Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Misi Menjinakan Angsa Kecil (Part 2)


__ADS_3

Naya mengulurkan tangan pada perempuan cantik berkaca mata di depannya.


Kemudian matanya melirik Kei sekilas. Ternyata lelaki itu sedang menatapnya dengan pandangan yang lekat dan dalam.


Apaan, sih? Orang cuma masuk angin doang! Kenapa mesti manggil dokter segala?!


"Tapi Nay okay je, Abang. Nay tak apa-apa pun." Naya kembali mengarahkan pandangannya ke arah Kei sekilas. Kemudian beralih pada dokter perempuan di depan mereka.


"Mungkin hanya masuk angin, Dok. Soalnya kita tadi pagi berangkatnya Subuh-an. Siap sholat langsung naik mobil."


"Tapi baiknya periksa dulu, bu. Supaya lebih jelas." Tek Nun yang sehari-hari menjaga villa tersebut muncul dengan nampan berisi beberapa gelas teh hangat.


"Iya, bu. Sebaiknya diperiksa dulu. Biar bisa dipastikan obat apa yang akan diresepkan." Dokter Dinda tersenyum sambil meyakinkan Naya.


"Iya, sayang. Kamu diperiksa aja dulu, ya?" Kei menimpali dengan kembali melabuhkan tangannya di kepala sang istri, kali ini sedikit mengacak rambut hitam milik Naya.


"But, Abang ...?"


"No but, sayang ... Ayo kembali ke kamar! Mari, Dok ... Periksanya di kamar saja." Kei menoleh ke arah dokter Dinda sekilas seraya menarik pelan tangan sang istri.


Naya yang memang merasakan kepalanya masih sedikit pusing, akhirnya menurut dengan menyeret langkahnya menuju kamar.


Gadis cantik itu melangkahkan kakinya dengan diiringi oleh Kei yang memegang tangan mungil si kecil Lilý. Di belakang mereka dokter Dinda mengikuti.


...*****...


"Mulai sekarang Abang yang akan mengatur pola makan, sayang. Ngga boleh lagi makan sembarangan! Ngga boleh makan yang pedas-pedas! Ngga boleh makan yang berminyak! Ngga boleh ini ...! Ngga boleh itu ...!" Kei masih terus dengan 'kultum' alias kuliah tujuh puluh menitnya.


"Ingat apa kata dokter Dinda tadi sore, sayang harus menjaga pola makan. Istirahat juga harus cukup, agar asam lambungnya ngga naik. Ngga boleh stress, ngga boleh tertekan."


"Jangan lupa pola hidup sehat yang tadi sudah disampaikan dokter Dinda!" Kei kembali melanjutkan 'kultum' di meja makan. Panjang bet!


Ingat kata dokter Dinda! Jangan lupa kata dokter Dinda! Kok dokter Dinda mulu yang diingat, jangan dilupa! Maksudnya apa coba?! Ups!


Naya sudah memberengut kesal.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Setelah tadi sore dokter Dinda lewat diagnosa sementaranya menyatakan bahwa Naya mengalami gejala maag, Kei tidak berhenti mengomel. Kalimat omelan panjang kali lebarnya memenuhi ruang pendengaran Naya.


Lelaki tampan yang tahun lalu dinobatkan sebagai "Young Enterpreneur of the Year", yang biasanya selalu tampil cool, dan terlihat sedikit dingin bagi sebagian orang, tiba-tiba memetamorfosis dirinya menjadi seekor "burung murai" yang tak lelah berkicau.


Naya menggelengkan kepalanya beberapa kali. Kedua tangannya menempel utuh di pipi padat berisinya, sambil menumpu di atas meja makan.


Menatap Kei dalam diam. Lamat dan lekat. Rahang kukuhnya terlihat semakin menonjol saat lelaki itu bicara dengan kalimat-kalimat dalam yang penuh tekanan.


Mata hitam kelamnya sesekali memancarkan pendar sendu dan berkabut, namun yang lebih seringnya menyorot tajam bak elang pemangsa, siap menerkam apapun yang dikehendakinya.


Namun entah kenapa mata kelam itu senantiasa mampu menenangkan, mencipta nyaman bagi seorang Kanaya Khairunnisa. Merasa aman dalam rengkuhannya.


Bibir penuh berisi Kei yang sering tetiba tanpa aba-aba membungkam, melumpuhkannya dalam buaian rasa yang Naya sendiri masih sulit mengejanya.


