
"Assalamualaikum,"
Suara salam dari Kei dan pak etek Rul meningkahi riuh obrolan santai orang-orang di dalam rumah.
Saat memasuki rumah, terlihat di sofa panjang Naya yang sedang duduk diapit oleh Puan Sri Latifah dan nek Sya.
Di sebelah nek Sya, duduk Afifah, Jamal, suami Afifah dan Tan Sri Abdul Hamid.
Sementara di sofa yang berseberangan, duduk tek Za dan Noura.
"Wa'alaikumussalam," jawaban serentak terdengar dari orang-orang yang sedang duduk di sana.
"Alhamdulillah, sudah sampai kiranya. Selamat datang Tan Sri dan keluarga," sambut pak etek Rul yang langsung menyalami keluarga besar Kei satu persatu.
Kei masih berdiri terpaku. Kehadiran keluarganya dalam formasi yang lengkap sedikit banyak membuat hatinya ketar ketir.
Squad Puan Sri Latifah cs!
Ini anugerah atau bencana?
Kei yang terpana masih berdiri di tempatnya semula, ketika tetiba ia merasakan tangannya digamit oleh seseorang.
Saat Kei mengalihkan pandangan ke samping kirinya, terlihat Naya berdiri di sana.
Gadis itu mengamit lengan Kei sambil menghelanya menuju sofa, tempat keluarganya duduk.
"Salim dulu ke Mama dan Papa!" bisik Naya penuh tekanan dengan mata yang membulat utuh.
Gadis cantik itu merasa kesal karena sedari tadi Kei hanya berdiri terpaku di tempatnya.
Tak terlihat keinginan lelaki itu untuk menyalami keluarganya seperti yang dilakukan pak etek Rul.
Kei akhirnya menurut saja saat helaan tangan Naya menuntunnya menuju sofa.
Satu persatu Kei menyalami keluarganya yang baru datang dari Seremban.
Ada Jamal dan Afifah yang terlihat menggodanya dengan kedipan mata dan gerakan bibir tanpa suara.
Tan Sri Abdul Hamid terlihat datar dengan air muka yang tak terbaca, hanya tangannya yang menepuk pelan pundak Kei beberapa kali.
Nenek Sya tersenyum teduh. Perempuan sepuh itu juga tak banyak bicara. Hanya satu kalimat yang terlepas dari bibirnya. Itu pun tanpa suara. Kamu boleh! Kamu bisa! What's the meaning? Maksud nek Sya apa?
Kei masih meraba-raba apa yang akan terjadi selanjutnya, saat Naya yang sekarang berada di belakangnya sudah mendorong Kei untuk melanjutkan langkahnya.
Puan Sri Latifah, sang Mama!
Kei tepat berdiri di depan sang Mama sekarang. Perempuan paruh baya itu duduk dengan sedikit menengadahkan kepalanya untuk bisa menatap Kei, sang putra.
__ADS_1
Perlahan dengan sedikit membungkuk, Kei mengulurkan tangannya ke hadapan sang mama.
Puan Sri Latifah bergeming. Perempuan yang masih terlihat cantik dan anggun di usianya yang tidak lagi muda itu, hanya menatap tangan yang terulur di depannya.
"Mama?" Suara serak Kei hampir tak terdengar.
Adalah pak etek Rul, Tan Sri Abdul Hamid dan Jamal yang duluan sudah meninggalkan ruangan tersebut.
Nek Sya dan Afifah perlahan juga bangkit dari duduknya. Dua perempuan yang selama ini berusaha untuk tetap mengambil posisi ditengah dalam perseteruan Kei dengan kedua orang tuanya terutama Puan Sri Latifah, juga turut meninggalkan tempat itu.
Melihat gelagat itu, tek Za yang semula masih duduk menyaksikan kedua ibu dan anak itu, pun hendak bangkit dari duduknya saat geraknya tertahan oleh suara Puan Sri Latifah.
"Za, sekiranya berkenan, akak nak kamu tetap di sini, banyak yang harus kita selesaikan dengan budak, nih ..." ujar Puan Sri dingin.
Kei meraba tengkuknya. Seketika suhu di sekitarnya terasa dingin membekukan.
Naya yang masih berada di sana hanya diam. Suaranya seperti tercekat di kerongkongan.
Menghela nafas panjang berulangkali, gadis cantik itu berusaha melapangkan saluran pernafasannya yang seakan menyempit.
Kei menatap sang istri. Manik hitam lelaki itu menyiratkan pendar kecemasan.
Dengan gerakan pelan sekali Kei menarik tangannya yang tadi terulur untuk menyalami sang mama.
Kemudian lelaki itu menggenggam dan mengusap lembut kedua tangan sang istri yang saling bertautan di pangkuannya.
"Maaf, Mama, tek Za... Nay tidak bisa telat makannya. Beberapa hari ini maag-nya sering kambuh." Kei melanjutkan kalimatnya seraya mengalihkan pandangannya sejenak kepada Puan Sri dan tek Za.
