Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Aih, Cinta ...


__ADS_3

Pukul 02.45 WIB


"Okay, you urus semuanya! Buat dia tidak bisa mengelak lagi, dan dapatkan semua bukti pendukung!"


"Satu lagi, pastikan tidak ada "nyanyiannya" di media manapun! Aku tunggu progress-nya 24 jam dari sekarang!"


"What?! "


"No ... No... No!"


"Masih untung aku tidak menenggelamkanmu di Selat Melaka, setelah apa yang kau lakukan!!!"


"Bila kau tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam 3 x 24 jam, aku pastikan untuk membuatkanmu monumen di Bukit Batu Putih, tepat menghadap Selat Melaka!!"


Deg!


Naya yang masih berusaha untuk mengumpulkan nyawanya, tercekat mendengar kalimat datar dan dingin namun penuh ancaman tersebut.


Gadis cantik itu memindai ruangan kamar, terlihat sesosok tubuh tinggi tegap sedang berdiri di depan jendela yang dibiarkan terbuka lebar.


Berdiri memunggungi Naya, sang suami, Kei Hasan anak lelaki Tan Sri Abdul Hamid. Nampaknya Kei sedang melakukan pembicaraan telepon dengan seseorang.


Tubuh atletisnya dibungkus oleh selembar baju koko dan kain sarung, lengkap dengan peci putihnya. Sepertinya ia baru saja melaksanakan sholat.


Naya menggelengkan kepalanya perlahan. Pakaian yang dipakai Kei dan aktifitas sholat yang mungkin saja baru dilaksanakan oleh lelaki itu, sungguh kontras dengan kalimat-kalimat dingin, membekukan yang tadi meluncur dari lisannya.


Naya bangkit dari tempat tidur, duduk sejenak sembari mengucek matanya. Menyesuaikan mata dengan yang cahaya terang yang menerpa.


Gadis cantik itu pasti belum menyadari sepenuhnya gaun tidur yang sekarang ini sedang melekat di tubuh mungilnya.


Terbuat dari bahan satin yang halus, tipis dan menerawang. Terdapat renda bunga mawar di bagian dada dengan belahan yang rendah.


The twin hills of her, sedikit menyembul di belahan itu.


Kei yang baru saja membalikan tubuh setelah menutup sepihak panggilannya, tercekat mendapati pemandangan indah namun merusuhkan tepat di hadapannya.


Lelaki dewasa itu susah payah menelan ludahnya yang tetiba terasa begitu kerontang.


Semalaman ia tersiksa, menahan gejolak rasa. Dua kepala di tubuh perwiranya sama menggelegak, panas mendidih laksana Semeru yang siap untuk meledak.


Hampir saja gelegak itu meluluh lantak bila ia tidak berhasil mempertahankan kewarasannya.


Menjelang pukul setengah dua belas malam terpaksa ia merendam tubuh perwiranya untuk meredam gelegak jiwa.


Dan satu jam yang lalu, lagi-lagi ia harus rela berendam di bathtub setelah sebelumnya Kei menguras tenaga dengan melakukan olahraga yang agak sedikit ekstrim agar gelegak itu sedia mereda.


Bagaimana tidak?! Saat Kei terbangun setelah tidur hanya selama dua jam saja, jiwa dan raganya kembali 'dimanja penuh siksa' oleh tampilan gadis cantik yang tidur di sebelahnya.

__ADS_1


Adalah Kanaya Khairunnisa, sang suri hati yang tidurnya ternyata begitu rusuh dan merusuhkan.


Tidur dengan tangan yang telentang tak karuan, gaun tidurnya sudah tersingkap kemana-mana, menampakan hamparan putih pualam di atas lututnya.


Belum lagi, the twin hills of her, bagian tubuh di bawah lehernya yang muncul menampakan diri, malu-malu namun membuat Kei 'mau'!


S-hiitt!!!


Kei merutuki dirinya kenapa semalam begitu ceroboh, memakaikan 'gaun laknat' itu ke tubuh mungil sang istri.


Sekarang Kei yang harus terkena tulah, gelisah, galau, dan merana. Duh, gegana! Wk wk wk ...


Double s-hiittt!! Haruskah mandi lagi untuk yang ketiga kalinya pagi dini hari ini?!!!


Kei masih menatap lekat Naya yang mulai beranjak, berjalan perlahan menuju kamar mandi tanpa mempedulikan Kei yang tak memutus pandangannya.


"Segera, sayang ... Sebentar lagi waktu Subuh masuk, kamu belum menjamak Maghrib dengan Isya!" Seru Kei sesaat sebelum Naya menutup pintu kamar mandi.


Tak terdengar respon dari Naya yang telah berada di kamar mandi. Namun beberapa detik kemudian ....


