
Kei Hasan, pria gagah bertubuh atletis dengan rahang kukuh itu menatap lamat rumah panggung di depannya. Sebuah rumah tradisional khas Negeri Sembilan yang terbuat dari kayu dan masih berdiri dengan kukuhnya.
Rumah panggung itu merupakan evolusi dari Rumah Gadang di Sumatera Barat yang berpadu dengan unsur arsitektur Melayu, Malaysia.
Berbilang masa telah terlewati. Kei masih ingat ketika kecil, di rumah panggung inilah nenek dan datuknya sering bercerita tentang rumah tersebut yang telah ditempati keluarga besar mereka dari zaman ke zaman.
Beberapa kali mengalami renovasi namun tidak menghilangkan desain aslinya, seperti yang didirikan oleh para nenek moyang mereka yang berasal dari negeri Minangkabau beratus tahun silam.
Kei tersenyum tipis. Terbayang saat Kei, Ken dan Naya yang suka sekali duduk melantai mendengarkan nenek dan datuk mereka bercerita. Sedangkan kak Ifah lebih memilih berada di dapur bersama Mama, membuatkan camilan buat mereka.
Naya, yang kedua orang tuanya merantau ke Negeri Sembilan sebelum kelahiran Naya, adalah yang paling antusias di antara mereka bertiga.
Naya yang memang belum pernah melihat secara langsung negeri kedua orang tuanya itu, serasa berada di Ranah Minang dan ikut napak tilas perjalanan perantau Minangkabau yang datang meneroka melewati Selat Melaka hingga sampai ke Negeri Sembilan.
Kei yang sangat perhatian dengan Naya, tetangga rasa adik itu tak jarang melihat mata bening Naya yang berkaca-kaca. Sesekali matanya yang hitam jernih itu membola dan mengerjap indah. Eh?
Seketika Kei menghentikan langkahnya. Sejenak pandangannya beralih pada sebuah rumah bergaya minimalis modern yang berdiri tepat di sebelah rumah panggung keluarga besarnya.
Kedua rumah berbeda gaya itu hanya dibatasi oleh sebuah pagar kayu rendah dan ada sebuah pintu kecil di pagar tersebut untuk menghubungkan keduanya.
Tiba-tiba ada yang hilang sekaligus hadir di dadanya. Jangan ditanya, apa? Karena Kei sendiri tidak bisa menjawabnya. Entahlah. Ada rasa yang ia sendiri masih belum bisa memaknainya.
Kei kembali melanjutkan langkahnya, menyusuri halaman luas dengan pepohonan rindang yang selalu menciptakan suasana teduh dan nyaman.
Suasana yang sebenarnya senantiasa dirindukannya, namun ia berusaha membunuh rasa rindu itu. Ia tetap membangun benteng tinggi di dalam dirinya, meski ia tahu benteng itu kini hampir rubuh menimpanya.
Inilah alasan kenapa ia jarang pulang kampong. Meski nek Syarifah sering memintanya datang dengan berbagai alasan. Tak rindu nenek ke? Ikan bilis dah habis, hantar segera!
Selama ini Kei selalu menghindar dengan alasan pekerjaan. Ikan bilis yang diminta sang nenek, sering ia suruh Putra yang mengantarkan langsung ke Seremban. Untuk menjawab kerinduan sang nenek, tiap akhir minggu Kei berusaha untuk tetap bisa video call-an sesibuk apapun ia.
Bukan apa-apa. Kei hanya sedang menjaga hatinya yang masih rapuh. Kei tidak mau kenangan masa silam yang telah melukainya begitu dalam, kembali membuatnya gelap mata.
Kei sudah hampir menyerah. Ternyata melukai hati banyak orang tidak membuatnya bahagia. Justru siksa yang ia rasa. Meski tujuan awalnya hanya Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah, namun ternyata ada hati-hati lain yang ikut terluka. Hati orang-orang yang sebenarnya sangat dicintainya. Ada nenek, kak Ifah dan ... Naya.
__ADS_1
Itulah sebabnya beberapa tahun ini ia enggan pulang ke Seremban.
Namun panggilan nek Syarifah tiga hari yang lalu seperti sebuah titah bagi seorang Kei Hasan. Ia tidak tahu, kenapa tiada kalimat penolakan atas permintaan sang nenek untuk mengantarkan langsung ikan bilis, yang sekarang ini ada dalam paper bag yang sedang dijinjingnya.