Dari bibir itu pula lah, sering meluah untaian manis kata merayu yang mampu membelenggunya dalam bumbungan rasa. Menawan dalam penjara kaca tak terbaca, ia bisa memindai segala arah, namun tetap tak bisa menembusnya! Ah, entahlah.


Andai rasa mampu membaca alinea-alinea panjang tak berkoma, mungkin Naya akan mencipta kisah paling panjang dalam sejarahnya.


Terdampar pada sebuah pernikahan yang tak mampu ditolaknya. Bertahun terasing dalam kesepian dan kesendirian, seperti orang buangan di rantau orang.


Saat hati mulai lelah dan bertekat untuk menyerah, namun takdir malah seperti mengajaknya berdansa dalam canda.


Naya masih saja larut dalam kembara rasanya, saat dua buah kecupan ringan singgah di kedua matanya.


Gadis itu terperagap. Kedua matanya membola sempurna.


Kei telah berada di depannya, tepat tak bersekat. Lelaki itu tengah tersenyum dengan seringai nakal di sudut bibirnya.


"Abang di sini, ada di dekat Nay. Kenapa mikirnya harusnya jauh-jauh, mhem..." Kei membisik tepat di telinga kanan Naya seraya meniup perlahan. Hfuuiih ...


Naya merasa tubuhnya meremang seketika. Hangatnya nafas Kei menerpa kulit wajahnya yang sekarang entah merona apa.


Pasokan oksigennya seakan dirampas paksa oleh seorang Kei Hasan. Memaksanya harus rela hanya meraup udara yang tersisa.


Naya berusaha menghalau gugup yang tetiba melanda. Gadis cantik bermata jeli itu menggelengkan kepalanya samar. Menggigit kecil bibir bawahnya, berharap dapat mengurai resahnya.

__ADS_1


Kei kembali mendekatkan wajahnya, mengikis jarak antara ia dengan gadis cantik di depannya.


Mata tajam bak elang-nya perlahan mulai meredup seiring kabut yang datang tak dinyana.


Naya tercekat saat hangat tetiba menyergap bibir mungilnya. Baru berniat melepaskan diri dengan menarik mundur kepalanya, sebuah tangan besar sudah menahan tengkuknya. Akhirnya pasrah adalah kata yang mampu diluahkannya lewat mata yang memejam sempurna.


Kei tersenyum di sela ******* lembutnya. Meski kepalanya ingin tegak jumawa, namun hati memaksanya tetap merunduk rendah.


Kei baru bisa sedikit menjelajah, mencicipi secuil rasa, namun belum sepenuh raga gadis di depannya, apalagi menjadi penguasa di hatinya.


Belum Kei! Mungkin masih butuh beberapa episode untuk meraih Naya seutuhnya! Wk ... Wk ... Wk ...


...*****...


"Sayang, bangun yuk ... Dah hampir Subuh ini ..." Kei menepuk pelan pipi chubby sang istri.


Menggeliat sebentar, mengerjap dalam samar, namun Naya masih enggan membuka matanya.


Gadis itu masih setia bergelung di bawah selimut tebalnya.


Puncak Lawang memang memberikan sensasi sejuk yang luar biasa bagi tubuh mungilnya yang terbiasa dengan suhu hangat.


Semalaman Kei seperti dapat jackpot karena Naya yang terus menerus menyelusup, masuk ke dalam dekapan hangatnya. Enggan menjauh meski sejengkalpun.


Kei tersenyum, mengingat kembali scene semalam yang membuat tidurnya terasa lebih singkat. Waktu seakan melaju sangat cepat, dan kini Subuh sudah di depan mata. Aih, waktu sepertinya cemburu denganku!


"Sayang ... Bangun... Katanya mo ikut sholat Subuh di surau. Yuk, bangun. Abang dah siap, nih ..." Kei masih berusaha membangunkan sang istri yang sepertinya tetap enggan untuk bangun.


"Sayang, masih ingat ngga kata dokter Dinda kemaren, kamu harus ..."


"I**isshhh ... 'napa dari kemaren kata dokter Dinda 'mulu, sih ... Enneegg, tahu ngga! Udah Abang pergi aja sendiri!" Naya memberengut dengan mata yang masih terpejam.


Kei terkesiap. Menatap wajah imut di depannya. Mata yang masih terpejam rapat, namun bibir mungilnya memberengut, maju beberapa centi. Cantik!


Kei tersenyum tipis dan samar. Aih, aih ... Sepertinya angsa kecik nih dah ditemukan penjinaknya!

__ADS_1


...__________*****__________...


To be continued


__ADS_2