Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Akak, Suri Hati Abang Kei?


__ADS_3

Allahuakbar 2×


Allahuakbar 2×


..........................


..........................


Laa ilaha illallah ...


Naya menikmati bait demi bait lantunan azan dari surau di samping rumah mertuanya.


Suara khas dari si pelantun azan, sang muazin, mengusik kembali kenangan berpuluh purnama silam.


Ini adalah kali pertama setelah lebih dari lima belas tahun ia tak lagi mendengar suara khas seorang Kei Hasan saat melantunkan bait-bait panggilan untuk sholat tersebut.


Naya merapikan mukenanya, bersiap menuju surau untuk melaksanakan sholat berjama'ah.


Nenek Syarifah sudah berangkat sejak sebelum azan berkumandang.


"Nay, nak sholat kat rumah atau kat surau? Nenek paham, ada perbezaan mazhab tentang sholat berjama'ah di surau atau mesjid bagi kita perempuan, nih ... Ada mazhab yang cakap, sebaik-baik tempat sholat bagi perempuan tu di rumah dia. Kat rumah tu, ada lagi tempat yang tersembunyi. Namun ada lagi mazhab yang cakap membolehkan, asal tak undang fitnah. Nay, nak ikut yang mana satu, Nenek terserah Nay sahaja. Tapi, tadi Nenek sudah mintakan izin Kei untuk Nay sholat berjama'ah kat surau, tu".


Naya tersenyum mengingat kembali pembicaraanya dengan Nek Sya beberapa saat yang lalu.


Sedari dulu Naya mengikuti pendapat yang membolehkan perempuan untuk sholat berjama'ah di mesjid, selagi tidak mengundang fitnah. Menghindari berhias yang berlebihan, yang akan menarik perhatian sekitarnya terutama lawan jenis. Dan ... jika sudah bersuami, tentu dengan seizin sang suami.


Izin suami? Hati Naya serasa sedikit tercubit saat Nek Sya tadi mengatakan bahwa beliau sudah meminta Kei agar mengizinkan Naya untuk sholat berjama'ah di surau.


Mhm ... Jadi kepengen tahu reaksi si misua saat Nek Sya memintakan izin buatnya?


Naya kembali mengulum senyum saat pikiran tentang reaksi Kei muncul di kepalanya.


Bagi seorang Kanaya Khairunnisa, ia tetap ingin memetik keutamaan sholat berjama'ah yang pahalanya dua puluh tujuh kali lipat dibandingkan dengan sholat sendirian.


Apalagi surau tempat sholat tersebut berdampingan dengan rumah mertuanya. Hanya beberapa langkah saja Naya sudah tiba di samping surau.


Suraunya tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung sekitar lima puluh orang jama'ah sholat.


Naya memasuki surau saat iqamah sudah dilantunkan.


Nenek Syarifah yang melihat kedatangan Naya dari pintu samping surau, segera melambaikan tangannya kepada sang cucu menantu.


Naya mendekat, dan langsung mengambil shaf ke-2, disamping Nek Sya.


Saat terdengar takbiratul ihram dari sang imam sholat, Naya merasakan getar indah di dadanya.


Lantunan Al-Fatihah dan Ar-Rahman yang mengalun syahdu dari lisan seorang Kei Hasan membuat Naya tergugu.

__ADS_1


Buliran-buliran bening meluncur tanpa rencana.


Astaghfirullahalazim! A'uzubillahiminassyaitonirrojiim!


Mohon ampun ya Rabb. Hamba tak tahu, khusyuk ini untuk siapa ...


...***...


"Nay, panggil Abang kamu, tuh. Sampai kapan nak berbual dengan budak-budak kecik, tuh. Nasi dah dingin, nih."


Nek Sya menyentuh lembut lengan Naya yang sedang menghidangkan makan malam mereka.


Naya menatap nenek mertuanya seraya menggelengkan kepalanya.


"Nek..?"


"Nay? Apa lagi?"


"Jangan Nay lah, Nek?"


Naya kembali menggelengkan kepala. Kali ini diiringi dengan tatapan memohonnya.


Nenek Syarifah balas menatap Nay. Lekat tak berkedip. Perempuan sepuh tersebut lantas menganggukkan kepalanya tegas.


"Siapa lagi? Nay, lah ... ! Pahala tahu? Hidang makan suami, jemput makan suami. Kejap lagi temani suami tid...".


Nenek Syarifah tak dapat menahan tawanya. Gigi putihnya yang masih utuh terlihat muncul mengiringi mulutnya yang terbuka karena tertawa lebar.


