
Kei langsung mendekap erat tubuh Naya yang hampir terjatuh.
Kei duduk menjongkok sambil memperbaiki posisi tubuh Naya di dalam pelukannya.
"Nay ... Naya? Are you okay? Hei, Naya?!"
Kei menepuk lembut pipi Naya, berusaha untuk membuat sadar gadis itu yang terkulai lemas dengan mata terpejam rapat.
Kei bangkit dengan tetap mendekap Naya yang masih belum sadar dalam gendongannya.
Susana depan mesjid yang lengang, memudahkan Kei untuk membawa Naya. Orang-orang masih terkonsentrasi dengan majelis nikah di dalam mesjid.
Kei segera menuju tempatnya memarkir F 488 Pista-nya. Begitu sampai di dekat mobilnya, Kei segera membuka pintu depan. Kemudian ia mendudukan Naya di kursi samping pengemudi. Kei memasangkan seatbelt dan menurunkan sedikit tuas kursi agar Naya merasa nyaman. Setelah itu Kei bergegas mengitari mobil dan duduk di depan kemudi.
Sesaat ia menoleh Naya yang masih memejamkan matanya rapat. Ragu, Kei mengulurkan tangannya menyentuh niqab yang menutupi wajah Naya. Kemudian dengan hati-hati sekali, seperti memperlakukan porcelaine, Kei melepaskan niqab Naya.
"Maaf, Abang lepas, ya? Abang hanya ingin Nay merasa lebih nyaman," ujarnya lembut.
Setelah itu Kei melajukan kendaraannya menjauhi Masjid Jamek Bandar Seremban.
Sesekali Kei menoleh kesampingnya. Nampak Naya masih belum sadar. Kei melambatkan laju kendaraannya dan berhenti di tepi lebuh raya.
Kei membuka seatbelt nya dan menghadapkan tubuhnya sempurna ke samping. Perlahan Kei mendekatkan punggung tangannya ke bawah hidung Naya. Punggung tangannya terasa hangat oleh hembusan nafas Naya yang mulai teratur.
Kei tersenyum kecil. Pandangannya lekat pada wajah putih pualam di hadapannya. Hati-hati Kei menyentuh lembut pipi perempuan yang bergelar istrinya tersebut.
Kei kembali tersenyum. Ia belum pernah sedekat ini lagi dengan Naya, sejak hari dimana gadis tersebut juga kehilangan kesadarannya, pada saat majelis perkahwinan mereka, lima tahun lalu.. Saat ini jarak mereka yang intim, hanya beberapa inci saja membuat Kei dapat merasakan hembusan halus nafas Naya.
Mata Kei sekarang hinggap di batang hidung Naya yang pendek melengkung, dengan ujung hidung berbentuk bulat. Button nose. Imut menggemaskan!
Pandangan Kei turun ke bawah, berhenti di bibir rosebud, merah jambu milik Naya yang sedikit terbuka, menggoda Kei untuk menyentuh.
Tetiba Kei merasakan serbuan sensasi aneh di dadanya. Ia menjadi sulit untuk bernafas, seakan pasokan oksigen berkurang di paru-parunya.
Kei segera mematikan AC dan membuka semua pintu jendela mobilnya. Ia membiarkan udara alami masuk dan kemudian menghirupnya dalam.
Kei merebahkan tubuhnya sejenak dengan menurunkan tuas kursinya. Matanya terpejam.
__ADS_1
Setelah beberapa menit Kei kembali membuka matanya. Hal pertama yang dilakukannya adalah melihat kondisi Naya.
Kei kembali menempelkan punggung jari telunjuknya di bawah hidung Naya. Saat terasa hembusan hangat nafas istrinya, Kei tersenyum lega.
Namun tak urung terbersit kecemasan di wajah Kei. Sudah lebih dari tiga puluh menit, tapi Naya belum juga menunjukan tanda-tanda akan siuman dari pingsannya.
Kei mengulurkan tangan membuka laci dashboard mobilnya. Tangannya berhasil meraih botol parfum, keluaran DKNY. Menyemprotkan sedikit ke tangannya, kemudian engan hati-hati Kei menempelkan tangannya itu ke hidung mungil Naya.
Kei melakukannya berulang kali. Hingga kemudian ia menangkap gerakan halus di mata Naya yang seperti berusaha membuka kedua kelopak matanya.
