
Flashback On (Lanjutan)
Merasa mendapat dukungan dari tek Za, segera menarik lembut tangan Naya, kemudian mengiringinya menaiki tangga.
Naya yang sebenarnya masih diliputi rasa penasaran, akhirnya menurut saja saat Kei menghela tangannya menuju ke kamar mereka di lantai dua.
Sesampainya di dalam kamar, sesaat setelah Kei menutup pintu, Naya langsung membalikan tubuhnya.
Kei yang terkejut tidak sempat menghindar ketika tubuh keduanya bertubrukan.
"Auuucchh".
Naya menjerit tertahan ketika merasakan hidungnya membentur permukaan yang keras.
Naya spontan memegang permukaan hidungnya yang terasa kebas dengan rasa sakit yang menjalar ke kepala bagian depannya.
Seketika gadis cantik itu sedikit terhuyung, tak mampu menahan bobot tubuhnya.
Dengan sigap Kei menangkap tubuh mungil yang hampir jatuh luruh ke lantai tersebut.
"Ya Allah, kamu apa-apaan sih, Nay? Kalo mo membalik tu, jangan tiba-tiba, ngasih kode dulu kek. Sakit?" Kei langsung membopong tubuh sang istri dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Sakit banget, ya?" Kei kembali bertanya sambil tangannya mengusap-usap hidung dan kepala Naya.
Naya masih belum menjawab, gadis itu hanya meringis sambil terus memegangi hidung dan kepalanya yang masih terasa berdenyut.
Kei masih mengusap lembut hidung dan kepala sang istri sambil sesekali meniupnya pelan.
"Masih sakit? Tunggu sebentar, Abang ambil es batu dulu, kita kompres ya?" Tanpa menunggu jawaban Naya. Kei sudah turun dari tempat tidur dan berjalan kamar.
Tak lama kemudian lelaki itu sudah kembali dengan batu es yang sudah terbungkus dalam sebuah handuk kecil.
Menaiki tempat tidur, Kei bersiap untuk menempelkan handuk berisi batu es itu ke hidung sang istri, saat Naya menahan pergerakan tangannya.
Kei menautkan kedua alisnya dengan mata yang agak menyipit.
"Kenapa?" Kei menatap Naya lekat.
"Tadi katanya ada yang Abang mo sampaikan. What's that? Tell me now!" Naya yang sekarang gantian menyipitkan matanya menatap Kei.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum samar. Ehem, masih ingat juga dia, nih?
"Kenapa? Tadi Abang memang cakap macam tu, kan? Yuukk ke atas, ada yang mau Abang sampaikan", ujar Naya menirukan kembali apa yang tadi dikatakan sang suami dengan gerak bibir yang sengaja dibuat maju.
Kei bukan hanya tersenyum kali ini, namun ia juga tergelak menyaksikan gerak bibir Naya. Bahkan matanya menyipit seiring gerak bibir yang membuka lebar.
"Ha...ha...ha... No! I didn't say that! Abang tak cakap macam tu. Abang cakap... Sayang, kita ke kamar sebentar, ada yang ingin Abang sampaikan," elak Kei masih dengan senyum.
__ADS_1
"Yeiii, sami mawon, idem dito." Naya memutar bola matanya malas.
"Lagian tadi ngga ada pake kata, 'sayang' juga. Ngarang bebas, deh..." Naya masih bersungut.
Kei tersenyum mendengar kalimat sang istri, yang di telinganya entah kenapa terdengar lebih kepada sebuah complaint, bahasa merajuk.
Seraya menempelkan bongkahan es berbalut handuk itu ke hidung Naya, Kei menatap di depannya lekat.
"Well, tadi ngga pake kata 'sayang', ya? Okay, sekarang Abang banyakin 'sayang'nya, ya..." Kei kembali tersenyum.