Naya menekuk wajahnya. Ia bukan tidak tahu dan tidak mau mendulang pahala dengan amalan-amalan seorang istri seperti yang disampaikan Nek Sya. Tapi bagi seorang Kei Hasan, apakah Kanaya Khairunnisa adalah seseorang yang dianggapnya 'istri'? Naya ragu!


"Aduh, Mama ... Kenapa tak balik-balik dari rumah Mak Lung Hamidah, tuh? Naya butuh sekutu, nih?"


"Dah, kalau kamu tak nak jemput makan cucu nenek tu, nenek tak nak makan lah. Biar puasa sahaja malam, nih". Nek Sya kembali bersuara, kali ini dengan wajah yang memberengut. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa.


Naya tersenyum kecil. Ia tahu nenek mertuanya itu sedang berlakon.


"Iya, iya. Nenek janganlah merajuk macam, tuh. Nay jemput lah nih cucu kesayangan Nenek", berkata begitu Naya melangkah keluar menuju surau.


Di dalam surau terlihat Kei sedang bermain seru dengan sekelompok anak kecil. Semuanya berjumlah tujuh orang dengan rentang umur yang berbeda.


Seorang anak lelaki yang paling kecil, diperkirakan Naya berumur sekitar lima tahunan, naik ke punggung Kei. Kemudian Kei bergerak pelan seperti kuda yang ditunggangi oleh jokinya.


Tanpa sadar Nay tersenyum. Ingatannya langsung melayang ke masa saat ia seumuran dengan anak lelaki yang sedang menunggangi punggung Kei sekarang.


Kei dan Ken yang sering menjadi kudanya. Kedua kakak beradik itu bergiliran untuk mengarak Nay kecil mengelilingi rumah panggung mereka. Mereka takkan berhenti sampai Nay sendiri yang merasa lelah dan minta berhenti.


Nay menggelengkan kepalanya masih dengan tersenyum kecil.

__ADS_1


"Ssttt ... Kakak comel, mari kat sini. Nak naik kuda juga, ke?" Anak lelaki kecil yang sedang berada di punggung Kei menyadarkan lamunan Naya.


Naya tergagap. Mendadak lidahnya terasa kelu. Pandangan lekat Kei padanya semakin menyudutkan Naya. Beberapa saat ia terdiam.


"Kakak cantik, sinilah. Kite tengah main kuda-kudaan, nih. Kakak cantik nak juga?"


Kei tersenyum tipis. Pernyataan anak kecil tersebut terdengar ambigu bagi telinga dewasanya.


Matanya menatap nakal pada Nay yang juga sedang menatapnya. Hanya sekilas. Sejurus kemudian Naya menundukan pandangannya.


"Mhm... Assalamualaikum. Maaf, menganggu mainnya ... Nek Sya jemput makan. Hidangan sudah siap", Naya berbicara tanpa memandang Kei.


"Makan? Seronok, nih ... Nek Sya jemput kita makan. Lets gow, Bang Kei ...".


Seorang anak lelaki yang lainnya yang lebih besar langsung menurunkan si anak kecil dari punggung Kei dan menghela tangan Kei.


Kei bangun dari posisi kudanya. Ia menarik si anak kecil tadi ke dalam pangkuannya dan berjalan perlahan mengiringi Naya yang berada di depannya.


Nenek Syarifah yang melihat kedatangan Naya dengan diiringi Kei tersenyum sumringah. Wajah tuanya nampak bercahaya.


Namun matanya membulat sempurna saat keriuhan anak-anak kecil yang mengular di belakang cucunya.


"Kei?"


"Kenapa, nek?" Kei mengangkat bahu sambil melirik Nay.


"Cucu menantu nenek yang jemput", ujarnya seraya tersenyum.


"Bu ... bukan, nek. Nay hanya ..."


"Ah, sudahlah. Tak apa! Mereka memang sering menemani nenek di sini. Makan, minum, tidur. Sudah seperti rumah sendiri."


"Assyyiikk ... Seronok makaaannn ...!" Serentak ketujuh orang anak-anak tersebut menyerbu meja makan.


"Eits ... Tunggu dulu. Kerana kursi tak cukup, apa kata kita makan kat bawah, melantai. Mahu, kan?"


"Mahuuuu ..."


Dengan dibantu ketujuh anak-anak itu Naya dan Kei menurunkan semua hidangan ke lantai ruangan.


Saat Naya menyerahkan piring yang telah diisi nasi kepada Kei yang tidak berkedip menatapnya, anak lelaki yang paling kecil berbisik kepada Naya.


"Jadi betul lah, ye ... Kakak comel nih, suri hati Abang Kei?"


...***...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2