Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
LV-CP's Project (Part 2)


__ADS_3

"Assalamualaikum, bang. Long time no see.Where have you been?" Kei yang sedang duduk di balkon kamar sambil memandang jernihnya air laut Selat Melaka, tersentak saat telinganya menangkap sebuah suara yang sangat dikenalnya.


'Bang' adalah panggilan santun, tanda penghormatan yang hanya didengar Kei bila si pemilik suara sedang dalam 'mode' serius dan biasanya akan diiringi dengan tatapannya yang dalam.


Kei sontak membalikan tubuhnya. Sesosok tinggi gagah, berahang tegas dengan wajah yang tak kalah maskulin sedang menatapnya tanpa kedip. Ken!


"Berbilang masa abang tak main kat sini, where have you been?!" Masih kalimat yang sama, namun kali ini lebih bernada protes saat melontarkannya.


"Sibuk sangat, ke? Sampai tak punya masa nak jenguk adik sendiri?" Masih bernada protes.


Kei mengusap tengkuk dinginnya berulang kali, mencoba menularkan energi panas dari telapak tangannya.


"Abang bahkan masih terhutang janji. Atau dah lupa ke?"


"Janji..?" Kei menautkan kedua alisnya sambil mencoba mengingat sesuatu. Apa janji yang belum dipenuhinya terhadap Ken?


Selama ini sebisa mungkin ia akan selalu memenuhi permintaan sang adik, meski kadang harus dengan melepaskan kebahagiaannya sendiri.


"Mhm, I can't believe that you forget the promise. Itu janji sebagai anak jantan, tau?" Ken melangkah mendekati tempat berdiri Kei.


Berdiri di samping Kei, Ken menumpukan kedua tangan besarnya pada sisi bawah jendela. Memandang jauh laut lepas di hadapan mereka.


Keduanya sama-sama menghadap Selat Melaka sekarang. Beberapa saat keduanya terperangkap dalam diam. Hingga kemudian ...


"Masih jua tak ingat dengan janji abang?" Ken menoleh Kei, menatap tepat di manik hitamnya.


"Bila abang tak jua ingat, tak apa. Mungkin abang memang tak punya niat untuk menepatinya. Atau aku yang salah telah menumpang janji pada abang?!" Kata dan pandangan Ken sama menikamnya.


Kei menegakkan badannya. Tatapannya lurus menghadap Ken yang juga tengah menatapnya tanpa kedip.


"Apa maksudmu Ken? Janji yang mana lagi?" Kei menyipitkan matanya, frustasi.


"Well, silah abang pikir sendiri. Untuk sementara biarkan dia bersamaku. Aku yang akan menjaganya", ujar Ken seraya beranjak menjauh menuju sebuah lorong yang tiba-tiba telah wujud di hadapan mereka.


Dia?!


Kei tersentak saat pandangannya menangkap sesosok tubuh berhijab rapi, berbalut gamis hijau tosca sedang menunggu Ken di ujung lorong.


Naya?!


Kei segera berlari mengejar Ken dan Naya yang semakin menjauh dan kemudian menghilang dalam pandangan Kei.


Kei terus berlari namun ia tak lagi menjumpa sesiapa. Tubuhnya kemudian meluruh seiring lisan yang juga kelu membeku.


Kei ingin berteriak, namun tiada aksara yang meluah dari lidahnya.


Tetiba kepingan mozaik lima tahun silam kembali hadir di depan matanya.


"Aku titip Naya, berjanjilah bahwa abang boleh jaga dia sebaik aku menjaganya. Bisakah aku tumpangkan janji ini pada abang?"


"Aku akan menjaganya sebaik kau menjaganya!"


"Aku pegang janji abang sebagai sesama lelaki! Bila nanti abang tak jaga janji nih, aku akan kembali untuk menjemput Naya! Dan bila masa itu tiba, aku pastikan, abang akan menyesal!"

__ADS_1


"Aku pastikan masa itu tidak akan pernah ada! Karena aku akan menjaganya dengan jiwa dan raga!"


"Keep your words as a man!"


"Absolutely, I will!"


Perlahan kepingan-kepingan mozaik itu memudar untuk kemudian menghilang ditelan kabut.


Kei mencengkram kuat rambutnya. Tubuhnya menggigil bersama peluh dingin yang meluruh deras.


No! It's not real! It's only a nightmare! Wake up, Kei. Wake up!


No, Naya! No! Don't go!


No, Ken. You can't do this to me! No!


Kei terus berteriak tanpa suara, berlarian tak tentu arah sampai kemudian kepalanya membentur sebatang pohon randu di depan villa.


Kei terhuyung hingga tubuhnya rubuh ke tanah, bersamaan dengan hujan yang mengguyur lebat.


Kei terkesiap saat tubuhnya ternyata telah luruh di lantai kamar tidur dengan air yang mengenangi tempat jatuhnya.


Di depannya sesosok tubuh berdiri tegak. Kei mendongak, menengadahkan kepalanya. Afifah bin Abdul Hamid tengah menatapnya tak berjeda.


"Tidur macam orang tak punya dosa je. Joom bangun! Dzuhur dah nak pegi, nih. Habis tu ditunggu mama di villa utama!" Afifah segera berbalik keluar dari kamar.


Kei menatap punggung sang kakak yang kemudian menghilang di balik pintu kamar.


