Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
She is Mine! And Always Will Be!


__ADS_3

Azki tersenyum kecut melihat Kei yang sudah berdiri kukuh dengan memasang kuda-kuda sempurna di depannya.


Tatapan kelam dan tajam bak elang milik Kei menukik, menikam tepat di mata hitamnya namun entah kenapa denyutannya malah menyentak di jantungnya.


Azki mengetatkan rahang dengan tangan yang terkepal kuat. Ia balas menatap Kei dengan menerbitkan senyum samar yang nyaris tak terlihat. Lelaki itu berusaha melepaskan diri dari tatapan dan sikap Kei yang terus mengintimidasinya.


"Mhm, not bad! Aku malah berpikir kau bisa membebaskan diri lebih cepat dari ini." Azki kembali tersenyum, kali ini diiringi oleh tatapan penuh ejekan.


Kemudian dengan tanpa membuang masa, Azki langsung melancarkan serangannya. Tendangan kakinya lurus menuju tubuh bagian depan Kei.


Kei bergeming. Tanpa melakukan gerakan yang berarti, ia mengibas santai tendangan Azki dengan tangan kirinya. Kemudian siku tangan kanannya melakukan gerakan cepat, menyikut keras rahang lawannya.


Azki tersentak, rahangnya serasa akan lepas dari mukanya. Lelaki itu tersurut beberapa langkah, namun ia berusaha untuk tetap berdiri tegak.


Kei menatap lurus sang sepupu. Kemudian dengan tidak memberi kesempatan Azki mengambil nafas lebih lama, Kei melakukan gerakan berputar dan langsung melancarkan tendangan kaki kanannya, telak menghantam dada kiri sang sepupu.


Azki terjatuh dengan memegangi dadanya yang terasa panas seketika. Dengan sedikit meringis, ia berusaha bangkit meski dengan bersusah payah.


Kei berjalan tenang mendekati lelaki itu. Tatapannya tetap tajam menghujam.


"Sebenarnya aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau telah menjaga Naya-ku selama beberapa tahun ini. Namun sayang, keberanianmu untuk mempunyai rasa yang tidak sepatutnya pada istriku, menghalangiku untuk berucap terimakasih. Kau tahu pasti, Naya itu istriku. She is mine! She will always be mine! Tidak akan ada sesiapapun yang bisa mengambilnya dariku!"


Kei menjeda kalimatnya, matanya menyala mengisyaratkan kemarahan yang dalam. Kemudian dengan tanpa memutus pandangannya, Kei melanjutkan kalimatnya.


"Ditambah lagi dengan sikap kurang ajar-mu yang melakukan persekutuan jahat bersama perempuan rubah itu, membuatku tidak bisa memaafkanmu!" Berkata begitu Kei mengangkat tangannya tinggi, bersiap melancarkan serangan mematikan buat Azki.

__ADS_1


"Abang, nope! Don't do that!" Suara bening dengan pekikan tertahan itu membuat tangan Kei menggantung di udara.


Lelaki itu memutar kepalanya membentuk sudut 90 derajat. Ia tersentak ketika pandangannya langsung bertemu dengan sorot mata memohon penuh iba milik Naya.


"Abang, please... Jangan lakukan itu!" Naya berjalan semakin mendekati sang suami.


Saat sudah berada di depan sang suami, gadis itu langsung menyentuh lembut tangan Kei yang masih menggantung di udara.


Mata teduh dengan manik coklat itu menatap Kei lamat dan lekat. Naya tak memutus pandangannya. Lewat sorot beningnya, gadis itu berupaya memantulkan kejernihan berpikir pada lelaki di hadapannya.


"Demi Nay, please?" Naya membisik lirih seraya berusaha menurunkan tangan Kei yang masih teracung, dengan menariknya lembut.


Demi Nay, please?!


Kei merasa sebuah palu godam menghantam dadanya. Kalimat itu terdengar lembut di telinga, namun entah kenapa laksana palu yang tepat menghantam dadanya.


Kei tidak tahu pasti sejak kapan tangannya yang tadi teracung di udara, kini sudah menempel lekat di pipi chubby nan hangat milik Naya.


Ya! Gadis itu telah menangkupkan kedua tangan Kei di wajah mungilnya. Bahkan Naya sengaja memiringkan kepalanya, dengan mata memejam sempurna. Ia tak tahu apa yang dirasakannya sekarang.


Sebenarnya perasaan malu bercampur sungkan menjalari hati gadis itu. Namun ia tidak tahu cara lain untuk menjinakan sang elang yang bersiap mematuk ular di hadapannya.


Naya tidak punya cara lain, selain jurus konvensional dan teramat tradisional itu, namun ia harapkan ampuh dan bekerja bagi seorang Kei Hasan.


Naya sekarang malah menyurukan muka meronanya di dada sang suami. Meski niqab sedikit menyamarkan, namun Naya tidak begitu yakin karena jarak mereka yang terkikis habis.

__ADS_1


Sebenarnya tadi gadis itu hanya menuruti tuntunan nalurinya. Berusaha melembutkan hati Kei yang sedang membaja dengan kelembutan alami yang dimilikinya.


Sementara itu Kei tersenyum samar dengan seringai tipis yang juga menghiasi sudut bibirnya. Perlahan lelaki itu merenggangkan sedikit tubuhnya dari sang istri.


Kemudian dengan gerakan tak terduga, lelaki yang lebih sering menampakan wajah dingin dan datarnya itu mencuri sebuah kecupan ringan di bibir Naya.


Naya terperanjat. Matanya membola seketika. Kei tersenyum penuh kemenangan seraya mendekatkan bibirnya ke telinga Naya.


"Maaf, sayang. Tapi kali ini Nay meminta sesuatu yang Abang tidak bisa berikan. Sekali lagi maaf, untuk permintaan sayang yang satu ini Abang tidak bisa kabulkan." Kei menggeleng sambil membisik pelan.


Naya menyipitkan matanya dengan kening yang mengkerut sempurna. What?! "Tidak bisa", katanya?!


Tadi Naya sempat merasa telah berhasil menjinakan sang elang di hadapannya, namun ternyata ...


Menatap Kei dengan kekesalan yang mulai membuncah, Naya menarik kuat daun telinga lelaki itu.


Tangan mungil Naya terus menjepit dan menarik kuat, tak peduli dengan desisan yang mulai terdengar dari bibir Kei. Terlihat lelaki itu berusaha menahan pedas di telinganya.


Sementara itu Azki yang masih terduduk di lantai ruangan, memalingkan wajahnya. Adegan demi adegan yang disuguhkan pasangan suami istri di depannya bukan lagi sekedar menikam, namun telah mencabik-cabik jantungnya.


Luka dan sakit akibat hantaman Kei tidak berarti apa-apa baginya, dibandingkan menyaksikan drama lovebirds di hadapannya.


..._________ ***** _________...


To be continued

__ADS_1


Hei..hei...hei... KeiNaya datang lagi, nih. Jangan lupa dukungannya, ya? Tetap like and comment-nya teman-teman...


__ADS_2