
Tolong, urai semula ikatan ini!!!
Kei merasakan tubuhnya membeku dengan rahang yang mengetat kuat. Bibirnya bergetar hebat menahan gejolak yang tetiba membakar dada.
Kalimat Naya barusan seakan mematikan kewarasan pewaris utama kerajaan bisnis Tan Sri Abdul Hamid itu.
Lelaki tampan dengan tatapan elang itu merasakan aliran darahnya mengalir dengan cepat. Tanpa sadar, tangannya terkepal dengan buku-buku jari-jari yang memutih.
Kei menghela nafas lebih panjang, mengurai sesak yang menghimpit. Perlahan dihembuskannya dengan sedikit kasar.
"What do you mean? Abang tak paham. Apa maksud Nay?" Menatap sang istri semakin dalam, Kei memajukan tubuhnya.
Naya kembali membuang pandangannya ke sembarang arah. Tetap menghindar bertemu pandang langsung dengan Kei.
"You know what I mean!" Ujar Naya masih dengan kalimat singkat.
"Nope! I don't know. Please tell me, clearly." Kei mendekatkan wajahnya, semakin mengikis jarak di antara mereka.
Naya perlahan memundurkan wajahnya seiring gerakan maju sang suami.
"Stop!" Naya ingin berteriak, namun suaranya seperti tercekat di kerongkongan. Hanya desisan lirih yang terdengar.
Kei terus mendekatkan wajahnya tanpa memutus pandangannya sekejap pun.
"I asked you to stop!" Naya semakin lirih.
"No! Never! Kita sudah sampai pada titik ini, dan Abang tidak akan pernah berhenti lagi!" Nada Kei mulai meninggi.
"Lima tahun, Abang. Lima tahun! Apa waktu itu belum cukup?! Butuh berapa waktu lagi Abang untuk menyakiti Nay?! That's enough, Abang! Nay lelah! Tolong akhiri semua ini! Tolong lepaskan Nay!" Suara Naya hampir tak terdengar, namun penuh tekanan.
Setelahnya, gadis itu memejamkan matanya rapat, saat buliran-buliran bening itu sudah tak mampu lagi ditahannya.
Buliran itu kemudian meluncur deras dengan begitu lancangnya di pipi putih chubby milik Naya.
Mata gadis itu tetap memejam rapat, berharap bila saatnya nanti membuka kembali, ia sudah terbangun dari 'mimpi buruk' ini.
Kei menggelengkan kepalanya kuat. Ada sesuatu yang mengiris sudut hatinya saat melihat buliran bening yang mengaliri pipi sang istri.
Perlahan ibu jarinya bergerak lembut di pipi Naya, mengusap seraya menghapus buliran-buliran bening yang masih mengalir, hangat.
"Forgive me, please? Tolong maafkan Abang, sayang. Abang tahu, sulit bagi Nay untuk bisa memaafkan Abang setelah apa yang terjadi. Tapi Abang akan terus memohonnya, hingga Nay sedia memaafkan Abang." Kei berhenti sejenak, menyentuhkan bibirnya lembut di kedua mata sang istri yang masih terpejam.
__ADS_1
"Sayang, Abang akan tunggu, hingga berbilang-bilang masa pun, Abang akan tetap tunggu sayang. I will wait for you like the sand waits for the sea. Abang akan menunggu sayang seperti pasir menunggu laut." Kei kembali menjeda kalimatnya sesaat.
Matanya menatap Naya, dalam dan hangat.
"Tapi untuk melepaskan sayang, maaf, Abang tidak bisa. Abang tidak akan pernah sanggup untuk melepaskan sayang lagi, meski sekejap! Cukup yang lima tahun dulu. Sekarang dan nanti, Abang tidak akan bisa lagi hidup tanpa sayang. You take my breath away!" Mengulurkan tangannya, Kei kembali menyentuh pipi penuh berisi milik sang istri.
Naya menggelengkan kepalanya kuat. Berusaha melepaskan diri dari buaian kalimat manis lelaki tampan bergelar suami di depannya.
"No! Love is not what you say, love is what you do. Cinta bukanlah apa yang Abang katakan, cinta adalah apa yang Abang lakukan. You hurted me deeply! Terlalu dalam sakit ini. And that's not love, Abang. Absolutely, not! So, tidak perlu bicara cinta! Karena cinta tidak akan meluka dan mencipta neraka. Meski neraka paling manis sekalipun!" Naya sengaja menekankan kalimat terakhirnya.
Neraka paling manis!
