Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Penculikan Pangeran Terbuang? Wkw...Wkw...


__ADS_3

Pagi masih basah setelah hujan lebat mengguyur kota Seremban selepas Subuh tadi.


Hari masih menunjukan pukul 08.15 pagi, saat Kei melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang sudah mulai ramai.


Setelah tadi menitipkan pesan kepada mak Midah untuk menemani Naya, Kei dengan sedikit memaksa, meminta gadis itu untuk tidur lagi sesaat setelah menerima panggilan telepon yang cukup lama dari Puan Sri Latifah.


Meski tidak tahu pasti apa yang disampaikan sang mama kepada menantu kesayangannya, namun ada sebuah kalimat pamungkas dari Naya yang sedikit menggelitik rasa penasaran Kei saat itu.


"Tapi, Mama... Sebenarnya yang sangat menyiksa itu adalah mencintai orang yang tidak mencintai kita".


Apakah sang mama sedang menyinggung masalah pernikahan mereka, sehingga Naya berbicara seperti itu? Entahlah.


Siapa mencintai siapa? Kei yang waktu itu sedang menyisir rambutnya di depan cermin, menoleh Naya sekilas. Ia berusaha untuk tak terlihat sedang mencuri dengar meskipun sebenarnya Kei menyimak semua perkataan Naya dengan sangat baik.


Karena itulah akhirnya Kei mengambil keputusan cepat yang diyakininya juga tepat.


Bibir Kei melengkung membuat senyuman tipis. Entahlah, beberapa hari ini berada dekat dengan Naya dan pusaran keluarga intinya membuat hidupnya kembali colorful, penuh warna. Bila dulu hanya putih atau hitam yang mendominasi, tapi kini pinky juga ikut menyelingi saat gadis itu membersamainya.


Meski bila bersama Puan Sri Latifah dan Afifah, yang lebih sering merona adalah warna merah membara yang membuat aliran darah Kei terasa terpompa lebih cepat.


Bagaimana tidak? Setiap berjumpa ada saja hal yang kemudian malah memicu perseteruan baru diantara mereka.


Kedua perempuan kesayangan Tan Sri Abdul Hamid itu seperti tak pernah kehabisan amunisi untuk menyerang sisi terlemah Kei, it's all about Naya!


Kei tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, berusaha mengusir bayangan Puan Sri Latifah dan Afifah yang tiba-tiba seperti tidak mau sirna dari kepalanya. Lelaki itu sampai harus mengibas-ngibaskan tangannya seperti sedang mengusir sesuatu.


Kei masih saja terpenjara oleh bayangan sang mama dan sang kakak, saat tiba-tiba terdengar nada nyaring pertanda panggilan masuk di gawainya. Kei segera memasang handsfree untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hi, bro I'm stil on the way. I'll be there in five minutes".


Kei menambah laju kendaraannya setelah Haris, teman yang akan ditemuinya menyatakan telah sampai di tempat janji mereka.


Ciittt... Ciiitttttt....

__ADS_1


Kei yang sedang melaju dalam kecepatan penuh, terkesiap saat sebuah mobil sport putih tiba-tiba menyalibnya dan melambat di depannya.


Bunyi decit rem yang diinjak Kei secara mendadak, mendramatisir suasana jalanan yang memang sedang ramai karena rush hour.


Kei refleks membanting stir F 488 Pista miliknya ke kiri, berusaha untuk tidak menabrak mobil yang baru saja menyalibnya.


Sesaat Kei menatap tajam mobil sport putih yang baru saja menghilangkan separuh kesadarannya itu. Untung saja meskipun sedang melaju dalam kecepatan tinggi setelah menerima panggilan telepon dari Haris, namun Kei tetap dalam kondisi stabil dan siaga.


Beberapa saat kemudian Kei kembali melaju, kali ini jauh lebih pelan karena kendaraan yang di depannya pun demikian.


Lelaki muda itu mengklakson mobil di depannya beberapa kali karena terkesan seperti sengaja menghalangi laju kendaraan Kei, namun mobil tersebut malah semakin melambat.


Kei berdecak kesal. Pengemudi mobil di depannya seakan sedang berusaha memprovokasinya.


Dengan kecepatan penuh Kei berusaha untuk bisa mendahului mobil sport putih itu, namun si pengemudi di depannya seperti mengetahui niatnya. Mobil itu pun meliuk ke kanan, kembali menghalangi Kei.


