
Kei tidak memutus pandangannya dari tiga orang berpakaian serba hitam di hadapannya.
Tatapan elangnya seakan ingin mencabik-cabik satu persatu ketiga tubuh itu.
Meski tiada kata yang terucap dari bibir mungil sang istri, namun cengkraman kuat Naya di lengannya sudah cukup mewakili selaksa trauma fisik dan psikis yang tengah dihadapinya.
Kei tahu pasti bagaimana perilaku orang-orang suruhan Nadia tersebut.
Mereka adalah orang-orang yang bisa melakukan kekejaman apa saja, bahkan kepada para perempuan dan anak-anak sekalipun.
"Well, aku tidak mau mengotori penglihatan istriku dengan membunuh kalian di hadapannya. Aku hanya minta kalian tinggalkan di sini bagian tubuh kalian yang tadi telah menyentuhnya!!" Nada dingin Kei seperti akan membekukan hangatnya lautan Selat Melaka.
Naya yang masih duduk bersimpuh tidak jauh dari Kei, tersentak kaget hingga sontak membuka matanya.
Sementara ketiga orang penculiknya saling tatap dengan dada yang mulai bergemuruh.
Kei Hasan! Pewaris utama dari kerajaan bisnis keluarga Tan Sri Abdul Hamid, pelaku bisnis ternama sekaligus menduduki posisi penting dalam pemerintahan Malaysia.
Nama orang tua Kei, Tan Sri Abdul Hamid dan istrinya Puan Sri Latifah sama-sama masuk dalam deretan orang-orang terkaya di negara jiran tersebut.
Namun, mungkin tidak banyak yang mengetahui jejak rekam, perjalanan hidupnya selama belasan tahun di dunia hitam.
Kei, the Black Eagle of Malaya adalah salah satu nama yang ditakuti di dunia underground!
Jika bukan karena perintah dari Nadia Jefferson, istri the Back Eagle of Malaya, maka tak mungkin mereka berani menculik seorang gadis yang ternyata juga merupakan 'kesayangan' seorang Kei Hasan.
Satu fakta yang baru saja mereka dapati sekarang, setelah menyaksikan interaksi intim keduanya.
__ADS_1
Ketiga orang itu saling pandang, menunduk pasrah seperti pesakitan yang menunggu putusannya.
Kembali ke Naya, gadis cantik berlesung pipit itu sejenak menatap Kei dalam diam. Matanya membola dengan mulut yang sedikit terbuka.
Kemudian dengan gerakan pelan dan hati-hati, gadis itu berusaha untuk bangkit dari duduknya. Berpegangan pada dinding ruangan, Naya melangkah perlahan.
Kei yang baru menyadari pergerakan sang istri bergerak cepat menyongsongnya.
"Sayang, what are you doing? I've told you just to stay there." Kei memegang lembut lengan Naya sambil menuntunnya berjalan.
"Abang, you don't need to do this. Please ...?" Naya mengerjapkan matanya.
"Sayang...?"
"Abang...?"
"Please, abang. Please ...?" Naya berbisik lirih seraya menyurukan kepalanya ke dalam dekapan Kei.
"Abang, tolong jangan buat perseteruan baru yang hanya akan melahirkan dendam baru lagi. Please ...?" Naya memohon dengan menengadahkan kepalanya, menatap Kei dengan tatapan yang semakin dalam.
"Tapi sayang, mereka telah melakukan tindakan yang sangat jahat ke kamu?! Mereka para kriminal! Bila abang telat sedikit saja, pasti mereka telah ..."
"But it didn't happen, right? Alhamdulillah Nay okay, abang ..." Naya masih berusaha meyakinkankan Kei.
Meski rasa sakit di tubuh bagian belakangnya masih belum berkurang, namun gadis cantik itu berusaha untuk tidak menampakannya di hadapan Kei.
Kei mendekap kuat tubuh dalam pelukannya. Tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada sang istri bila ia terlambat sedikit saja.
__ADS_1
Namun sekarang, gadis itu malah memohonkan ampunan untuk para penculiknya.
What a hell!
Bila saja Naya sedang tidak berada di dekatnya, sudah sedari tadi Kei menghabisi para penculik istrinya itu.
Kei memejamkan mata. Mencoba meredakan gemuruh amarah yang sedang mengungkungnya.
Bagi seorang Kei Hasan, melepaskan para kriminal itu begitu saja, berarti memberi kesempatan mereka untuk berbuat kejahatan lagi. Dan bisa jadi, Naya masih akan menjadi targetnya. Tentu saja Kei tidak mau mengambil resiko itu!
Kei mengetatkan rahangnya. Melepaskan para kriminal itu dengan resiko kemungkinan buruk di masa depan. Ataukah tetap memberikan hukuman dengan resiko harus siap menerima 'kemarahan' sang suri hati. Pilihan yang sama sulit!
Kei mengepalkan jarinya, mencoba menyalurkan marah yang masih tersisa.
Lelaki itu mengalihkan pandangannya kepada para penculik istrinya yang masih menunduk sambil saling mencuri pandang satu sama lain.
"Well, demi istriku... Aku bebaskan kalian dari ruangan ini. Tapi untuk bisa keluar dari pulau ini, silahkan cari celah kalian!" Berkata begitu Kei bergerak cepat, memutar dan melentingkan tubuhnya.
Dalam hitungan beberapa detik saja, tendangan kaki kirinya menghantam kuat kaki dan tangan para lelaki berpakaian serba hitam itu.
..._________*****__________...
*To be continued
Yuuk merapat... Kei dan Naya dah menyapa lagi...😊
Nah, sambil nunggu up selanjutnya, baca dulu yuk karya temanku yang satu ini*..
__ADS_1