
"Kamu silahkan cari jalan sendiri untuk sampai di Pusako Villa sebelum sholat Dzuhur!" Puan Sri Latifah berseru ditengah deru mesin helikopter.
"Look! My dear bro, waktumu hanya sekarang! No more time after today. So, now or never! Bila kau tidak hadir di Pusako sebelum Dzuhur ini, berarti kau telah menyerahkan Naya kembali kepada kami. Artinya, peranmu telah selesai. Tanggung jawab atas Naya kami ambil alih!" Afifah menepuk pelan pundak adik lelakinya. Menatapnya sejenak sebelum kemudian kembali berucap pelan namun dalam.
"Mintalah fatwa kepada hatimu. Kerana ia tidak pernah salah melabuhkan rasa!"
Kei masih terpatri di tempatnya berdiri saat perlahan deru mesin pesawat udara bersayap putar itu perlahan menjauh dari jangkauan pendengarannya.
"Need a help, bro?" Putra sudah berada tepat di samping kanan Kei. Lelaki tampan asisten Puan Sri itu berdiri dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya.
"Nop! I can do it myself." Meski hanya berupa kalimat singkat namun Kei tahu kemana arah pertanyaan sepupunya itu.
Dalam tangkapan pendengaran Kei, kalimat Putra itu malah terkesan meremehkannya. Seakan Kei tidak akan sampai ke villa Pusako seperti titah sang mama.
Kei mengepalkan jari-jarinya. Enough! That's enough!" Ia paling tidak terima diremehkan. Cukup dua orang saja di dunia ini yang selalu mengganggapnya tidak mampu, tidak layak dan tidak bertanggung jawab. Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah! Yang lain? Jangan coba!
Tanpa menghiraukan tatapan penuh tanya Putra, Kei kemudian berbalik menuju mobilnya. Mengeluarkan beberapa perlengkapan yang dirasa Kei akan diperlukan untuk menemani perjalanannya.
Lelaki bermata elang itu melepas kemeja putih yang tadi pagi dipadu padankan dengan celana kanvas berwarna darkbrown, pilihan Naya.
Kini Kei hanya menyisakan sebuah kaos pressbody yang juga berwarna putih. Tubuh atletis Kei sekarang terpampang nyata.
Melepas sepatu pantofelnya, Kei kemudian memakai hiking shoes yang memang biasa ditaruhnya di mobil. Sekilas ia melirik Rollex di tangan kirinya. Pukul 10.15. Berarti ia punya cukup waktu untuk bisa in time sampai di villa Pusako.
Tak lama kemudian, Kei sudah melangkah menuju gerbang Tanjung Tuan Recreational Forest setelah sebelumnya singgah di sebuah gerai untuk membeli dua bungkus kacang goreng dan sebotol air mineral.
Putra yang masih berdiri di tempatnya semula hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Kei seraya tersenyum kecil. Dasar kepala batu!
"Baik Puan Sri, target sudah on the way, diperkirakan butuh waktu sekitar empat puluh menit hingga satu jam untuk sampai di atas". Terdengar kemudian Putra sedang berbicara dengan Puan Sri Latifah lewat panggilan telepon selulernya.
Sementara itu Kei yang telah memasuki Hutan Rekreasi Tanjung Tuan mulai menyusuri hutan tropis itu. Tak lupa ia langsung mengaktifkan stop watch di jam tangannya.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa saat, Kei turun menuju Monkey Bay. Sekumpulan kera menyambutnya di sana. Kei menebar kacang goreng yang tadi dibelinya di gerai.
Sejenak lelaki berahang kukuh itu berhenti, menikmati pemandangan di depannya. Kera-kera yang berebutan memunguti kacang.
Tidak sampai tiga menit, dua bungkus kacang goreng itu telah ludes tak tersisa, diiringi dengan mulai menjauhnya kera-kera itu dari tempat Kei berhenti.
Kei melanjutkan perjalanannya. Pandangannya kemudian bertemu dengan pantai indah berair jernih.
Kei tersenyum kecil. Sesuai perkiraannya, air laut sedang surut. Kei yakin ia mampu memecahkan rekor atas nama Ken, sang adik yang belum sanggup dipecahkannya hingga hari ini.
Perjalanan menuju Villa Pusako yang bersempadan dengan area Bukit Batu Putih sebenarnya bisa ditempuh melalui dua jalan, jalan hutan dan jalan pantai.