"Nay sayang, kamu ...?!"
"Sayang-nya Mama, kamu ...?!"
Puan Sri Latifah dan tek Za sama-sama berseru khawatir.
"No! Mama, tek Za, Nay okay je. Abang ...?!" Naya membulatkan matanya ke arah Kei.
"Nay tak apa! Tek Za, Mama ... It's not as serious as you think! Tak separah yang Mama dan etek pikirkan. Hanya gejala maag saja. Bisa jadi juga dokternya salah diagnosa, kan?
Aduh, bu dokter ... Maaf, ya?
"Cckk! Baru beberapa hari saja kamu bersikeras untuk bersama Naya, bahkan membawanya dengan cara yang tak elok, menculik-nya dari Mama, ternyata apa?! Kamu boleh menjaga menantuku dengan amat sangat baik, kan?!" Puan Sri berdecak sinis dengan sindiran tajam.
"Mama ...??" Kei tidak jadi melanjutkan kalimatnya yang sudah di ujung lidah.
Sekuat hati menolak untuk terpancing oleh provokasi sang Mama, lelaki itu memilih memejamkan matanya.
Tanpa sadar tangannya meremas kuat tangan Naya yang masih berada dalam genggamannya.
__ADS_1
Terlihat jelas Kei berusaha meredam emosinya.
"Apa?!! Mau mengelak? Betul, kan?! Kamu menculik Naya dari Mama?!" Puan Sri masih berseru dengan wajah berangnya.
"Tunggu, tunggu ... Menculik? Maksudnya bagaimana, Kak?" Tek Za yang sedari tadi hanya diam mulai angkat bicara.
Adik satu-satunya dari almarhumah ibunda Naya itu merasa 'tergelitik' dengan kata "menculik" yang dilontarkan oleh Puan Sri.
"Mama?" Naya menggelengkan kepalanya seraya menatap sang mama mertua dengan pandangan memohon.
"No! Tidak perlu membela Abang, Nay. Mama benar! Abang membawa Nay tanpa sepengetahuan dan izin Mama. Mama benar, Abang yang salah. Abang salah karena telah membawa pergi Nay dari Mama. Itu sama saja dengan penculikan, bukan?" Kei tersenyum kecil sambil berusaha berbicara dengan nada dan intonasi yang serendah mungkin.
"Untuk semua kesalahan Kei, Kei mohon maaf, Mama." Lelaki itu meraih kedua tangan sang mama, membawa tangan itu ke keningnya.
"Mohon maaf atas segala salah langkah dan salah kata yang telah Kei lakukan selama bertahun-tahun ini," lanjut Kei dengan suara yang mulai terdengar serak.
Naya ikutan meletakan kedua tangannya diatas tangan Kei yang masih mengenggam tangan Puan Sri.
Gadis itu mencoba untuk menguatkan lelaki yang juga telah menoreh banyak luka di hatinya.
"Tek Za, Kei juga mohon maaf yang sebesar-besarnya pada etek dan keluarga di sini. Mohon maaf atas segala perangai Kei yang buruk," dengan lirih Kei kembali berucap.
Tek Za masih terdiam, berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari lisan ibu dan anak yang ada di depannya.
Sepertinya ada banyak hal yang telah ia lewatkan. Banyak peristiwa yang telah terjadi! Berarti tidak hanya menyangkut berita yang dua hari ini banyak beredar di media sosial, yang lengkap dengan ragam foto dan video itu?
Tek Za masih belum bisa berkata-kata. Perempuan empat puluh tahunan itu hanya menghela nafas panjang berkali-kali.
Hingga kemudian tatapannya mengarah kepada Kei dan Puan Sri silih berganti, dan akhirnya berlabuh pada Naya, sang keponakan.
"Apa yang sebenarnya terjadi, nak? Kenapa Nay tidak pernah memberitahu etek? Apakah etek bukan orang yang layak untuk tempat bercerita?" Tek Za berucap dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Eteekkk, bukan macam tu ..." Naya berseru dengan suara yang sengau.
Buliran hangat yang sedari tadi berusaha dibendungnya, akhirnya bobol juga.
Butiran-butiran bening itu luruh bersama isak yang tertahan.
Kei yang semakin merasa bersalah, merengkuh sang istri ke dalam dekapannya.
"Sayang, please don't be like this. Abang yang salah atas semua, nih ... Tolong jangan menangis lagi," bisik Kei di telinga sang istri.
..._________*****_________...
To be continued
Alhamdulillah, bisa up lagi. Terimakasih tak terhinga buat teman-teman yang masih setia, mau menunggu hadirnya KeiNaya.
__ADS_1
Salam sayang untuk para pembaca setia KeiNaya. Mohon terus dukung KeiNaya dengan memberikan like dan comment yang banyak, ya... Biar aq juga semangat up nya.