Naya mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.
Mata bulat hitam Naya menyipit, mencoba mengenali tempatnya sekarang berada. Sesaat kemudian ia mengerutkan keningnya, where am I?
Naya tersentak, nalurinya mengatakan ada sepasang mata yang sedang menatapnya lekat. Langsung saja Naya mengarahkan pandangannya membentuk sudut sembilan puluh derajat.
Sepasang mata, black and piercing seperti elang sedang menatapnya tak berkedip. Mata milik Kei!
Naya kembali tersentak. Kenapa ia ada bersama Kei? Ini di mana?
"Tadi Nay jatuh. Jadi abang bawa Nay kesini. Ada yang sakit, tak?" Kei menyentuh lengan Naya lembut.
"Mhm ... Ini di mana?" Naya menjawab Kei dengan sebuah pertanyaan.
Kei tersenyum. Ia mendekatkan diri kepada Naya yang membuat gadis itu sontak menegakan badan dan menahan nafasnya. Kei kembali tersenyum menyadari kegugupan Naya.
"Don't be so nervous, I just want to fix it." Kei menarik kembali tuas kursi tempat duduk Naya agar gadis tersebut mendapatkan posisi yang nyaman.
Naya membuang muka, ketika menyadari pikirannya tadi yang sudah melanglang buana.
"Gimana? Sudah baikan sekarang? Kita lanjutkan perjalanan, ya?" Kei berucap tanpa menjawab pertanyaan Naya.
Kembali ia mendekati Naya, namun kali ini dengan menunjuk seatbelt Naya, memberitahu bahwa ia akan memasang benda tersebut.
Naya menggelengkan kepalanya.
"Nay bisa," ujarnya singkat.
__ADS_1
"Kita dimana dan mau kemana?" Naya memegang lengan Kei meminta penjelasan. Bibirnya mengerucut kesal karena Kei belum juga memberi jawaban.
Kei yang sedang menghidupkan mobilnya tersenyum tipis saat merasakan tangan Naya yang masih di lengannya. Apalagi melihat muka gadis itu yang cemberut, semakin menggemaskan.
"Kamu jangan memasang muka seperti itu kalau ke orang lain ya? Eh, lupa ... Kamu 'kan pakai niqab". Kei kembali tersenyum.
Niqab? Naya meraba wajahnya. Seketika, wajah rosy ... putih meronanya memias. Reflek ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa? Ngapain kamu?" Kei menyentuh kedua tangan Naya, berusaha menurunkannya dari muka gadis itu.
"Abang kan udah lihat dari kemaren sore, saat di kamar ... Pas kamu lagi ..." Ucapan Kei terpotong oleh pukulan kecil Naya di lengannya. Ia tergelak senang berhasil menggoda istrinya itu.
"Apaan, sih." Naya membuang muka, sebal.
"Kita kembali ke majelisnya kak Zahra, Mama sama Nenek pasti nyariin, Nay."
"Nanti dulu, dah tanggung nih. Kita dah hampir sampai", Kei tetap melajukan kendaraannya, melewati Kampong Baru Rasah.
Disepanjang perjalanan, mata mereka mulai dimanjakan oleh keindahan laut biru yang membentang luas dengan pasir putihnya. Saujana Beach!
Naya tak mengalihkan matanya sama sekali. Mhm ... Kapan ya terakhir kali bertemu pantai?
Tidak berapa lama kemudian, Kei membelokan kendaraannya memasuki gerbang bangunan mewah. Sekarang dihadapan mereka menjulang sebuah bangunan apartemen. Teluk Kamang, Port Dickson, Naya membaca tulisan yang tertera di depannya.
Naya mengernyitkan dahinya. Reflek gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memeluk dirinya sendiri.
Kei yang melihat hal tersebut langsung tersenyum kecil, namun ia berpura tidak melihat. Ide jailnya tiba-tiba muncul ingin mengerjai gadis tersebut.
"Ayuk, turun", Kei membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Naya tak bergeming. Ia tetap duduk di dalam mobil.
Senyum Kei bertambah lebar, ia bergerak menuju pintu sebelah Naya dan membukanya perlahan.
"Silahkan turun, Tuan Puteri ..." Kei menyilahkan Naya dengan gaya flamboyannya.
...***...
__ADS_1
To be continued.