
"Aku bekerja untuknya."
Akhirnya Azki bersuara. Matanya tetap menatap manik jernih kecoklatan milik Naya yang membola saat mendengar ucapannya.
"Untuknya?! Untuk siapa?!!" Naya setengah berteriak. Tanpa sadar ia menguncang lengan Azki sedikit keras.
Azki memejamkan matanya. Entah mengapa sudut hatinya terasa kebas saat bertemu pandang di kejernihan manik kecoklatan di depannya.
"Ya! Aku bekerja untuknya! Untuk seorang Kei Hasan, putra mahkota kerajaan bisnis Tan Sri Abdul Hamid! Aku bekerja untuk dia!" ujar Azki juga setengah berteriak.
"What?!" Sepasang netra dengan manik kecoklatan itu membulat utuh. Naya mengalihkan pandangannya pada Kei yang terlihat mulai gelisah.
Sempat beberapa saat berada di atas angin, merasa menang atas Azki karena berhasil membuat lelaki itu mengakui keberadaannya yang hanya sebagai 'orang suruhan', kini Kei malah terlihat tidak nyaman.
Pandangan tajam dan penuh tuntutan dari Naya sekarang menjadikannya seperti pesakitan yang sedang menunggu putusan.
Gadis itu tetap menatapnya dalam diam yang mencekam. Tak ada kata yang terluah, tapi Kei tahu, Naya sedang menunggu penjelasannya.
"Ya. Abang yang memintanya untuk menjaga Nay."
"Oh, really?! But, what for?! Bukankah Abang yang memang 'mengasingkan' Nay di sana? Lalu untuk apa mengirim orang? Memata-matai Nay, kah?" Dingin dan sarkastik nada Naya.
"Nay?!" Kei semakin tercekat. Kepalanya menggeleng kuat. Ada banyak hal yang ingin disampaikannya namun tatapan tajam dan aura dingin Naya mengelukan lidahnya.
"Kenapa diam?! Berarti benar, kan?!" Naya semakin menyudutkan Kei.
"Maaf, Abang tak punya pilihan. Gerak Abang tak leluasa karena Mama. Jadi, itu satu-satunya yang bisa Abang lakukan." Kei menghela nafas panjang sebelum kembali berucap pelan.
"Bagi Abang, Nay tetap menjadi tanggung jawab Abang!"
"Oh, tanggung jawab, ya?!" Naya tersenyum hambar. Ada sinis dalam tatap dan ucapnya.
"Nay, stop it! We have talked about it, right? Bukankah kita sudah pernah membicarakannya? Bila penjelasan Abang masih kurang, well, we still have much time, sayang."
Kei memberikan tatapan menawannya. Netra kelam itu sekarang membinar teduh. Terlihat jelas ia berupaya keras untuk tidak memantik kemarahan sang suri hati. Naya bergeming. Gadis cantik itu memutar bola matanya seraya berdecak kesal.
Still have much time?! Oh, really?! But, I don't think so!" Sebuah suara memutus 'drama' Kei-Naya.
"Waktu kalian akan berakhir hari ini, di sini!" Adalah Nadia yang sudah berdiri di arah timur Kei dan Naya dengan sebuah senjata api di tangannya.
Kei tersenyum samar melihat kemunculan perempuan itu. Ternyata ikan besar itu sudah memakan umpan yang ia dan Naya hantarkan.
Netra lelaki berahang kukuh itu terlihat tetap tenang, hanya bola matanya yang bergerak memindai setiap sisi mata angin. Sniper dan Colt M1911A1! Kei kembali tersenyum samar.
Setelah memastikan keadaan sekelilingnya, tangan kiri Kei langsung menghela lengan Naya. Menarik lembut sang istri untuk mendekat ke sisinya.
"Perhatikan arah pukul 2 dan pukul 4, ada dua sniper di sana." Kei berbisik halus di telinga Naya.
"Arah pukul 7 dan 10 bagaimana? Oh, no! Pukul 12 juga?!" Naya membisik tak kalah halus setelah netranya juga memindai sekitarnya.
