Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Apa Yang Telah Aku Lakukan?


__ADS_3

Flashback On


Kei menuruni tangga rumah panggung milik keluarga besarnya dengan kemarahan yang masih memuncak. Nafasnya memburu menahan gejolak yang hendak meledak.


Bagaimana mungkin Papa dan Mamanya meminta sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lakukan?


Melepaskan Naya? Jangankan berniat, terlintaspun tidak! Even sejak lima tahun yang lalu sekalipun!


Hhhaahh! Kei membuang nafasnya, kasar. Ia tidak lagi menghiraukan kemana kaki hendak membawanya melangkah. Ia hanya berharap udara dingin mampu menguapkan emosinya.


Kei terus saja berjalan, hingga ia merasa lelah. Kakinya terasa kebas, ia terduduk di jalanan kampung yang sunyi. Kei menatap nanar Rollex di tangan kirinya. Pukul 02.10 dini hari!


Kei menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan melepaskan kembali secara perlahan. Ia mencoba mengembalikan fokus dan konsentrasinya. Menatap jalanan sekitarnya, kemudian berdiri dan kembali melangkahkan kakinya.


Setelah berjalan hampir satu jam, Kei berhenti di depan pagar sebuah rumah. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kunci yang terselip disana.


Kei melanjutkan langkahnya memasuki pekarangan rumah yang tidak terlalu luas tersebut. Sesekali ia tersenyum sambil menimbang-nimbang kunci yang ada ditangannya.


Kei langsung memasuki rumah begitu ia berhasil membuka kunci pintu. Pandangannya menyapu seluruh ruangan di rumah itu. Berapa lama ia tidak ke sini? Mungkin sekitar enam atau tujuh bulan?


Merasa gerah, Kei segera menuju kamar yang biasa ditempatinya bila ia menginap disini. Setelah menanggalkan kaos oblongnya, Kei memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Badannya terasa lengket setelah selama lebih dari dua jam ia berjalan tak tentu arah untuk meredakan emosinya.


Begitu keluar dari kamar mandi, Kei langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Berusaha melelapkan dirinya, namun matanya tetap enggan untuk terpejam. Matanya melirik ke sebuah jam yang menempel di dinding kamar. Damn it! Sudah hampir pukul empat Subuh, pantas saja matanya tidak mau lagi dilelapkan.


Kei bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju dapur. Ia berharap ada yang bisa dimakan untuk mengganjal perutnya. Beberapa jam berjalan di malam buta ternyata tidak hanya meletihkan tubuh namun juga membuatnya merasa lapar. Cacing-cacing di perutnya berdemo sekarang, menuntut pembagian jatah makanan.


Kei membuka lemari pendingin di sudut ruangan, matanya memindai setiap rak di dalamnya. Naas, ia tidak menemukan secuilpun bahan makanan yang bisa dimasak.


Kei menutup kembali pintu lemari pendingin itu, sekarang ia melangkah menuju sebuah lemari kayu. Ia ingat beberapa bulan yang lalu saat menginap di sini, Kei melihat Pak Cik Mat, orang suruhan Nek Sya, mengambil kopi dan gula dari lemari tersebut saat Kei minta dibuatkan kopi.


Kei bersorak dalam hati saat matanya tertumbuk pada dua buah toples berwarna senada. Segera Kei membuka kedua toples tersebut, senyum langsung tercetak di sudut bibirnya ketika ia melihat isi kedua toples itu.


Kei bergegas menyalakan kompor dan menjerang air. Sebuah pekerjaan yang jarang dilakukannya, namun bukan berarti tak bisa dikerjakannya.

__ADS_1


Meski hidup dalam gelimang kekayaan sejak lahir, namun kedua orang tuanya, apalagi sang nenek, selalu mendidik Kei dan kedua saudaranya menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan tidak mengandalkan harta serta nama besar Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah. Sesuatu yang sangat disyukuri oleh Kei.


Kei langsung mencengkram kuat rambutnya. Mengingat Papa dan Mamanya, mau tidak mau juga membuat Kei jadi terpikir akan Naya.


Semalam ia tidak bisa berkata-kata saat berpapasan dengan Naya setelah keluar dari kamar Nek Sya. Mata Kei hanya mampu menatap, namun tak sanggup untuk berucap. Sepatah kata pun.


Kei dapat menangkap sorot ketakutan di mata bening Naya, yang semakin meyakinkan Kei kalau perempuan yang telah dinikahinya sejak lima tahun silam itu mendengar semua perseteruan Kei dengan kedua orang tuanya.


Hhhaahh! Kei kembali menghembuskan nafasnya kasar. Entah sudah yang keberapa kali sejak tadi. Kopi yang telah hampir dingin itu tinggal seperempat gelas, saat terdengar lantunan Azan Subuh dari beberapa surau sekitar kampong.


Kei bangkit dari duduknya setelah menyeruput habis sisa kopinya. Ia bergerak menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Setelah melaksanakan sholat Subuh, Kei beranjak menuju halaman belakang rumah. Ia ingin meregangkan sedikit otot-ototnya yang terasa kaku. Mungkin karena efek 'maraton' semalam dan begadang, tidak tidur sama sekali.


