Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Pertarungan Telah Dimulai


__ADS_3

Kei menatap nanar nomor yang tertera di layar gawainya sekarang. Kerongkongannya sedikit tercekat.


Bukan apa, hanya saja Kei merasa baru on going membangun hubungan yang lebih baik dengan Naya, menantu tersayang dari orang yang sedang berada di line panggilan itu.


Bila sekarang ia harus 'ribut' lagi dengan sang Mama, Kei yakin istrinya akan semakin tidak nyaman atau malah bertambah illfeel dengannya. Dan Kei, tentu saja tidak mau mengambil resiko itu!


Menghela nafasnya panjang, Kei perlahan Kei menyentuh tombol "Reject". Lelaki itu kemudian memasukan gawai tersebut ke dalam saku jaket kulitnya.


"Yuk, naik. Kei mengulurkan tangannya pada Naya yang menyambut sedikit ragu.


"Kenapa?" Kei menyipitkan matanya.


"Ngg ... Ngga pa pa, tapi Nay duduknya nyamping aja, ya?"


"Nope! Kamu mau jatuh, apa?!" Kei memperlihatkan rasa tidak sukanya akan permintaan Naya dengan nada suaranya yang sedikit meninggi.


Ya Allah... Nih orang kenapa lagi, sih?! Kok moody amat? Bentar-bentar manis, bentar lagi jutek!


Naya memutar bola matanya malas, namun tak urung ia naik juga di belakang Kei.


Bibir Kei melengkung kecil, membentuk senyuman samar.


"Merapat, jangan jauh-jauh! Pegangan!" Perintah demi perintah meluncur bebas hambatan dari mulutnya.


Naya memberengut. Semakin mengerucutkan bibirnya.


Isshh ... Bikin kesel bin se ...


"Ngga usah kesel, ngga usah sebel! Suami kamu, ini! Kamu ngga takut dosa?!" Kalimat demi kalimat Kei semakin terdengar menyebalkan di telinga Naya.


Yee, ngaku suami! Tahu dosa! Baru nyadar kalo situ, suami? Dosanya udah numpuk, tuh!


"Abang kan udah minta maaf berkali-kali, kamu aja yang masih belum mau memaafkan Abang."


Ya Allah ... Kok dia tahu semua yang terlintas di kepala dan hati, sih?


"Ya tau lah, soulmate itu berbagi hati, berbagi rasa ..." Kei tersenyum lebar mendengar kalimatnya sendiri.


Kemudian lelaki itu menarik lembut tangan sang istri yang memegang ujung jaketnya, masih enggan berpegangan di pinggang Kei.


Mengenggam kuat tangan halus Naya, Kei tersenyum sambil tetap fokus dengan jalanan di depannya.

__ADS_1


Sesekali sengaja mengerem mendadak, Kei mengeluarkan senyum smirk saat Naya yang terkejut langsung mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang lelaki itu.


...*****...


Sementara itu di sebuah taman kota ...


Seorang perempuan cantik dengan rambut sepinggang berwarna hitam kecoklatan sedang duduk di kursi taman.


Dari balik kaca mata hitamnya, sudut matanya sesekali melirik ke arah gerbang taman di depannya. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.


Perlahan matanya menatap lekat jam tangan mewah yang melingkar cantik di pergelangan tangan kanannya. Pukul 09.45 WIB. Sudah lewat lima belas menit dari jadwal yang mereka sepakati.


"Hi, sweety. You look so awesome today! Kamu terlihat sangat mengagumkan hari ini, apalagi dengan rambut itu. Dapat dari mana, mhem ...?" Lelaki berpostur tinggi tegap yang barusan datang itu langsung menduduki kursi taman yang membelakangi si perempuan.


"No ... No! Tidak perlu berbalik. Just listen to me! Cukup dengarkan saja! Arah pukul sepuluh dari tempat dudukmu, penjual cilok, itu yang dikirim suamimu."


Perempuan cantik itu melirik sekilas sambil menempelkan gawai di telinganya, seakan sedang menelepon seseorang.


"Satu lagi, arah pukul tiga dari posisimu sekarang. Gadis yang berpakaian seragam sekolah, itu 'utusan' dari mertuamu, Puan Sri Latifah!"


Cih, mertua! Dia tidak pernah mengakui ku sebagai menantunya!


"Itu yang baru bisa kukenali, aku tidak tahu pasti ada berapa jumlah mereka sebenarnya. Karena selama perjalanan ke sini saja, aku juga merasa dibuntuti. Jadi cukup, ini pertemuan terakhir kita di ruang terbuka seperti ini. Aku tidak mau mengambil resiko lagi."


