Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Syaratmu Ringan di Kata, Berat di Rasa, Tuan Putri ...


__ADS_3

Kei yang sudah bersiap untuk memeluk sang istri, urung melakukan aksinya saat mendengar kata 'syarat' dari Naya.


"Sayang?!"


"Why?! Is that too hard for you? Apakah permintaan Nay terlalu sulit untuk Abang kabulkan?" Naya membisik lirih.


Kei menatap manik mata sang istri. Ia tersentak. Selintas terlihat secebis kecewa di mata indah berwarna kecoklatan miliknya. Namun pulasan senyum kecil gadis itu berhasil menyamarkannya.


Pelan gadis pemilik sepasang mata jeli itu mengulurkan tangannya, saat sang suami terlihat sedikit ragu atas permintaannya.


Kei berusaha membuang gelisah yang tetiba menyergapnya. Diraihnya tangan yang terulur di hadapannya seraya menyematkan cincin bertahta berlian di jari manisnya.


Kemudian dengan penuh suka cita Kei mencium lembut penuh perasaan jari manis Naya yang baru saja dipasanginya cincin.


Tidak berhenti sampai di situ, Kei juga melabuhkan bibirnya sejenak di kening Naya yang tertutup niqab.


"Alhamdulillah!!!"


"Cuit ... Cuit ... Manisnya ..."


"Congrats, bang, akak ..."


"Salamaik yo Uni, Uda ..."


Ucapan syukur dan selamat berbalut godaan silih berganti terdengar di sana.


Naya menyembunyikan wajah merah meronanya dengan tetap menunduk. Ia tidak tahu pasti apakah niqab bisa menyamarkannya.


Melihat istrinya yang mulai tidak merasa nyaman, Kei segera bangkit sembari menarik lembut tangan Naya.


Sesaat Kei melayangkan pandangannya pada sekitar, terlihat banyak orang di sana yang menyaksikan moment mereka barusan.


Merengkuh tubuh mungil sang istri agar lebih merapat padanya, Kei menganggukan kepala sambil tersenyum ramah pada orang-orang di sekitarnya.


"Terimakasih bapak ibu atas dukungannya sebentar ini. Maaf bila menganggu kenyamanan dan kekhusyu'an ibadah bapak ibu semua. Perkenalkan saya Kei, dan ini istri saya Naya." Lelaki itu mengusap lembut punggung sang istri, berharap bisa membuatnya lebih nyaman.


Tidak mau meninggalkan prasangka buruk bagi orang-orang di sana, Kei sengaja memperkenalkan Naya langsung sebagai istrinya.


Tindakan impulsifnya barusan yang dengan berani mencium gadis di pelukannya di hadapan orang banyak, bisa jadi akan memunculkan pikiran negatif. Apalagi Naya berhijab rapi dengan niqab yang menutupi wajahnya.


Kei ingin menyampaikan pesan bahwa momen mereka barusan bukanlah ungkapan cinta dan pengajuan lamaran dari seorang pria yang ingin menikahi wanitanya, namun lebih kepada memperlihatkan sisi romantisnya sebagai seorang suami. Cie ... Cie ...


Setelah berpamitan, keduanya segera melangkahkan kali keluar dari mesjid.


Masih dengan jemari yang saling bertautan, Naya sengaja sedikit mendahului langkah Kei. Gadis itu seperti sedang menuntun Kei untuk mengikutinya.

__ADS_1


Kei tersenyum samar melihat tangannya yang seakan berada dalam genggaman gadis yang selangkah berjalan di depannya.


"Sayang ... sayang nak bawa Abang kemana? Tapi tak apa, Abang akan ikut je, kemana pun sayang akan bawa Abang."


Naya terkejut. Kesadarannya kembali pulih, ia berhenti melangkah dan sontak membalikan tubuhnya.


Terlihat Kei dengan senyum yang teramat menyebalkan di mata Naya. Menaik turunkan alisnya dengan tatapan yang menggoda Naya.


