Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Aku Datang Untuk Menepati Janji (Part 2)


__ADS_3

"Jangan khawatir begitu, babe. Ini hanyalah sebuah permainan! Jangan terlalu memikirkannya, okay?"


"Apa? Cinta?! Big No! Tentu saja tidak! Tidak ada cinta sama sekali!"


"Aku hanya ingin tahu, apa yang bisa mereka lakukan bila aku melakukan sebuah permainan kecil dengan gadis pujaan dari putra kesayangan mereka!"


"Aku akan menjadikan pernikahan ini sebagai 'neraka paling manis' untuk gadis itu!"


"Melukai gadis itu, akan melukai mereka lebih dalam. Pasti!"


"Aku bersumpah, aku akan menciptakan neraka kecil yang manis untuk gadis kecil kesayangan mereka!"


"Ha ... ha ...ha...!"


Gelegar tawa Kei memenuhi setiap sisi ruang bangunan mercusuar tua itu.


Naya menutup kedua telinganya dengan mata memejam rapat.


Tubuhnya bergetar menahan gejolak yang mengguncangnya dalam pedih yang nyata.


Keraguan yang dulu senantiasa berusaha ditepisnya, kini menyergap tiba-tiba!


No love at all!


It's just a play! A drama!


Neraka paling manis!


Naya mencengkram kuat dada kirinya, berupaya mengurai sakit yang mendera di sana.


"See?! What a very bad love!" Sosok tinggi semampai itu tersenyum menyeringai dari balik kain hitam penutup wajahnya.


Naya bergeming. Membuang pandangannya, memilih menulikan pendengarannya.


"Hei, look at me! Di mana kesombonganmu tadi, hah?! Paling dicinta suami dan mertua! Huh, mimpi!!!" Sosok itu menangkup muka Naya seraya kembali mencengkram. Kali ini dagu mungil, lancip Naya yang menjadi sasarannya.


Cengkraman yang semakin kuat seiring kekesalannya pada Naya yang terlihat mengacuhkannya.


Namun Naya tetap setia dalam diamnya. Tiada kata yang terucap, hanya matanya menyorot tajam sosok di depannya.


Jarak yang hanya beberapa inchi saja di antara mereka, menyebabkan Naya dapat melihat warna asli mata itu.


Ia memang tidak pernah memakai soft lense, namun bukan berarti ia tidak mengenali mana warna mata asli, mana yang hasil rekayasa soft lense.


Naya semakin memandang lekat mata itu. Mencoba menelisik kedalamannya.


Pandangan mereka bertemu dalam alfanya aksara. Saling pandang, tajam dan menukik dalam. Keduanya seakan saling mengukur kedalaman hati masing-masing.

__ADS_1


Keduanya terus saling pandang tanpa ada yang mau memutus lebih dulu.


Aku tidak pernah merasa perlu memusuhimu karena kita sama-sama dikorbankan oleh keadaan.


Tapi aku membencimu karena kau telah merebutnya dari ku!


Maaf, aku tidak pernah merasa telah merebutnya dari mu.


Ya! Kau merebutnya dari ku! Aku yang duluan membersamainya, tapi kemudian kau datang dan mengacau segalanya!


Sekali lagi maaf, aku bukan anak kecil yang perlu memperebutkan sesuatu. Bila aku ingin mengacau, harusnya kulakukan dari semula. Bukankah kau yang telah menjadi perebut yang sebenarnya?! Aku istri sah-nya, istri pertama, bahkan. Namun lima tahun ini kau merebut hak yang harusnya juga menjadi milikku. Jadi, siapa merebut siapa?!


Kau?!


Kenapa? Marah?! Kalau kau ingin marah, maka marahlah padanya!


"Now, let me free! I have nothing to do with you!" Naya memutus pandangannya.


Dialog hati mereka barusan, saling sahut dan saling jawab semakin meyakinkan Naya, kemana ia harus melangkah dan jalan mana yang harus ditempuhnya.


Gadis itu lalu bergerak menuju pintu, tempat dari mana kelima orang tersebut tadi masuk.


"Stop! Kau tidak akan kemana-mana. Aku pastikan, kau akan menjadi penghuni tempat ini untuk selamanya!"


"What do you mean?!"


"You absoluletely know what I mean, dear ..." Sosok tinggi semampai itu kembali menyeringai, kali ini lebih besar.


Keempat orang tersebut bergerak serentak, membentuk formasi mengepung Naya.


"Aku serahkan dia kepada kalian. Terserah kalian mau apa, yang penting dia menetap di sini selamanya. Mau icip-icip dulu juga boleh. Ha ...ha...ha...!" Tawanya terdengar mengerikan di telinga Naya.


"Jangan coba-coba mendekat, apalagi menyentuhku. Aku pastikan kalian akan menyesal, bila melakukan itu!" Naya mencoba mengeluarkan gertakannya.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan, manis?" Salah satu yang bersosok gempal semakin bergerak maju dengan seringai liarnya.


"Kita akan bersenang-senang, cantik. Kami akan membuatmu melayang ke angkasa, dan tidak ingin turun lagi. Ha...ha...ha..." Si gempal yang satu lagi ikut menimpali dan juga bergerak semakin mendekati Naya.