"Sayang, sekarang sayang silah tidur dulu, ya? Abangnya sayang nih harus kembali ke bawah, karena ada yang perlu Abang sayang bicarakan dengan ibu mertua sayang, yaitu Puan Sri tersayang," Kei mengontrol gerak bibirnya untuk tetap terlihat serius saat melafaskan kalimatnya namun matanya tak sanggup menahan jenaka.
Lelaki itu berucap dengan mata yang menatap lamat dan lekat sang istri, berusaha menunjukan kesungguhannya.
Naya membuang muka saat Kei masih tetap menatapnya tanpa kedip.
"Tadi 'kan udah bicara. Mo bicara apa lagi? Atau? Ada yang Abang sembunyiin dari Nay?" Berkata begitu Naya kembali mengarahkan pandangannya kepada Kei. Menatap manik hitam itu lekat.
Kei kembali tersenyum seraya menutup kedua mata Naya dengan telapak tangannya yang besar.
"Hush! Jangan suudzhan, apalagi sama suami. Abang tidak akan menyembunyikan apapun dari sayang. Besok pagi Abang cerita, sekarang sayang tidur dulu. Pokoknya, Abang akan memenuhi semua permintaan sayang satu persatu." Kei menatap Naya hangat. Matanya mengisyaratkan kesungguhan.
"Tadi Abang udah meminta sayang kepada Puan Sri secara baik-baik, kan? Seperti pinta sayang, seperti yang sayang inginkan," lanjut Kei.
"Wait, wait! Kenapa Abang masih manggil Mama dengan 'Puan Sri' lagi? Trus, jadi maksud Abang, Abang lakukan semua itu hanya untuk Nay? Untuk bisa mendapatkan maaf Nay? Tidak karena Abang benar-benar ingin minta maaf pada Mama? Bukan karena Abang tulus ingin berbaikan kembali dengan Mama?" Naya membulatkan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Patutlah! Sedari awal, Nay sudah mulai curiga dengan Abang. Kenapa Abang bisa begitu lancar meminta maaf kepada Mama, bahkan berkata-kata bak pujangga dalam cerita-cerita di novel picisan, ternyata ...ck...ck..." Naya berdecak kesal. Ia tidak melanjutkan kalimatnya, hanya kepalanya yang menggeleng perlahan dengan buliran bening yang mulai luruh.
Tetes demi tetes terus turun diiringi isak tertahan. Bahu gadis itu sampai terguncang menahan gejolak di dalam dadanya. Sedih, kecewa dan marah lebur menjadi satu.
"No, sayang! It's not like what you think! Bukan macam yang sayang pikirkan, tu!" Kei merengkuh Naya kuat.
Mengeratkan dekapannya, Kei mengusap punggung gadis itu perlahan.
"Sayang, please don't be negative thinking! Tentu saja Abang tulus minta maaf kepada Mama. Abang benar-benar ingin memperbaiki semuanya semula jadi! Trust me, please?" Kei semakin menurunkan tense suaranya.
Lelaki gagah berahang kukuh itu kemudian mengangkat wajah sang istri, lalu menangkup pipi chubby itu dengan kedua tangannya.
"Sayang, please look at me! Look in to my eyes! Wallahi! Demi Allah! Abang benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Abang ingin berubah menjadi lebih baik!" Kei menatap Naya dalam.
"Sayang, Abang tidak tahu, apa ini yang disebut sebagai hidayah? Namun, sekiranya benar ini adalah hidayah, lalu Abang bisa apa, bila hidayah itu sampai ke Abang, lewat perantara seorang gadis yang bernama Kanaya Khairunnisa! Apa itu salah Abang? Apa itu juga dosa Abang?" Kei masih menangkup pipi sang istri dengan tatapan yang kian dalam.