Namun Kei sengaja mengambil jalan pantai, trek yang lebih menantang baginya.
Trek jalan pantai ini adalah route yang paling sering dilalui Kei dan Ken remaja beberapa tahun silam. Mereka sering adu cepat sampai ke Villa Pusako, namun sialnya Kei selalu kalah. Waktu yang yang dicetaknya selalu saja di bawah sang adik.
Bila dalam kondisi santai sambil menikmati keindahan pemandangan sekitar, route jalan pantai ini menghabiskan waktu sekitar satu jam, mengingat para hikers harus memanjat tebing yang cukup terjal untuk bisa sampai ke puncak.
Terakhir Ken berhasil mencetak waktu dua puluh empat menit tiga puluh tiga detik. Sementara Kei? Terlambat lima belas detik di belakang Ken. Namun kali ini Kei bertekad untuk bisa mengalahkan rekor yang pernah dibuat Ken.
Kei mulai merangkak naik, mendaki tebing curam itu. Tangan dan kakinya bergerak cepat, meski tak lagi selincah sepuluh tahun silam namun Kei tetap berusaha untuk sampai di puncak sesuai targetnya.
Nafas Kei sedikit tersengal saat berhasil sampai di puncak Bukit Batu Putih. Senyumnya terbit di sela nafas yang masih terputus-putus saat melihat Selat Melaka yang membentang indah di depan mata.
Tak membuang masa, Kei bergerak, berlari ke sisi barat, menuju kawasan Villa Pusako, milik keluarganya.
Sekitar lima menit berlari tanpa henti, Kei telah berdiri di gerbang masuk villa. Matanya bergerak turun melihat stop watch di jam tangannya. S-hiitt! Dua puluh tujuh menit koma dua puluh tiga detik.
Jangankan memecahkan rekor Ken, bahkan Kei kalah jauh dari pencapaiannya sendiri sepuluh tahun silam.
Kei menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan hijau di depan villa. Matanya terpejam rapat.
__ADS_1
"Need a drink, bro?"
Kei tersentak saat kalimat itu mampir di pendengarannya. Ken?!
Ken yang selalu melafaskan kalimat itu sambil menyuguhkan Kei sebotol air mineral dingin bertahun-tahun silam.
Dengan posisi yang masih terbaring di rerumputan, Kei perlahan membuka mata.
Pandangannya sedikit silau oleh sinar matahari yang tepat di manik hitamnya.
Seorang lelaki sedang berdiri dengan sebotol air mineral di tangannya.
Kei bangkit dengan gerakan salto, tangannya langsung menyambar dan mencengkram kuat lengan lelaki itu.
"Hei... What's up, bro? You kenape? I tanya, butuh air minum, tak?" Putra berusaha melepaskan cengkraman Kei di lengannya.
Kei mengerjapkan matanya berulang kali sebelum akhirnya melepaskan lengan Putra. Menatap pria itu sejenak, kemudian melangkah memasuki villa.
Tubuh letih Kei butuh guyuran air segar sekarang, sebelum nanti ia 'diguyur' kata lagi oleh dua orang perempuan di kerajaan Tan Sri Abdul Hamid yang sudah lebih dulu sampai di Villa Pusako, Puan Sri Latifah dan Afifah bin Abdul Hamid. Duo perempuan yang selalu tampil garang bila berhadapan dengan Kei.
Berjalan perlahan menuju sebuah bangunan kecil dengan dua lantai di samping villa utama yang besar, Kei mendorong pelan pintu yang memang tidak terkunci.
Inilah bangunan berlantai dua seperti faviliun yang terpisah dari villa utama. Sedari dulu Kei lebih suka menempatinya karena tidak terlalu besar namun terasa sangat nyaman baginya.
Meski hanya memiliki satu kamar tidur namun faviliun ini memanjakan mata dengan pemandangan Selat Melaka dari balkon kamar tidurnya di lantai dua.
Alih-alih langsung mandi, setibanya di kamar tidur Kei langsung menghempaskan tubuh penatnya di sebuah ranjang berukuran jumbo.
Kei merentangkan kedua tangan dan kakinya, mencoba mengurai letih yang menghimpit. Akhirnya tanpa dapat dicegah, Kei terlelap dalam buaian mimpi.
__________*****__________
__ADS_1
To be continued