Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
My Longing for You is Great!


__ADS_3

"Hallo, Hallo Nay... Naya sayang ... Kamu masih kat sana, kan?"


Kei tersentak kaget saat telinganya menangkap suara perempuan di seberang sana. Suara yang terdengar begitu lembut bersahaja. Meski Kei tahu suara itu bukan ditujukan untuknya, namun tetap mampu menghilangkan gundah gulananya.


Sesaat Kei terdiam. Banyak yang ingin disampaikannya, namun suaranya seperti tercekat di kerongkongan. Tanpa sadar tangan Kei mencengkram kuar stir kemudi.


Naya segera menyentuh tangan kaku Kei yang masih menempel erat pada stir kemudi. Menggerakan bibirnya perlahan, gadis itu berbicara tanpa suara. Dengan isyarat mata dan gerak bibirnya Naya meminta Kei untuk menepikan kendaraannya.


Seperti dikendalikan oleh alam bawah sadarnya, Kei memperlambat laju mobil, dan di pinggir jalan yang cukup sepi mereka berhenti.


"Nay... Nay... Hello... Hello Nay... Are you okay?" Suara penuh nada kecemasan seorang Puan Sri Latifah masih terdengar di seberang sana.


"Ehmm... Ini Kei, Mama." Kei sengaja berdehem untuk mengatasi rasa canggung yang tetiba yang menderanya.


Kei menghela nafas panjang berkali-kali kemudian menghembuskan kembali dengan perlahan.


Menggusap tengkuknya yang entah kenapa terasa dingin, Kei memejamkan mata sejenak. Ternyata memulai kembali kebiasaan baik yang sudah lama ditinggalkan, sunguh sulit.


Sementara itu Naya masih setia mendengarkan kalimat demi kalimat yang meluncur dari lisan sang suami. Ia sengaja menatap lurus ke depan, tanpa menoleh Kei. Berharap lelaki itu merasa lebih leluasa.


"Naya okay je. Menantu kesayangan Mama ada kat samping Kei. Duduk manis dianya," lanjut Kei seraya melirik Naya sekilas. Suaranya mulai terdengar lebih santai.


Naya langsung melayangkan cubitan ringannya di lengan kiri Kei yang masih tersampir pada stir kemudi saat mendengar kalimat terakhir lelaki itu.


Kei tidak berusaha menghindar, membiarkan cubitan Naya hinggap di lengannya. Detik berikutnya saat sang istri akan melepaskan cubitan dan berniat mengangkat tangannya, tangan Kei yang satunya sudah duluan menangkap dan mengenggam erat tangan Naya.


Naya membulatkan matanya. Geraknya sedikit terbatas karena tangannya yang satu masih memegangi gawai yang sedang ditempelkannya di telinga Kei.


Berusaha melepaskan genggaman tangan Kei, Naya menarik tangannya sekuat tenaga. Namun seperti yang sudah-sudah, ia selalu kalah tenaga.


Kei menyunginggkan senyum kemenangan saat akhirnya Naya membiarkan tangannya dalam genggaman Kei.


Kei kembali memusatkan atensinya pada gawai yang ditempelkan Naya di telinganya, namun belum terdengar suara Puan Sri Latifah memberikan respon.


Kembali Kei menghela nafas sambil memejamkan matanya rapat.


"Mama, my longing for you is great!"


...*****...


Puan Sri Latifah PoV

__ADS_1


Entah kenapa tiba-tiba perasaanku tidak menentu. Risau dan gundah gulana datang menyela. Wajah si kepala batu itu dan Ken silih berganti hadir memenuhi ruang mata dan rasa. Ada apa? Firasat apa gerangan ini?


Semalam mereka berdua juga hadir menjadi bunga dalam tidurku. Ken dengan wajah cemas dan sedihnya. Si kepala batu itu dengan wajah muramnya. Tidak ada suara dari keduanya.


Dalam mimpi itu, si kepala batu lebih banyak menunduk dengan sesekali memandangku. Sementara Ken seperti berbicara, namun tiada suara yang terdengar. Dari gerak bibirnya, aku mencoba mereka apa yang ingin disampaikannya.


"Maafkan Ken, Mama."


atau


"Maafkan Kei, Mama?"


Entahlah, aku tidak pasti.


Kembali kubuka aplikasi pesan singkat berwarna hijau itu. Kutatap lamat pesan yang dikirim anak kepala batu itu. Kubaca berulang-ulang.


Mama, would you do me a favor?


Aku tahu pasti apa yg sedang menjadi punca masalahnya. Adalah Zainab, adik bungsu Khadijah, bundanya Naya yang menjadikan si kepala batu itu seperti akan dihalau tsunami.


Mhm... Dari pesan singkat yang dikirim Zainab kepadanya, etek Naya itu mempertanyakan berita dan video yang beredar luas di sana.


Aku juga telah membaca semua berita terkait isu retaknya rumah tangga si kepala batu itu dengan perempuan tak tahu malu tersebut. Bahkan video kejadian di salah satu mesjid di kota Padang itu pun sudah kutonton.


Aku tidak akan pernah alfa menjaga Naya menantuku. Peristiwa pernikahan mereka hampir lima tahu lalu mengajarku tentang banyak hal. Cukup sekali itu aku terlepas, kecolongan istilah lainnya.


Bila saja saat lima tahun dulu itu aku mengetahuinya lebih awal, maka aku pastikan pernikahan itu tidak akan pernah ada.


Mungkin bagi sebagian orang aku dianggap selfish, egois. Biar saja! Yang pasti, aku akan melakukan apapun untuk melindungi keluargaku, orang-orang yang kusayangi. Tidak akan aku biarkan sesiapapun menyakiti kesayanganku.