"Bila Abang kadang masih terlepas memanggil Mama dengan sebutan 'Puan Sri', itu sama sekali bukan Abang sengaja. Mungkin karena kebiasaan selama beberapa tahun, ni. Tapi Abang pasti akan belajar untuk kembali seperti dulu, seperti tahun-tahun yang lalu. Bersama Nay di samping Abang, Abang yakin semuanya akan kembali semula jadi. Jadi, tolong percayakan Abang, ya?" Kei mengakhiri kalimat panjang curahan hatinya dengan mengusap lembut puncak kepala sang istri seraya mencuri sebuah kecupan ringan di hidung sang pujaan hati.
"Tak sakit lagi, kan?" ujarnya setelah kembali menyentuh lembut button nose Naya.
Tidak langsung menjawab, Naya hanya menggelengkan kepala seraya menatap sang suami dalam diam. Ada sesal di sudut hatinya. Seharusnya ia memahami beban psikologis yang dipendam lelaki di hadapannya.
__ADS_1
Bertahun menjauhkan diri, hidup dalam keterasingan dari circle keluarga besarnya, tentu bukan sesuatu yang mudah untuk kembali membiasakan sesuatu yang tak lagi biasa, atau meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun ini.
"Maaf. Nay minta maaf, Abang," bisik gadis itu lirih.
"No! Sayang tak de salah. So, you don't neet to ask that! Abang malah senang dan gembira karena sayang sudah bersedia kembali mengingatkan Abang seperti tahun-tahun dulu. Dulu sekali, saat Ken masih ada kat kita semua. Thank you so much, sayang. I love you more ... More and more!" Ken kembali melayang kecupan ringan, kali ini tak hanya hidung, namun menyerata di seluruh permukaaan wajah sang istri.
Naya menggeliat geli. Ia berusaha menghindar dengan semakin menyurukan wajahnya dalam dekapan Kei.
"Udah, Bang... Geli tahu!" Naya memberengut kesal dengan memajukan bibirnya.
Bukannya berhenti, Kei malah semakin gemas, dan memperluas area serangannya. Kini serangannya malah mulai menuju ke leher jenjang gadis itu dan semakin turun ke bawah.
Lobus frontal di otak Naya segera mengirimkan alarm tanda bahaya, bila Kei tidak segera dihentikan.
Gadis cantik itu mendorong kuat tubuh Kei seraya membentuk pertahanan tubuh dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tadi katanya, Mama menunggu Abang di bawah, yuukk turun. Mama pasti dah lama nungguin Abang," elaknya dengan mengalihkan perhatian Kei.
Kei menyugar rambutnya kasar. Keinginan alaminya sebagai lelaki sejati tersulut, dan minta untuk dipadamkan sekarang.
"Sayang, please..." mohon Kei dengan mata berkabut. Ujung ibu jarinya menyentuh lembut bibir mungil Naya yang bulat berisi, laksana kelopak mawar merah yang merekah basah.
"Abang...?"
"Sayang...?
Keduanya berucap dalam detik yang bersamaan, dengan isyarat permohonan yang berbeda.
Keduanya saling tatap dengan pandangan yang tak lagi terbaca.
Dan entah siapa yang memulai, di detik-detik berikutnya dahaga Kei terpuaskan dengan oase yang membasahi Sahara.
Flashback Off
...*****...
Naya masih belum bisa memicingkan matanya. Rasa penasaran seakan menolak matanya untuk terpejam.
Gadis itu bangkit dari tempat tidur, duduk sebentar, kemudian berdiri dan berjalan hilir mudik di sepanjang kamar itu.
Setelah beberapa menit melakukan kegiatan tanpa makna itu, Naya meraih jilbab instan-nya yang tersampir di kursi meja rias. Gadis itu berniat untuk turun ke lantai bawah, saat tiba-tiba pintu kamar di dorong dari luar.
"Ya ampun sayang, kamu masih belum tidur???"
...__________*****__________...
To be continued
__ADS_1
Alhamdulillah, KeiNaya hadir lagi ke ruang baca teman-teman semua. Selamat membaca dan jangan lupa like dan comment-nya, ya...
Thank u all!