Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Mimpi Buruk yang Berulang


__ADS_3

"No! Please, don't do that! No...!!!" Naya menjerit histeris saat ujung belati yang dihantamkan si jubah hitam hampir menyentuh ulu hatinya.


"Nay... Naya? What's up?! " Kei menepuk halus pipi Naya. Kedua mata gadis itu masih terpejam rapat dengan alis yang bergerak-gerak saling menautkan diri.


Keringat bercampur air mata mengucur membasahi wajah pucatnya. Tubuhnya bergetar hebat.


"Nay sayang, wake up! Kamu bermimpi? Shtttss... ini Abang. Itu cuma mimpi".


Kei mendekap erat tubuh Naya yang masih saja berguncang dalam dekapannya.


Lelaki itu membenamkan kepala sang istri ke dadanya sambil mengelus lembut puncak kepalanya.


"Dah, kamu hanya mimpi, sayang. Ayo buka matanya", ujar Kei dengan menengadahkan wajah cantik yang kini nampak pucat, sambil menciumi kedua matanya yang masih terpejam rapat.


Gadis itu masih bungkam, hanya kepalanya yang menggeleng lemah dengan mata yang masih menutup rapat.


Kei akhirnya kembali merangkul tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, mengusap-usap punggung Naya sambil terus menciumi puncak kepalanya.


Naya pun semakin menyusutkan diri dalam dekapan hangat yang perlahan berhasil mengurai takutnya. Namun tetap saja


mimpi itu membayang begitu nyata di pelupuk matanya.


Berlari melewati hutan randu seorang diri, di belakangnya seseorang yang bepakaian serba hitam terus mengejarnya dengan sebilah belati yang terhunus.


Naya berlari tertatih. Tubuhnya jatuh bangun, terus berusaha menghindari pengejarnya. Hingga akhirnya langkahnya terhenti di tepi sebuah jurang. Ia tergidik ngeri ketika menatap kebawah. Deburan ombak menghempas seperti berusaha memecah tepian jurang tempatnya berpijak.


Sesosok berbaju hitam itu semakin mendekat. Wajahnya tak terlihat jelas, tertutup oleh lilitan selendang yang juga berwarna hitam. Naya berteriak minta tolong sekuatnya, namun suaranya tak mampu melewati kerongkongan. Naya hanya mampu menjerit di dalam hati.


Sekarang sosok berpakaian serba hitam itu hanya bejarak beberapa depa saja dari tempat Naya berdiri. Gadis itu masih berusaha menghindar dengan langkah yang terus mundur, namun langkahnya terhenti saat merasakan kakinya telah menyentuh bibir jurang. Naya semakin panik saat matanya menangkap kilatan belati yang sekarang tepat bergerak menuju ulu hatinya.


Seketika Naya memejamkan matanya, saat dinginnya ujung belati itu terasa


mulai menyentuh tubuhnya.

__ADS_1


Sesaat Naya merasakan waktu seakan terhenti, ia membeku di tempatnya berdiri dengan mata yang terkatup rapat. Hingga kemudian ia merasakan sentuhan hangat di pipinya diiringi dengan lengan kukuh yang mendekapnya dalam hangat.


Namun Naya tetap tidak berani membuka matanya, sampai akhirnya terdengar bisikan lembut ditelinganya. Adalah Kei, yang berusaha membangunkannya dari mimpi buruk itu.


Mimpi buruk? Ya, mimpi buruk yang berulang! Sialnya, kenapa hampir sama? Baik, tempat, suasana dan alur yang benar-benar nyaris sama.


Ya Rabb, ini pertanda apa? Kenapa mimpinya serasa begitu nyata?


Ini sudah mimpi yang ke dua sejak kepulangannya kembali dari Perancis beberapa bulan yang lalu.


Namun beberapa saat kemudian, Naya yang masih dalam dekapan Kei merasakan sesuatu yang sedikit aneh dengan tubuhnya. Rasa dingin dan hangat yang menjalar bersamaan. Perlahan gadis itu mengerjap dan mulai membuka kelopak matanya.


"Aaarrggghhh!!!". Naya terjengkit kaget ketika menyadari tubuhnya yang hanya memakai dalaman saja.


Gadis itu semakin membenamkan tubuh mungilnya dalam dekapan sang suami sambil kembali memejamkan mata, menolak pemandangan di tubuhnya sendiri.