Setelah berolahraga pagi sekitar tiga puluh menit, Kei kembali naik ke atas rumah. Ia melongok ke luar jendela saat melihat segerombolan anak kecil yang berjalan beriringan sambil sesekali terdengar gelak tawa karena kelakar sesama mereka.


Kei tersenyum kecil saat melihat seorang yang berniqab di antara mereka. Naya! Kei langsung menyembunyikan tubuhnya saat ia melihat Naya menoleh ke arah tempatnya berdiri. Lama gadis itu terpaku di sana. Terlihat matanya mengerjap beberapa kali. Moment yang selalu saja membuat seorang Kei Hasan terpana.


Sesaat setelah Naya kembali melanjutkan langkahnya, Kei pun berlalu. Ia harus segera mandi supaya tidak terlambat ke majelis pernikahan Zahra, sepupunya. Ya! Saat berolahraga tadi Kei memutuskan untuk menghadiri undangan dari mak lung Salma beberapa minggu yang lalu.


Kei sengaja memarkirkan mobilnya di jalan kecil samping Masjid Jamek Bandar.


Kei berjalan mengitari mesjid dan tetap masuk dari gerbang depan masjid. Sejenak ia menatap masjid yang juga punya sejarah sendiri bagi perjalanan hidupnya.


Lima tahun lalu tangannya dijabat erat oleh Pak Ngah Zainal, adik Ayah Naya saat melafazkan Ijab Kabul. Lima tahun! Ternyata waktu begitu cepat berlari meninggalkannya, sedangkan Kei masih di sini, berlumpur dalam peliknya masalah.


Kei tersenyum kecut. Ia segera melangkah ke dalam mesjid, tadi ia melihat Mak Lung Salma bersama Zahra yang baru saja sampai dan diiringi keluarga besar mereka.


Kei melayangkan pandangannya, memindai kerumunan keluarga kedua pengantin. Ia sedang mencari Naya. Saat tak jua melihat bayangan Naya, Kei akhirnya melangkah memasuki mesjid.


"Assalamualaikum Kei. Lame tak jumpe, macam mane kabar?" Kei sedikit terkejut saat tangannya dan dijabat erat.


"Bang Jamal?"

__ADS_1


Kei tersenyum balas menjabat erat tangan kakak iparnya, suami kak Afifah.


"Alhamdulillah, sangat sehat. Abang dan Kak Ifah macam mana? Ade sihat, tak?


"Alhamdulillah, kami berdua sihat. Tuh kakak kamu kat tonggak arah pukul sepuluh," Jamal menunjuk dengan dagunya.


Kei mengikuti arah dagu Jamal. Tak jauh dari pengantin perempuan, Kei melihat kakak perempuannya Afifah sedang duduk bersama ... Naya!


Meskipun berhijab rapi, dengan niqab yang menutupi wajahnya, namun pesona seorang Kanaya Khairunnisa tetap tak terbantah.


Bergamis hitam dengan sedikit taburan permata swarovski zirconia di bagian bawahnya, Naya terlihat anggun dalam setiap gerakannya. Tangan dan matanya terlihat seirama saat ia berbicara dengan Kak Ifah.


Kei menggelengkan kepalanya beberapa kali. ******! Kenapa kepalanya hanya dipenuhi oleh pesona seorang Kanaya Khairunnisa sejak beberapa minggu ini?


Pertemuan kembali mereka hampir dua bulan yang lalu, membuat Kei seakan terjebak dalam permainan yang ia ciptakan sendiri.


Kei mengepalkan tangannya. D**mn! Kei tidak lagi fokus pada prosesi Ijab Kabul yang sedang berlangsung. Ia lebih tertarik memperhatikan Naya.


Pikiran Kei baru kembali ke tubuhnya saat terdengar gemuruh ... Sah! Sah! Zahra sepupunya baru saja resmi menjadi seorang istri.


Imam Mesjid Jamek Bandar Seremban yang tadi menjadi saksi dari pihak pengantin laki, sekarang didaulat untuk memberikan nasehat pernikahan.


Entah kenapa Kei merasa perlu untuk menghadirkan fokus dan konsentrasinya sekarang. Ia menyimak kalimat demi kalimat yang keluar dari lisan sang Imam Mesjid.


Kei tertegun. Setiap kalimat yang diluncurkan, serasa seperti ribuan anak panah yang melesat cepat dari busurnya dan tepat menancap di jantungnya. Hekk! Kei memegangi dadanya yang terasa berirama kacau dengan detak yang lebih kecang. Kei terpekur. Apa yang telah dilakukannya selama ini? Naya?


Kei mendongakan kepalanya, kembali mencari sosok Naya yang tidak lagi terlihat berada di samping kakaknya, Afifah.


Kei melayangkan pandangannya, dan ia sempat melihat bayangan Naya yang menghilang di balik pintu mesjid.


Kei bergegas keluar. Ia bahkan tidak pamit pada Jamal, suami Afifah.


Kei semakin mempercepat langkahnya saat ia melihat Naya yang sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu terlihat berjalan lambat dengan tubuh yang sempoyongan.

__ADS_1


Kei berlari untuk menyambut tubuh Naya yang akan segera ambruk.


To be continued


__ADS_2