
Kedua lelaki dewasa itu saling bertatapan dalam sorot yang tajam dan dalam. Masing-masing dari keduanya seperti hendak mengukur kekuatan lawan di hadapannya.
Kei terlihat cukup tenang. Ia berusaha keras untuk tetap mengontrol kestabilan emosionalnya. Ia tahu pasti Azki, sang sepupu yang menjadi salah seorang kepercayaannya selama hampir lima tahun ini, sekarang sedang mentransformasikan dirinya menjadi rival Kei.
Selama beberapa jam ini, terlihat sangat upaya adik sepupunya itu untuk memprovokasi Kei.
Flashback On
"Aku bisa dengan mudah melepaskanmu sekarang, but in one condition..." Azki sengaja menjeda kalimatnya. Matanya menatap Kei lurus. Seringai tipis terbit di sudut bibirnya.
Kei balas menatap tajam tanpa memutus pandangannya. Ia menanti kelanjutan kalimat Azki. Namun Azki seperti sengaja menahan perkataannya. Lelaki itu malah berjalan pelan mengitari Kei yang masih terikat di kursi, di tengah ruangan luas tersebut.
"You tak nak tahu ke apa syaratnya?" Azki sengaja mendekatkan mulutnya ke telinga Kei saat mengatakan kalimat itu.
Kei tak bereaksi. Mulutnya ia kunci rapat, namun bibirnya melengkung mencipta sebuah senyuman tipis.
"Nope! I tak nak tahu. So, you don't need to tell me!" Akhirnya Kei menjawab pelan dengan ekspresi datar.
"Oh, really?! Bahkan bila syarat itu menyangkut tentang Khaira sekalipun?" Azki kembali berusaha memprovokasi Kei dengan menyebut nama Naya yang biasa dipanggilnya sebagai 'Khaira'.
__ADS_1
Khaira? Mhm... Seperti apa hubungan mereka, hingga ia berani memanggil Naya-ku dengan panggilan itu? Ini sudah yang kedua kalinya aku mendengarnya memanggil Naya-ku dengan 'Khaira'. Panggilan yang terdengar special? Eh, special?! Oh, no! S-hhiittt!!
Kei masih diam dengan tampilan datarnya. Sorot matanya tetap tajam dan hampir tak terbaca. Namun hatinya mulai merusuh dan merutuk sendiri.
Azki yang kembali menduduki kursi di depan Kei tersenyum dengan seringai tipis. Ia bukan anak kemaren sore yang buta membaca suasana hati lawan bicaranya.
Sekuat apapun Kei berupaya menyamarkannya, Azki tetap bisa melihat kilat amarah di mata hitam itu meski hanya selintas.
"Well, terserah you! Tapi aku yakin Khaira sudah di perjalanan menuju ke sini!" Azki menyunggingkan senyum sinisnya.
"Urusan you dengan I je. So, tak perlu melibatkan Naya!" Kei mengetatkan rahangnya saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Ha...ha...ha... You salah besar, man! Justru urusanku sebenarnya adalah Khaira. Bukan you!" Azki tergelak seraya bangkit dari duduknya dan kembali berjalan mendekati Kei.
"Aku kemari untuk menjemput Khaira-ku. Menjauhkannya dari lelaki sepertimu. Lelaki yang hanya memberinya luka. Bahkan menjaganya saja kau tidak mampu!" Ujar Azki dengan penuh tekanan pada setiap kata-katanya.
Kei mengepalkan jari-jarinya dengan kuat. Tangannya yang masih terikat kebelakang mengepal kuat dengan buku-buku jari yang memutih. Bara di dadanya berkobar hingga memantul lewat matanya yang menyala amarah.
"Jaga ucapanmu! Kau pikir kau siapa, hah! And one more thing, tidak usah ikut campur dalam urusan keluargaku! Apalagi bicara tentang sesuatu yang tidak kau ketahui dengan pasti!" Kei berusaha menahan gejolak amarah di dadanya. Nada bicaranya tetap datar namun dingin membekukan. Sementara matanya balik menatap Azki dengan tatapan elangnya. Tidak memutus bahkan sekedip pun.
__ADS_1
Azki kembali mengeluarkan seringai mengejeknya mendengar kalimat Kei. Pandangannya pun menukik tak kalah tajamnya.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa Khaira adalah urusanku?! Urusan terbesarku! Dan juga satu lagi... Aku tahu kau tidak mencintainya, seperti ia yang juga tidak mencintaimu. So, apalagi?! Just let her go! Biarkan aku yang menjaganya! I will make her the queen of my heart! Aku akan menjadikannya ratu di hatiku!" Azki berkata dengan intonasi yang mulai meninggi.
"No! I will never let it happen! Bahkan dalam mimpimu sekalipun, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" Kei balas menaikan suaranya.
"Tidak perlu sok menjadi pahlawan kesiangan buat i-s-t-r-i-ku!" Kei sengaja menekankan kata 'istriku' untuk menegaskan posisinya dan memberi garis batas yang jelas di hadapan Azki.
"Kau pikir aku tidak tahu permainanmu?! Jangan senang dulu! Bila kemaren aku membiarkan kalian lolos, bukan berarti aku melepas kalian begitu saja. Aku sedang menunggu datangnya hari ini!!!" Kei berkata seraya menghentak kuat tubuhnya.
Lelaki yang dikenali orang-orang tertentu sebagai the black eagle of Malaya itu melenting dengan gerakan cepat tak terduga. Dan tiba-tiba ia sudah berdiri kukuh di depan Azki dengan kuda-kuda yang terpasang sempurna.
Flashback Off
"Kau tahu, aku harus bersabar untuk menunggu datangnya hari ini. Menahan diri saat kau dan perempuan rubah itu menculik Naya-ku! Membiarkan kalian merasa di atas angin saat berhasil menyebar video dan semua berita hoax itu! Aku sabarkan diriku demi menunggu hari ini. Satu lagi! Suruh perempuan rubah itu keluar sekalian! Aku tahu dia juga sudah berada di sini sejak tadi!" Kei berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Azki yang tepat berdiri di hadapannya.
...__________ ***** __________...
To be continued
__ADS_1
Maaf, baru bisa *up lagi ..
Happy reading all*😊😊