Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Give Him More Chance, Please?


__ADS_3

Kei mendekap kuat tubuh lunglai tak berdaya sang istri. Dadanya terasa sesak menahan gejolak yang tetiba terasa menghimpitnya.


Entah kenapa, tiba-tiba bayangan Ken Husain, sang adik hadir kembali di hadapannya.


Aku titip Naya, berjanjilah bahwa abang bisa menjaga Naya sebaik aku menjaganya. Bisakah aku tumpangkan janji ini pada abang?"


"Tentu saja! Aku akan menjaganya sebaik kau menjaganya!"


"Aku pegang janji abang sebagai sesama lelaki! Bila nanti abang tak bisa menjaga janji ini, aku akan kembali untuk menjemput Naya! Dan bila masa itu tiba, aku pastikan, abang akan menyesal! Sangat sangat menyesal!!"


"No! It won't happen! Aku menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku!" Kei berteriak histeris.


Matanya kembali beralih pada wajah yang mulai memucat di pangkuannya.


"No, sayang! You can't do this to me! No!" Kei berteriak kencang dengan nafas yang memburu, meningkahi gemuruh ombak dan gelombang Selat Melaka.


Sesaat waktu seakan terhenti berputar. Kei merasakan otaknya stuck, buntu tak tahu apa yang mesti dilakukannya. Sejenak lelaki berahang kukuh itu terdiam dengan terus memandangi wajah sang istri.


"Apa yang terjadi dengan menantuku?!" Kei yang masih terdiam, dipaku keadaan, dikejutkan oleh suara lengkingan yang muncul dari pintu masuk ruangan.


Terlihat Puan Sri Latifah berdiri di sana diiringi oleh beberapa orang lelaki bertubuh tegap.


Perempuan paruh baya itu segera berlari menuju Kei dan Naya. Kecemasan membayang jelas di wajahnya yang masih terlihat cantik.


Duduk bersimpuh di lantai ruangan, Puan Sri segera mengambil alih tubuh Naya dari Kei.


Menaruh kepala menantu perempuan kesangannya itu di dalam pangkuannya.


"Nay, Nay sayang ... Bangun nak, ini Mama. Mama datang untuk menjemput Nay. Ayo bangun!" Puang Sri menepuk lembut pipi Naya.


Tiada respon yang berarti dari tubuh kaku Naya.


Puan Sri bergerak cepat, ibu jarinya mencoba mendeteksi denyut nadi sang menantu.


Beralih menaruh dua jari telunjuk dan jari tengahnya ke dekat hidung Naya.


Terakhir, perempuan itu mendekatkan telinganya ke dada sang menantu, mencoba mengetahui detak jantung Naya.


Alhamdulillah! Semuanya masih memberikan tanda kehidupan, meski melemah.


Perlahan Puan Sri Latifah mencoba menelisik tubuh sang menantu dari kepala hingga ujung kakinya. Tak terlihat tanda bekas kekerasan di sana.


Puan Sri kemudian menyingkap sedikit bagian punggung sang menantu, terlihat beberapa tanda biru mulai menghitam di bagian bahu dan punggung Naya.


Puan Sri menghela nafas panjang. Tanpa melihat kebelakang, terdengar instruksinya kepada tim pengamanan keluarga besarnya.


"Kalian turun dulu, siapkan kepulangan kita! Aku akan memeriksa kondisi menantuku!"


"Siap, Puan Sri!" Jawab seseorang yang berambut sedikit panjang. Kemudian mereka segera bergerak turun.

__ADS_1


Puan Sri Latifah, perempuan yang pernah belajar tata pengobatan Tiongkok kuno itupun segera bergerak cepat.


Menelungkupkan tubuh Naya di ruangan tersebut, Puan Sri membuka pakaian belakang sang menantu.


Kei yang masih duduk dengan posisi setengah berjongkok, terkesiap saat melihat punggung sang istri yang lebam, warna biru dan hitam terlihat jelas di sana.


Kei merutuki kebodohannya yang sedari tadi tidak segera memeriksa kondisi tubuh istrinya.


Perasaan cemas dan takut kehilangan melumpuhkan daya nalarnya. Sejenak Kei menggeleng-gelengkan kepalanya.


Shhiitt! Aku memang belum bisa menjaganya sebaik Ken dan Mama! Batin Kei terpaksa mengakui.


Sementara itu, Puan Sri Latifah menyatukan jari telunjuk dan jari tengahnya, ia mulai melakukan gerakan menotok di beberapa bagian penting punggung Naya.


Dua jarinya bergerak cekatan, mulai dari pinggang gadis itu, bergerak lurus ke atas, hingga bagian bawah leher Naya.


Dua jarinya dengan gerakan menekan, hinggap lama di titik-titik tertentu yang berhubungan dengan organ penting Naya.


Puan Sri melakukan gerakan akupresur atau totok punggung itu selama beberapa menit.


Semua titik yang terhubung dengan pernafasan, jantung dan tekanan darah ditotok oleh perempuan paruh baya yang tetap terlihat cantik dan anggun itu.


Wajah dengan aristokrasi tegas itu tersenyum samar saat merasakan tubuh dingin Naya mulai menghangat.


