
Naya POV
"By... Aku sedang ada pemotretan di sekitar sini, pas tadi ketemu Andrian di depan. Katanya kamu ada di sini juga."
Aku tertegun menatap perempuan cantik yang sedang bergelayut manja di lengan bang Kei. By? Baby or hubby?
Aku seperti familiar dengan wajahnya. Tampilan outfitnya yang elegant, sedikit pressbody mengingatkanku pada beberapa pelanggan baru La Cantique Boutique yang merupakan para sosialita Jakarta.
"Saya Nadia, Bu. Istrinya bapak ganteng ini."
What? Dia ..? What a coincident!
Aku segera melangkah menuju perempuan cantik itu sambil terus menata hati. Kuraba dadaku yang mendadak terasa perih. Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku kuat! Aku pasti bisa!
"Perkenalkan bu, saya ..."
"Kanaya Khairunnisa. Designer 'Sweet Lily in Late Spring' sekaligus owner dari La Cantique Boutique yang terkenal itu kan?"
Senyum manisnya merekah indah sambil menyambut uluran tanganku. Cantik, anggun. Dua kata itu rasanya cukup untuk melukiskan sosok di depan ku.
"Aku suka banget dengan rancangan-rancangan kamu dan selalu nungguin loh setiap release terbarunya."
Rasanya surprise saja saat dia mengatakan sangat menyukai desain yang diluncurkan oleh La Cantique Boutique.
Dia sepertinya orang yang friendly dan easy going. Terbukti saat aku memanggilnya dengan sebutan 'ibu', dia langsung menolak bahkan memintaku untuk memanggilnya dengan panggilan 'mbak' saja.
Entah kenapa aku merasa bahagia sekali. Serasa punya kakak perempuan yang tak pernah ada. Eh?
Kalo kakak laki-laki? Jangan ditanya. Aku punya dua orang yang cerewet dan posesifnya minta ampun. Bang Ken dan Bang Kei.
Bang Kei? Ups, dia hampir terlupakan.
Dia pasti tidak sadar kalau sedari tadi aku sebenarnya tetap sesekali memperhatikannya dengan sudut mataku.
Terlihat Bang Kei beberapa kali menautkan alisnya. Kadang dia juga saling pandang dengan asistennya, Andrian.
Lisan mereka memang tidak saling bersuara, namun dari tingkahnya aku cukup yakin kalau mereka bingung memperhatikan interaksi kami berdua, aku dan mbak Nadia.
Memangnya kenapa? Apa yang ada dalam pikiran mereka? Memangnya mereka menyangka kalau aku dan mbak Nadia akan saling jambakan seperti ABG labil, gitu? No way!
Bagiku, aku tidak punya 'masalah' dengan seorang Nadia Jefferson.
Lagian aku juga tidak begitu yakin mbak Nadia mengenalku kecuali hanya sebagai Kanaya Khairunnisa, seorang designer dan owner dari La Cantique Boutique.
Jujur, untuk saat ini aku hanya ingin dia mengenaliku dari kerja profesionalku sebagai seorang designer ataupun pengajar di sebuah college.
__ADS_1
Aku juga tidak ingin munafik dengan menyatakan bahwa aku baik-baik saja.
Tidak! Aku tidak sedang baik-baik saja! Detik demi detik yang kulewati di sini adalah saat-saat yang mendebarkan. Sang waktu serasa melambat bahkan terhenti.
Aku hanya sedang belajar kembali membujuk hati untuk tetap senyawa dengan logika.
Beberapa kali kutarik nafasku lebih panjang, rasanya ruangan ini seperti tak cukup menampung kami bertujuh. Aku butuh oksigen lebih banyak.
"Oh, ya mumpung ketemu di sini. Aku mo minta tolong kamu untuk merancang outfit acara wedding anniversary kita empat bulan ke depan. Iya kan, By?"
Satu detik ... dua detik ... tiga detik ...
Kini mataku lurus menatap Bang Kei. Menunggu jawabannya seperti terjebak dalam situasi melewati detik demi detik sebuah bom waktu yang siap-siap untuk meledak.
"Okay, terserah kamu saja!"
Duarr!
...***...
Pukul 14.05 WIB
Spertinya ini akan menjadi hari yang melelahkan. Lelah hati, lelah fisik. Seharian bakal menjadi saksi hidup drama percintaan ala-ala Korean movies dari lovebirds ini.
Setelah makan siang yang menyesakkan dengan doorprize dapat project merancang outfit untuk wedding anniversary mereka yang ke-3, empat bulan lagi, parade kemesraan lovebirds kembali berlanjut.
Sebelum sang CEO menanggapi, mbak Nadia duluan menjawab dengan antusias bahwa mereka dengan senang hati akan ikut meninjau lokasi. Terlihat Bang Kei menarik halus tangan mbak Nadia menjauh dari semua orang.
