Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Lelaki Dari Masa Lalu (Part 1)


__ADS_3

Rumah Kediaman Keluarga Tan Sri Abdul Hamid, pukul 03.45 a.m waktu Kuala Lumpur


Naya tersentak dari tidur lelapnya. Gadis itu langsung terduduk dengan nafas yang masih tersengal dan gerak dada yang turun naik tak beraturan.


Gadis itu mendekap dada sebelah kirinya kuat. Jantungnya pun masih berdetak kencang tak karu-karuan di sana. Saking kencangnya, Naya seakan mampu mendengar setiap detak yang tak beraturan tersebut.


Naya mencoba mengingat mimpinya barusan, mimpi yang akhirnya membuat gadis itu terbangun. Berusaha terus mengingat beberapa saat, namun tetap saja mimpi itu masih samar di memorinya.


Beberapa kali Naya menghela nafas panjang. Kenapa ia tak bisa mengingat dengan jelas? Padahal mimpi itu yang membuat jantungnya berdetak kencang dengan nafas yang tersengal tak beraturan!


Masih gagal mengingat dengan jelas, akhirnya gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa saat, berusaha menyesuaikan retina matanya dengan temaram lampu tidur di kamar.


Tiba-tiba gadis itu memutar pandangannya, berusaha mengenali suasana ruangan yang masih terasa asing baginya. Dalam temaram lampu kamar, Naya menilik setiap sisi dinding kamar dan satu persatu benda-benda yang ada di sana.


Perlahan tangannya meraba nakas di samping ranjang tempat tidur, berusaha menemukan sesuatu untuk mengubah mode lampu kamar yang masih temaram.


Beberapa saat mencari, akhirnya gadis itu menemukan sebuah remote control. Naya hanya menekan asal saja sebuah tombol, yang tetiba membuat suasana kamar menjadi terang benderang.


Pandangan Naya langsung bertemu dengan suasana kamar yang maskulin. Kamar tidur dengan gaya minimalis alias compact yang lebih didominasi oleh warna hitam dan putih. Kesan natural modern terasa nyata.


Sebuah desain interior yang mengingatkan Naya dengan kamarnya ... Kei???


Abang Kei?!


Naya kembali tersentak! Kali ini dalam kondisi yang sadar sepenuhnya. Gadis itu langsung memejamkan matanya rapat. Mimpi yang tadi hanya berupa siluet yang masih samar, kini perlahan mulai membentuk bayangan seseorang.

__ADS_1


Bayangan seorang lelaki yang sedang terikat di sebuah kursi besi yang sudah tua. Matanya ditutupi sebuah kain hitam. Terlihat memar di beberapa bagian wajahnya.


Bang Kei?!!


Tanpa sadar Naya meraba tempat tidur di sebelahnya yang kosong. Kemudian kembali gadis itu memindai sekeliling kamar. Mencoba mendengarkan pergerakan dari kamar mandi, sekiranya sang suami di sana. Namun tiada sura apapun yang terdengar.


Perlahan Naya bangkit dari tempat tidur. Sekilas matanya melihat jam dinding yang menunjukan hampir pukul empat pagi!


Gadis itu masih berpikir, apakah bijak menganggu sang mama mertua atau kakak ipar untuk menanyakan keberadaan sang suami?


Akhirnya langkah pelannya menuntun Naya menuju kamar mandi. Setelah bebersih dan berwudhu, ia mulai luruh dalam lantunan do'a dan zikir panjangnya. Mengadukan resah yang terasa mendera.


Beberapa saat gadis cantik menantu kesayangan Puan Sri Latifah itu larut dan hanyut dalam sujud panjang dan tilawah Qur'an di penghujung sepertiga malam. Hingga akhirnya terdengar lantunan adzan Subuh yang sahut menyahut di mesjid-mesjid dari berbagai penjuru mata angin, tak terkecuali dari surau yang berada di lingkungan kediaman keluarga besar Tan Sri Abdul Hamid.


Naya segera berjalan menuju pintu keluar kamar, saat di depan pintu ia berpapasan dengan sang mama mertua. Nampak Puan Sri Latifah juga sudah lengkap dengan mukrnanya, bersiap untuk menunaikan sholat Subuh.


Puan Sri yang melihat sang menantu hanya turun sendirian, mulai kembali merasa risau. Apalagi nomor Kei yang tidak lagi aktif sejak pukul empat tadi semakin menguatkan firasatnya. Sesuatu telah terjadi dengan Kei. Namun sebagai orang tua, perempuan paruh baya itu berusaha menyamarkan resahnya.


"Sayang, Kei belum pulang, ya? Semalam sebelum berangkat, Kei berpesan ke Mama untuk menyampaikan ke Nay, kalo ia dan Andrian sedang ada kerjaan. Jadi sampai sekarang masih sibuk, kut."


"Oh, gitu ya, Ma? Nay semalam ketiduran pas Abang pergi."


"Iya, ngga apa-apa. Mudah-mudahan selepas Subuh dia sudah pulang. Yuk, kita berjama'ah kat surau di bawah." Puan Sri mengandeng sang menantu menuruni tangga.


...*****...

__ADS_1


Di sebuah bangunan tua, di pinggir KL


"So, ini je kemampuan sorang Kei Hasan?! The Black Eagle if Malaya, konon! Cuih... Cuihh!!!"


Seorang lelaki yang berusia sekitar tiga tahunan di bawah Kei terlihat berkacak pinggang setelah meludah beberapa kali. Dia lah Azki Abraham. Yang selama lima tahun ini ditugaskan Kei menjaga Naya.


Sementara itu, Kei yang terikat rantai besi di kursi yang juga terbuat dari besi hanya diam tanpa bereaksi apapun. Matanya masih tertutup kain hitam tebal.


"Bila macam nih, you makin tak layak buat Naya! Menyampah, je!!!"


Kei mengetatkan rahangnya dengan gigi yang bergemeletuk saat mendengar nama sang istri dibawa-bawa.


"Jangan menyebut-nyebut nama istriku dengan mulut kotormu itu, baj*ngan!!!"


"Ha...ha...ha... Baj*ingan??? Bukankah kata itu lebih pas untukmu, hah?!! You lah baj*ngan sebenarnya!!! You sama sekali tak pantas buat Naya!"


"Lalu siapa yang pantas? Siapa yang layak untuk Naya?! You, ke??!!!" Kei tersenyum sinis.


"Buka penutup mata, nih! Aku nak tengok wajah orang yang mengaku layak buat Naya!" Lanjut Kei sarkastik.


"Aku pun dari tadi nak tengok macam mana mata seorang Black Eagle of Malaya, tuh bila marah. Macam eagle betul, ke? Atau macam mata ayam, je?! Ayam kampong!!! Ha...ha...ha..." Azki kembali tertawa keras yang bergema ke seluruh gedung tua yang memang kosong tersebut.


..._________*****_________...


To be continued

__ADS_1


Alhamdulillah, bisa up lagi hari ini. Maaf, bila dirasa sedikit ya. Masih sibuk workshop. Terimakasih buat yang masih setia dengan Kei-Naya. Jangan lupa like dan comment. Jadiin favorite juga ya, bagi yang belum. Thank u.


__ADS_2