
Kei bergegas kembali menuju ruang makan setelah mengakhiri panggilannya dengan Nadia, sang istri kedua.
Hatinya sedikit tercubit saat tak lagi menemukan Naya di sana. Terlihat mangkuk oatmeal Naya yang baru berkurang sedikit.
Kei mengusar kasar rambut hitamnya, merutuki kecerobohannya yang langsung menjawab panggilan tanpa terlebih dahulu melihat id caller.
Kei baru akan melangkah menuju kamar saat telinganya sayup mendengar percakapan dari dapur. Ada Naya dan mak Midah di sana.
"Puan kenapa? Matanya merah begitu?" Mak Midah menatap Naya agak dalam, menelisik sang puan muda.
"Ah, ngga kenapa-napa, mak. Nay tadi kelilipan di ruang tamu. Kek nya kemasukan debu", jawab Naya asal.
"Debu? Padahal pak Mat kata, dia yang selalu bersihkan rumah, nih. Tak apa, puan. Biar nanti mak yang cakap sama pak Mat, agar dia lebih bersihkan lagi rumah nih. Makan gaji, tapi tak kerja betul-betul", mak Midah terlihat sedikit kesal.
"Tak apa, mak. Tak usah cakap pun. Mungkin debunya berterbangan dari luar, jadi bukan salah pak Mat juga, kan?", lanjut Naya masih asal.
Mak Midah kembali menoleh Naya dengan tatapannya yang masih menelisik. Terlihat samar gadis muda majikannya itu seperti berusaha menghalau galau.
Mak Midah mulai paham, Naya sedang menyembunyikan sesuatu. Tak mau terlihat terlalu ikut campur, mak Midah berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Puan nak teringin apa untuk makan siang nanti, biar mak buatkan." Mak Midah menawari Naya dengan antusias.
"Mhm... Nay tengok kat peti ais tu ada ikan segar, mungkin bang Kei teringin nak makan gulai ikan. Kita masak tu je, ya Mak?" Naya menjawab lebih antusias, seakan sudah terlupa dengan kejadian di ruang makan barusan.
"Tapi itu kan kesukaan tuan muda, kalau puan sendiri nak apa? Mak siap untuk buatkan", lagi mak Midah menawari Naya.
Naya menghela nafas, terdiam sejenak sambil menundukan muka.
"Nay tak de selera nak makan, mak. Nay tak terasa lapar, pun." Naya menjawab lirih dengan kepala yang masih menunduk.
Mak Midah menarik nafas dalam. Baru saja beberapa menit yang lalu ia merasa bahagia saat melihat sang tuan muda, Kei bersama Naya, sarapan bersama seperti sebuah keluarga utuh lainnya. Bahkan mata tuanya dapat melihat binar bahagia di mata jeli sang puan muda.
Namun kini mata itu kembali berkabut seperti tahun-tahun kelam saat mereka di Perancis sana.
Sesaat hening melanda dua perempuan beda generasi tersebut. Keduanya seperti hanyut dalam arus pikiran masing-masing. Naya dengan galau dan resahnya. Mak Midah dengan segala keprihatinannya.
Keheningan mereka teralihkan oleh suara kriyuk-kriyuk dari perut Naya.
Gadis itu meringis saat menyadari perut kosongnya yang sebenarnya masih minta diisi.
"Puan tadi belum jadi makan? Kenapa? Makanannya tak cukup ke? Perlu mak buatkan lagi?" Mak Midah heboh sendiri dengan todongan pertanyaannya. Rasa cemas terselip nyata dalam rentetan pertanyaannya.
Naya berusaha tersenyum menanggapi pertanyaan panjang mak Midah yang mirip kereta api.
"Nay tak bisa makan oatmeal campur buah. Rasanya eneg". Naya berkata sangat pelan seakan berusaha tak terdengar orang lain kecuali mereka berdua.
__ADS_1
Kei yang masih berada di dekat pintu menuju dapur, mengetuk kepalanya sendiri, menyadari keegoisannya. Padahal tadi ia bisa saja sarapan oatmeal campur buah yang dibuat Naya, namun entah kenapa ego menuntutnya untuk melihat sejauh mana Naya bersedia mengalah buatnya. Dasar baby gergasi! Kekanakan!
Kei bukannya tidak melihat saat Naya berusaha menelan sarapannya dengan susah payah, namun sikap jail bin tengil mengalahkan logikanya.
Perlahan Kei menyeret langkahnya menjauh dari tempatnya berdiri. Setelah bergerak beberapa langkah, Kei kembali mendekat ke pintu dapur.
"Nay, bisa bantu abang, tak?" Kei bersandar di daun pintu, menatap Naya dengan entah.
"Ya? Abang butuh apa?" Naya bangkit dari duduknya menuju ke tempat Kei berdiri.
"Abang nak jumpa dengan seorang teman, ada bisnis sikit. Tolong siapkan baju abang, please? Kei memohon dengan pandangan penuh harapnya.
"Sure. I will. Mak, Nay tinggal kejap" , pamit Naya pada mak Midah kemudian bergegas melewati Kei yang tetap berdiri di sana.
Naya membalikan tubuh sambil menautkan alisnya saat melihat Kei yang tak jua melangkah menyusulnya.
"Nay duluan, nanti abang nyusul. Abang nak ambil minum dulu". Kei melangkah memasuki dapur.