S-hiitt! Kei menggeram kesal saat tak berhasil masuk. Sesaat kemudian ia kembali mengambil ancang untuk menginjak gas, kembali berusaha mendahului mobil di depannya.


S-shiitt! Double s-hitt! What a hell!


Kei kembali merutuk, sangat marah. Kali ini diiringi sumpah serapahnya. Namun beberapa detik kemudian matanya menyipit melihat kendaraan di sampingnya yang masih saja memepetnya.


Toyota Alphard SC! Nomor Polisi QRA 45! Itu kan mobil...? Puan Sri?!


Kei menajamkam pandangannya seakan berusaha menembus kaca filem di mobil itu. Menelisik siapa pengemudinya. Putra?!


Jangan-jangan si pengendara mobil Sport di depan adalah ...?


Mhmpuihhh!!! Jadi, mereka*?!


Kei menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Ia tidak habis pikir, kenapa kedua perempuan itu seperti senang bila melihat hidupnya kacau.


Kei menggeleng-gelengkan kepalanya setelah menyadari siapa yang berada di dalam dua mobil yang sepertinya sedang menuntun Kei menuju sebuah tempat.

__ADS_1


Well, let's see... Puan Sri. I do wonder now, what do you want from me?! Kei membatin kesal.


Sementara itu, mobil sport putih yang masih di depan, mulai melaju dengan kecepatan penuh.


Kei tahu bahwa kedua mobil yang sedang mengiringnya sekarang, memintanya untuk mengikuti mereka.


Kei pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh seperti mobil sport putih di depannya. Sedangkan Toyota Alphart SC milik Puan Sri Latifah yang dikemudikan oleh Putra, mengiringi mereka dari belakang.


Akhirnya ketiga mobil itu melaju lancar di jalanan. Kei yang sedang menghubungi Haris, untuk membatalkan janji temu mereka sedikit terkejut saat menyadari bahwa ia telah jauh digiring meninggalkan kota Seremban.


Kei memindai jalanan di sekitarnya. Ia mengernyitkan dahi saat matanya mulai bertemu dengan pemandangan air laut yang terlihat biru dari kejauhan. Mareka telah memasuki kota pantai, Port Dickson.


Dari rear vision mirror dalam mobilnya, Kei menatap mobil di belakangnya yang tengah dikendarai oleh Putra, asisten Puan Sri Latifah sekaligus saudara sepupu Kei. Berharap sang mama memulai membuka komunikasi, memberitahu Kei mau kemana tujuan perjalanan mereka. Namun sepertinya harapan Kei terlalu tinggi.


Lelaki berahang kukuh dengan mata elang itu sekarang menatap lurus ke depan, ke arah mobil sport putih yang diyakini Kei sedang dikendarai oleh sang kakak tercinta, Afifah Abdul Hamid. Sedikit berharap sang kakak punya inisiatif untuk menghubunginya. Ah, sebelas dua belas! Mana mungkin queen and princess of Abdul Hamid kingdom itu akan merendahkan diri menghubungi Kei duluan? Si Pangeran Terbuang?


Well... Okay... Alright!!! You both WIN!!


Kei menggeram kesal sembari memukul kencang stir di depannya. Sesaat kemudian tangan kirinya bergerak mengaktifkan handsfree-nya.


"Assalamualaikum gusti Ratu yang mulia, sekiranya patik boleh bertanya, kita nih hendak kemana? Atau...Apakah ini penculikan gaya baru?"


Kei langsung mengeluarkan kalimat sarkastik setelah mengucap salam kepada sang mama.


Putra, sang asisten yang dapat mendengar secara langsung panggilan telepon dari saudara sepupunya itu, karena memang sengaja diaktifkan loudspeaker-nya oleh Puan Sri Latifah, tersenyum dikulum. Lelaki gagah yang usianya sepantaran dengan Kei itu sesekali menggelengkan kepalanya. Takjub dengan gaya Kei yang tak berubah.


"You don't need to know!" Puan Sri menggeram lebih saskastik.


___________*****__________


To be continued


Yeaii! Yang merasa jadi Pangeran Terbuang, diculik...Wkw...wkw... Dah tua juga, ngapain diculik, kek anak kecik aja bang Ke?!

__ADS_1


__ADS_2