Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Kembali Pulang


__ADS_3

Naya menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur dengan memeluk sebuah bantal. Sekarang tubuhnya telah dibaluti oleh selimut tebal yang menutupi hingga batas dadanya.


Semburat merah jambu kembali menghiasi pipi putih chubbynya saat lintasan peristiwa beberapa menit yang lalu kembali hadir menggodanya.


Gadis cantik itu memejamkan mata sambil menggigit-gigit kecil bibir bawahnya. Sesekali matanya mengerjap, kemudian memejam kembali.


Kei yang baru keluar dari kamar mandi setelah menyiapkan air hangat untuk gadis itu tersenyum kecil saat matanya menangkap kelakuan Naya dari pantulan cermin di depannya.


Kei sangat yakin bila gadis yang masih bergulat dengan pikirannya itu belum menyadari di mana mereka tidur semalaman.


Perlahan Kei melangkah mendekati Naya yang masih duduk selonjoran di tempat tidur.


Saat menyadari kedatangan Kei, gadis itu mengubah posisi duduknya sambil mengeratkan pelukannya pada bantal dalam pangkuannya.


Naya berusaha menghindari kontak langsung dengan mata Kei. Gadis itu memilih menunduk sambil memilin ujung selimutnya.


Sekali lagi Kei tersenyum sambil menggeleng kecil menatap Naya yang masih saja tersipu dan salah tingkah bila mereka berduaan.


"Air hangatnya sudah siap, silahkan mandi, Tuan Puteri?" Kei menyilahkan Naya bak pelayan di istana kerajaan dengan menggerakan ibu jarinya untuk menunjuk kamar mandi.


Naya hanya menanggapi dengan bangkit perlahan dari tempat tidur sambil menyembunyikan senyumnya.


"Kalo mau senyum, senyum aja Tuan Puteri. Ngaa usah ditahan, ntar bisulan. He...he...Kei tergelak sendiri.


"Apaan, sih?! Ngga nyambung!" Naya berseru kesal sembari melempar bantal yang tadi dipeluknya.


Hanya dengan berkelit sedikit saja, Kei dengan mudah dapat menghindari lemparan bantal dari Naya. Lelaki itu masih tergelak senang sambil melangkah menuju pintu keluar kamar.


"Abang izin mandi di kamar Ayah dan Bunda, ya?" Tanpa menunggu jawaban Naya, Kei lantas keluar menuju kamar ayah dan ibu mertuanya.


Naya yang baru saja akan melangkah memasuki kamar mandi di kamar tersebut tersentak kaget. Gadis itu langsung menghentikan langkahnya.

__ADS_1


What? Kamar mandi ayah dan bunda? Maksudnya?!


Naya bergegas membalikan badan. Matanya menelisik lamat ruangan kamar yang semalam ditempatinya. Satu persatu barang dan pajangan di sana ditelisiknya.


Sebuah lemari pakaian yang tidak terlalu besar, terbuat dari kayu jati berdiri kokoh di sudut kamar. Di samping lemari tersebut, terdapat meja rias kecil dengan kursi yang juga berbahan jati. Di atas meja rias terletak sebuah figura yang memajang foto masa kecilnya. Ada ayah, bunda dan Naya kecil yang belum genap lima tahun.


Naya melangkah mendekat, meraih figura tersebut dan menatapnya lamat, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang bermimpi. Ia tengah berada di kamarnya sendiri. Kamar yang terakhir kali ditempatinya lima tahun yang lalu, sebelum keberangkatannya kembali melanjutkan studinya di Perancis setelah pernikahan mendadaknya dengan Kei.


Naya jatuh tersimpuh dengan figura yang masih di tangannya. Air matanya luruh seketika saat dua wajah amat dirindunya itu seperti sedang menyapanya dalam diam.


Naya masih tergugu di lantai saat pintu kamar didorong dari luar. Kei memasuki kamar hanya dengan handuk yang meliliti pinggangnya. Rambutnya yang masih setengah basah menyisakan tetesan air yang jatuh silih berganti.


Lelaki itu terkejut mendapati sang istri yang tersimpuh di lantai kamar, dengan wajah yang tertunduk dalam. Sesekali masih terdengar isak lirihnya. Kei baru tersadar dengan apa yang terjadi setelah melihat figura di tangan Naya.


Sebuah figura yang juga sering dijadikan Kei sebagai temannya berbagi cerita saat tiada sesiapa yang bisa diajaknya berbicara bila ia menginap di sana.


