Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Mama, Would You Do Me A Favor? (Part 1)


__ADS_3

Kei terlihat lebih relax dan fresh saat kembali melajukan mobilnya. Sesekali senyum smirk menghiasi wajah klimis berahang kukuh itu.


Sementara Naya nampak masih dengan wajah memberengut sambil merapikan jilbabnya. Niqab warna tosca yang tadi dipakainya sudah raib entah kemana.


Adalah Kei Hasan, si biang rusuh yang membuat Naya seperti habis diterjang tsunami. Bibir mungilnya masih terasa kebas karena ulah sang suami.


Naya mulai memejamkan mata, berniat untuk berehat sejenak sambil menunggu tiba di rumah makan yang dijanjikan Kei.


Baru saja akan terlelap, Naya merasakan sentuhan lembut di lengannya diiringi oleh bisikan Kei di telinganya.


"Bangun sayang, kita dah sampai. Kamu lapar, kan? Yuuk bangun dulu. Nanti lanjut lagi tidurnya." Kei menguncang pelan lengan sang istri.


Dengan sedikit malas, Naya mulai membuka matanya. Mengerjap dan mengucek matanya sebentar, Naya berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya di sekitarnya.


"Nih, pake dulu. Ntar lupa lagi." Kei tersenyum kecil saat mengulurkan niqab Naya yang tadi raib entah kemana.


Naya menerima uluran niqab tersebut sambil mendelikan matanya. Kei masih dengan senyumnya, tidak menghiraukan mata yang membulat sempurna di depannya. Lelaki itu memilih menyentuh lembut kedua mata tersebut dengan ujung ibu jarinya.


Naya turun dari mobil dan mengikuti helaan tangan kukuh Kei di lengannya.


Memasuki rumah makan, Kei sengaja memilih sebuah tempat yang agak private demi kenyamanan sang istri.


Kei yang baru saja akan duduk, dikejutkan oleh Naya yang tiba-tiba mengamit lengan kirinya.


"Ya? Kenapa?"


"Nay mo ke kamar mandi sebentar."


"Bisa sendiri? Atau perlu Abang antar?"


"No, thank you."


Sesaat setelah Naya menjauh, Kei segera mengeluarkan gawai. Sedari tadi benda persegi itu sudah beberapa kali bergetar. Selintas Kei melihat nama Adrian sebagai id caller, namun Kei sengaja tidak mengangkat karena Naya masih berada di dekatnya. Kei tidak mau pembicaraan mereka akan menganggu kenyamanan gadis itu.


Kei segera membuka daftar panggilan tak terjawab untuk melakukan panggilan kembali. Belum sempat jarinya menyentuh tombol panggilan, Andrian sudah kembali melakukan panggilan.


Kei segera memasang handsfree dan kembali memasukan gawainya.


"Well, tell me the progress! Sampai dimana?!


" ....."


"Then...?!"


" ..... "


" ..... "


"What?! Naya? Video? What video?!"


" ..... "


"Masjid?! On the seashore?! Oh, dum-b! Stu-pid!"


Kei mengeluarkan kalimat makiannya sambil mencengkram kuat rambutnya.

__ADS_1


"Segera take down semuanya! Pastikan segera hilang sebelum KL dan Seremban menontonnya!"


"And one more thing, waktumu hanya tinggal besok! Jadi, pastikan semua berkas sudah ditandatangani perempuan itu!


Kei langsung memutus panggilannya sepihak. Kemudian lelaki itu segera melakukan browsing di laman internet.


Matanya langsung menyipit saat melihat sebuah video pendek yang berlabel "video viral hari ini".


Diunggah pada pukul 12.45, ternyata video itu telah ditonton oleh 1,1M orang dan telah dibagikan sebanyak 858 kali hanya dalam waktu 40 menit saja!


Manik hitam lelaki pewaris kerajaan bisnis Tan Sri Abdul Hamid itu semakin kelam saat melihat caption di sana.


"Pernikahan Sirih Kei Hasan, Suami dari Nadia Jefferson"


Kei segera menyentuh tombol "play" untuk menonton video tersebut.


Diawali dengan pemandangan suasana tepi pantai, terlihat seorang gadis berhijab rapi sedang berdiri di samping mobil di tempat parkir.


Kei menghela nafas panjang, sedikit lega karena orang yang mengambil video tersebut hanya bisa mengambil angle menyamping, sehingga tidak bisa mengambil utuh wajah Naya yang saat itu belum memasang niqab.


Kei menggelengkan kepalanya. Kalian niat sekali, tunggulah sebentar lagi! Aku pastikan kalian akan sulit bernafas!!


Kei masih menonton scene demi scene berikutnya sama persis dengan aktifitas yang dilakukan Kei dan Naya. Menunggu waktu sholat di tepian pantai hingga detik-detik ketika Kei memasangkan cincin di jari manis Naya.


Kei terjingkat kaget ketika sebuah tangan mungil sudah hinggap di tangannya yang sedang mengenggam gawai.


Dengan gerakan cepat Kei segera menyentuh tombol "delete" untuk menghapus video yang barusan ditontonnya.


