Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Uppss, Hampir Saja.


__ADS_3

Naya kian mencengkram kuat alas kasur di bawahnya. Tubuhnya menegang seakan tersengat aliran listrik tegangan tinggi.


Kei, sang professional and skillful player semakin memperdalam serangannya, meminta akses untuk menelusuri lebih jauh, lebih dalam.


Naya, gadis berhijab rapi, berusia 23 tahun, bergelar istri namun belum pernah tersentuh, polos dan murni terjaga.


Tak ada perlawanan yang berarti, Naya hanya mendesis lirih ketika Kei menggigit kecil kelopak mawarnya bagian bawah saat ia tak jua memberi Kei akses untuk masuk lebih dalam.


Tidak menyiakan kesempatan, saat kelopak mawar itu membuka, Kei menerobos masuk, mendalam dan lebih menuntut.


Naya yang lugu belum tersentuh, hanyut tenggelam dalam permainan profesional Kei.


Lenguhan kecil lolos dari kelopak mawar mungil berwarna merah jambu milik Naya saat Kei, sang experienced player bergerak semakin jauh, turun menjelajah.


Kei dengan segudang pengalaman dan jam terbang tinggi, mengenali rasa yang sekarang sedang mendesaknya.


Namun akal jernihnya masih berfungsi dengan baik. Ia tahu benar konsekuensi yang akan menghadangnya setelah ini.


Terjangan badai Puan Sri Latifah, kebencian Naya dan kemarahan Nadia!


Puan Sri Latifah, perempuan paruh baya yang telah bertaruh nyawa demi menghadirkannya ke dunia itu, pasti akan semakin menyeretnya dalam pusaran badai dan akan mendapat energi baru dan lebih dashyat untuk menerjangnya.

__ADS_1


Kanaya Khairunnisa, gadis cantik yang senantiasa dijaganya dengan baik sejak kecil, sekaligus bergelar istri pertama yang belum pernah 'disentuhnya' ini pasti juga akan sangat membencinya karena telah memperdayanya dengan rasa yang belum dikenali.


Gadis yang berada di bawah kungkungannya sekarang, pasti belum menyadari apa yang akan terjadi setelah ini.


Nadia Jefferson, kekasih yang terpaksa harus rela memberi izin Kei saat akan menikahi Naya lima tahun silam, menjadi istri kedua Kei enam bulan berikutnya dan menantu yang tidak diakui sama sekali di lingkaran keluarga besar Tan Sri Abdul Hamid.


Jangan gegabah Kei, kau sedang menggali kuburanmu sendiri jika melakukannya sekarang!


Kei, jangan naif! Naya itu istrimu, kau berhak mendatangi dan menyentuhnya. Kapan lagi kau punya kesempatan emas ini? Setelah ini mungkin Puan Sri akan menjauhkannya dari pandanganmu! Apalagi, bisa jadi ini jalan untuk mengurai rumitnya kisah kalian?


Jangan Kei! Kau bukan bajingan, yang melakukan itu hanya untuk pelampiasan nafsu. Benar, bahwa Naya halal untukmu, namun tidakkah kau ingin melakukannya dengan penuh cinta? Bukan hanya nafsu semata?


Persetan dengan cinta! Sampai kapan menunggu Naya untuk mencintaimu. Dan kau? Apa kau akan mencintai Naya? Tidak, kan? Bagimu Naya hanyalah ajang pertaruhan dengan Puan Sri Latifah. Tidak akan pernah ada cinta!


Bisikan-bisikan tanpa wujud itu berlarian di kepala Kei, saling menekan untuk mempengaruhinya.


Kei tanpa sadar mencengkram kuat kepalanya. Lobus frontal pada otak besarnya sedang bekerja keras mencerna dan menganalisa untuk membuat keputusan terbaik, saat tiba-tiba ia terpental dan jatuh dari tempat tidur.


Brruuggg! Buummn!


Apa yang terjadi?

__ADS_1


Adalah Naya, seorang yang bergelar istri terjebak entah karena perasaan kepasrahan oleh ikatan yang bernama pernikahan, menjadikannya merasa punya kewajiban memenuhi hak lelaki bergelar suami di depannya.


Atau Naya, gadis polos dan lugu yang hampir terbenam dalam keindahan telaga multirasa yang belum dikenalinya. Rasa yang masih asing dan aneh baginya, namun melenakan dan berhasil membuainya beberapa saat yang lalu. Hingga kemudian sekelebat wajah cantik, anggun dan dewasa melintas di memorinya dan berhasil menyeretnya keluar dari pusaran rasa yang memabukan. Wajah Nadia Jefferson!


Sontak Naya mendorong kuat tubuh Kei dengan sisa daya yang dimilikinya. Bersamaan dengan itu ketukan keras di pintu kamar mengembalikan kesadaran keduanya.


"Nay, Nay! Are you okay, dear? " Suara kencang berbalut cemas milik Puan Sri Latifah terdengar dengan jelas.


Sesaat Naya dan Kei saling pandang. Wajah keduanya masih merah oleh gelora rasa.


Naya segera merapikan pakaian di tubuhnya. Jilbabnya yang sudah terlepas, hilang entah kemana. Bibirnya masih terasa kebas dan sedikit nyeri di bagian lehernya.


Sementara Kei yang masih terduduk di lantai, segera memungut jilbab Naya yang tadi dilemparnya ke bawah ranjang.


Menaiki ranjang dan mendekati Naya dengan hati-hati.


"Maaf", pintanya lembut.


Naya tak menanggapi, ia hanya beranjak turun dari ranjang dan bergegas masuk ke kamar mandi.


_________ *** _________

__ADS_1


To be continued


Mohon berkenan untuk memberikan vote, comment dan hadiahnya ya, biar authornya tambah semangat untuk update tiap hari...😊😊😊 Love you all.


__ADS_2