"Itu bagian Abang, sayang. Abang yang akan membereskannya. Atau ... Nay duduk cantik saja, biar Abang menyelesaikan semuanya?" Kei menaikturunkan alis hitam pekatnya.
Naya tidak bersuara, ia hanya kembali memutar bola matanya, malas menanggapi Kei.
Nadia berdecih menyaksikan pemandangan di depannya. Dadanya semakin bergemuruh menahan amarah dan cemburu.
Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan bagaimana seorang Kei Hasan terlihat tunduk, tak berdaya di hadapan 'anak kemaren sore' yang bernama Kanaya Khairunnisa itu.
Ya! Nadia telah sejak tadi berada di sana. Di mulai saat Kei diseret paksa oleh orang-orangnya dalam keadaan mata tertutup dan tangan yang diborgol.
Ia juga mendengar ketika Kei meneriaki Azki dan bahkan saat meminta Nadia untuk keluar menampakan diri dengan suara menggelegarnya.
Dan bagian yang paling menyakitkan bagi Nadia adalah ketika menyaksikan 'drama' yang dimainkan Kei dan Naya. Terlihat jelas bagaimana usaha Kei untuk terus bisa mendapatkan perhatian Naya.
Sebagai perempuan dewasa ia dapat membaca dengan jelas, ada pendar penuh cinta yang membayang di binar netra Kei untuk Naya. Nadia juga bisa menangkap aura kecemburuan Kei, ketika Naya 'pasang badan' untuk Azki.
Semua isi hati Kei terbaca dengan sempurna, terlebih saat senyum hangatnya yang senantiasa hadir saat menatap Naya. Sebuah senyum yang biasanya sangat mahal dari seorang Kei Hasan.
Nadia mencengkram kuat Colt M1911A1 miliknya. Manik birunya nanar menatap pasangan di depannya. Bara di dadanya semakin menyala saat melihat sebelah tangan Kei mengenggam kuat jemari Naya.
Perempuan blasteran Indonesia-Irlandia itu semakin meradang saat sudut matanya secara tak sengaja menangkap gurat sedih seorang Azki Abraham. Lelaki yang menjadi sekutunya untuk menjauhkan Kei dan Naya.
__ADS_1
Dan sialnya, sekali lagi... Nadia melihat pendar sama yang dimiliki Kei juga ada di netra Azki. Pendar penuh cinta!
Shhiiiitt!!! Kenapa semua orang mencintai gadis sialan itu?! Nadia merutuk sendiri.
Sementara itu Naya yang berada di dekat Kei, nampak memulas senyum tipis. Balas mengenggam tangan besar Kei, gadis itu melayangkan pandangannya pada Nadia sekarang.
"Welcome to the party, mba Nadia. We have been waiting for you. Kenapa lama banget nongolnya?! Aku udah capek lo harus ngomong banyak dari tadi." Naya berucap sarkas masih dengan memulas senyum tipisnya.
"Silahkan tersenyum, gadis sialan! Namun aku pastikan sebentar lagi senyummu akan lenyap untuk selamanya!" Setengah berteriak, Nadia kembali menodongkan senjata apinya ke arah Naya.
"Turunkan senjatamu, rubah! Jangan coba-coba mengancam i-s-t-r-i-ku!" Dingin nada Kei laksana pecahan kristal salju yang menancap tepat di jantung Nadia.
Kalimat datar Kei yang menekankan kata 'istri' seperti sengaja untuk mengukuhkan posisi Naya di depan Nadia dan Azki.
"Cuihh! Mengancam, katamu?! Ha..ha..ha... Sayangnya aku tak pernah berniat untuk mengancam, Kei Hasan! Aku lebih memilih melakukan aksi nyata dari pada sekedar melempar kata. Ha..ha..ha.." Seringai lebar menghiasi wajah penuh tawa jahat Nadia.
Dengan gerakan tak terduga, Nadia menarik pelatuk Colt M1911A1 miliknya. Bunyi letusan senjata api tersebut menggelegar di udara.
