
"Ya ampun sayang, kamu masih belum tidur???" Kei berseru sambil membulatkan matanya dengan suara yang sedikit tertahan.
Naya yang berniat untuk membuka pintu kamar hanya meringis kecil sambil memundurkan tubuhnya.
"Ngg, ngga bisa tidur. Udah dicoba untuk tidur dari tadi, tapi tetap aja ngga bisa," ujarnya membela diri.
"Ck... Kalo gitu sekarang tidur! Yuuk!!" Kei mendorong ringan tubuh mungil sang istri menuju tempat tidur.
Naya hanya pasrah tidak membantah, kembali menaiki tempat tidur.
Tidak mau langsung merebahkan diri, Naya langsung membalikan tubuh dan menatap Kei lekat.
"But, what's happening? Please tell me?" Pintanya separuh memohon.
Menghela nafas panjang, Kei tidak langsung menjawab. Tangannya sibuk mengatur beberapa bantal untuk mendapatkan posisi yang nyaman untuk sang istri.
"I promised to tell you tomorrow, right?" Kei masih berusaha mengelak.
Naya melirik jam dinding di dekat lemari pakaian di samping meja hias.
"Pukul 00.20 itu sudah terhitung pagi, kan? Berarti ..." Kalimat Naya terputus saat merasakan sedikit panas menyentuh permukaan keningnya.
Naya menyentuh keningnya yang disentil Kei. Mengusap perlahan sambil membulatkan matanya.
Kei hanya tersenyum seraya mendekatkan wajahnya ke arah sang istri. Dengan gerakan perlahan lelaki itu mencium lembut kening, hangat dan lama.
"Dah, sekarang tidur! Besok setelah Subuh Abang ceritakan. Ini sudah larut. Atau ..." Kei sengaja menjeda kalimatnya. Matanya menatap lekat dan lamat wajah cantik yang hanya berjarak beberapa centi saja darinya.
"Atau kamu mau Abang bikin begadang?" Kei menaik turunkan alisnya dengan tanpa memutus pandangan dari manik coklat Naya.
"Issshhh, apaan sih..!" Naya memberengut dan langsung meluruhkan tubuh sambil menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Kei terpingkal menyaksikan hal tersebut. Tangannya menjangkau, berusaha menarik selimut Naya.
Naya yang semakin kesal mencengkram kuat selimut tersebut agar tak terlepas dari tubuhnya.
"Kamu yang apaan, buka selimutnya! Nanti kamu sesak nafas!" Kei masih berusaha menarik selimut Naya.
"No way! Kalo Abang masih narik-narik, Nay keluar dari sini! Biar Nay tidurnya di kamar Noura aja!" Naya mengeluarkan ancamannya.
Menyembulkan kepalanya dari balik selimut, Naya menatap Kei dengan sengit.
"Awas aja!!" lanjut Naya masih dengan ancamannya.
"Eit..eit...kamu apa-apaan, sih? Mentang-mentang udah nyampe di kampungnya, ada mama mertuanya juga. Makin berani ya kamu sama Abang," sungut Kei tersulut kesal.
"Makanya jangan mancing-mancing, Nay lagi kesal, nih..." Naya masih dengan mode kesalnya.
"Yang harusnya kesal itu Abang, bukan kamu!" Kei mencengkram kuat tepian tempat tidur. Berusaha menjaga kewarasannya agar tidak salah tempat melampiaskan kemarahannya.
Rasa kesal dan amarahnya kembali tersulut. Namun bukan Naya yang menjadi punca penyebabnya. Hanya saja tiba-tiba ingatan Kei kembali melayang pada berita yang diterimanya dari Andrian tiga jam yang lalu.
Apalagi tekanan maha berat dari sang Mama juga semakin mematikan kewarasannya.
Belum lagi tek Za, adik satu-satunya dari almarmahumah sang mertua. Ibunda Naya. Meskipun tidak saklek seperti sang Mama, namun sorot mata yang tenang tanpa riak saat menatap, lebih menakutkan bagi seorang Kei Hasan.
Flashback On
__ADS_1
Pukul 21.05, setelah makan malam.
Kei mengenggam kuat gawai yg bergetar di tangannya. Ini sudah panggilan yang ke sebelas kali dari Andrian.
Sedari tadi, sejak Kei masih berada di ruang keluarga bersama Puan Sri Latifah, sang mama, tek Za dan Naya, gawainya sudah bergetar panjang menandakan panggilan masuk.
Namun Kei hanya mengabaikan saja tanpa berniat untuk mengangkatnya. Kei berusaha menjaga fokus dan konsentrasinya untuk tiga orang perempuan di hadapannya.
Dan kini getar panjang gawainya kembali menyentak. Perlahan Kei bangkit dari duduknya, setelah pamit minta izin untuk lebih dulu meninggalkan meja makan, Kei berjalan menuju teras samping.
Sekilas sudut pandang Kei menangkap pergerakan sang Mama yang juga pamit dan meninggalkan ruangan makan. Terlihat sang puan berjalan menuju pintu depan.
Sesampainya di teras samping Kei langsung menyentuh ikon menerima panggilan di gawainya yang kembali bergetar panjang.
"Hei, you! I harap apa yang you nak cakap sekarang nih lebih urgent dari hal yang sedang I Iakukan dengan family I," Kei langsung memuntahkan lahar dinginnya kepada Andrian.
"Banyak sorry lah, Boss. Tapi yang I nak cakap nih pun urgent sangat," kilah Andrian.
"Well, I hope so!" Nada Kei terdengar semakin dingin.
Di seberang sana Andrian mengusap tengkuknya kasar. Udara dingin langsung berhembus dan memagari sekitarnya.