Perempuan yang duduk membelakanginya hanya diam, tanpa memberikan respon berarti. Hanya terlihat jari-harinya yang mengepal sempurna.


"Well, mana barang-barang yang aku minta. Kau bawa, kan? Taruh saja di sisi tempat duduk mu, aku yang akan mengambilnya."


Perempuan itu pun meletakan koran di sisi kanan tempat duduknya setelah sebelumnya memasukan sesuatu di antara lipatan koran itu.


Mengambil isi dalam lipatan koran tersebut, si lelaki itu langsung membuka sebuah amplop berwarna coklat muda.


"What a hell! Ini saja yang bisa kau dapatkan?! Bagaimana kerja orang-orangmu di lapangan?! Bila hanya yang seperti ini, anak buahku bisa mendapatkan seribu foto yang serupa!"


"Iya! Aku juga kecewa sangat! Tapi bagaimana lagi?! Selalu saja ada orang-orang yang menghalangi anak buahku untuk mendekati mereka berdua. Tapi kau tidak perlu khawatir, orang suruhanku masih mengikuti mereka. Lalu bagaimana dengan jejak social media perempuan sok cantik, sok alim itu? Apa yang kau dapatkan?"


"Nothing! She is very clean! Aku tidak menemukan data apapun yang bisa kita mainkan! Puan Sri Latifah memproteksinya dengan begitu sempurna!"


"Jangan lagi menyebut nama perempuan tua itu di depanku! Mendengar namanya saja sudah membuatku serasa mau muntah! Huek ...!"


"Ha ... Ha ... Ha ... Tapi bila mendengar nama putra mahkotanya kau seakan melayang, kan? Apalagi bila berada di dekatnya, kau serasa berada di khayangan?! Meski tak pernah bisa memilikinya seutuhnya! Ha ... Ha ... Ha..."

__ADS_1


"Jangan kurang ajar! Jaga batasanmu!" Perempuan cantik itu segera bangkit dari duduknya, melangkah cepat meninggalkan pria dewasa di belakangnya yang masih tertawa dengan bebasnya.


...*****...


Naya mengulurkan tangannya menyentuh riak air di depannya. Danau Maninjau. Sejuk seketika membaluri jemarinya yang bermain di air danau.


Menikmati keelokan hamparan danau di hadapannya, dan akhirnya larut dalam keindahannya, Naya tersenyum.


Benar kata buya Hamka, ulama besar Minang Kabau yang mendunia itu, "Banyak negeri yang ku datangi, namun tiada yang seelok negeriku Maninjau."


Kembali tersenyum, sekarang kedua tangan mungil Naya mencelup sempurna, bermain di riak dan gelombang air danau yang menepi silih berganti.


Kei tersenyum kecil sambil kamera gawainya tidak berhenti menjepret foto candid gadis cantik di hadapannya.


Senantiasa ada moment yang berhasil diabadikan Kei dengan begitu epik, tidak hanya dengan kamera di gawainya, namun juga dengan mata raga dan mata jiwanya.


Saat Naya membuka niqab, kemudian membasuh mukanya dengan air danau yang jernih mengkristal. Gerakannya berubah menjadi sebuah slowmo dalam tangkapan pandangan Kei.


Atau momen ketika menantu kesayangan Puan Sri Latifah itu bangkit dari duduk jongkoknya, kemudian melayangkan pandangannya jauh ke tengah danau. Terlihat mata jelinya mengerjap beberapa kali.


Kei merasa denyut nadi dan detak jantungnya menyatu dalam debar dada yang menyeru cinta.


Kei menggelengkan kepalanya kuat. Gila! Aku sudah terlalu dalam jatuh dalam pesonanya!


Kei yang sedang menikmati keindahan berjalan di hadapannya, terkejut saat merasakan getaran-getaran singkat dari gawai di genggamannya.


Terlihat beberapa pesan masuk dari nomor yang berbeda.


Kei sengaja membuka lebih dulu pesan dari Andrian, sang asisten.


"Sorry, boss. I sedang busy 'membereskan' banyak kekacauan yang dibuat istri bule you. But everything is okay. They have been settled all. Sorry tak angkat call you."


Kei mengalihkan jarinya menyentuh pesan lain dari nomor yang sudah sangat dikenalinya, meski tanpa identitas di sana.


"Janganlah over confident sangat, I tak nak bicara dengan you. I need to talk to my daughter in law. So please, serahkan ponsel you nih kat menantu I. Okay? Do you understand me?"


...__________*****__________...


To be continued


Maaf, belum bisa menepati janji untuk up siang tadi, bisanya baru up malam ini. Jangan lupa like dan comment ya...

__ADS_1


__ADS_2