
"Biar Abang yang bagi tahu, ayo ikut Abang!" Kei yang tetiba sudah berada di sana langsung menyambar gawai yang disodorkan Noura, sambil tangan kanannya
menghela lembut lengan sang istri.
Naya masih belum ngeh apa yang sebenarnya terjadi, namun gadis itu mengikut saja saat Kei kemudian menuntunnya keluar dari dapur.
Baru berjalan beberapa langkah, Kei dan Naya dihentikan oleh suara nyaring dengan teriakan yang cukup kencang.
"Woi, Om! Ponsel aku tuh! Aku mo sekolah, nih... Kalo mo minjam, boleh aja sih, tapi ngga pake lama dan jangan lupa upah sewa, ya?!" teriak Noura sambil mempertemukan jari telunjuk dengan ibu jarinya, mengisyaratkan uang.
"Noura?!" Tek Za kembali meninggikan suaranya dengan mata yang menyorot sang putri, tajam.
"He...he...he... Just kidding! Peace, Bunda! Peace...!" Naya meringis kecil sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Eits, sorry! Abang lupa. Nih, ponsel kamu, Ra!" Kei berjalan mendekati Noura seraya menyerahkan gawai gadis itu.
"Lain kali kalo mo kasih laporan, langsung ke kakak pembina, jangan ke pimpinan regunya, ya?" Kei berbisik pelan dengan menaikan alisnya.
"Laporan?! Emang upacara bendera! No way!" Naya juga berbisik, pelan namun penuh tekanan.
"Kenapa? Kita masih cs, kan?" Kei masih berbisik.
"Nope! Aku sekarang cs-an sama uni aja. Kata kak Ifah dan nek Sya semalam, cs-an sama uni lebih menguntungkan karena ada Puan Sri. Cuan-nya lebih banyak. So, dadah mantan cs..." Noura kembali berbisik sembari melambaikan tangan dan berlalu setelah mengambil gawainya dari tangan Kei.
Naya hanya tersenyum kecil melihat interaksi keduanya. Tadi pagi setelah sholat Subuh, saat para bapak-bapak belum pulang dari surau, ia sudah berhasil mengulik meski baru sedikit dari Noura.
Naya berusaha mencari tahu tentang apa dan bagaimana Kei selama beberapa tahun ini bila berkunjung ke Batusangkar.
Ternyata, meski lost contact dengan Naya yang sedang menyelesaikan studinya di Perancis, Kei membuka keran silaturrahmi dengan keluarga tek Za dan tetap keep in touch dengan mereka.
"Udah, ngga usah senyam-senyum, gitu! Kamu sudah berhasil mempengaruhi dan menarik sekutu terbaik, Abang!" Kei kembali menarik lengan Naya, membawanya melewati pintu teras samping.
Naya hanya menanggapi dengan senyuman. Ia masih menerka kemana lelaki itu akan membawanya.
Saat keluar dari halaman samping rumah tek Za, melewati sebuah lorong dengan ditumbuhi oleh aneka ragam bunga, tumbuhan merayap di kanan kirinya, Naya mulai menyipitkan mata.
"Kita kemana?" Naya mulai mengekspresikan keingintahuannya.
"Lihat aja, nanti!" Kei masih berteka-teki.
__ADS_1
Akhirnya mereka tiba di halaman sebuah rumah berlantai dua, dengan gaya mediterania, khas rumah-rumah yang pernah dilihat Naya saat ia berkunjung ke Turki dua tahun lalu.
Terlihat megah dengan beberapa pilar besar yang berdiri kokoh di bagian depan rumah. Dominasi cat berwarna putih semakin menambah kesan mewah yang tercipta.
Naya mengalihkan pandangannya pada Kei yang ternyata juga tengah menatapnya dalam.
Ada senyum yang tersamar di wajah maskulinnya, namun tetap saja lelaki berahang kukuh itu tidak bisa menyembunyikan pendar gelisah di matanya.
Naya tersenyum kecut. Ia semakin yakin, ada sesuatu yang disembuyikan oleh lelaki di depannya.
"Apa yang perlu Abang bagi tahu kat Nay, jom silah sampaikan," todongnya langsung.
"Hei, tak kan lah kita bicara kat laman rumah macam nih, jom masuk rumah ..."
"Nope! Nay tak tahu nih rumah punya siapa, kan? Tak 'kan lah masuk-masuk je?!" potongnya sarkas.
Kei tersenyum kecil. Tanpa memutus pandangannya dari manik coklat di depannya, Kei mengenggam hangat kedua tangan sang istri.
"Don't say that, please? Maaf, Abang tahu Abang salah, karena tidak bagi tahu Nay pasal rumah, nih ... Ini rumah kita," bisik Kei datar.
"Maaf??? Abang, Nay tak terlalu kesah pasal rumah!" Naya sengaja menekankan pada dua kata, tak kesah.
