
Villa Pusako, Bukit Batu Putih pukul 09.45 pagi.
Naya masih menabur kembang kamboja dan kenanga di tanah merah yang agak sedikit berpasir tersebut. Sesekali masih terdengar isak lirihnya yang saling tingkah meningkahi dengan gemuruh ombak selat Malaka.
Keluarga besar Kei dari pihak Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah sudah mulai beranjak meninggalkan pusara.
Namun Kei, lelaki itu masih setia berdiri di belakang sang istri. Sesekali ia membungkuk dengan tangan yang mengusap lembut puncak kepala Naya.
Lelaki dengan rahang kukuh berwajah tegas itu, terlihat sesekali menghela nafas panjang. Ternyata untuk bisa meredam cemburu itu sungguh bukan perkara mudah bagi seorang Kei Hasan. Sebuah sukar yang nyata!
Beberapa jam ini ia berusaha keras agar logikanya tetap bersenyawa dengan akal. Berupaya agar cemburunya tidak mematikan nalar, yang akan menjadikan perempuan pemilik hatinya itu kembali terluka.
Bagaimana tidak cemburu? Mata gadis cantik yang masih terduduk di pinggir pusara sang sepupunya itu begitu jernih untuk berkisah. Ada luka yang merona meski Naya berusaha menepisnya.
Berulang kali gadis itu meminta maaf pada Kei saat buliran bening tak berhenti luruh dari telaga jernih yang saat ini tersaput kabut awan.
Sang gadis meminta maaf karena bulir-bulir duka itu meluruh untuk seorang sahabat rasa saudara, yang mungkin tidak disukai oleh Kei.
Kei tersenyum kecut! Sungguh ia merasa semakin kecil di hadapan sang istri. Begitu tebal coretan luka yang ditulisnya di lembaran demi lembaran kisah Naya. Kei yang kerap menggores duka di sekeping hati nan sebening kaca.
Kei kembali menghela nafas panjang, mencoba mengurai sesak yang masih menghimpit. Lelaki itu berusaha mengulas senyum tipisnya.
Abang akan menebus masa yang telah terlewatkan selama lima tahun ini, Nay. Abang janji!
Tangan Kei kembali mengusap lembut puncak kepala sang istri, namun kali ini dengan berjongkok di samping tubuh mungil itu.
"Sayang, sudah ya? Sekarang kita kembali dulu ke villa. Abang takut Nay kecapaian. Semalam kata Mama, kamu juga kurang tidur, kan?" Kei berujar seraya menuntun sang istri untuk berdiri.
"Dia sudah tenang di alam sana, berkumpul dengan Ayah, Bunda dan juga Ken. Kita akan sentiasa berdo'a buat mereka, sayang."
Naya tetap terdiam, hanya genggaman tangannya yang menguat di jemari Kei. Kakinya melangkah seirama mengikuti langkah-langkah panjang Kei, melangkah meningalkan area pemakaman turun temurun keluarga besar Puan Sri Latifah.
Sepasang anak manusia itu terus berjalan dengan jemari yang masih saling tertaut. Sesekali terlihat Kei mengangkat kemudian mengecup lembut jemari sang istri.
__ADS_1
Keduanya terus melangkah hingga tiba di depan bangunan besar berlantai tiga. Di sebelahnya berdiri pula sebuah bangunan dua lantai yang lebih kecil namun terlihat sangat eksotik. Seperti sebuah faviliun, karena terpisah dari villa utama.
"Kita beristirahat di sini saja, ya?" Kei menuntun Naya menuju bangunan yang lebih kecil itu, membuka pintu dan menghela lembut tangan sang istri.
"Ada yang ingin Abang tunjukan dulu ke Nay. Nanti setelah istirahat, kita baru ke villa utama, ya?" Kei masih terus bersuara meski tanpa tanggapan balik dari Naya.
Gadis itu hanya menurut tanpa kata. Bibirnya masih terasa kelu untuk bicara, dengan tubuh yang juga didera lelah.
Seluruh rangkaian peristiwa beberapa hari ini begitu membuat lelah fisik dan psikisnya. Semuanya terjadi silih berganti hanya dalam hitungan hari, jam bahkan detik.
Ternyata waktu melaju tak terpacu. Beberapa bulan yang lalu ia putuskan untuk kembali pulang dari perantauan. Pertemuan Kei, Nadia dan Naya terjadi secara tidak sengaja.
Berusaha menghindar agar tak lagi bersua dengan lelaki itu sampai ia benar-benar yakin dengan langkah yang akan ditempuhnya, ternyata Seremban, tanah kelahiran mereka malah mempertemukan keduanya dalam banyak suasana.