Mak Midah yang melihat kehadiran sang tuan muda, bangkit dari posisi duduknya.
"Tuan nak minum apa? Biar mak yang buatkan", mak Midah bergerak mendekati kompor gas bersiap untuk menghangatkan air.
"No, mak. Kei tak nak buat air tu. Mak tolong cuci buah-buahan nih, Kei nak siapkan yoghurt dan madu". Kei mengeluarkan banyak buah segar dari lemari es dan menyodorkannya kepada mak Midah.
"No, mak Midah! I'll do it myself. Thank you." Kei tersenyum tipis dan mengambil alih semua buah yang sudah dicuci mak Midah.
Lelaki gagah berahang kukuh itu terlihat sangat cekatan dalam kerjanya. Buah-buahan yang sudah dipotongnya kecil-kecil, segera ia masukan ke dalam sebuah mangkuk saji besar.
Mak Midah yang melihat Kei melakukan semua pekerjaaan itu tersenyum kecil. Ia tahu sekarang, ternyata sang tuan muda sedang membuat salad buah untuk sang istri.
Mak Midah masih tersenyum dengan mata yang membinar haru, saat melihat Kei memberikan last touching pada salad buah yang diraciknya sendiri. Setelah menambahkan yoghurt dan madu, Kei menaruh sebuah strawbery yang cukup besar berbentuk hati sebagai garnish.
Mak Midah semakin melebarkan senyumnya sambil mengacungkan jempol saat Kei meliriknya dengan menempelkan jari telunjuk dan ibu jari kemudian menghasilkan sebuah bunyi tanda 'selesai'.
Setelah dirasa okay, Kei menyambar sebuah botol air mineral yang masih tersegel di atas meja makan, kemudian melangkah meninggalkan dapur.
Mendorong pelan pintu kamar yang sedikit terbuka, Kei melangkah perlahan. Matanya langsung tertumbuk pada sesosok tubuh mungil yang sedang membelakanginya.
Naya berdiri dengan menumpukan ke dua tangannya pada sisi jendela yang menghadap langsung ke sisi samping rumah panggung keluarga besar Kei.
Gadis itu memakai hijab tanpa niqab yang biasanya menutupi seluruh wajah kecuali sepasang mata jelinya.
Kei mendekat setelah terlebih dulu menaruh mangkuk salad buah dan air mineralnya di atas meja rias. Kei berdiri di belakang Naya dengan memposisikan kedua tangan besarnya menempel erat, bahkan sedikit meremas tangan Naya yang sedang bertumpu pada di sisi jendela.
Naya yang memang sedang termenung, sedikit terkejut. Refleks gadis itu berusaha melepaskan diri dari kungkungan Kei.
__ADS_1
Namun usahanya sia-sia karena gerakan tiba-tiba Naya malah semakin membuat dada bidang Kei menempel erat di punggungnya.
Hembusan hangat beraroma mint dari mulut Kei singgah di tengkuk Naya. Meski masih terhalang hijab, namun tetap membuat gadis itu sedikit meremang. Untuk menyamarkan resah yang semakin mendera, Naya berdehem beberapa kali.
"Mhmm, pakaian abang sudah Nay siapkan. Nay tinggal ke belakang dulu ya", lirihnya seraya berupaya keluar dari kungkungan tubuh besar Kei.
"Kamu ngga akan kemana-mana, sebelum ..." Kei sengaja menggantung kalimatnya seraya menelisik wajah putih bersih berlesung pipit di depannya.
Terlihat wajah putih itu sedikit memucat dengan mata yang redup.
"Sayang, kamu sakit?" Kei menyentuh kening dan pipi Naya yang memang terasa sedikit hangat.
Tanpa bertanya dua kali Kei langsung mengangkat tubuh sang istri dan membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur.
Setelah melonggarkan hijab Naya, Kei bergegas mengambil semangkuk salad buah dan air mineral yang tadi ditaruhnya di meja rias.
Naik ke tempat tidur, Kei berusaha mendudukan Naya dengan menyandarkan tubuh gadis itu ke dada bidangnya.
"Yuk, sarapan dulu. Abang suapin Nay, ya?"
Naya hanya mengangguk lemah. Kepalanya terasa sedikit berat, dengan lambung yang sedikit nyeri.
Kei terus dengan telaten menyuapi Naya sesendok demi sesendok. Hingga salad buah di mangkuk itu tinggal separuhnya saja.
"Udah, makasih. Abang kapan buatnya?" Naya bertanya masih dengan nada lirih seraya melirik sisa salad buahnya. Ternyata baby gergasi bisa bikin salad buah juga! Naya tersenyum samar.
Tersenyum tipis, Kei tidak langsung menjawab. Ia memilih mengacak lembut rambut hitam Naya yang tidak lagi tertutup hijab.
"Dah, sekarang Nay istirahat ya?"
Baru saja Kei akan merebahkan tubuh mungil itu supaya beristirahat, gawai Naya berdering nyaring tanda panggilan masuk.
Tangan Naya terulur untuk menjangkau gawainya yang di atas nakas, namun tangan besar telah duluan menyambar benda persegi empat itu.
Terlihat video calling dari id caller My momma sayank.
Kei menyugar kasar rambut hitam legam miliknya seraya memijit pelipis.
Aduh, Ratu Drama muncul!
...___________*****__________...
To be continued
Mohon terus dukungannya dengan memberikan like, vote and comment, ya. Thank you all.
__ADS_1