
Naya yang ditemani oleh Puan Sri Latifah sedang duduk di sofa ruang utama, berbincang santai dengan mak lung Salma, kakak sulung Tan Sri Abdul Hamid, saat ia merasakan bebepa getaran singkat dari gawai yang berada di dalam saku gamis yang dikenakannya.
Setelah tadi berhasil charging, ia sengaja mematikan nada dering gawainya itu. Perlahan Naya merogoh saku dan mengeluarkan gawainya. Terlihat beberapa pesan masuk dari nomor yang sama namun tidak dikenalinya. Naya mengernyitkan keningnya namun memutuskan untuk mengabaikan pesan tersebut dengan kembali memasukan gawainya ke dalam saku.
Baru beberapa saat saja ia kembali fokus dengan mak lung Salma dan sang mama mertua, benda persegi itu kembali bergetar. Kali ini dengan getaran yang lebih panjang, pertanda panggilan masuk. Naya mendiamkan saja, tanpa berniat untuk mengangkat panggilan tersebut.
Puan Sri yang berada tepat di sebelah kiri gadis itu ikut merasakan getaran dari gawai Naya. Terlihat gadis itu seakan tidak peduli namun sedikit gelisah. Puan Sri tahu tahu, Naya berusaha untuk menjaga attitude di depan mereka.
"It's okay, Nay. Angkat saja, barangkali penting", Puan Sri tersenyum menatap sang menantu.
Naya menggelengkan kepalanya, sedikit sungkan saat menyadari bahwa getaran di gawainya juga disadari oleh sang mertua.
"Tak apa Naya. Mungkin ada yang urgent?" Mak lung Salma ikut menimpali sambil menatap Naya.
Gadis itu semakin canggung. Matanya mengerjap beberapa kali.
Puan Sri melebarkan senyumnya melihat tingkah Naya. Perempuan setengah baya itu menyentuh lembut lengan menantunya.
"Angkat dulu, sayang. Biar Mama yang temani mak lung, okay?" Puan Sri kembali berusaha meyakinkan Naya saat gawai gadis itu kembali bergetar panjang.
"Baik, Ma. Maaf Mak lung, Nay angkat sebentar, ya?" ujar Naya sambil mengeluarkan kembali benda persegi itu dan beralih posisi duduk yang sedikit menjauh dari keduanya.
Naya baru saja akan menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan, saat sebuah suara bariton nan berat singgah di gendang telinganya. Amat dekat dengan tengkuknya, hingga bila Naya menggerakan kepalanya sedikit saja, ia yakin pasti langsung beradu dengan pemilik suara itu.
"Abang sudah tercari-cari Nay dari tadi. Mesej tak jawab, talipun tak angkat. Kenapa?" Kei semakin menempelkan bibirnya di telinga Naya.
Gadis itu terjengkit, terkejut. Posisi mereka yang intim membuat Naya bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh lelaki itu. Apalagi bibir Kei yang masih menempel di telinga kanannya, membuat gadis seakan lupa untuk bernafas beberapa detik. Tubuhnya meremang seketika.
Iisshh. Apaan, sih? Dasar modus!Selalu saja tidak tahu tempat! Naya mengatai Kei di dalam hati.
Perlahan Naya menyimpan kembali gawainya. Berarti pesan dan panggilan yang banyak dan menganggu itu adalah dari lelaki ini. Menganggu, eh?
"Kei?! Tak nak bersalam dulu ke dengan Mak lung?Mhmm...mentang-mentang dah jumpa suri hati, lupa Mak lung, ye?" Kalimat godaan khas Melayu dari mak lung Salma menarik Naya kembali ke dunia di sekitarnya.
__ADS_1
Gadis itu kembali mengerjapkan matanya. Untung saja niqab yang dipakainya mampu menyamarkan semburat merah yang menghiasi pipih putih bersihnya sekarang.
Dengan segera Naya menggeser kembali posisi duduknya, mendekat ke Puan Sri.
Kei yang tadi berada di belakang tempat duduk Naya, beranjak menuju mak lung Salma. Meraih kedua tangan perempuan paruh baya tersebut, kemudian mencium takzim. Terlihat Puan Sri mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Naya yang duduk di samping sang mertua menghela nafas, sedikit panjang. Ia paham betul dengan kondisi hubungan ibu dan anak tersebut.
Nay janji, Ma. Nay akan membawa hati bang Kei pulang kembali ke pangkuan Mama. Nay janji!
Naya berbisik lirih di dalam hati sambil tangan kirinya mengenggam erat tangan Puan Sri.
