolakan dari sang gadis di dalam gendongannya, tersenyum kecil sambil melabuhkan kecupan hangat di puncak kepala Naya.
"Yuk, sarapan dulu. Abang dah lapar dari subuh tadi", ujar Kei seraya mendudukan Naya di kursi meja makan, dan segera mengambil posisinya sendiri di depan gadis itu.
"Mhmm, kek nya enak banget, nih..." Kei langsung menjangkau mangkuk berisi salad buah di depannya.
"No! That's mine, not yours!" Naya berseru seraya berusaha menghalangi tangan besar Kei yang terulur hendak meraih semangkuk salad buah yang sedari tadi Naya niatkan untuk dirinya.
Namun sayang, tangan kecil Naya kalah cepat dari Kei. Lelaki itu sudah lebih dulu berhasil memindahkan semangkuk salad buah itu ke tangan kirinya.
__ADS_1
Naya mendelik kesal sambil terus berusaha merebut kembali mangkuk salad buah itu dari tangan Kei. Padahal tadi ia sengaja membuatkan oatmeal campur buah-buahan untuk Kei dan salad buah untuk dirinya sendiri karena ia memang kurang menyukai oatmeal campur buah.
Meski pernah bertahun kuliah di di luar negeri, namun lidahnya tetap merasa aneh ketika harus menyatukan olahan biji gandum itu dan buah dalam satu kunyahan rasa. Makanya Naya lebih memilih salad buah untuk sarapannya.
Kei menahan tawa melihat Naya yang masih memberengut kesal.
"Well, udah dong marahnya. Nih abang balikin", ujar Kei dengan mengembalikan mangkuk berisi salad buah itu ke depan Naya.
"Kok kamu ngga mau berbagi sih dengan abang? Padahal abang juga sedang pengen makan salad buah", sesal Kei lirih seraya meraih mangkuk berisi oatmeal campur buah-buahan yang sedari tadi sudah ada di hadapannya.
Naya sedikit mengangkat kepalanya, menatap Kei dalam diam. Entah kenapa tiba-tiba saja hadir sejumput rasa bersalah dalam hatinya. Kenapa hanya karena masalah makanan, ia harus merusak suasana pagi ini?
"Nay, kak Ifah paham kalau Nay sudah amat bersabar selama ini. Namun kak Ifah masih akan tetap meminta Nay untuk sedikit lagi lebih bersabar, ya? Kei itu kadang sok dewasa, tapi lebih seringnya macam kanak-kanak. Namun itu hanya berlaku dengan orang-orang yang ia sayang dan dianggapnya dekat."
"Mama yakin Nay mampu mengembalikan Kei-nya mama, Kei kita semua. Tolong lebih bersabar ya nak? Mama tahu, kebahagiaan Kei ada bersama Nay".
Naya menghela nafas sedikit lebih panjang dengan menundukan kepala, berusaha menyamarkannya dari Kei. Kemudian dengan gerakan perlahan, Naya mendorong mangkuk salad buah di depannya ke hadapan Kei seraya menampilkan senyum khas lesung pipitnya.
"Nih, abang silah makan salad buah Nay. Nay boleh minta yang punya abang?" Naya melirik mangkuk oatmeal campur buah di depan sang suami.
"Semua yang abang punya itu, ya punya Nay juga." Kei menyeringai nakal dengan mengedipkan matanya dan mengangsurkan mangkuk oatmealnya ke hadapan Naya.
Naya memutar bola matanya, malas mendengar gombalan receh Kei. Perlahan ia mulai menyantap sajian oatmeal di depannya. Naya berjuang sedikit lebih keras untuk bisa menelan oatmeal campur buah yang sudah masuk ke mulutnya dengan hanya satu atau dua kali kunyahan.
"Assalamualaikum", sebuah ucapan salam dari arah pintu depan menjeda kegiatan sarapan mereka.
Naya sontak menaruh sendok yang sedang dipegangnya. Suara salam yang sangat dikenalnya. Rasanya sudah rindu sangat dengan suara itu padahal baru tak jumpa dua hari saja.