Untuk si kepala batu itu aku sudah langsung menghukumnya sejak lima tahu lalu. Memblokir semua aksesnya terhadap Naya. Tidak memberikan sedikitpun celah baginya untuk bisa mendekati Naya menantuku.


Meskipun aku juga tahu selama lima tahun tersebut si kepala batu itu telah mengirim seseorang untuk memantau Naya. Seseorang yang katanya ditugaskannya untuk menjaga Nayaku. Huh! Dia kira aku tidak bisa menjaga menantuku.


Sementara untuk si perempuan itu, aku telah menumpuk banyak pembalasan yang paling menyakitkan yang tidak akan terlupakan. Biarkan saja saat ini dia terus terbang, melayang dulu. Itu hanya akan mempertinggi tempat jatuhnya. Tunggu saja!


Keberaniannya 'menjebak' si kepala batu itu dalam sebuah ikatan pernikahan, padahal perempuan itu tahu pasti bahwa dia akan menjadi yang kedua. Namun dia tetap tidak peduli dan berpura tidak tahu.


Bahkan dengan tidak punya hatinya, mereka sengaja hadir di depan Naya, di Museum Louvre, Perancis. Mempertontonkan kebersamaan mereka. They have done too much! Sudah terlalu banyak kesalahan mereka!


Namun satu yang paling tidak termaafkan dari perempuan itu, dia dengan lancangnya telah menculik Naya dan berniat untuk menghabisi menantuku. Sungguh tidak termaafkan!

__ADS_1


Tunggulah, waktunya semakin dekat. It's time for a revenge!


Namun mimpi semalam dan peristiwa langka hari ini sedikit banyak sepertinya akan mengubah peta pembalasan yang sudah aku rancang.


Sungguh langka keberaniannya untuk menghubungiku lebih dahulu. Si kepala batu itu mengirim pesan dan berkali-kali berusaha untuk bisa berbicara denganku melalui panggilan telepon yang memang sengaja tidak kuangkat. Aku ingin tahu se-heroik apa perjuangannya untuk mendapatkan Naya-ku.


Beberapa hari yang lalu, aku memang sengaja mencabarnya, menantangnya untuk melepaskan Naya secara baik-baik. Secara langsung memintanya untuk menceraikan Naya. Namun ternyata tanggapannya sedikit diluar prediksiku.


Sebelumnya aku memperkirakan bahwa si kepala batu itu akan berkata, "Okay, I will!". Dengan senang hati menerima dan mau menceraikan Naya. Karena seperti yang pernah dikemukakannya kepada perempuan itu melalui pembicaraan telpon mereka, bahwa dia menikahi Naya hanya untuk membalaskan sakit hatinya padaku melalui Naya.


Namun semuanya tak seperti yang kuharapkan. Dia terlihat sangat meradang saat aku memintanya untuk menceraikan Naya.


Dan yang lebih kurang ajar, aduh aku terpaksa mengeluarkan kata-kata buruk ini, dia berani mendekati Naya, berlaku seolah suami sejati.


Aku seorang perempuan yang sudah banyak makan asam garam. Aku tahu sekali maksud dan tujuannya. Dia ingin menakhlukan menantuku, berusaha untuk mencuri hati Naya.


Aduh! Kenapa aku mulai risau bila Naya akan termakan bujuk rayunya? Karena bila kulihat, dia memang berbakai menjadi seorang Don Juan, casanova, playboy atau apalah namanya.


Aku semakin takut ketika kulihat Naya mulai masuk dalam perangkapnya. Aku memang meminta Naya untuk menjauhkannya dari perempuan itu, namun bukan berarti menantuku harus makan umpan pancingan si kepala batu itu? Aku takut bila dia hanya bermaksud untuk mempermainkan hati menantuku.


Afifah memang berusaha meyakinkanku bila si kepala batu benar-benar menyayangi bahkan konon katanya cinta kepada Naya. Benarkah?


Ah, entahlah! Yang pasti aku semakin cemas saat dia berhasil membawa Naya pergi bersamanya setelah incident penculikan itu.


Aku memang selalu tahu dimana posisi keberadaan mereka dan apa saja yang mereka lakukan. Karena aku senantiasa menempatkan orang-orang terbaikku untuk mengikuti mereka. Bukan apa-apa, aku hanya belum begitu yakin akan keselamatan menantuku bila bersamanya.


Dan beberapa menit yang lalu, dia kembali menghubungiku. Entah karena dorongan apa, baru di dering pertama aku langsung menerima panggilan tersebut. Ternyata bukan dia yang berbicara, melainkan suara Naya yang menyapa.


Tidak berapa lama kemudian, Naya sepertinya sengaja meminta si kepala batu itu untuk berbicara.


Aku sempat menangkap helaan nafas panjangnya sebelum berbicara. Aku tidak begitu fokus dengan apa yang disampaikannya. Hanya kalimat terakhirnya yang terekam jernih dengan sinyal yang kuat. Bukan terekam di telinga atau di kepala, namun di hati.


Mama, my longing for you is great!


Mama, amat besar kerinduan Kei pada Mama!


What?! Dia tak sedang demam, kan?


..._________*****_________...


To be continued

__ADS_1


Alhamdulillah, akhirnya up juga hari ini meski sedikit telat, ya.. Terimakasih tak terhinga buat teman-teman yang sudah mengirimkan doa dan masih setia, mau menunggu hadirnya KeiNaya.


Jangan lupa like dan commentnya, ya biar aku tambah semangat up nya.


__ADS_2