Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Membawamu Menjauh (Part 2)


__ADS_3

Mobil Ford Ranger double cabin yang membawa Kei dan Naya, telah memasuki sebuah gerbang area perumahan dengan halaman yang cukup luas.


Di tengah area luas tersebut berdiri gagah dua buah rumah panggung yang saling berdampingan, dan dihubungkan oleh sebuah jembatan kayu berukiran cantik penuh hiasan artistik.


Rumah panggung unik, khas Melayu Riau, Rumah Selaso Jatuh Kembar dan Rumah Gadang, khas Minang Kabau, Sumatera Barat.


Kei segera turun dari mobil setelah lelaki paruh baya yang dipanggilnya 'pak etek' itu membukakan pintu untuknya.


Masih dengan mengendong sang istri ala bridal style, Kei melangkah perlahan menaiki rumah gadang khas Minang Kabau.


Sementara itu Naya yang berada dalam gendongan Kei memejamkan matanya rapat.


Gadis itu tahu bahwa ia dan Kei telah berada di atas rumah panggung yang tadi sempat dilihatnya saat Kei mengendongnya keluar dari mobil. Namun karena gadis itu masih merasa kesal dengan sang suami, ia enggan membuka matanya.


Menantu kesayangan Puan Sri Latifah itu masih setia memejam matanya hingga ia merasakan dua jari Kei menyentuh tengkuknya dengan gerakan yang ringan dan cepat.


Naya yang bisa merasakan gerakan dua jari Kei tersebut sontak membuka kelopak matanya.


Di detik yang sama, Kei juga tengah memandang sang istri sambil tersenyum hangat, namun terlihat sangat menyebalkan di mata Naya.


Gadis itu langsung membolakan matanya sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Kei menggelengkan kepala, masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Lelaki itu terus melangkah memasuki sebuah kamar, kemudian dengan gerakan perlahan dan hati-hati, ia turunkan tubuh sang istri.


Naya langsung mengeliatkan tubuhnya saat merasakan punggungnya bertemu dengan hamparan empuk yang membuat tubuh letih dan kakunya sedikit terasa lebih nyaman.


Namun gadis itu belum mau beranjak dan bangkit dari tempat tidur, hingga kemudian terdengar pintu yang dibuka dan ditutup kembali.


Naya meyakini Kei, sang suami lah yang bergerak meninggalkan ruangan yang sekarang sedang ditempatinya.


Naya mengedarkan pandangannya, menelisik ruangan tersebut.


Kamar tidur berukuran cukup luas dengan sebuah lemari pakaian dan meja rias di sudut ruangan. Semua furniture terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi, terlihat dari warnanya yang nampak lebih hidup.


Naya masih memindai semua sudut ruangan saat matanya bertemu dengan dua buah foto yang dipajang berdampingan di atas nakas sebelah kanan tempat tidur.

__ADS_1


Naya memandangi kedua foto itu lekat. Foto sama yang ada di apartemen Teluk Kamang dan yang ada di kamar rumah Naya.


Perlahan diraihnya satu foto. Terlihat Kei remaja dan Naya kecil di sana dengan background pantai Saujana, Port Dickson.


Dalam foto tersebut nampak Naya yang sedang duduk di atas pundak Kei sambil menjulurkan lidahnya dengan action seakan-akan hendak memukul kepala Kei.


Bibir gadis itu melengkung mencipta sebuah senyum tipis dan samar.


"Kalo mo senyum, ya senyum aja. Ngga usah malu-malu. Mumpung masih gratis!" Kei sudah berada di belakang Naya dengan handuk yang membalut sebatas pinggang. Tubuh bagian atasnya terekspos sempurna.


Naya bergeming. Matanya masih fokus menatap foto di tangannya. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, seakan tidak mendengar Kei yang barusan berbicara padanya.


Kei kembali menggelengkan kepalanya. Matanya lurus menatap sang istri sekarang. Dasar keras kepala!


"Bila Nay teringin sangat nak marah, boleh ... But, not now! Sekarang mandi dulu! Abang sudah siapkan airnya. Itu handuk dan pakaian ganti," Kei berujar datar sambil matanya melirik handuk dan pakaian yang tersampir di gantungan kain sebelum ke kamar mandi.


