
Puan Sri membuat kepalan kuat di tangannya, bersiap untuk memukul sang putra yang dianggapnya sudah sangat keterlaluan.
Bagaimana tidak?! Kei yang sebelumnya seperti orang yang hilang akal, tidak bisa melakukan apa-apa saat kondisi Naya sedang kritis, sekarang malah seperti pahlawan kesiangan di hadapan sang istri.
Namun yang lebih membuat kesal Puan Sri Latifah adalah perlakuan Kei terhadap Naya di depannya yang terlihat inappropriate, 'tidak senonoh' di mata konservatifnya.
Tangan sang puan sudah terangkat untuk segera hinggap di tubuh sang putra, saat tiba-tiba kalimat Kei menghentikan pergerakannya.
"Tunggu Puan Sri, Mamaku tersayang. Hati-hati, takutnya pukulan Puan Sri nanti malah mengenai menantu kesayanganmu." Kei berucap pelan tanpa mengalihkan perhatiannya dari Naya yang masih berada di pangkuannya.
Kalimat datar Kei begitu menyentak di pendengaran seorang Kanaya Khairunnisa. Sontak gadis itu menggeliat dalam pelukan Kei.
What?! Mama?
Naya berusaha melepaskan diri dan turun dari pangkuan sang suami. Namun Kei dengan segala 'kenakalannya' malah semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil itu.
"Abang, ihh ... Lepasin Nay!" Naya masih terus berupaya untuk bisa lepas dari kungkungan Kei.
"Lepas, ngga?!" Naya mendelikan matanya, sambil mengangkat tangan, seperti berniat akan memukul Kei.
"Iya, iya ... Sayang kenapa, sih? Baru bangun juga ... Kenapa langsung marah-marah. Mentang-mentang ada mak mertuanya. Galaknya sama!"
"What?!" Naya semakin membulatkan matanya.
"Eh, salah ya? Ngga ... Ngga ... Maksud abang, sama cantiknya ...sama baiknya ..." Kei memutar bola matanya saat mengucapkan kalimat itu seraya menurunkan sang istri dari pangkuannya.
Sementara itu Puan Sri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.
Ini yang salah matanya atau kepala si Kei yang terantuk batu karang? Kenapa si gunung es bisa meleleh dalam semalam?
Naya segera menghambur ke pelukan Puan Sri Latifah begitu terbebas dari Kei.
Gadis cantik itu menelusupkan tubuhnya dalam dekapan sang mertua yang menyambutnya hangat.
__ADS_1
Tangan Puan Sri mengusap lembut punggung sang menantu sambil sesekali menciumi pucuk kepala Naya.
"Ma, Nay tadi takut sekali. Takut Nay tidak akan bertemu Mama lagi." Naya membisik lirih diiringi sesak yang kembali menyusupi dadanya.
"Nay, sayangnya Mama ... Mama tidak akan membiarkan itu terjadi, nak. Maaf, Mama datangnya telat. But, it's over now! Mama sudah kat sini untuk menjemput Nay. Kita pulang ya?" Puan Sri perlahan merenggangkan pelukannya sembari menuntun sang menantu untuk berdiri.
"Iya, Mama. Nay letih sangat. Tolong bawa Nay pergi dari sini." Naya berujar lirih.
Gadis cantik menantu kesayangan Puan Sri Latifah itu menopangkan tubuhnya pada sang mertua untuk bisa berdiri tegak.
Gadis itu memejamkan matanya sejenak, mencoba mengurai letih yang mendera. Letih raga mungkin tak seberapa, namun letih jiwa begitu terasa.
Terngiang kembali kalimat demi kalimat Kei yang tadi diperdengarkan Nadia lewat rekaman di gadgetnya.
Seperti belati, rangkaian kalimat tersebut tepat menikam jantungnya. Mencipta luka tak berdarah namun begitu menyiksa.
Naya semakin merasakan perih di sudut hatinya. Mungkin tiba saatnya ia harus mengalah pada takdir.
Kei yang masih terpaku di duduk jongkoknya, terkesiap saat telinganya menangkap kalimat terakhir sang istri.
Yang terdengar oleh Kei bukanlah sebuah permintaan namun lebih kepada ungkapan desperate, keputusasaan.
Entah kenapa Kei memaknai kalimat Naya sebagai sinyal bahwa gadis itu berniat untuk menjauh darinya.
Kei segera berdiri. Mengamit lengan Naya, memaksa sang istri untuk menghentikan langkahnya.
"Tunggu! We need to talk!" Kei sudah berada di hadapan Naya, menghalangi langkah gadis itu. Sebelah tangannya masih di lengan Naya.
Puan Sri memutar bola matanya. Menatap Kei dengan pandangan yang entah.
"Kei Hasan, tak dengarkah perkataan menantuku? Dia ingin, aku membawanya pergi dari sini. Apakah itu kurang jelas?!" Puan Sri menatap Kei tajam. Terlukis senyum sinis di sudut bibirnya.
Kei bergeming. Menulikan telinganya dari provokasi sang mama.
__ADS_1
Sekejap pun tatapannya tak beralih dari juwita di hadapannya. Menatapnya lekat dan dalam. Seakan berusaha meyakinkan sang istri untuk mau mendengarnya.
Naya menghela nafas panjang. Berharap himpitan di dadanya akan berkurang seiring helaan itu.
"Mama, tolong tunggu Nay di bawah, ya? I will be there in moments."
Puan Sri menatap Naya dan Kei bergantian. Memberikan sinyal berbeda.
Sinyal warning ia kirimkan kepada sang putra.
Jangan coba macam-macam dengan menantuku!
Cckkc! Kei berdecak kesal. Ia segera mengalihkan pandangannya dari sang mama.
Puan Sri melayangkan pandangannya kepada Naya. Menatap sang menantu dengan pandangan teduh.
Mama akan mendukung apapun keputusan kamu, nak. Jangan ragu. We will always be with you. Ada Papa, Mama, Kak Ifah dan Nek Sya. Kita akan selalu bersama. Apapun yang terjadi, kamu berhak untuk bahagia, nak.
Puan Sri melangkah perlahan meninggalkan ruangan. Memberi kesempatan kepada Naya dan Kei untuk berbicara, berharap dapat mengurai benang kusut pernikahan mereka.
Sejenak hening melanda keduanya. Kei dan Naya saling pandang dalam rasa yang berbeda.
Naya segera mengalihkan pandangannya, tak mau terperangkap lagi dalam pesona lelaki dewasa di hadapannya.
Hanya sekejap, karena detik berikutnya Kei telah merangkum pipi chubby sang istri, memaksanya untuk kembali beradu pandang.
"Abang tidak tahu pasti apa yang telah dikatakan perempuan rubah itu kepada Nay, namun satu yang abang minta, tolong dengarkan abang dulu. Banyak yang perlu abang jelaskan".
"No need! Abang tidak perlu menjelaskan apapun. Semuanya sudah teramat jelas! Nay hanya minta satu saja ... Tolong, urai semula ikatan ini!
..._________*****_________...
To be continued
__ADS_1
What?! Urai semula? Kei berani ngga? Sambil nunggu jawaban Kei, yuk baca dulu yang ini..