"Jangan kurang ajar! Atau kau akan menyesali kenapa ibumu pernah melahirkanmu!" Naya masih dengan kalimat gertakannya.


"Jangan dengarkan ucapan bulshiitt dari mulut besarnya. Ayo eksekusi segera!" Si tubuh semampai kembali bersuara memberi instruksi.


Beberapa saat kemudian ia kembali bersuara setelah melirik sejenak jam di tangannya, seperti sedang menghitung waktu.


"I'm leaving! Aku tinggalkan hadiah besar itu untuk kalian. Selamat bersenang-senang!" Sosok itu melangkah menuju pintu, namun kalimat singkat tapi padat dari suara bening Naya menahan langkahnya.


"Nadia, menyesal aku pernah berangan punya kakak sepertimu. Aku salah, sempat terpikir untuk berbagi bahagia bersamamu. Heran, kenapa abang Kei bisa khilaf memilihmu?!" Kalimatnya datar bahkan nyaris tanpa nada, namun seperti gong yang ditabuh garang di telinga seorang Nadia.

__ADS_1


Sontak sosok semampai berjubah serba hitam itu membalikan badannya.


Naya tersenyum kecil. Kalimatnya barusan kembali berhasil memprovokasi istri ke dua suaminya itu. Ya! Sosok berjubah hitam thinny, tunggi semampai itu adalah Nadia Jefferson, istri kedua Kei Hasan.


"Tidak perlu terkejut begitu, mba. Seperti tidak mengenaliku saja. Apakah waktu yang lima tahun ini tidak cukup untuk 'mempelajariku'? Apakah seorang Nadia Jefferson telah kehilangan bakat spy alaminya?" Kembali tanpa nada namun terdengar sinis.


"I don't care who you are! Siapa lu, gue ngga peduli! Come on, men ... Habisi segera!" Nadia bergerak cepat meninggalkan ruangan tersebut. Sayup telinganya menangkap deru mesin pesawat bersayap putar, helikopter.


Sementa itu, mendengar instruksi Nadia, keempat sosok berjubah hitam itu kembali bergerak, mengepung Naya.


Naya langsung memasang kuda-kuda. Meski belum pernah digunakannya dalam real fight, namun latihan rutin masih tekun dijalaninya.


Tak rugi rasanya bermandi peluh dua kali seminggu, melatih gerakan silat dan taekwondonya. Ternyata dia memang butuh di waktu-waktu tertentu.


Orang-orang di luar sana yang tidak mengetahuinya dengan baik, hanya mengenalnya sebagai Naya, si pipit manis nan imut.


Namun teman-teman di perguruannya mengenal sosok Naya sebagai the deadly white swan, si angsa putih mematikan!


The best defense is a good offense! Pertahanan terbaik adalah dengan menyerang!


Naya bergerak cepat berusaha melumpuhkan salah satu sosok bertubuh gempal di hadapannya.


Gerakan taktis Naya, cepat dan tak terduga. Siku kanannya tepat menghantam kuat dagu bagian dalam sosok bertubuh gempal itu.


Merasakan tulang dagunya yang hendak lepas, sosok gempal itu meluruhkan diri ke lantai. Rasa pusing menyerangnya tiba-tiba dengan pandangan berkunang, hingga ambuk saat terjangan kaki kiri Naya kembali menghantamnya tanpa ampun.


Melihat temannya yang sudah duluan ambruk, sosok gempal satunya bergerak cepat menyerang Naya yang belum siap. Gadis itu sempat terhuyung saat tendangan kakinya tepat mengenai bahu kiri Naya.


Gadis itu dengan cepat bangkit dan berusaha berdiri tegak. Namun belum sempurna kuda-kudanya, satu tendangan kembali menghantam punggungnya. Gadis itu tersungkur di lantai, meringis menahan sakit di seluruh tubuh bagian belakangnya.


Keempat sosok itu semakin merangsek maju, mengepung Naya dari semua sisi. Gadis itu melirik jendela kecil di samping kirinya. Hanya itu satu-satunya jalan keluar terdekat, namun sakit di sekujur tubuh bagian belakangnya, membatasi geraknya.


Naya baru akan membalikan badannya saat sebuah tendangan berusaha menghantam tengkuknya.


Gadis itu tak lagi sempat mengelak. Naya hanya memejamkan matanya. Ia sampai pada titik kepasrahannya.


Hasbunallah wa nikmal wakil. Nikmal maula wa nikman nasir.


Cukuplah Engkau ya Allah, sebagai Penolong. Dan Engkau adalah sebaik-baik Pelindung.


Naya merasakan sebuah lengah kukuh memeluk dan menarik tubuhnya. Beberapa saat waktu terasa berhenti baginya.


Membuka mata perlahan sambil mendongakan kepalanya, pandangan Naya langsung bertemu dengan tatapan elang di hadapannya. Tetap kelam dan tajam namun menenangkan. Abang?


...__________*****__________...


To be continued

__ADS_1


Apakah Kei akan berhasil membawa Naya keluar dari mercusuar atau malah tim Puan Sri Latifah yang akan mendahuluinya? Sambil menunggu jawabannya, yuk baca dulu karya teman otor ya..



__ADS_2