Kei masih ingat bulan kemaren, saat Mak Lung Salma, kakak tertua Papanya menelpon, memberitahu Kei tentang pernikahan sepupunya, Zahra. Namun Kei tidak menjanjikan kehadirannya dengan alasan akan out station untuk urusan pekerjaan.
Namun disinilah Kei sekarang. Menaiki satu demi satu anak tangga Rumah Atap Panjang khas Negeri Sembilan, hunian turun temurun keluarga besarnya.
Kaki Kei yang panjang melangkah lebar melewati satu persatu anak tangga yang tersusun rapi.
Saat tepat berada di depan pintu masuk, Kei semakin memperlambat gerakannya untuk menghindari suara. Kei sengaja masuk diam-diam. Ia ingin memberi big surprise untuk neneknya. Makanya ia sengaja memajukan kedatangannya sehari dari waktu yang telah ia janjikan.
Saat tangannya membuka pintu, Kei melongokan kepalanya ke dalam rumah. Matanya menatap kesetiap sudut ruangan. Tak terlihat sesiapa.
Kei melangkah masuk. Meyusuri ruangan demi ruangan di rumah yang besar itu. Mulai dari ruangan 4 x 4 yang difungsikan sebagai ruang baca keluarga, dapur, kemudian ia bergerak ke ruangan santai tempat biasanya sang nenek duduk di sebuah kursi rotan panjang. Namun tetap ia belum menemukan neneknya.
Perlahan Kei bergerak menuju sebuah ruangan, yang ia yakini sang nenek sedang beristirahat di sana. Tetapi yang dijumpai Kei hanya katil kosong yang rapi dan bersih, tanda tidak ditiduri sejak pagi.
Karena meyakini pintu setiap ruangan di rumah ini yang tidak pernah dikunci, Kei langsung saja mendorong pintu kamarnya dan melangkah masuk.
"Aarrgghhh!!!"
Kei tertegun. Bukan karena lengkingan tinggi tanpa nada yang singgah di gendang telingganya, namun lebih kepada pemandangan di depannya.
Mata Kei terpatri pada sesosok tubuh yang sedang berada di depan cermin. A girl??? Almost naked!!!
Pandangan Kei dengan netra tajamnya bak elang seperti enggan untuk beralih. Waktu seakan terhenti!
"Nay ... Naya! Kamu kenapa? Nenek kat surau, nih. Tunggu kejap!" Suara nenek Syarifah seperti menarik Kei dari labirin waktu.
Tak lama kemudian terdengar derap langkah kaki mendekat tergesa.
"Kei?"
__ADS_1
...***...
Naya mengenakan pakaiannya masih dengan tubuh yang bergetar hebat. Tangannya bergerak dengan mata yang memejam rapat.
Naya mendudukan tubuhnya di atas katil dari kayu jati berukir. Perlahan ia meraba dadanya. Jantungnya berdegub lebih kencang.
Kembali Nay mengatupkan kedua kelopak matanya, namun yang muncul malah sesosok tubuh tinggi tegap yang sedang menatapnya lekat. Tanpa kedip, tanpa kata. Kei!
"Aaarrgghh!"
Nay kembali menjerit, namun hanya sesaat. Setelahnya, kedua tangannya langsung membekap mulutnya sendiri.
"Nay ... Naya ... Ini nenek. Nenek masuk, ya?"
Terdengar suara nek Syarifah diiringi oleh bunyi pintu yang didorong dari luar.
Naya masih duduk di tempat tidur dengan memeluk sebuah bantal. Wajahnya ditekuk.
"Sudah hampir sembahyang Maghrib. Nenek sudah menunggu Nay sejak setengam jam yang lalu".
Nenek duduk di samping Naya, tangannya terulur mengusap lembut punggung cucu menantunya itu.
Naya yang tanpa hijab, terlihat begitu cantik dalam balutan gamis berwarna peach muda.
"Nek, kenapa Nenek dan Mama tak cakap kalau kamar nih, kamarnya Bang Kei?"
"Kamar Kei, kamar Nay juga lah, tu", ujar nek Syarifah tanpa beban dengan iringan senyum tipis.
Senyum yang teramat tipis, hingga Naya tidak menyadarinya.
...***...
To be continued
__ADS_1