Kei berjongkok seraya satu tangannya menyentuh lembut pundak Naya, sedang tangan lainnya mengangkat wajah sang istri. Terpampang jelas mata sembab dengan pipi yang masih dialiri oleh tetesan bening.


"Maaf, semalam abang langsung membawa Nay ke sini saja. Abang ngga punya kunci rumah sebelah. Kalo ke apartemen, abang takutnya Nay nggak mau. Apalagi sudah terlalu larut, jadi abang putuskan membawa Nay ke sini. Maaf, ya?"


Naya yang masih berada dalam dekapan Kei tidak menjawab. Namun ia dapat merasakan gerak kepala Naya yang menggeleng pelan.


Perlahan Kei merenggangkan sedikit pelukannya, kemudian menuntun gadis itu untuk berdiri dan mendudukannya di kursi meja rias.


Kei kembali berjongkok, meraih kedua tangan Naya dan membawanya ke bibir. Memberikan kecupan singkat.


"Sekali lagi maaf, abang tidak tahu pasti apakah membawa Nay pulang ke sini adalah tindakan tepat atau tidak", Kei menjeda sebentar kalimatnya sembari memberikan tatapan dalam tepat di manik coklat Naya.


"Abang hanya mengikuti feeling abang, bahwa Nay rindu sangat dengan suasana di rumah ini. Apalagi saat melihat tatapan Nay pagi kemaren ketika lewat di depan sini bersama dengan Azmi dan teman-temannya". Kei tersenyum mengakhiri kalimatnya.


Naya serta merta mengangkat wajahnya, menatap Kei seakan meminta kelanjutan kalimat darinya.

__ADS_1


Kei tersenyum lebar demi melihat wajah penuh penuh tanya di depannya. Naya pasti penasaran kenapa Kei bisa tahu kejadian saat gadis itu berhenti di jalan depan rumahnya.


"Iya. Kemaren malam, seperti juga malam-malam sebelumnya bila berkunjung, abang tidur di sini". Ujaran Kei malah semakin mempertemukan dua alis hitam rapi Naya.


"Ma..mak..sud a..abang?" Naya berusaha bertanya dalam sedu sedannya.


"Nanti abang ceritakan, kini Nay mandi dulu sana. Dah asem banget". Kei berpura mengusir Naya dengan mengibaskan tangannya yang kanan sementara satu tangannya yang kiri menutup hidung.


Hidung Naya kembang kempis menghidu aroma di tubuhnya sendiri. Kei kembali tergelak sambil mengacak kasar rambut gadis yang masih duduk di hadapannya itu.


Entah kenapa tingkah Naya selalu saja menggemaskan di mata Kei hingga mampu membuatnya tertawa lebar.


"Mana ada bau, masih wangi juga. Weh..." Naya menjulurkan lidahnya seraya bangkit dari duduknya.


"Nay... Masih pagi. Jangan mancing-mancing abang, atau ... Kamu mau ngulang yang tadi?" Kei menaik turunkan alis hitam tebalnya, menggoda Naya.


"Hish... Apaan sih, ngga jelas!" Naya memalingkan wajahnya yang kembali tetiba memerah mendengar godaan Kei. Ia segera berlalu dari depan lelaki itu dengan memegang erat selimut yang meliliti tubuh setengah polosnya.


"Eits, tunggu! Abang periksa dulu airnya. Mungkin sudah dingin lagi". Kei bergegas bangkit dari posisi jongkoknya dan mendahului Naya menuju kamar mandi.


Tubuh Kei yang hanya dililiti handuk di pinggangnya terekspos sempurna di depan Naya. Terlihat dari belakang punggung kukuhnya dengan bahu yang lebar. Naya kembali berpaling sambil menggelengkan kepalanya dengan wajah yang memanas ketika lintasan pikiran lain yang tiba-tiba hinggap di kepalanya.


"Well, dah abang tambah lagi air hangatnya." Kei tiba-tiba sudah berada di depan Naya dan hampir saja bertubrukan dengan gadis itu yang masih setengah melamun.


"Bisa mandi sendiri, kan? Atau ... mau abang yang...?"


"Iisshh....! Naya mencubit kecil lengan Kei dan bergegas menghilang dari pandangan lelaki itu.


...___________*****__________...


To be continued

__ADS_1


Mohon terus dukungannya dengan memberikan like, vote and comment, ya. Thank you all.


__ADS_2