Syukurlah, mimpi je pun! Tapi, Nay? Kei segera bangkit, mengulik bantal-bantal di atas tempat tidur, berusaha menemukan gawainya.


The number you're calling is not active or out of coverage area. Please try again in a few minutes.


Kei menggeram kesal. Pikiran buruk mulai menghantuinya. Sudah panggilan yang ke lima, namun tetap kalimat sama yang didengarnya dari mesin operator seluler itu.


Siapa yang mesti dihubunginya sekarang? Nenek Sya? Arrggghh, no! Itu malah akan memperuncing masalah.


Keep calm, Kei. Calm down! Naya is okay. Ya, she is okay.


Kei menghirup nafas dalam-dalam seraya menghembuskannya secara perlahan.


Andrian? Yes, he is the one that I have to call. Kei membatin, berusaha menenangkan diri.


"Temukan posisi Naya. Sekarang!" Kei langsung memutus panggilannya seraya berjalan menuju kamar mandi. Gawai masih di genggamannya.


Namun hanya dalam hitungan beberapa detik kemudian, Kei melihat notifikasi pesan masuk dari Andrian.


"Don't be kidding, boss. Puan Naya is with you, right?"


Kei menyipitkan matanya demi membaca pesan sepupu sekaligus asistennya itu.


Tak membuang masa, Kei langsung melakukan panggilan kembali.


"What do you mean?!" Nada dingin penuh tekanan dari Kei membekukan Andrian di seberang sana.

__ADS_1


"I'll text you." Andrian langsung memutus panggilannya. Terbit senyum tipis di sudut bibirnya. Ia segera men-screen shoot beberapa pesan dan mengirimkannya kepada sang big boss.


Big boss: (Hubungi Naya, sampaikan padanya Aku menunggu di apartemen Teluk Kamang)


Me: (Okay, boss. Naik taxi, ke?)


Big boss: No. Aku minta Putra untuk menjemputnya)


Me: (Okay, then)


Kei memandang lekat kalimat demi kalimat hasil SS pesan dari Andrian. Memang nomor yang tertera di sana adalah nomornya, namun Kei tak merasa pernah mengirim pesan itu. What a hell! Ada yang tidak beres di sini. Something's wrong happened!


Kei mencoba menghubungi Putra beberapa kali, namun selalu nada sibuk yang terdengar.


Lelaki gagah berahang kukuh itu berusaha menenangkan hatinya. Terlihat beberapa kali ia menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya kembali dengan perlahan. Pukul 12.25 siang.


Kei bergegas melangkah ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya. Empat rakaat Dzuhur tertunai sudah.


Orang boleh menyebutnya budak nakal bin degil, namun Kei tidak pernah lagi meninggalkan sholat sejak ia mukallaf, telah akil baligh.


Kei masih duduk di sajadahnya, mencoba menjernihkan pikirannya yang sedikit kusut.


Kembali tangannya menjangkau gawainya yang tadi ditaruhnya di atas katil, tempat tidur.


Beberapa saat kemudian terdengar percakapannya dengan seseorang.


"Segera ke apartemen, cari tahu apakah puan Naya di sana. Aku tunggu!" Kei segera bangkit dari sajadahnya, beranjak untuk segera menuju villa utama. Ada sesuatu yang harus dipastikannya sekarang.


Baru saja menutup pintu keluar faviliun, tempatnya beristirahat tadi, gawai di tangannya bergetar dengan nada yang berbunyi nyaring. Sebuah panggilan dari nomor yang baru saja dihubunginya.


"What?! Kei mencengkram kuat gawai di genggamannya. Giginya bergemeletuk, menahan amarah. Mata merahnya menyala seperti akan menghanguskan sekitarnya.


___________*****___________


Sesuatu telah terjadi dengan Naya?


To be continued.


Sambil nunggu kelanjutan kisah Naya, yuk mampir di novel temanku ya..



Janji hati Raditya dan Andhini, sampai pada kebahagiaan pernikahan, paska Andhini di wisuda mereka melangsungkan pernikahan mewah yang di cita-citakan.


Berjalannya waktu tak ada yang lain selain kebahagiaan dan kedua orangtua mereka yang bangga dengan keharmonisan rumah tangga anaknya, Tahun berganti, Andhini mulai gelisah dengan keadaan dirinya yang belum menunjukkan adanya perubahan di tubuhnya, Andhini menginginkan anak dan semua itu membuatnya begitu cemas hingga jatuh sakit.


Dalam keadaan sakit Andhini dirawat seorang perawat yang di ambil dari yayasan yatim-piatu bernama Karina. Dari kedekatan mereka timbul niat Andhini menjodohkan suaminya dengan Karina, dan menghasilkan satu kesepakatan diatas kertas.


Terkadang cinta memang tak ada logika, sanggup melawan arus dan menerjang rintangan apapun, apalah artinya kekayaan kalau tak memberinya kenyaman.


Apa Karina juga mau menerima tawaran untuk mengubah kehidupannya?


~ Andhini : 'terkadang atas nama cinta seseorang harus rela berkorban, walaupun itu sesuatu yang sangat dicintainya.'

__ADS_1


~ Raditya : sanggupkah aku menjalani apa yang diminta istri tercintanya? walaupun itu di luar kewajaran.'


__ADS_2