"Okay, ponsel Abang kat dalam rumah. Kita masuk, ya?" Kei masih membujuk pelan.
Kemudian dengan tanpa menghiraukan ekspresi penolakan gadis itu, Kei langsung saja kembali menarik tangan Naya, memasuki rumah.
"Tunggu kejap, ponselnya di lantai atas," ujar Kei sambil menuntun Naya untuk duduk di sofa.
Kemudian dengan tanpa menunggu jawaban Naya, Kei bergegas menaiki tangga menuju lantai dua.
Tak lama kemudian, Kei sudah kembali dengan gawai di tangannya.
Langsung mengambil posisi duduk di sofa yang sama yang ditempati sang istri, Kei meraih kedua tangan Naya.
"Abang sama sekali tak bermaksud menyembunyikan apapun dari Nay," Kei berkata pelan sambil menatap Naya.
"Abang hanya tak nak, segala macam masalah nih menambah beban pikiran Nay. Punca dari segala masalah ini adalah Abang, jadi Abang yang akan menyelesaikannya satu per satu!" lanjut Kei tanpa memutus pandangannya.
Naya masih terdiam, berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari lisan Kei.
__ADS_1
"Abang hanya minta satu hal saja dari Nay, tolong percayai Abang! Apapun langkah yang akan Abang tempuh, adalah upaya Abang untuk memperbaiki semuanya. Abang sedang berupaya untuk menebus semua salah Abang di masa lalu. So, please trust me! I will do my best for you, for us!" Kei berusaha meyakinkan Naya lewat kata dan matanya.
Naya bergeming! Pun ketika Kei mengulurkan gawainya ke hadapan gadis itu, Naya masih terdiam. Matanya hanya menatap benda persegi empat itu tanpa menyentuhnya.
Entahlah. Is it a time? A high time? Tetiba ada kekhawatiran untuk mengetahui kebenaran yang terjadi di luar sana. Ada perasaan cemas bila ia ternyata tidak mampu menghadapi kenyataan sesungguhnya.
Entah kenapa, benteng pertahanan diri yang sudah dibangunnya selama beberapa waktu ini, seakan hendak rubuh.
Padahal lima tahun ini ia sudah meyakinkan diri bahwa ia mampu menegakan kepala bila suatu saat bertemu Kei dan Nadia, bersiap untuk menerima segala kemungkinan terburuk.
Namun entah kenapa, kebersamaannya dengan Kei selama beberapa hari ini seperti melumpuhkan kewarasannya, merubuhkan benteng pertahanannya.
Ia tidak lagi teguh dengan janjinya untuk minta berlepas diri dari lelaki itu. Gilanya, Naya malah semakin dibelit, dibelenggu oleh pesona seorang Kei Hasan!
Bagaimana tidak? Ia selalu merasa tersanjung dengan perlakuan Kei beberapa hari ini. Tersipu oleh rayuan receh lelaki itu. Bodoh! Rutuknya sendiri.
...*****...
Jakarta, pukul 08.10 WIB, di sebuah perumahan mewah.
"Shii-tttt! Damm it!! Kenapa aku selalu kalah langkah darinya?!" Nadia mencengkram kuat kaleng minuman bersoda di tangannya.
Mata birunya menyala dengan tubuh yang bergetar menahan gejolak emosi yang sudah menyulut ke ubun-ubun. Dadanya bergemuruh dihantam gelombang rasa.
Niat hati meraih simpati publik dengan membeberkan semua bukti perselingkuhan sang suami. Bahkan ia rela membayar mahal sebuah foto tanpa niqab Naya yang diperolehnya dari seseorang tanpa identitas.
Namun apa yang didapatnya sekarang? Padahal beberapa menit semalam ia sempat merasa di atas angin karena video yang diunggahnya mendapatkan respon positif dan dukungan luas dari para fans-nya.
Namun sialnya, hanya dalam hitungan beberapa menit saja video itu langsung menghilang dari peredaran. Bahkan semua akun sosmed-nya langsung tidak bisa diakses, kena hack.
Dan yang paling menyakitkan sekaligus memalukan bagi seorang Nadia Jefferson, barusan beberapa menit yang lalu Kei Hasan, sang suami, lewat Andrian asistennya, menyebarkan sebuah video klarifikasi, meng-counter semua isu yang menyebar luas di masyarakat beberapa hari ini, termasuk menyanggah video unggahan Nadia tadi malam.
Kei mengisyaratkan bahwa ia dan Naya siap untuk go public!
..._________*****_________...
To be continued
Alhamdulillah, akhirnya bisa mencicil lagi... Bila kemaren Kei yang janji untuk mencicil satu persatu, sekarang aku nih yang menuliskan janji untuk bisa terus mencicil.
__ADS_1
So, mohon do'a dari teman-teman semua, ya...