Kei terkesiap saat menyadari ia terkecoh oleh kelicikan sang mantan istri. Nadia bukan mengarahkan Colt M1911A1-nya kepada Naya, namun sengaja menembakan ke udara sebagai sandi untuk para sniper yang sudah mengintai dari berbagai penjuru.
Saat tembakan itu terdengar di udara, puluhan peluru langsung menerjang ke arah keduanya. Mata elang Kei menangkap kilatan cahaya keperakan yang sedang melesat dengan kecepatan tinggi.
Sebagai orang yang pernah lama malang melintang di dunia hitam, Kei sangat mengenali berbagai macam senjata api. Colt M1911A1 yang digunakan Nadia dan para gerombolannya saat ini adalah senjata api yang telah dipakai oleh tentara Amerika Serikat selama lebih dari 70 tahun. Senjata api jenis ini mampu memuat 7 peluru dengan daya lesat 1.225 kaki per detik.
Kei menajamkan indera penglihatan dan pendengarannya. Telinga dan matanya bersinergi menangkap getaran dan kilatan timah panas itu di udara. Ia tidak mau bertaruh sekarang. Kei tahu, hanya karena keterlambatan nol koma nol sekian detik saja, akan sangat fatal bagi keselamatan Naya.
Tubuh Kei melenting ringan di udara dengan Naya yang sudah berada dalam dekapan kuatnya. Sambil melakukan gerakan salto berulang, Kei melancarkan serangan balasan.
Eagle Dessert miliknya sudah memuntahkan peluru tepat sasaran. Dua orang sniper gerombolan Nadia langsung menjadi korbannya.
Naya yang awalnya berdiri di sisi kiri Kei terkesiap saat merasakan tubuhnya tidak lagi bersentuhan dengan tanah. Netra bermanik kecoklatan itu menengadah, menatap Kei yang nampak dalam konsentrasi dan fokus tinggi. Rahang kukuh dengan garis wajah tegas itu terlihat sedikit berkilat oleh campuran peluh dan keringat.
Tanpa sadar Naya menyentuh dadanya yang berdesir halus dengan hangat yang tetiba juga ikut menyapa.Gadis itu mengatupkan kedua kelopak matanya. Dadanya terasa membuncah oleh rasa yang masih entah. Wajah tertutup niqab-nya juga telah menghangat oleh rona yang memerah.
Kei masih berjuang sendirian, namun tak terlihat gurat cemas dan lelah di wajah tampannya. Sambil terus menghindar dan memberikan serangan balik, Kei masih sempat mencari celah menggoda Naya di pelukannya.
"Sayang, kenapa mukanya merah begini, mhm... Itu lagi, kenapa berdegup kencang?!" Kei tersenyum sambil menatap sekilas dada sang istri.
Mengurai rasa malu, tangannya yang bebas langsung mencubit kecil dada liat Kei.
Lelaki itu hanya mengulas senyum sembari matanya bergerak liar menatap sekelilingnya sambil terus melepaskan tembakan. Terlihat ia seperti sedang menunggu sesuatu.
Tiba-tiba pandangan Kei menangkap pergerakan janggal dari arah pukul pukul 4 dan 10. Mata elangnya dapat membaca sandi khusus yang dikirim para pengawal Puan Sri Latifah yang sudah berhasil melumpuhkan dua sniper dari gerombolan Nadia.
Pulasan senyum lega terbaca dari sudut bibir dan mata Kei. Lelaki itu perlahan melepaskan dekapannya pada tubuh sang istri.
Dengan gerakan perlahan Kei melangkah menuju Nadia . Genggaman tangannya tak lepas dari jemari Naya. Tepat pada jarak sepuluh meter di depan Nadia, Kei dan Naya berhenti.
Ada Azki di sana yang sudah bisa berdiri meski tak sempurna. Entah sejak kapan lelaki sepupunya itu sudah berada tak jauh dari Nadia.
"Turunkan senjatamu! Menyerahlah. Kalian sudah terkepung!" Kei berkata dingin dengan wajah datarnya.
"Jangan mimpi! Aku tidak akan ...!"
"Bodoh! Apa kau tidak melihat sekelilingimu?!"