"Wa'alaikumussalam, mak Midah?!" Naya berseru sambil bergegas, setengah berlari menuju pintu depan. Saat membuka pintu terlihat perempuan tua yang sudah lima tahunan ini bersamanya berdiri dengan senyum terkembang tulus.
"Nay rindu sangat. Mak kemana saja? Baru sampai sini dah langsung menghilang", rajuknya lirih sambil bergelayut manja pada lengan mak Midah seperti seorang anak kepada ibunya.
Mak Midah yang melihat bayangan Kei di ruang makan, sedikit sungkan dengan perlakuan sang menantu kesayangan Puan Sri Latifah.
Lima tahun berada di rantau orang, jauh dari keluarga dekat menjadikan hubungan Naya dan mak Midah tidak lagi seperti hubungan majikan dan orang gajian, namun sudah seperti keluarga.
Untuk menghilangkan rasa sungkan dan canggungnya dengan perlakuan Naya di hadapan Kei, mak Midah mengalihkan perhatian gadis itu dengan menggerakan ujung matanya, melirik ke arah Kei yang masih melanjutkan sarapannya.
__ADS_1
Bibir mak Midah bergerak pelan merangkai kalimat tanya dalam sàmar. Tuan Kei?
Naya pun hanya menjawab dalam diam dengan menganggukan kepalanya pelan.
Mak Midah tersenyum sumringah dengan mata tuanya yang mengedip genit, menggoda Naya.
Naya memalingkan mukanya yang bersemu merah. Gadis itu memilih kembali ke meja makan, dengan diiringi mak Midah.
Meski sempat terlintas untuk tidak melanjutkan makannya, namun Naya tetap duduk di depan Kei, berniat menemani suaminya tersebut sampai selesai sarapan.
"Assalamualaikum, selamat pagi tuan?" Mak Midah menyapa Kei yang sedang sarapan dengan gawai di tangan kirinya.
"Wa'alaikumussalam, pagi mak." Kei menjawab tanpa menoleh. Tangannya sibuk di keyboard gawainya. Sepertinya ia sedang menulis pesan.
"Mak nak sarapan? Nay buatin salad buah aja, ya? Nay belum sempat masak..." Naya bangkit dari duduknya hendak nenuju dapur.
Mak Midah menahan tangannya sambil menggeleng kuat.
"Jangan, puan. Puan kan tahu, Mak mana bisa makan buah-buahan macam tu. Takut sakit perut. Apalagi, bagi mak kalau belum makan nasi berarti belum makan. Maklumlah selera kampong! " Mak Midah tertawa kecil dan berlalu meninggalkan ruangan makan menuju dapur.
Saat sholat Subuh tadi mak Midah berjumpa dengan Kei di surau. Putra mahkota keluarga Tan Sri Abdul Hamid itu memintanya menemani Naya di rumah karena Kei harus bertemu seorang teman pagi ini.
Walaupun berat, akhirnya Naya tetap berusaha melanjutkan sarapannya sesendok demi sesendok. Menelan tanpa banyak kunyahan.
Nada panggilan tetiba menyalak nyaring dari gawai Kei. Tanpa melihat siapa peneleponnya, Kei yang baru saja selesai mengirim pesan panjang kepada Andrian, mengangkatnya.
"Hallo, by. Ponsel kamu kenapa ngga aktif-aktif sejak kemaren? Aku kangen ..." Kei segera bergerak menjauh dari meja makan begitu menyadari siapa peneleponnya. Nadia!
Naya termangu di duduknya. Beberapa jam ini ia menyangka sedang berada di wonderland, dunia yang dirasanya indah penuh keajaiban.
Namun ternyata Naya salah! Ia sedang berada di neverland, dunia penuh fatamorgana, yang tak pernah ada untuknya!
Telepon Nadia barusan kembali menghempaskan Naya ke dunia nyata. Gadis itu perlahan bangkit dari duduknya, berjalan dalam resah yang menyesak.
...___________*****__________...
To be continued
__ADS_1
Mohon terus dukungannya dengan memberikan like, vote and comment, ya. Thank you al**l.