Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Menjauhlah Dariku!


__ADS_3

Naya memperhatikan jalanan sekeliling yang mereka lewati. Asing. Sepanjang perjalanan ia menunggu sang suami untuk menjelaskan, paling tidak sedikit memberitahu, kemana tujuan mereka. Namun Kei seperti pura-pura tidak mengetahui rasa penasaran Naya.


Gadis itu menghela nafas, panjang dan berulang. Sepertinya ia harus menyediakan lebih banyak stok kesabaran menghadapi lelaki di sampingnya.


"Mhem... Where will we go? Would you like to explain me?"


Untuk mengurai rasa ingin tahu dan penasarannya, akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibir mungil yang selalu mengemaskan bagi seorang Kei Hasan.


Kei mengulas senyum tipis, tidak langsung menjawab pertanyaan sang istri. Sekilas lelaki itu menatap sang gadis seraya sebelah tangan kirinya mengusap lembut kepala Naya yang tertutup hijab.


"Kenapa? Kamu udah capek? Sebentar lagi kita berhenti ya? Ada spot di depan sana yang orang-orang biasa berhenti di situ. So, kita bisa istirahat sejenak. Sabar ya, sayang." Kei kembali tersenyum, kali ini diiringi kerlingan nakalnya.


Ish! Naya langsung membuang muka. 'Sayang'. Satu kata itu yang sering diobral sang suami dalam beberapa hari ini.


Satu kata yang membuat Naya sering merona tiba-tiba, salah tingkah dalam bumbungan rasa.


Ish, apaan sih? Naya mengangkat tangan akan mengetuk kepalanya sendiri, namun sebuah tangan besar sudah duluan hinggap disana, melindunginya.


"Kamu kenapa, ehm?!" Kei menautkan kedua alisnya. Menatap Naya sekilas kemudian kembali fokus dengan jalanan di depannya.


"Nothing." Naya menggelengkan kepalanya perlahan. Mengalihkan tangan Kei yang masih hinggap di kepalanya.


Kei membiarkankan tangannya diangkat Naya, namun kemudian balik menangkap tangan itu dan mengenggamnya.


Naya berusaha melepaskan genggaman tangan Kei, namun lelaki itu semakin menguatkan genggamannya dengan sesekali merem-as lembut.


Ckc! Naya berdecak kesal.

__ADS_1


"Abang, fokus!" Naya berseru sambil masih berusaha melepaskan genggaman Kei.


"Ya! Abang fokus lah, nih!" Kei merespon dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari arus lalu lintas di hadapannya.


"Nay tanya, kita mo kemana?" Naya bertanya dengan mengubah posisi duduknya. Ia menghadap Kei sekarang. Kedua kakinya ikutan naik ke atas kursi yang didudukinya.


Kei masih tersenyum, mulai melambatkan laju mobilnya sambil matanya bergerak ke kanan dan kiri untuk mencari tempat parkir.


"Kalo Abang kasih tahu, ngga surprise lagi dong. Tunggu aja, ya. Sekarang turun dulu, Nay mo istirahat, kan? Spot-nya cantik dan elok, meski tetap aja ngga bisa n**galahin kamu! Ha ...ha ...ha.." Kei tergelak sambil membuka pintu dan turun dari mobil.


Bergerak memutari depan mobil dan membukakan pintu di samping Naya. Menuntun sang juwita untuk turun.


Gadis itu memutar matanya. Ish, kang gombal beraksi!


Naya turun dengan tangannya yang masih dalam genggaman Kei. Keduanya membaur dengan keramaian di sekitarnya.


Terlihat banyak orang yang duduk lesehan di angkringan yang tersebar di tepi jalan. Menikmati kulineran setempat.


Ada yang mengambil foto dan video kebersamaan mereka dengan orang-orang terkasih. Namun ada juga yang berswa foto.


Naya melayangkan pandangannya pada hamparan perbukitan di hadapannya. Hijau membentang dengan panorama yang indah.


Gadis itu menukikan pandangannya ke bawah, nampak jalan layang yang berkelok-kelok. Konstruksi yang terlihat sedikit rumit, namun terlihat cantik.


Naya kemudian memutar tubuhnya perlahan, menikmati panorama cagar alam dan gunung-gunung yang begitu memanjakan mata yang memandangnya.


Sejenak, gadis itu seperti lupa dengan segala kekesalan yang sejak kemaren melingkupinya. Berganti dengan rasa nyaman dan tentram. Terurai sudah segenap kesal dan marahnya.

__ADS_1


"Nng**g, ini di mana?" Mengamit lengan Kei tanpa sadar, gadis itu bertanya dengan pendar polosnya.


Kei tersenyum. Merangkum wajah sang istri kemudian mengarahkannya pada satu titik. Panorama Kelok Sembilan! Terlihat beberapa remaja tanggung sedang berfoto dengan background tulisan itu.


Naya menautkan kedua alisnya. Seperti familiar dengan tulisan itu, tapi di mana?


Kei kembali tersenyum melihat Naya yang seperti sedang berpikir keras untuk mengenali tempat mereka sekarang.


"Kita sedang berada di ujung negeri yang Nay nak ingin sangat kunjungi sejak dahulu." Kei masih berteka-teki dengan kalimatnya.


Naya semakin mengerutkan keningnya. Menatap Kei dengan mata jelinya yang sesekali mengerjap indah.


Kei baru saja akan menyentuh kedua mata itu saat ujung matanya menangkap pergerakan tidak biasa di arah pukul 3 dari tempatnya berdiri.


Terlihat dua orang berpakaian serba hitam dengan kaca mata yang juga hitam sedang memperhatikan Kei dan Naya. Salah seorang dari mereka nampak sedang menelepon seseorang.


Ckc! Kei berdecak kesal. Sejak dari daerah Kampar tadi ia memang merasa sedang dibuntuti oleh sebuah mobil double cabin berwarna hitam.


Namun Kei masih 'mempelajari' penguntitnya, berpura tidak mengetahui.


Kei mengeluarkan gawainya dan langsung menghubungi sebuah nomor di sana.


"Puan Sri, apakah messageku yang semalam belum jelas?! Perintahkan orang-orangmu untuk menjauh dariku dan Naya, atau aku yang akan menjauhkan Naya darimu, selamanya!"


..._________*****_________...


Maaf ya, agak telat updatenya. Tapi diusahakan bisa double up hari ini.

__ADS_1


Sambil nunggu up berikutnya, yuk baca dulu yang ini..πŸ‘‡πŸΌπŸ‘‡πŸΌ



__ADS_2