Sejurus kemudian Naya mulai menyadari sesuatu. Sepertinya ada yang salah, tapi apa dan siapa? Sekarang Naya seakan terjebak di sebuah jalan buntu tanpa pemandu. Tiba-tiba ...


"Abang ...?!! What have you done?!" Naya kembali berteriak sambil memukul-mukul dada bidang Kei.


"No! No need! Let me go!" Naya berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Kei, namun saat kembali menyadari tubuhnya yang hanya ditutupi dalaman saja, ia segera menyusut, balik kembali ke dalam pelukan Kei.


Dilematis sungguh bagi Naya sekarang. Bertahan dalam dekapan Kei dengan tubuh yang nyaris polos, atau keluar dari pelukan Kei dengan resiko tubuhnya yang terekspos, terpampang nyata.


Kedua opsi tersebut sama sulitnya untuk Naya, karena sama-sama merugikannya. Kei yang untung banyak.


Kei yang masih memeluk sang istri dengan sebelah lengannya, tersenyum simpul. Lelaki itu mengeratkan pelukan sambil terus memegangi kedua tanggan Naya dengan tangannya yang satu lagi.


"Maaf, semalam abang lihat Nay gelisah dalam tidur, berpeluh. Abang dah berusaha nak bangunkan, tapi Nay tetap saja tak nak bangun", Kei berusaha menjelaskan dengan versinya.


Naya tak bereaksi dalam pelukan Kei. Ia terdiam dengan tetap menyurukan muka dan tubuhnya, berusaha menghindari tatapan Kei.


Mhm... Naya tidak tahu saja, bila Kei telah melihatnya semalaman. Bahkan saat ini, karena tubuh mungilnya berada dalam dekapan tubuh tinggi besar Kei, sehingga lelaki itu tetap dengan leluasa bisa memandangi Naya yang berusaha bersembunyi dari pandangannya.

__ADS_1


"Maaf ya, tapi abang dah minta izin kok, dan Nay juga yang ngasih izin?"


"Eit, tunggu?! Nay ngasih izin? Maksudnya?" Naya seketika menengadahkan wajahnya, berusaha meminta penjelasan dari Kei.


"Iya! Saat abang minta kamu untuk mengangguk tanda ngasih izin, kamu mengangguk kok. Berkali-kali malah", tambah Kei hiperbol.


Naya yang mendengar penjelasan lebay Kei, membulatkan matanya tak percaya. Ia semakin yakin kalau itu semua hanya modus Kei saja.


"Lagian abang kan udah pernah lihat semuanya, pas di rumah nenek. Saat itu Nay se....". Kei tidak dapat meneruskan kalimatnya karena tangan Naya yang sudah duluan menutup mulutnya.


"Apaan sih? Udah ah, ngga usah ngomongin itu terus, napa?!"


Naya memberengut kesal. Rosebud, kelopak mawar yang tengah merekah terlihat begitu mengundang di mata Kei. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri, berusaha mengendalikan hasrat yang mulai melesak.


"Udah, abang micing sekarang, Nay mau ...". Naya tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat ia merasakan sesuatu yang kenyal dan hangat sudah membungkam mulutnya.


Sesaat gadis itu terpaku dengan mata yang kembali membulat penuh, kemudian mengerjap untuk selanjutnya terpejam rapat.


Kei tersenyum tipis di tengah 'serangan' fajarnya yang langsung melumpuhkan Naya.


Gadis itu masih memicingkan matanya rapat saat Kei semakin memperdalam kulumannya pada kelopak mawar Naya. Melesak jauh ke dalam, mencicipi semua rasa yang tersaji indah.


Naya tersengal saat pasokan oksigen di parunya terkuras. Kei yang menyadari hal itu segera melepaskan tautannya. Menatap dalam gadis cantik di dekapannya.


"Ambil nafas, sayang", ujar Kei sambil menyentuh ujung bibir Naya dengan ibu jarinya untuk membersihkan sisa pertautan mereka barusan.


Naya kembali menyurukan wajahnya ke dada Kei dengan semburat merah yang merona kentara.


"Maafkan abang, but please jangan marah lagi ya?" Rayu Kei sembari mengecup lembut puncak kepala Naya. Ia sudah bertekat untuk memenangkan hati sang istri dengan segala cara.


_________*****__________


To be continued

__ADS_1


Mohon terus dukungannya dengan memberikan like, vote and comment, ya. Thank you all.


__ADS_2