Kalimat Nadia terpenggal oleh selaan keras Kei.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya dari Kei dan Naya. Mata dengan manik kebiruan itu mendelik tak percaya saat melihat gerembolan suruhannya dalam kondisi babak belur, digiring oleh orang-orang berpakaian serba hitam dengan penutup kepala yang juga hitam. Hanya mata mereka yang terlihat.
Bibir Nadia terkatup sempurna, namun matanya bergerak liar menuju lima titik, dimana ia tadi menempatkan para sniper-nya.
Seketika, perempuan itu menautkan geliginya. Terdengar gemeletuk samar menyiratkan kemarahannya.
Para sniper suruhannya juga sudah berhasil dilumpuhkan. Namun Nadia masih menolak untuk menyerah.
Gadis itu tetap mencengkram kuat pistol laras pendek di tangannya. Matanya menyala menatap Kei dan Naya bergantian.
"Aku sudah mengalah selama lima tahun ini, Kei! Bila aku tak bisa bahagia, maka aku juga tidak akan membiarkan kau bahagia!" Nadia menatap Kei dengan penuh kebencian. Pistolnya terarah sempurna pada Kei sekarang.
Kei masih menanggapi dengan gaya tenangnya. Ia tidak mau lagi terkecoh dengan perempuan rubah di depannya.
__ADS_1
Meskipun senjata itu sedang terarah kepadanya, tidak lantas membuat Kei percaya bahwa Nadia akan melepaskan tembakan padanya. Kei tetap waspada. Dessert eagle miliknya juga dalam kondisi siap siaga untuk melepaskan peluru.
"Mba Nadia, menyerahlah. Banyak hal yang harus mba pertanggungjawabkan, termasuk penculikan kemaren." Naya masih menunjukan sikap santunnya saat berbicara dengan pelan.
"Cuihh! Tidak perlu bersikap santun di depanku! Aku sudah banyak bertemu perempuan munafik sepertimu! Berperan seperti malaikat, padahal kau sundall sebenarnya!"
"Kau...?!" Kei tercekat karena amarah yang menguasainya demi mendengar caci maki Nadia untuk Naya.
"Hentikan! Kau jall...sesungguhnya!" Kei terhenti saat jari-jari mungil Naya sudah lebih dulu hinggap di mulutnya.
"Tidak perlu menyamainya, kan?" Naya menggeleng pelan dengan senyum kecil menghiasi bibirnya.
"Aku bilang hentikan sikap munafikmu sundall!" Nadia kembali meradang, baginya senyuman Naya barusan terlihat seperti sebuah ejekan.
"Stop it, Nadia!!!" Azki yang sedari tadi hanya terdiam, sekarang ikutan membentak Nadia. Entahlah ia merasa tidak nyaman dengan cacian Nadia untuk Naya.
"What?! Who do you think you are?! Kau pikir kau siapa, berani membentakku! Tollol!" Kalimat cacian masih terus berhamburan dari mulut Nadia. Sekarang tertuju untuk Azki.
Naya menggeleng samar. Menghela nafas panjang sebelum menghembuskannya perlahan.
"Sepertinya ada yang belum selesai antara Abang dengan dia. Jadi silahkan selesaikan dulu." Berkata begitu Naya segera beranjak meninggalkan Kei.
Baru saja kakinya selangkah meninggalkan Kei, Naya merasakan cekalan kuat di lengan kanannya. Cekalan yang membuatnya tak bisa bergerak.
"Apa-apaan kamu, Nay? Jangan coba-coba memancing kemarahan Abang. Kamu tahu, kan? Abang bisa khilaf kalo lagi marah!" Kei menempelkan ujung hidungnya ke hidung mungil Naya.
Tangannya sengaja menahan tengkuk sang istri agar tak bisa menolak. Sekarang netra hitam Kei menatap manik kecoklatan milik Naya yang terlihat tenang, sering tak terbaca.
Naya yang terkejut tak sempat mengelak. Ia hanya memutar bola matanya, malas menanggapi hiperbol-nya seorang Kei Hasan.