Naya yang melihat hal itu menautkan kedua alisnya seraya menatap Kei penuh selidik.


Kei menekankan ujung jari telunjuknya di kening Naya dengan sedikit dorongan.


"Mikir kamu kejauhan, girl! Emangnya menurut kamu, Abang nonton apaan? Huh!"


"Ya ... Orang dewasa nontonnya paling juga yang dewasa-dewasa, kan?"


"Dewasa? Maksud kamu?!" Kei yang gantian mengerutkan keningnya sekarang.


"Ah, udah ah. Nay lapar, mo makan ..." Naya bergerak memutari Kei dan menuju tempat duduk.


Belum sampai menuju tempat duduknya Kei sudah lebih dulu menangkap lengannya.


"Kok kamu tahu yang dewasa-dewasa? Kamu sering nonton, ya?" Kei menaik turunkan alisnya menggoda Naya.


"Aishhh, apaan sih? Yang Nay maksud dewasa tu orang-orangnya, yang umurnya udah pada dewasa semua. Makanya kalo mikir jangan ngeres!" Naya memutar bola matanya.


"Abang ngga perlu nonton video orang-orang dewasa, ada kamu yang udah 'dewasa' di depan Abang." Kei kembali menaik turunkan alisnya dengan menekankan kata 'dewasa'.


Naya sengaja tidak menanggapi Kei, gadis itu memilih untuk duduk dan mulai mengambilkan nasi dan lauk untuk lelaki di hadapannya.


Kei mengamati lekat Naya yang duduk tepat di depannya. Maaf, Abang masih saja belum bisa menjaga kamu dengan baik. Kei membatin tanpa memutus pandangannya dari gadis di depannya.


Kei baru saja memulai suapan pertamanya saat gawai tersebut kembali bergetar, singkat saja namun terjadi beberapa kali. Sejenak Kei terdiam, berpikir untuk melihat atau mengabaikannya.


Kei segera mengeluarkan benda itu saat getarannya terasa panjang dan tidak berhenti.

__ADS_1


Uhuk!


Kei tersedak saat melihat nama pemanggil yang tertera di sana. Tek Za!


Naya yang sedang menikmati suapan demi suapannya, terkejut saat melihat Kei. Segera mengulurkan segelas air, Naya bergerak hendak berdiri mendekati Kei.


"No!" Kei tanpa sadar berseru sambil memberi isyarat dengan tangannya agar sang istri tetap duduk.


Naya mengerjapkan matanya, menatap Kei sejenak.


"What's going on? Ada apa?" Naya bertanya dengan suara rendah, lebih mirip sebuah bisikan.


"Nothing! Keep having your lunch! Lanjutkan makan Nay, Abang ada perlu sebentar."


Kei segera bangkit dan melangkah sedikit menjauhi sang istri. Kei masih belum mengangkat panggilan dengan id caller Tek Za, adik bungsu dari mak cik Dijah, bundanya Naya.


Lelaki itu sengaja membiarkan sehingga nada panggilan itu berhenti dengan sendirinya.


Kei segera membuka pesan masuk dari nomor sama yang barusan melakukan panggilan telepon. Ada lima pesan dari tek Za. Kei segera membuka satu persatu.


"Assalamualaikum Kei. Bisa jelaskan ke etek apa maksudnya video ini?"


Kei menghela nafas sambil membuka pesan ke dua, tanpa berniat untuk membuka video yang dikirim etek Za.


"Kei, etek baru mulai belajar kembali untuk mempercayai kamu, kenapa ini terjadi lagi?"


Kei mengusar rambut hitamnya kasar.


"Bukankah etek sudah sampaikan sedari dulu, bila kamu memang tidak menginginkan Nay, tolong kembalikan Nay kepada kami secara baik-baik. Tidak dengan cara seperti ini?!"


Kei memejamkan matanya. Langit serasa menimpanya sekarang. Masalah satu belum selesai, datang lagi masalah lainnya. Kenapa ini seperti karma?


Kei tahu pasti, hanya dua orang yang bisa bicara dengan tek Za sekarang, Naya dan Puan Sri Latifah!


...__________*****__________...


Puan Sri Latifah mengernyitkan dahinya saat melihat pesan masuk dari nomor Kei, 'si anak hilang'.


Apa kepalanya terantuk batu karang? No. No! Maninjau itu danau bukan lautan, atau apa mungkin ada batu karang? Ah, kenapa pula aku payah sangat nak pikirkan tu?!


Atau, otaknya kemasukan air danau Maninjau? Ya. Ya, bisa jadi!


Puan Sri menyentuh pesan masuk tersebut untuk segera bisa membacanya.


"Assalamualaikum Puan Sri, Mamaku tersayang ..."


Puan Sri Latifah memutar bola mata, saat membaca panggilan sang putra untuknya. Cckk! Dasar baby gergasi!


Puan Sri lanjut menyentuh pesan berikutnya.


"Mama, would you do me a favor?"


...__________*****________...


To be continued

__ADS_1


Maaf ya karena kesibukan tadi siang, baru bisa up malam ini. Salam sayang semuanya, selamat menikmati. Jangan lupa like dan comment ya..


__ADS_2