Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Keberadaan Kanaya Khairunnisa


__ADS_3

Puan Sri Latifah menjawab sebuah panggilan yang masuk ke gawainya. Istri Tan Sri Abdul Hamid itu terlihat sangat marah.


Tubuhnya bergetar menahan gejolak di dalam dadanya sekarang. Bagaimana tidak? Naya yang menghilang tanpa jejak sampai detik belum jua ada titik terang keberadaannya.


Sementara itu Putra yang mengalami luka bakar parah, masih belum sadar dari komanya.


Beberapa nama yang disinyalir sebagai pelaku telah dikantongi oleh Puan Sril Latifah, termasuk nama orang-orang yang berada dalam lingkaran keluarga besarnya.


Dan barusan, masuk lagi satu nama yang begitu dekat dalam circle kehidupan seorang Kei Hasan.


Nama yang memang sempat menguat dalam pindaian radar kecurigaannya. Dan laporan dari orangnya di lapangan barusan benar-benar membubungkan api kemurkaan seoran Puan Sri Latifah.


Mata perempuan paruh baya itu langsung menatap Kei tanpa kedip, tajam dan menikam.


"Aku pastikan, kau akan segera menghilang dari kehidupan Naya!"


Flashback Off


Naya perlahan membuka katupan matanya. Netranya langsung silau oleh cahaya matahari yang masuk lewat ruang terbuka kecil, seperti jendela namun tidak berpintu di dinding bangunan yang ditempatinya sekarang.


Perlahan Naya menggerakan bola matanya, menyusuri dan berusaha memindai seluruh penjuru ruangan.


Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha untuk menjernihkan penglihatannya.


Sebuah ruangan persegi empat, kecil, dengan pintu masuk ke ruangan itu yang juga kecil dan sebuah jendela tanpa penutup.


Naya menyipitkan mata, menatap jendela kecil tanpa penutup di hadapannya. Dari sanalah sumber cahaya yang tadi sempat menyilaukan pandangannya.


Sekarang Naya berusaha menajamkan pendengarannya.


Sayup, rungunya menangkap riuhnya hempasan ombak di bawah sana. Di bawah?! Apakah itu artinya, dia sedang berada di atas ketinggian?

__ADS_1


Sontak gadis itu membolakan matanya. Tubuh lemahnya terasa semakin kaku dengan perih dan nyeri di sana-sini.


Naya menggerakan tubuhnya perlahan, berusaha mengurai kaku yang seakan membekukan seluruh persendiannya.


Berusaha bangkit namun rasa remuk ditubuhnya, menyebabkan gadis itu urung mampu melakukannya. Hanya desisan kecil, lirih yang sanggup keluar dari lisannya.


Perlahan Naya mulai menelisik tubuhnya sendiri. Telapak tangannya berperak perlahan, meraba kepalanya. Alhamdulillah, hijab masih menutupnya sempurna.


Bergerak turun, jari jemarinya menyentuh pelan wajahnya yang polos tanpa niqab. Astaghfirullahal'aziim. Naya memejamkan matanya beberapa saat.


Gadis itu mencoba melakukan recall**ing memorinya.


Bayangan wajah kukuh dan usapan lembut tangan besar Kei, sang suami di kepalanya yang mengantarkan Naya memasuki gerbang mimpi pagi hari.


Scene itu berganti cepat dengan tayangan deretan kalimat demi kalimat dalam pesan singkat yang dikirim Andrian, asisten sang suami. Kei memintanya untuk mendatangi apartemen Teluk Kamang, Port Dickson.


Kedatangan Putra, asisten Puan Sri Latifah dan perjalanan Seremban - Port Dickson silih berganti hadir memenuhi ruang memori gadis itu.


Saat itu Naya hanya merasakan tubuhnya melayang bersama seuntai kain putih panjang yang membalut utuh sekujur tubuhnya.


Naya semakin terkesiap saat menyadari sesuatu. Ya! Saat tubuhnya melayang, matanya sempat menangkap dua sosok tubuh yang tengah berdiri sambil melambaikan tangan mereka dalam diam. Tersenyum indah dengan sorot penuh rindu. Ayah dan Bunda!


Naya merasakan sekujur tubuhnya menggigil sekarang. Peluh dingin terasa mulai membasahi seluruh permukaan kulitnya. Ya Rabb, ini di mana?


Ayah, Bunda... Nay di mana?


Dengan segenap daya yang tersisa, gadis itu kembali berusaha bangkit.


Kali ini kekuatan hati menjadi energi yang tak tertandingi.


Berjalan tertatih dengan mengabaikan nyerih dan perih, Naya akhirnya sampai di sisi jendela kecil tak berpintu.

__ADS_1


Hempasan ombak dan gelombang semakin meriuh seakan hendak merubuhkan bangunan tempatnya berpijak.


Naya berpegangan erat pada tepi jendela kecil itu saat matanya menangkap birunya samudera membentang di hadapannya.


Cahaya lembayung di ufuk barat bergerak menyapa senja yang mulai merangkak naik. Kembali Naya memejamkan mata.


Ingin memastikan ketinggian tempatnya berpijak, Naya kembali membuka mata. Bola matanya bergerak ke bawah. Ombak dan gelombang masih menjilati kaki bangunan tinggi usang yang di tempatinya.


A light house! Sebuah mercusuar tak terpakai.


Gadis itu memeluk dirinya sendiri. Hembusan angin pantai begitu menusuk di tubuh mungilnya.


Naya memejamkan mata, berusaha mengusir takut yang mulai mengusik. Sayup terdengar lirih bibirnya melafaskan sesuatu.


Ya Rabb! Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.


Ya Tuhan. Cukuplah Engkau sebagai Penolong. Dan Engkau adalah sebaik-baik Pelindung.


Naya semakin merapatkan pelukannya sendiri saat telinganya menangkap derap langkah beberapa kaki.


Semakin dekat, dan ...


...__________*****__________...


To be continued


Maaf ya, karena harus memenuhi kewajiban di dunia nyata, baru bisa up sekarang. Selamat menikmati. Jangan lupa tinggalkan jejak.


Sambil nungguin Kei dan Naya, yuk ikuti dulu karya temanku.


__ADS_1


__ADS_2