Saking kesalnya, tanpa sadar gadis itu memberengut dengan bibir yang bergerak maju. Ia terlalu polos untuk menyadari bahwa sikapnya semakin menggemaskan di mata sang suami.
"Kamu sengaja kan mancing-mancing Abang?" tuduh Kei seraya mencuri sebuah l*matan kecil di bibir Naya yang masih tertutup niqab.
Terkejut, Naya sontak memukul dada Kei yang hanya menanggapinya dengan kekehan pelan.
"Tidak perlu berpura kuat, kalo cemburu bilang aja." Kei kembali menggoda Naya diiringi senyum jailnya.
Naya segera menyentakan sebelah tangannya yang masih dalam kuasa Kei. Namun sedikitpun tak membuatnya mampu bergerak. Mata bening itu menatap Kei tanpa kedip sekarang.
"Semua urusan Abang dengan dia sudah selesai. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Biarkan dia dengan kegilaannya. Ayo pergi. Abang tidak mau kamu mendengar lagi kata-kata buruknya. Biarkan orang-orang Mama yang akan mengurus perempuan itu." Berkata begitu Kei menuntun Naya meninggalkan Nadia yang masih mematung dengan senjata api di tangannya.
Perempuan cantik itu menggeleng kuat saat menyadari kekalahan telaknya. Ternyata seorang Kei Hasan terlalu tinggi untuk digapainya. Sempat punya kesempatan untuk membersamai lelaki tersebut selama lima tahunan, namun tidak membuat Nadia mampu memiliki hati Kei.
Nadia semakin mencengkram kuat pistol di tangannya. Dengan sekali sentakan, perempuan itu menarik kuat pelatuk senjata tersebut.
Dorr! Dorr! Dorr! Aaarrrghhh!
Bunyi letusan senjata api sahut menyahut yang diringi teriakan kesakitan itu menyentak ruang pendengaran Naya. Gadis itu sontak membalikan tubuhnya. Matanya membulat sempurna dengan jeritan tertahan saat melihat sesosok tubuh yang jatuh bersimbah darah.
"Bang Azkiii...!!!" Setengah berlari Naya menghampiri lelaki muda yang sudah luruh di tanah. Darah segar mengalir deras dari pelipis kirinya.
Naya langsung merengkuh lembut tubuh lelaki yang pernah menjadi teman sesama anak rantau itu. Lelaki yang telah menyelamatkan nyawa dan kehormatannya saat tiada sesiapa keluarga yang membersamainya.
Tanpa disadari Naya, buliran-buliran bening telah mengalir membasahi niqab-nya.
"Abang???"
"Shhhttt... Jangan menangis, Khayra. Kamu tahu, kan? Abang paling tidak suka melihat kamu menangis." Azki bersusah payah membawa telunjuknya ke bibirnya sendiri sebagai isyarat untuk menghentikan tangis Naya.
"Iya. Tapi mengapa Abang harus melakukan ini?! Kenapa?! Nay masih bisa jaga diri... Ada bang Kei juga yang akan melindungi Nay. Kenapa harus Abang?!"
"Khayra, Abang tahu... Kamu pernah marah saat Abang declared cinta dahulu. Abang minta maaf bila pernyataan cinta Abang membuatmu tidak nyaman sebagai seorang istri. Semoga ini bisa mengurai kemarahanmu. Jangan marah lagi, please? Rasa Abang tulus, meski tak layak dalam pandanganmu. Satu hal yang harus kamu ketahui, Khayra... Apa-apa yang pernah Abang lakukan untuk kamu, semuanya tulus. Abang pastikan itu. Bahkan seandainya Abang bukan orang gajian Kei, Abang akan tetap melakukannya buat kamu." Azki menatap Naya dengan pandangan yang berusaha untuk meyakinkan gadis yang telah mencuri seluruh hatinya tanpa tersisa.
"Maaf, telah lancang mencintaimu, Khayra..."
...-------***-------...
To be continued.
Menuju episode-episode akhir dari kisah Kei-Naya, ya.. Kalau suka dan berkenan, silah tinggalkan jejak dengan like dan comment, ya teman-teman.
__ADS_1