Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Saat Manis Sebelum Penculikan


__ADS_3

Flashback On


Rumah Kediaman Naya, pukul 07.05 pagi waktu Malaysia


Naya baru saja memutus panggilan tiga puluh menitnya dengan Puan Sri Latifah, sang mertua saat pandangannya langsung bersirobok dengan tatapan elang Kei.


Lelaki itu sedang menatapnya, tanpa kedip. Sesekali senyum nakalnya ikut meningkahi.


Isshh.. Apaan sih? Naya menundukan mata berusaha menghindari pandangan Kei. Wajah putihnya sudah kembali merona sekarang, semerah cherry.


Kei tersenyum dikulum. Melihat Naya yang selalu saja salah tingkah bila di depannya, adalah hiburan baru nan menyenangkan baginya.


Hatinya sentiasa menghangat saat berada di dekat sang suri hati, juwita jiwa. Eh?


Begini amat orang yang tengah jatuh cinta? Berkali-kali, kepada orang yang sama. Double, eh? Wkwk... Wkwk...


Kei melangkah perlahan menuju tempat tidur. Naya masih duduk di sana dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran katil berbahan jayu jati tersebut.


Duduk di pinggir tempat tidur, Kei masih menatap lekat Naya. Matanya seakan enggan berpaling dari keindahan di depannya.


Bila saja ia tidak ingat janjinya dengan seorang teman lama, maka Kei tidak akan menjauh sejengkalpun dari pesona di depan mata.


Pipi putih chubby berlesung pipit. Hidung kecilnya bertengger proporsional dengan bibir yang juga mungil, seperti kelopak mawar yang sedang merekah indah.


Perlahan Kei mengulurkan tangannya, menyentuh kening Naya dengan punggung tangannya. Masih terasa sedikit hangat meski sudah jauh berkurang dari yang tadi.


"Dah sekarang tidur lagi, ya? Nay perlu istirahat." Kei menarik Naya untuk merebahkan tubuh sang istri di pembaringan.


Naya yang masih menunduk, pelan berusaha menengadahkan mukanya. Sialnya, ternyata Kei masih sedang memandangnya dengan wajah penuh senyum.


Pandangan mereka kembali bertemu sekarang, dengan jarak yang begitu dekat. Dalam dan hangat.


Tak tahan beradu pandang lama dengan jarak yang hampir terkikis habis, Naya kembali akan menundukan wajahnya, saat tangan besar Kei yang sebelah kiri sudah lebih dulu berada di dagu lancip miliknya.


Menahan pergerakan sang istri, Kei memperkukuh kuasanya atas tubuh Naya sekarang. Lelaki itu melingkarkan sebelah tangannya yang kanan di pinggang Naya seraya menarik tubuh mungil itu sehingga semakin menempel dengan tubuhnya.


Berusaha mengatasi kegugupannya, Naya menghela nafas, meski putus-putus dan pendek. Entahlah. Gadis itu selalu saja merasakan pasokan oksigen di sekitarnya menjadi berkurang bila berdekatan dengan Kei.


Kei yang menyadari kegugupan sang istri kembali tersenyum, tipis hampir tak terlihat.


Sementara tangan besarnya yang masih berada di dagu Naya mulai bergerak pelan, menyusur dan menjelajah.


Ibu jari Kei menyentuh lembut satu per satu keindahan di wajah sang jelita, dari dagu bergerak ke atas menuju pipi chubby Naya yang mungil namun berisi.


Masih terus bergerak, ibu jari Kei sekarang menuju kedua mata jeli Naya nan senantiasa mampu menawan Kei dalam diam.


Naya yang tanpa sadar telah menyerah dalam kuasa sang suami hanya mampu menggerakan kelopak matanya untuk kemudian mengatup perlahan mengikuti nalurinya.


Kei semakin leluasa, sekarang pergerakan ibu jarinya menjelajah rasa telah sampai di button nose mungil milik Naya. Menyentuh sambil mengelus lembut.

__ADS_1


Kei semakin turun ke bawah, hingga tepat berhenti di tempat favoritnya. Kelopak mawar nan memerah alami, menunggu untuk disentuh.


Kei mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri, sembari berbisik lembut.


