
Cinta senantiasa menemukan jalannya!
Naya mengerjap beberapa kali saat terik cahaya matahari tengah hari menyilaukan matanya. Sejenak ia menautkan kedua alisnya. Entah berapa lama ia tertidur.
Menantu kesayangan Puan Sri Latifah itu masih terus mengerjapkan matanya beberapa saat sembari berusaha mengumpulkan kembali nyawanya yang masih tercecer.
Merentangkan tangannya seraya menggeliat perlahan, Naya berupaya mengurai penat dan letih di sekujur tubuhnya.
Perlahan Naya mulai merasakan sensasi sejuk saat panasnya cahaya matahari berganti dengan hembusan lembut angin laut yang merambat masuk melalui jendela kamar yang terbuka lebar.
Sesaat ia masih lena menikmati sensasi belaian sejuk angin Selat Malaka ketika tiba-tiba kesadarannya kembali menjelma utuh.
Naya seketika meremang saat menghayati ngilu dan nyeri tak biasa di inti tubuhnya. Seketika, otak kecilnya bekerja cepat.
Kepingan mozaik-mozaik itu hadir kembali membentuk siluet yang membayang, membias blur kemudian terang bak siang.
Terlukis jelas kala betapa lembutnya perlakuan Kei padanya beberapa saat yang lalu, setelah mereka bebersih sepulang dari pemakaman Azki dan melaksanakan sholat Dzuhur. Satu kilasan memori yang kemudian menyentak titik sadarnya.
Naya langsung memindai tubuhnya sendiri. Seketika, netra bermanik coklat itu membulat penuh, saat menyadari tubuh naked-nya yang hanya dibaluti selimut tipis.
Oh, My goodness! Naya segera menyurukan kembali tubuh polosnya ke balik selimut.
Adalah Kei Hasan, pewaris utama kerajaan bisnis Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah yang baru saja mengukuhkan Naya, sang istri, menjadi perempuan dewasa seutuhnya.
Naya menutupi wajahnya saat bayangan peristiwa dua jam yang lalu kembali singgah ke ruang memorinya. Rona kemerahan langsung menghiasi pipi chubby dengan sepasang lesung pipit yang menyembul indah ketika scene demi scene hadir seperti layar videotron besar yang sedang menyala di depan matanya.
Naya menggigit kecil bibir bawahnya sesaat, sebelum kemudian berganti sebingkai senyum yang membias indah di sana. Sejenak kemudian matanya memejam sempurna seakan ingin menikmati sensasi hangat yang sedang menyelimuti hatinya.
Perlahan sepasang kelopak bermanik kecoklatan itu kembali membuka. Pandangannya sekarang beralih pada sosok tubuh yang masih terlelap pulas.
Naya memindai wajah perkasa dengan dagu tegas dan rahang kukuh itu. Alis pekatnya membuat lelaki itu terlihat semakin tangguh. Hidung mancungnya berdiri teguh, menambah kesan garis otokrasi yang kuat dengan bibir yang menempel proporsional.
Entah keberanian yang merupa dari mana, jemari mungil Naya sudah bergerak perlahan di wajah Kei. Menyusuri tepian dagu, naik ke pipi, kemudian menuju hidung dan berhenti sejenak di sepasang mata milik sang suami yang masih tertutup rapat.
Senyum kecil kembali menjelma di bibir mungil yang terlihat sedikit bengkak karna ulah Kei tadi. Pandangan lekat dan dalam Naya masih terhenti di sepasang mata yang masih terpejam rapat.
__ADS_1
Mata itu yang sering memancarkan sorot tajam bak elang. Mata nan senantiasa menampilkan kepercayaan diri yang tinggi si pemiliknya. Mata dengan kilat tajam dan kelam kata orang-orang, namun Naya bisa merasakan teduh dan hangatnya saat mereka bersama.
Jemari mungil milik Naya masih terus bergerak di seluruh permukaan wajah sang suami. Namun gerakan jemarinya terhenti saat Naya melihat kedua kelopak mata Kei yang bergerak-gerak seperti akan membuka.
Naya terjingkat kaget dan sontak menarik tangannya. Namun gerakannya ternyata masih kalah cepat dari Kei. Lelaki itu lebih dahulu menangkap jemari mungil milik Naya dan mengecupnya begitu lembut.
"Kamu menggoda Abang lagi, hemm?" Kei memulas senyum hangat seraya menyentuh lembut ujung dagu sang istri.
Naya memutar bola matanya demi mendengar kalimat Kei barusan. Issshhh... Siapa menggoda siapa?!
Tanpa menanggapinya, Naya langsung meluruhkan diri ke balik selimut tipisnya. Kali ini seluruh tubuhnya menghilang sempurna dari pandangan Kei.
Tingkah Naya begitu menggemaskan di mata seorang Kei Hasan. Lelaki dewasa itu semakin bersemangat untuk menggoda sang istri.
"Kenapa ditutupi, mhmm? Abang udah lihat semuanya tadi. Bahkan Abang sudah hapal seperti apa rupa utuhnya." Kei membisik nakal seraya mengerling dengan mata penuh senyum.