"Ngg, begini Boss ..."
"......."
"......."
"Well, you know what to do, right?!" Kei berujar penuh tekanan.
"......."
Lelaki itu mencengkram kuat gawai di genggamannya setelah melihat dan membaca semua kiriman sang asisten. Matanya menyala seiring deru nafas yang memburu.
"........, .......?"
"A?? Dia bagianku! Aku yang akan mengurusnya! Aku hanya minta kau yang menangani si rubah itu! Aku malas bila harus bertemu dengannya!
"......."
"Ya! Aku akan record dulu malam ini. Besok sebelum Subuh aku kirim, dan aku ingin kau publish sebelum pukul 8 besok pagi!
"......"
"Absolutely, no! Aku tidak mau Naya tertekan. Aku takut dia belum siap untuk menerima hujatan dari para netizen."
"........"
"No! Aku berusaha untuk senantiasa menjaganya, both physically and mentally!"
"........"
"Maybe! Aku sedang mempertimbangkan usulan plan B dari Seremban. Okay, aku tunggu kabar dari mu!"
Kei langsung memutus panggilannya. Melangkah perlahan, kakinya berjalan mengitari halaman samping rumah tek Za.
Tidak sampai dua menit, Kei sudah tiba di depan sebuah rumah berlantai dua. Terlihat pilar-pilar besar menopang kokoh di bagian depan rumah dengan gaya mediterania, khas Turki.
__ADS_1
Kei tersenyum kecil. Ia membayangkan a little surprise untuk Naya saat besok pagi memberitahu sang istri tentang rumah ini.
Memasuki rumah dengan kunci yang memang selalu tersimpan di dalam dompetnya, Kei langsung melangkah menuju ruangan kerjanya di lantai dua, berdekatan dengan kamar utama.
Kei segera memasang sebuah kamera beresolusi tinggi pada tripodnya, dilengkapi dengan lampu LED untuk efek pencahayaan.
Setelah memasang sebuah microphone clip on, Kei duduk di kursi kerjanya. Dua buah foto berfigura warna hitam tertata apik di atas meja.
Di satu foto nampak Kei dan Naya setelah akad nikah di Mesjid Jamek Bandar Seremban, sementara di foto satunya lagi, saat Kei dan Naya di duduk bersanding di pelaminan.
Setelah menatap kedua foto itu sejenak, pada menit berikutnya Kei sudah berbicara, memberikan klarifikasinya atas semua isu yang beredar dalam dua hari ini.
...*****...
Pagi hari, pukul 06.55 WIB
"Uniiiii!!!"
Lengkingan suara Noura memecah keheningan pagi di rumah tek Za.
Naya baru saja menaruh beberapa masakan yang dibawanya dari dapur, di atas meja makan.
Selepas Subuh tadi Naya dan tek Za sudah sibuk di dapur. Menghangatkan beberapa masakan semalam untuk sarapan pagi ini.
Puan Sri Latifah dan nenek Syarifah juga terlihat ikut membantu-bantu.
"Noura??!! Kamu itu anak gadis, bukan preman terminal!" Tek Za mendelikan matanya pada Noura yang terlihat terburu dengan nafas tersengal.
"Iisshh, Bunda nih apa-apaan, sih? Pagi-pagi dah marah-marah aja, padahal aku 'kan ..."
"Kamu yang apa-apaan! Pagi-pagi sudah teriak-teriak seperti preman di pasar dan terminal! Kamu ngga malu apa sama ..."
"He...he...he... Mohon maaf Puan Sri, nek Sya ... Ada yg urgent, uni harus tahu," Noura sudah lebih dulu memutus omelan sang bunda sambil mengacungkan gawainya ke depan Naya, sang kakak sepupu.
Naya yang keheranan, tanpa bicara hanya mengulurkan tangan untuk menyambut gawai yang disodorkan Noura.
Belum sampai tangan Naya menyentuh gawai yang dihunjukan Noura, sebuah tangan besar sudah duluan menyambar gawai tersebut.
"Biar Abang yang bagi tahu, ayo ikut Abang!"
..._________*****_________...
To be continued
Alhamdulillah, akhirnya bisa up lagi... Terimakasih tak terhinga buat teman-teman yang sudah memberikan saran dan kritikannya untuk cerita KeiNaya.
Aku orangnya open minded, jadi terbuka aja untuk semua saran dan kritikan. Sebuah karya yang sudah dipublish, berarti harus siap sedia menerima masukan dari publik, dan aku terbuka untuk itu.
Karena konfliknya ada beberapa, jadi aku memang memilih untuk menyelesaikan dulu konflik domestik Kei dengan ibunya. Karena bagi aku, semua permasalahan di luar sana akan menjadi kecil bila ada orang2 terdekat mendampingi kita, orang tua terutama ibu, kemudian suami atau istri.
Aku ingin Keinaya bukan hanya sebuah cerita, yang dibaca untuk sekedar pengisi waktu luang. Aku ingin ada nilai-nilai yang bisa dipetik darinya.
So, bila dirasa agak muter2 dan berbelit, mohon maaf ya... Maklum orang baru yang belajar menuangkan imajinasi dalam bentuk kata dan kalimat, yang kadang stuck dalam merangkai keduanya. Jadi mudah2an maklum, ya...
Di atas itu semua, inilah cerita yang berusaha menghibur, namun juga diharapkan ada tuah yang bisa dijadikan hikmah.
Kali ini aku tidak mau minta like atau commentnya (tapi kalo tetap dikasih, alhamdulillah sekali ..he..he..), tolong do'akan aku setia dengan janji untuk menamatkan cerita KeiNaya ini...he..he..he..
__ADS_1