"Sayang, abang izin, ya?" Tanpa menunggu jawaban sang istri, Kei segera berlabuh pada rekahan kelopak mawar itu. ******* lembut, namun perlahan kian menuntut.


Naya hanyut dalam gelombang rasa yang terus menggulungnya tanpa ampun. Dengan sejuta pengalamannya, Kei benar-benar telah melumpuhkan sang jelita. Tak berdaya, hanya lenguh yang meluah, mewakili rasa.


Kei mencoba menekan gelora yang terasa kian membuncah. Namun lenguh sang juwita malah semakin menggulungnya dalam gelombang. Nikmat namun tak kalah menyiksa.


Bagaimana tidak? Sebagai lelaki dewasa Kei sangat mengenali rasa yang tetiba begitu bergejolak, melesak dan mendesak.


Kei memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan kembali ceceran logika yang menghilang dalam gulungan gelombang rasa. Perlahan Kei melepaskan kelopak mawar yang terlihat membengkak karena ulahnya.


Kei kembali tersenyum seraya berlabuh pada kedua kelopak mata yang masih mengatup rapat.


"Sayang, buka matanya. Atau ... Nay mau abang lanjut lagi?" Kei membisik nakal di telinga gadisnya.


"Tapi jangan salahkan abang bila kali ini abang tak kan lagi berhenti hingga ..." Kei sengaja memutus kalimatnya saat melihat kelopak kembar di depannya perlahan membuka.


Naya langsung menyurukan wajah merah meronanya di dada bidang Kei. Gadis itu mendesah dalam resah yang kembali mendera. Apakah karena mitsaqon gholizan, janji suci ikatan pernikahan mereka, hingga ia selalu kalah oleh pesona lelaki dewasa di hadapannya.


Kei dapat merasakan resah yang melanda sang juwita. Andai Naya tahu, resahnya adalah gelisah yang menggulanakan seorang Kei Hasan. Lelaki itu mencoba kukuh untuk menolak rasa yang terus menawannya.


Bertahun Kei menafikan dan mengingkari rasa itu karena ada hati lain yang juga harus dijaganya. Adalah Ken, sang adik yang berhasil mengikat Naya dalam pertunangan yang direstui keluarga besarnya.


Namun ternyata takdir berkata lain, Kei jua yang akhirnya berjaya menghalalkan gadis itu. Mengikat Naya dengan kuat dalam mitsaqan gholizon setelah getar syahdu ijab kabul.


Perlahan tangan besar Kei mengusap dan mengelus lembut puncak kepala Naya. Tetiba ada rasa yang menyentak ingin meluah dari dadanya.


"I love you"! Kalimat sakti itu lolos begitu saja dari lisan beku Kei.


Lelaki itu tersentak sendiri. Kalimat yang terpendam jauh di kedalaman hatinya, tak pernah keluar bahkan untuk Nadia, perempuan yang telah membersamainya selama lima tahun ini, sekalipun.


Gelisah semakin mendera Kei saat tubuh mungil dalam dekapannya terasa kaku membeku. Apakah ia telah salah berucap kata, sehingga Naya tak terima?


Kei merasakan pergerakan kecil Naya. Gadis itu mendongak, menengadahkan wajah. Menatap, menelisik Kei, mencoba menemukan dusta.


Kei tersenyum hangat, berusaha meyakinkan suri hatinya.


"I love you Kanaya Khairunnisa! My sweety, my honey, my baby ..."


Kalimat Kei terhenti oleh telunjuk Naya yàng hinggap tepat di bibirnya.


"Nope! Not my baby, babe or something like that!" Bibir Naya mengerucut, ia kenal sangat dengan panggilan itu. Panggilan yang biasa dipakai Kei saat bersama Nadia.


Kei tersenyum lebar. Ia tahu pasti apa yang mengesalkan hati gadisnya itu.


"Cemburumu manis sekali, sayang". Kei membisikan godaannya.

__ADS_1


Naya membulatkan matanya utuh sembari jemarinya bergerak lincah untuk mencubit kecil perut sang suami. Namun hatinya semakin kesal karena cubitannya menjadi tak bernyawa di liatnya otot perut Kei.