Senyum yang sekarang terlihat amat sangat menyebalkan di mata Naya, sehingga ia langsung memutar bola matanya.
"Mmm... Sebuah tanda lahir di dekat tulang selangka, sepasang tahi lalat dekat dad..."
"Iisshhh... Apaan, sih?" Sepasang mata bermanik coklat itu membola utuh dengan tangan yang tidak terlepas dari mulut Kei.
"Mhmmpphh..." Kei terus berusaha berbicara dari balik jemari sang istri yang masih membekap kuat. Namun bukan Kei Hasan namanya bila ia tak bisa mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari siatuasi apapun.
Naya yang masih membekap mulut Kei terjengkit dengan tubuh yang kembali meremang saat merasakan sensasi basah di sela jemari dan telapak tangannya. Sontak Naya melepaskan bekapannya dari mulut sang suami dengan mata yang kembali membola.
Sementara Kei tersenyum simpul seraya kembali menatap nakal sang istri. Tak ayal senyumnya semakin melebar saat melihat rona merah menjalari muka putih bersih milik Naya.
Perlahan Kei mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi kemerahan itu. Kemudian sebelah tangannya yang lain berusaha untuk merengkuh tubuh mungil setengah polos tersebut kedalam rengkuhannya.
Kei mendekap erat sembari mengelus lembut surai hitam Naya yang menjuntai melewati bahu. Menghirup dalam aroma vanila yang menguar lembut dari tubuh mungil tersebut. Aroma yang senantiasa memberi sensasi menenangkan bagi seorang Kei Hasan.
Kei memejamkan matanya beberapa saat, sebelum kemudian kembali membuka. Ia sengaja merenggangkan pelukannya dengan sedikit menundukan kepala untuk bisa melihat utuh sang kecintaannya.
Terlihat di hadapannya wajah cantik dengan kedua kelopak mata yang mengatup sempurna. Entah sejak kapan. Kei mulai mendekatkan mukanya, menyentuh lembut sepasang kelopak mata itu dengan bibirnya. Kemudian terdengar bisikan lirih namun masih terdengar jelas oleh Naya.
__ADS_1
"Sayang, I love you so much. So much ... Much love. Menualah bersama Abang".
Sepasang kelopak mata Naya yang mengatup itu terlihat bergerak samar, kemudian mengerjap beberapa kali dan akhirnya membuka utuh.
Kalimat yang sama, yang entah sudah ke berapa kali didengarnya keluar dari bibir sang suami. Namun baginya tetap terasa sakti dan mampu menggetarkan hati.
Beberapa saat keduanya saling tatap dalam hening. Terlihat mata dengan pendar hitam kelam milik Kei membinar penuh, seakan berusaha meyakinkan sang pemilik manik kecoklatan di hadapannya.
Kei kembali mengulurkan tangannya seraya menyapu lembut anak rambut di kening Naya, saat sang istri tak jua bersuara.
"I know. It's hard for you to apologize me. For every bad things that I've done in the past".
"Ya. Abang tahu. Tidak mudah bagi sayang untuk bisa memaafkan kesalahan Abang. Semua hal buruk yang telah Abang lakukan pada sayang di masa lampau. Tak apa. Karena Abang akan sentiasa meminta maaf pada sayang, setiap detik setiap waktu. Hingga tiba pada satu titik ..." Kei sengaja berhenti, menjeda kalimatnya.
Naya menyipitkan matanya, terlihat sangat ia sedang menunggu kelanjutan kalimat Kei.
Kei mendekatkan mulutnya ke telinga sang istri seraya berbisik, "Satu titik yang menjadikan Abang tak lagi mampu berkata-kata, atau Nay yang tak lagi bisa ..."
"Sshhhttt. Abang dah terlalu banyak bicara. Tak letih, ke? Nay je yang dengar, dah tak sanggup, pun". Kalimat absurd Naya menyela paragraf panjang Kei sambil jari telunjuknya menempel di mulut Kei.
"Kka..m..mu?!" Kei menggeram gemas dan segera menangkap jemari mungil yang masih melekat di mulutnya.
Pewaris kerajaan bisnis Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah itu semakin gemas saat baru menyadari pulasan senyum samar di sudut bibir mungil milik Naya.
Siapapun yang masih memiliki penglihatan yang sehat, bisa menyaksikan dengan jelas, ada kejora yang membias indah di sepasang mata bermanik coklat tersebut. Rona bahagia yang begitu nyata. Semoga!
Kei berniat menghukum si pemilik kejora yang rupanya sengaja mempermainkannya. Lelaki itu segera mengungkung kembali sang istri di bawah kuasanya saat ketukan keras di pintu kamar menghentikan aksinya.
Tok...Tok...Tok...
"Nay? Are you there? Is everything okay?!"
...__________***__________...
Nah, Kei? Awas, pawangnya Naya dah nyariin, tu...🫢🫢
__ADS_1
Maaf, ya teman-teman..🙏 baru bisa muncul lagi... Jangan marah, tetap kasih like dan comment yang banyak, ya...