"Langsung ambil air wudhu, Abang tunggu!"


Nada suara Kei yang datar dan dingin sedikit mengejutkan Naya.


Gadis itu segera bangkit dari tempat tidur, tanpa menunggu kalimat perintah Kei berikutnya. Dengan gerakan terburu, Naya langsung memasuki kamar mandi.


Sementara itu Kei tersenyum samar saat melihat Naya yang memasuki kamar mandi dengan langkah tergesa, hingga melupakan handuk dan pakaian ganti yang telah disiapkannya.


Di kamar mandi, Naya mempercepat ritual mandinya setelah merasakan sakit yang kembali menyerang area sekitar punggung dan bahunya.


Gadis itu bahkan sempat mendesis menahan rasa sakit yang semakin terasa.


No, Nay! Jangan cengeng! Be strong!


Naya menarik nafas, pelan dan panjang, kemudian kembali mengeluarkannya perlahan. Gadis cantik itu berusaha mengurai sakit yang kian mendera.


Naya semakin merasa hopeless, saat menyadari ia tidak membawa apa-apa ke kamar mandi!


Kekesalan Naya karena Kei yang telah 'menculiknya' dari sang mertua, semakin menumpuk tinggi saat melihat sikap Kei yang tadi berubah dingin padanya.


Kini Naya menatap nanar pada pakaian yang tadi dipakainya sudah teronggok basah di lantai kamar mandi.

__ADS_1


Naya menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, gadis itu berjongkok sambil memeluk dirinya sendiri.


...*****...


Kei bergegas memasuki kamar mandi setelah beberapa kali mengetuk pintu, namun tak jua ada jawaban dari Naya.


Langkah kakinya semakin dipercepat setelah melihat sang istri terduduk di sudut kamar mandi dengan tubuh yang mulai menggigil.


"Sayang, are you okay?!" Kei berseru cemas seraya membalut tubuh setengah polos Naya dengan sehelai handuk.


Mengendong sang istri keluar dari kamar mandi, Kei membaringkan tubuh Naya yang masih menggigil di atas tempat tidur.


Setelah menyelimuti tubuh menggigil Naya dengan sehelai selimut yang tebal, Kei menempelkan punggung tangannya di dahi sang istri. Hangat menjalari punggung tangan Kei.


"Sayang, maaf... Abang harus lakukan akupresur sebentar, ya?" Berkata begitu Kei langsung menelungkupkan tubuh Naya.


Kemudian dua jarinya bergerak cekatan di area punggung sang istri melakukan akupresur, totok punggung seperti yang tadi petang juga dilakukan Puan Sri Latifah.


Hampir setengah jam Kei melakukan akupresur pada area punggung istrinya.


Setelah merasakan suhu tubuh Naya yang kembali normal dengan nafas yang terdengar mulai teratur, Kei menghentikan gerakan totok punggungnya.


Gerakan tangan Kei sekarang mulai melakukan massage pada tubuh gadis itu. Di awali denģan pijatan ringan di telapak kaki, tangan Kei bergerak naik menuju betis Naya.


Sedikit agak lama di area pinggang, Kei kembali melanjutkan massage ringannya menuju area punggung, bahu dan leher bagian bawah Naya.


Setelah dirasanya cukup, Kei menghentikan gerakan massage-nya. Sekarang ia mulai mengolesi punggung dan bahu Naya yang membiru legam dengan cream yang tadi diantarkan kurir setelah dipesan Kei melalui sebuah aplikasi online.


Kei kembali menyelimuti tubuh mungil Naya setelah sebelumnya memakaikan pakaian tidurnya.


"Tidur yang lelap ya, sayang? Besok perjalanan kita akan cukup jauh." Kei membisik lembut di telinga sang istri seraya mencium lembut keningnya.


...________*****________...


*To be continued


Yang udah nungguin Keinaya, makasih ya ... Jangan lupa like, comment, vote dan jadikan favorite bagi yang belum.

__ADS_1


Sambil nungguin up berikutnya, yuk baca dulu karya teman othor, nih ...



__ADS_2