"Aaarrrggghhhh ...!!! Bang Kei ...!!!"


Kei menggelengkan kepalanya beberapa kali. Namun senyum lebarnya terpampang nyata.


Yeaii!! Dia teriak, yang harusnya berteriak itu Aku, karena tersiksa dari semalam hingga detik ini!


Butuh perjuangan teramat ekstra ternyata, untuk bisa mem-futuh-kan engkau yang tak ternilai, meski ijab kabul telah menyeru halal!


...*****...


Kei melajukan Ford F150 Raptor-nya dengan kecepatan sedang. Mobil double cabin berwarna glossy itu membelah jalanan kota yang masih lengang.


Naya yang duduk di kursi penumpang sebelah Kei masih setia berdiam diri.


Gadis berhijab rapi dengan niqab menutupi wajah cantiknya itu masih menyimpan selaksa kesal terhadap sang suami. Ternyata malam belum mampu mengurai dan menghempasnya berlalu!


Bagi Naya, tindakan sepihak Kei yang membawanya pergi dari Puan Sri Latifah, sang mama mertua, adalah perilaku 'penculikan' yang sampai detik ini belum termaafkan.


Bahkan hingga saat ini, Naya masih menunggu inisiatif Kei untuk menelpon sang Mama dan memberitahukan keberadaan mereka.


Namun ternyata harapan Naya masih tak sebanding dan harus kalah oleh 'gengsi dan harga diri' seorang Kei Hasan!


Huh! Kesal Naya menggunung dan melaut! Wk...wk....wk...


Apalagi incident gaun tidur dini hari tadi! Semakin meluah saja kesal di dadanya!


Dan sekarang ... Menyaksikan Kei yang juga diam namun masih senyum-senyum sendiri, terlihat begitu menyebalkan di matanya.

__ADS_1


Iiissshhhh ... Dasar kang modus!


Naya menautkan jari-jari kedua tangannya dengan saling mere-mas kuat, mencoba mengurai kesal yang tak jua mereda.


Namun gadis cantik itu terjingkat kaget saat tangan besar Kei telah menarik sebelah tangannya yang kanan, dan membawanya hinggap di paha lelaki itu.


"Kalo mo merem-as yang ini saja," bisiknya dengan gaya menggoda.


Naya membulatkan mata jelinya. Mukanya langsung memberengut dengan bibir yang mengerucut tanpa sadar.


Meski niqab menutupi seluruh permukaan wajah Naya, kecuali sepasang mata jelinya, tetap saja terlihat jelas oleh Kei yang berada dalam jarak yang dekat dengan sang istri.


Kei tidak lagi sekedar tersenyum sekarang, namun tergelak dengan bahu yang sedikit terguncang. Ha ...ha ...ha ...!


"Please, jangan menggoda Abang, sayang ..."


Gelegar tawa dan kalimat Kei barusan semakin membuat kesal gadis cantik di sampingnya.


Tangan Naya yang masih 'dipaksa' hinggap di paha Kei, refleks melakukan gerakan mencubit kecil, namun seperti tak bernyawa di kulit liat Kei.


Lelaki itu seperti tak merasa sakit, namun malah geli bercampur gelenyar aneh yang terasa menimpa kini.


Oh, ss-hiitt!


Kei langsung mengenggam kuat tangan Naya di pahanya, sedikit merem-as untuk mengendalikan gejolak yang kembali mengoda.


It's crazy! Really ... Really crazy!


Hanya sentuhan kecil, bahkan teriring rasa kesal dan marah yang Naya layangkan, namun mampu membakar sisi kelelakian seorang Kei Hasan!


Lelaki itu menghela dan membuang nafasnya, sedikit kasar. Exhale ... Inhale ... Exhale ... Inhale!


Berkali Kei melakukannya, hingga 'rasa' itu perlahan mereda.


Kei tersenyum seraya melepaskan genggamannya di tangan Naya.


Matanya selintas melirik sang juwita sambil tangannya menyentuh lembut kepala yang tertutup hijab tersebut.


Ternyata mencinta adalah damba yang bertemu pemujanya. Menyiksa dengan begitu indah. Terpana ... Tergoda ... Terlena ... Tapi kembali tersiksa ...!!! Aih, ngeri-ngeri sedap rasanya. Wk ... Wk ... Wk...!


...__________*****_________...


To be continued


Hai..hai... Keinaya hadir lagi... Comment-nya yang heboh dong, biar Otor semangat up nya... Tolong vote dan favorite-in juga ya ... Kalo hadiah mah, seikhlasnya aja...😀


Sambil nunggu up berikutnya, yuk mampir dulu di karya teman Otor, nih ...

__ADS_1



__ADS_2