Kei tertawa gemas menyaksikan tingkah Naya. Namun tawanya terhenti seketika saat merasakan sentuhan lembut di bawah sana. Kei membulatkan matanya. Aish, mulai nakal?


Naya yang tidak sengaja membangunkan sang macan, menggeleng kuat. Tak merasa melakukan kesalahan apapun.


Kei meringis kecil, menyadari kepolosan sang istri. Ahai... How poor I am!


Namun bukan Kei Hasan namanya bila ia tak punya seribu satu akal untuk 'menakhlukan' sang suri hati.


"Eughh. Eughh... Abang...!" Naya meremas kuat rambut hitam lebat Kei saat gelombang rasa itu kembali menggulungnya.


"No! I won't stop now!" Kei berkata pelan dengan suara beratnya. Sulit baginya untuk keluar dari gelora rasa yang sudah mencengkram kuat.


"Abang, please ... Not now..." Naya memohon dengan lirih. Jujur sekiranya Kei memaksakan kehendaknya sekarang, Naya juga belum tentu bisa menolaknya. Namun banyak hal yang harus mereka 'dudukan' terlebih dahulu. Naya tidak mau tergesa dalam rasa yang bisa saja sedang memperdayanya.


"Sayang..." Kei menatap dengan netra berselimut berkabut.


"Abang, I ... I... love ... you, too. But, is it right? What about Nad..."


Kei langsung memutus kalimat Naya dengan kembali berlabuh di kelopak mawar merah milik sang istri. Lebih lembut dan penuh perasaan. Tidak ada perlakuan yang menuntut, yang ada hanya sentuhan lembut penuh kasih sayang.


Hanya beberapa saat untuk menghilangkan keresahan sang gadis. Kei kemudian melepaskannya seraya ujung ibu jarinya menyentuh dan mengusap lembut kelopak mawar yang membasah karena ulahnya.


"Abang akan menyelesaikan semuanya. Tolong bersabar, ya?" Kei menuntun Naya, merebahkan diri di tempat tidur.


"Sekarang, tidur! Jangan coba-coba pancing Abang lagi, okay?!" Kei menyelimuti tubuh mungil itu seraya mengecup lembut dahi sang isteri.


Gadis itu hanya mengangguk dengan senyum yang merona. Matanya mulai mengatup rapat seiring elusan lembut Kei di kepalanya.


...****...


Naya terbangun saat merasakan getaran dari gawai yang sengaja ditaruhnya di atas tempat tidur. Gadis itu mengulurkan tangan, meraih benda pipih persegi tersebut. Terlihat sebuah pesan masuk dari Andrian, asisten sang suami.


Kegiatan CSR dari Noghoghi Holding yang bekerjasama dengan Yayasan Cahaya Umat sekitar dua bulan yang lalu, menjadi punca terjalinnya komunikasi diantara mereka. Beberapa kali Andrian menghubungi Naya melalui panggilan telepon maupun pesan singkat terkait pelaksanaan kegiatan tersebut.


Naya membuka dan langsung membaca pesan yang dikirim Kei lewat Andrian. Gadis itu menautkan kedua alisnya saat di pesan itu Kei memintanya untuk menyusul ke apartemen Teluk Kamang, Port Dickson.


Naya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menutup kembali aplikasi layanan pesan singkat tersebut. Kenapa harus melalui Andrian? Kan bisa telepon Nay langsung? Ada-ada saja bang Kei.


Bang Kei? Naya bergumam lirih. Potongan-potongan mozaik sekitar dua jam yang lalu, sesat sebelum ia tidur, kembali menggoda Naya. Wajahnya merona tanpa dapat dicegah.


Semua pernyataan dan perlakuan manis Kei kembali membias nyata, hadir di depan matanya. Seketika Naya menyentuh dadanya yang tetiba bergetar halus. Ah, inikah rasanya mencinta?


...__________*****_________...


Tinggalkan jejak dong, like, comment, vote dan jafikan favorite ya... Biar aq semangat untuk bisa up lagi siang nanti.


To be continued

__ADS_1


Sambil nunggu up Naya dan Kei mampir dulu ke karya temanku ya..



__ADS_2