Naya tak lagi mampu berkilah menghindari waktu, karena menjauh dari Kei ternyata bukanlah pilihan takdir yang ditulis untuknya.
Entahlah... Ternyata waktu yang tidak begitu lama telah membawanya pada jalan yang sama dengan jalan yang dilalui Kei.
Naya masih tak percaya bahwa lelaki yang berada disisinya sekarang adalah lelaki yang sama, yang telah menggoreskan luka ke hatinya.
Masa berubah, musim berganti. Naya berusaha tegar menyulam cita yang pernah terjanji pada Ayah dan Bunda, sembari berdo'a semoga waktu bisa menghapus luka.
Dan hari ini serta selanjutnya, akankah do'anya terijabah dengan sempurna? Mendulang pahala dengan bakti pada lelaki yang telah menawannya dalam sucinya mitsaqon ghalizha, ikatan yang agung, ikatan yang kuat, bernama pernikahan? Ah, semoga!
Naya terus melangkah dalam tuntunan lelaki di sebelahnya. Menaiki tangga demi tangga, keduanya sampai di sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar tidur. Tidak ada ruangan lain setelahnya.
Kei mengulurkan tangan mendorong knop pintu. Terlihat sebuah ranjang besar di tengah ruangan.
Setelah mendudukan Naya di pinggir tempat tidur, Kei berjalan menuju jendela kecil yang masih tertutup.
Hembusan angin laut langsung menerpa saat Kei menguak jendela tersebut. Sejenak Kei menikmati terpaan sejuk itu. Hanya sesaat, karena setelah itu sang putra mahkota dari kerajaan bisnis Tan Sri Abdul Hamid tersebut kembali melangkah menuju sang suri hati.
Perlahan Kei menuntun Naya untuk kembali berdiri, selanjutnya membimbing gadis tersebut melangkah menuju tepian jendela.
__ADS_1
"Masih ingat titik itu?" Kei menuntun jari telunjuk Naya untuk menunjuk sebuah titik jauh di tengah hantaman gelombang Selat Malaka.
Naya menyipitkan matanya. Netranya bergantian menatap titik yang tadi ditunjukan Kei, dengan manik hitam dan tajam milik Kei yang kini kembali terlihat lebih hangat.
"Itu titik yang sama dengan yang dulu?" Naya berusaha meyakinkan dirinya sendiri sembari bertanya kepada Kei.
Kei tersenyum kecil. Matanya menatap lembut manik kecoklatan di depannya. Bening dan jernih yang selalu membuat Kei hanyut dalam gelombang rasa. Sejak dulu!
Kedua kelopak itu mengerjap indah saat Kei tak jua beralih pandang. Sepasang netra tajam bak elang milik Kei masih setia menatap Naya dalam diam dengan senyum yang terbingkai kecil.
"Isshhh... Apaan sih, senyum-senyum terus. Orang nanya juga. Kenapa ngga dijawab?!" Dalihnya menyingkirkan malu yang mulai menyapu.
Kei masih tersenyum. Kali ini sedikit lebih lebar.
"Iya. Titik sama yang selalu kita lihat bersama. Nay, Abang dan Ken."
"Masa, sih? Kok bisa tetap berada di sana?" Naya menunjukan ketidakpercayaannya dengan jawaban Kei.
"Kenapa tidak? Titik itu tetap setia di sana, menunggu kita untuk kembali menatapnya setiap pagi dan senja. Setia! Seperti Abang yang setia menunggu Nay membuka pintu hati Nay buat Abang," goda Kei dengan mata yang mulai mengerling nakal.
"Iisshhh... Gombal teruuussss..." Naya segera memutus pandangan dari lelaki yang bergelar suami di depannya.
Berusaha keluar dari kungkungan Kei yang entah sejak kapan mengurungnya, Naya mendorong kuat dada bidang Kei.
Namun sekuat apapun gadis itu berusaha, ia tetap tak bisa lepas dari kungkungan kuat Kei.
"Udah, ah. Nay capek, mo tidur." Naya sengaja menyurukan wajahnya ke dalam dada bidang itu sebagai usaha terakhirnya untuk bisa membebaskan diri dari Kei.
"Tidur?! Let's go!!" Kei langsung mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongannya.
Naya terkesiap! Tubuhnya seketika meremang dalam gendongan Kei, ala bridal style. Adduuhhh... Sepertinya salah strategi, nih...
..._____*****_____...
__ADS_1
KeiNaya kembali lagi. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, kasih like dan commentnya, teman-teman...