Aku tidak bisa menangkap dengan pasti apa yang sedang mereka bicarakan. Hanya terlihat beberapa kali mbak Nadia mengenggam tangan bang Kei dan membawanya menyentuh pipinya. Seperti berusaha meyakinkan sesuatu.
Selang beberapa waktu lovebirds kembali mendekat. Wajah sumbringah mbak Nadia seakan memberitahuku bahwa ia akan ikut dalam rombongan ini.
Okay, Nay... Prepare yourself!
Sepanjang perjalanan menuju parking lot saja lovebirds ini tak berhenti pamer kemesraan. Aku melihat keduanya saling menautkan jemarinya, dengan sesekali bang Kei mengelus lembut kepala mbak Nadia.
Oh, jadi untuk inikah dia begitu memaksaku mengikutinya ke restoran? Mengancam akan memberhentikan sepihak program CSR perusahaannya? Alibinya makan siang, ternyata dia ...
Nih orang maunya apa, sih?
"Bunda, aku numpang mobil Bunda ya?"
"Mobil Bunda dibawa sama si kembar, mereka udah duluan ke lokasi. Tadi Bunda ke sini juga numpang sama pak Arnold. Memangnya mobil kamu mana?"
"Mobilnya mogok tadi pas di dekat hall, Bunda. Jadi, dia tadi numpang mobil saya." Abang Kei duluan menjawab sebelum aku membuka suara.
Mogok? Iisshh... mobilku memang tidak semahal dan semewah mobilnya, namun bukan berarti mobilku seperti besi tua karatan yang mogok di sembarang tempat ya...
__ADS_1
Jemariku menyatu membentuk kepalan. Dasar! Dia yang memaksaku meninggalkan mobilku di parkiran hall dan menarikku untuk menaiki mobilnya satu setengah jam yang lalu.
Sekilas aku menatapnya sebelum mengikuti Bunda Nilam menaiki mobil pak Arnold. Kulihat senyumnya seperti sedang menertawakanku sebelum membukakan pintu untuk mbak Nadia. Aku segera membuang pandanganku.
...***...
Jalanan kota Jakarta yang macet, menyebabkan kami tiba di lokasi workshop hampir pukul 4 sore. Aku, bunda Nilam dan mbak Tika langsung menuju musholla dulu untuk melaksanakan sholat Ashar.
Beberapa teman dari Yayasan Cahaya Umat membawa rombongan dari Noghoghi Holding untuk berkeliling meninjau kegiatan workshop.
Hari sudah menunjukan pukul 6 sore saat kegiatan workshop untuk hari ini selesai. Taksi online yang ku pesan beberapa saat yang lalu sudah merapat di tempat parkir.
Aku baru saja memegang handle pintu taksi dan akan melangkahkan kaki untuk masuk, saat sebuah tangan besar menutup kembali pintu tersebut dan membungkukan badannya di depanku.
"Maaf, Puan. Saya diperintahkan oleh pak Kei untuk mengantarkan dan memastikan Puan selamat sampai ke rumah."
Hhah! Aku mendengus kesal.
"Terimakasih, pak Andrian. Tolong sampaikan kepada bos besar Anda bahwa saya bisa pulang sendiri. Lagian, saya harus menjemput mobil saya dulu di ..."
"Mobil Puan sudah diantarkan ke rumah sejak tadi siang. Maaf, memotong ucapan Puan." Dia kembali membungkukan badannya.
Aku menghela nafas panjang. Memutar pandangan di sekitar parkiran. Di mana si breng**** itu?
Astaghfirullahalazim. Aku menepuk mulutku sendiri.
"Pak Kei sudah pulang duluan dengan bu Na..."
"Ya, saya tahu. Dia pulang dengan ISTRINYA, kan?"
Aku sengaja memotong ucapannya dengan menekankan kata istrinya. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang menusuk jantung saat melafalkan kalimat itu. Perih.
"Sekali lagi, tolong sampaikan padanya, saya bisa pulang sendiri! Eit, tunggu dulu. Jangan bergerak!"
Aku mengacungkan telunjukku saat kulihat Andrian kembali akan melangkah untuk menghalangiku.
"Masih mau hidup, kan?"
"Mak...sud, Puan?"
"Ya, kalau masih kepengen hidup, awas... pindah dari situ. Noh, ada mobil yang mau lewat," ujarku menunjuk sebuah mobil yang juga akan keluar dari area parkir.
Kemudian dengan gerakan cepat, aku membuka dan menutup kembali pintu taksi.
"Bye... Take care, bang Andrian... Eh, boleh panggil 'Abang', kan?"
Aku melihatnya mengangguk, namun sedetik kemudian menggelengkan kepalanya dengan gerakan berulang. Bingung. Ha..ha..ha..
__ADS_1
To be continued