Meski belum sadar dari pingsannya, namun Puan Sri dapat merasakan desah nafas yang mulai teratur dari gadis itu.


Tanpa terlihat oleh Kei, Puan Sri meletakan satu ibu jarinya di pergelangan tangan Naya.


Kembali senyum hangat namun samar membias di wajah anggunnya.


Mengangkat wajahnya perlahan, mata Puan Sri menatap tajam sang putra.


"Bila sampai terjadi sesuatu yang buruk dengan menantuku, aku pastikan kau dan perempuan rubah itu tidak akan hidup tenang!" Puan Sri menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Satu lagi, ingat kesepakatan kita! Segeralah menjauh dari hidup Naya. Dan itu berlaku mulai detik ini!" lugas Puan Sri.


Cck! Kei berdecak kesal. Matanya balas menatap sang mama tak kalah tajam.


"Maaf, Puan Sri. Aku tidak pernah merasa membuat kesepakatan apapun dengan siapapun terkait istriku! So, tidak perlu menekanku untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu!" Ujar Kei tak kalah lugas.


"Kau ...?!" Puan Sri melebarkan mata hitamnya saat mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur bebas hambatan dari mulut sang putra.


"A ... Ab ...Bang?" Lirih suara Naya menyentak titik kesadaran sang ibu dan anak yang kembali berdebat tanpa ujung.


"Sayang, Nay sayang? Alhamdulillah, kamu sudah bangun, sayang", Kei langsung membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukan hangatnya.


Kei mendekap kuat, seakan takut tubuh itu akan terlepas dan menjauh darinya.


Cck! Puan Sri berdecak kesal sambil memutar bola matanya mendengar kata 'sayang' Kei untuk Naya.

__ADS_1


Mertua rasa ibu kandung seorang Kanaya Khairunnisa itu membuang pandangannya saat melihat Kei mengusap kepala sang istri sambil menciumi keningnya berkali-kali.


Mata tua Puan Sri dapat melihat cinta dan kasih sayang dalam setiap gerakan dan tindakan sang putra.


Senyum tipis dan samar kembali hadir di sudut bibir sang puan. Hatinya menghangat melihat pemandangan di hadapannya.


Sekarang ia melihat dan menyaksikan langsung apa yang pernah disampaikan sang putri, Afifah.


He loves her so bad, Mama.


Kei loves Naya so bad. Believe in me!


"Kei amat sangat mencintai Naya! Cinta yang hampir-hampir membuatnya gila, bila Mama masih menjauhkannya dari Naya!"


So, please ... Biarkan mereka bersatu. Karena cinta yang sama juga hadir di hati Naya. Nalurinya sebagai istrilah yang menuntunnya, mengambil langkah untuk pindah dan tinggal menetap, di tempat yang lebih dekat dengan suaminya."


"So, please, Mama ... Beri Kei kesempatan untuk menepati janjinya pada Ken, pada pak cik Zain dan mak cik Dijah. Namun terutama, janji Kei, janji anak lelaki Mama pada Allah yang telah mengikat mereka dalam mitsaqan ghalizon, ikatan suci pernikahan yang teramat kuat. Beri Kei kesempatan untuk menebus kesalahannya selama beberapa tahun ini."


"Ini permohonan dari seorang calon ibu kepada seorang calon nenek, Mama. Fah akan menganggap kesediaan Mama untuk memberi Kei kesempatan, sebagai hadiah dari Mama untuk Fah karena akan segera memberikan cucu buat Mama."


Semua kalimat panjang lebar, penjelasan berbalut permohonan dari seorang Afifah binti Abdul Hamid, sang putri, seperti running text yang hadir di memori sang puan.


Permaisuri hati Tan Sri Abdul Hamid itu menghela nafas, sedikit lebih panjang. Kemudian ia kembali mengarahkan pandangannya pada lovebirds di depannya.


Posisi Naya yang sedang berada dalam dekapan hangat sang suami, membuatnya belum menyadari kehadiran mertuanya di sana.


Sedangkan Kei terlihat begitu posesif memeluk sang istri sambil terus menciuminya.


Kali ini tidak hanya kening, namun telah beralih ke mata, pipi dan bahkan ... bibir Naya tak luput dari 'kenakalan' seorang Kei Hasan.


Dasar anak tak tahu adat! Tak tahu sopan santun! Tak tahu di untung ..!


Puan Sri mengepalkan jari-jari tangannya, bersiap untuk memukul sang putra yang dianggapnya sudah sangat keterlaluan karena tidak menganggap bahkan terkesan sengaja mengabaikan kehadirannya di sana.


"Tunggu Puan Sri, Mamaku tersayang. Hati-hati, takutnya pukulan Puan Sri nanti malah mengenai menantu kesayanganmu." Datar saja sebenarnya kalimat Kei, namun terasa menyentak bagi seorang Kanaya Khairunnisa.


Sontak gadis itu menggeliat dalam pelukan Kei.


What?! Mama?


..._________****_________...


To be continued


Wah, Kei menang banyak, nih..😄


Tapi, dasar Kei! Ngga tahu tempat!😄😄😄


Nah udah baca Keinaya, kan? Sekarang mampir yuk di karya teman ku 👇🏼

__ADS_1



__ADS_2