"Mama kamu? Tak nak salam ke?" ujar mak lung Salma ketika melihat Kei yang melangkah pelan menuju Naya setelah selesai menyalaminya.
Kei menghempaskan tubuhnya dengan santai di sisi kanan Naya, sedikit bersandar sambil merentangkan tangan kirinya pada sandaran kursi di belakang pundak Naya.
"Puan Sri, eh Mama?" Kei sedikit mengangkat tubuhnya ke depan, kemudian mengalihkan matanya kepada perempuan yang telah melahirkannya itu.
Puan Sri membuang pandangannya dari Kei setelah terlebih dulu mendelikan matanya ke arah putra lelaki yang tinggal satu-satunya itu.
Naya yang berada di sebelah Kei langsung mencubit kecil lengan berotot lelaki itu sambil membulatkan matanya penuh.
Dari balik niqab terlihat samar bibirnya memberengut. Semakin kesal dengan sikap Kei yang sengaja menyindir sang mama setelah pertengkaran demi pertengkaran mereka sejak awal jumpa semalam.
Kei kembali tergelak, kali ini bukan karena mamanya, namun karena tingkah sang istri yang selalu saja menggemaskan di matanya.
Delikan mata jeli Naya dengan bibir yang sedikit dimajukan membuat Kei ingin kembali merasakan kelopak rose merah jambu yang sekarang sedang sembunyi di sebalik niqab berwarna peach milik Naya. Eh!
Kei mengetuk sendiri kepalanya yang selalu saja error bila berada di dekat gadis cantik di sebelahnya.
"Bibirnya ngga usah digituin, kamu mau Abang khilaf di sini?" Kei berbisik pelan sambil kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Naya.
Mata hitam gadis itu membulat penuh, sejurus kemudian memutarnya malas sambil berdecak kecil.
__ADS_1
"Cckkc ... Apaan sih, jangan mulai deh", bisik Naya juga pelan namun penuh tekanan. Gadis itu bergeser sedikit untuk merenggangkan jarak mereka.
"Abang sudah ngantuk, kita pulang yuk". Kei kembali mengusik Naya sambil juga menggeser posisi duduknya, kembali mengikis jarak.
Mak lung Salma dan Puan Sri Latifah yang masih berada di sana saling pandang sambil menggeleng kecil. Dengan sudut matanya, Puan Sri menatap sang menantu. Hingga dari bibir perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu terbit senyum tipis yang membayang samar.
Nay, dari dulu mama selalu yakin, bahwa kamu bisa meluluhkan si batu karang ini. Mama yakin Nay, kamu akan menjadi pemilik hati Kei. Kamulah suri sejati di hati anak mama.
Puan Sri mengalihkan pandangannya kepada mak lung Salma, terlihat kerlingannya seperti memberi kode tertentu. Mak lung Salma tersenyum tipis sambil mengangguk kecil.
"Naya, baiknya pulang dulu, dah larut. Biar mama dengan papa kalian saja yang menemani Mak lung di sini".
"Iya Nay, tak payahlah kat sini, dah larut sangat, nih... Dari semalam Nay kurang berehat, nanti sakit" terdengar suara nek Syarifah menimpali dari arah belakang mereka diiringi langkah kakinya yang kian mendekat.
"Dan kamu..." nek Syarifah mengarahkan telunjuknya kepada Kei dengan tatapan tajam.
"Jaga cucu menantu aku baik-baik, jangan sampai kenapa-napa! Paham, tak?"
Kei berdecak, namun hanya mampu di dalam hati. Pandangan sang nenek yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup, membuat Kei membuang jauh semua perbendaharaan kata tak elok yang biasanya muncul di kepalanya saat menghadapi dua orang perempuan garang lainnya, Afifah, sang kakak dan Puan Sri Latifah, sang mama.
Namun sekarang semua daftar kosakata itu seperti mengendap di kepalanya. Kei hanya sanggup menganggukan kepala, mengiyakan bahwa ia akan menjaga istrinya.
Mak lung yang melihat ketidakberdayaan Kei, berusaha menyembunyikan tawanya dengan menutup mulut. Sementara di sampingnya, Puan Sri masih terlihat datar dengan ekspresi yang tak terbaca.
Naya mengerjapkan matanya. Sesekali ia melirik sang mertua yang masih terlihat acuh. Ia dalam dilema sekarang, akankah pulang bersama Kei atau tetap tinggal di sana bersama Puan Sri.
__________*** __________
Kira-kira baiknya Naya pilih yang mana? Ikut Kei atau tetap stay di sana?
To be continued
Mohon terus dukungannya dengan memberikan like, vote and comment, ya. Thank you all.
__ADS_1