Kei mengerutkan keningnya. Kalimat itu mengantarkannya pada lintasan peristiwa lebih dari lima tahun silam.
Kalimat terakhir Naya menjadi kalimat kunci dari alinea panjang yang barusan di luahkan sang istri beberapa saat yang lalu.
Senyum tipis dan samar terbit di sudut bibir Kei. Berarti punca dari semua perubahan Naya hari ini adalah sepenggal scene saat Kei sedang berusaha memprovokasi Puan Sri Latifah, sang mama beberapa tahun silam.
Flashback On
Kei baru saja selesai mandi saat gawainya berdering panjang. Lelaki yang masih bertelanjang dada dengan handuk yang hanya melingkari sebatas pinggangnya itu, segera meraih benda persegi panjang yang tergeletak di atas katil, tempat tidurnya.
Kei baru akan melangkah menuju wardrobe untuk berpakaian, saat dering panjang dari gawainya kembali memekik.
Tanpa menunggu lebih lama, Kei segera menggeser tanda panggilan untuk menjawabnya.
"By, what are you doing, right now? Kamu tidak sedang bersamanya, kan?" Terdengar suara perempuan di seberang sana.
"Maksud you apa?!" Terdengar nada tidak suka dalam kalimat Kei yang datar dan dingin.
"Maksud I ..."
"Jangan melewati batasanmu!" Kei memotong ucapan Nadia, perempuan yang satu tahun ini mulai masuk dalam kehidupannya.
"By, I mean ..."
"Kau tidak seistimewa itu untuk bisa ikut campur dalam urusanku!" Semakin dingin nada suara Kei.
Terdengar helaan nafas panjang di seberang sana. Nadia mengepalkan tangannya.
Gadis cantik blasteran Indonesia-Irlandia mencengkram kuat gadget dalam genggamannya.
__ADS_1
Matanya merah menyala menahan amarah yang mulai menguasainya. Namun hanya sesaat, kemudian yang terdengar adalah suara lembutnya penuh manja.
"Babe, pretty sorry. I didn't mean that. Maksudnya bukan begitu... Aku hanya terlalu merindukanmu. My longing for you is great." Nadia membisik lirih dengan nada yang dibuat serendah mungkin.
"Mhm." Kei hanya berdehem saat matanya menangkap sekelebat bayangan melintas di depan pintu kamarnya yang setengah terbuka.
Kei tersenyum smirk. Meski tidak melihat wajahnya secara langsung, namun dari perawakan dan gerak tubuhnya Kei tahu pasti siapa yang barusan melintas dan saat ini sedang merapat ke dinding, berusaha mencuri dengar pembicaraan teleponnya. Siapa lagi bila bukan Puan Sri Latifah, sang mama!
"Don't be so worry, babe. It's just a play!" Don't over thinking, okay?" Kei sengaja membesarkan volume suaranya.
"Love? Of course not. No love at all!"
I just wanna see, what can they do when I play a little game to a lovely girl of their beloved son!" Sudut mata Kei sesekali melirik ke arah pintu masuk kamarnya.
"This marriage will be a sweet hell for her!" Kei masih terus melanjutkan "permainan kata" untuk menyulut emosi sang mama, hingga kemudian ia melihat pergerakan Puan Sri yang melangkah menjauhi kamar.
Kei tersenyum lebar penuh kemenangan saat menyaksikan sang mama yang melangkah pelan menuju lantai bawah.
Sungguh Kei tidak tahu bahwa permainannya itu akan membuatnya masuk perangkap di kemudian hari.
Sementara itu, Nadia yang masih berada di sambungan telepon, tersenyum sinis menyimak kalimat demi kalimat yang meluncur dari lelaki yang sangat dicintainya itu.
Meski tidak sedang berada di hadapan laki-laki itu, namun setidaknya Nadia bisa menangkap apa yang sedang terjadi.
Hampir satu tahun membersamai lelaki sedingin gunung es itu, meskipun tiada kata cinta yang terucap, cukup bagi seorang Nadia Jefferson untuk mengetahui tentang hubungan kurang harmonis Kei dengan keluarga besarnya.
Nadia masih dengan senyum sinis dan liciknya saat jarinya menekan 'stop recording' pada gadged-nya.
Flashback Off
..._________****_________...
To be continued
Maaf, ya telat updatenya. But don't worry, mudah2an bisa double up hari ini.
Yang mo double up, suaranya mana? Comment dong* ...
Sambil nunggu up lagi malam ini, yuukk baca dulu karya teman otor nih ..
__ADS_1