Aishh! Gadis itu segera melepaskan tangan Kei. Namun lelaki itu malah berbalik mengenggam tangannya erat seakan tak berniat untuk melepaskannya.


Naya membulatkan matanya sempurna, terlihat kekesalan di manik hitamnya. Tapi Kei sengaja mengabaikan penglihatannya.


"Nay semakin cantik kalo lagi marah. So, please ... Jangan buat Abang khilaf di sini ..." Berkata begitu Kei sengaja melangkah duluan dengan tetap mengenggam tangan sang pujaan hati.


Naya menghentakan kakinya, namun tak urung ia tetap mengikuti langkah panjang dan lebar Kei di depannya.


Setelah membukakan pintu mobil dan menyilahkan sang istri naik, Kei segera mengitari mobil dan naik dari pintu satunya.


Menghidupkan mesin mobil, sejenak Kei menatap sang istri yang masih dalam mode kesal dan marahnya.


Membuang pandangannya keluar jendela, Naya lebih memilih menatapi sekitarnya.


Aduh ...! Salah lagi gue! Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Kei menghela nafas panjang.


"Sayang, Abang gurau je ... Janganlah macam nih. Abang minta maaf, ya?" Kei menyentuh tangan halus Naya sambil merem-as lembut.


Gadis itu juga merasa sedikit heran, kenapa ia begitu moody hari ini. Suasana hatinya mudah berubah, sebentar senang dan gembira namun tak lama rasa kesal dan marah juga bisa datang tiba-tiba. Bahkan untuk hal yang sangat sepele sekalipun.


Padahal ia tahu pasti Kei hanya sedang bergurau dan berniat menggodanya dengan berbagai tingkah polanya. Aisshh ... Aku nih kenapa?


Naya memijit-mijit keningnya. Terlihat ia sedang berpikir keras. Sekarang tanggal berapa, sih? Aduh! Jangan-jangan ...?


"Jalan ... Nay lapar." Naya memilih mengeluarkan kalimat itu dengan tetap mengatupkan matanya.


Berusaha untuk mengurai kesal dan marah sang istri, Kei segera melajukan mobil tanpa menunggu kalimat permintaan atau perintah Naya berikutnya. Perintah? Eh!


Sambil berusaha untuk tetap fokus dengan jalanan di depannya, Kei sesekali melirik sang istri yang masih setia mendiamkan diri dengan mata yang terpejam rapat. Entah telah tidur atau sedang berpura tidur. Kei menggelengkan kepalanya, bibirnya melengkung, memulas sebuah senyum tipis.


Senyum Kei semakin bertambah lebar tatkala matanya beralih pada jari manis Naya yang tadi telah disematinya sebuah cincin.


"Makasih sayang. Sudah berkenan memberi Abang kesempatan." Bisik Kei lembut seraya mengusap lembut puncak kepala Naya.


Naya yang memang hanya sekedar memejamkan mata, dapat mendengar dengan jelas ucapan Kei.


Gadis itu menghela nafas sedikit panjang, berusaha menghalau ragu dan resah yang datang bersamaan.

__ADS_1


Ragu, apakah tindakannya mengiyakan permintaan Kei dengan memberi kesempatan lelaki itu adalah hal yang tepat? Tidak tergesa-gesa?


Mengingat sampai hari ini Naya belum mendengar apa tindakan Kei terhadap Nadia, istri kedua sang suami yang telah menculiknya beberapa hari yang lalu.


Semakin resah, karena salah satu niatnya memberi Kei kesempatan dan bersedia menerima lelaki itu adalah untuk merekatkan kembali hubungan sang suami dengan keluarga besarnya, terutama Tan Sri Abdul Hamid dan Puan Sri Latifah. Namun sepertinya tidak mudah. Naya kembali menghela nafas panjang.


Kei yang sedang memusatkan perhatiannya pada kemudi, melirik ke sampingnya. Lelaki itu dapat merasakan ketidaknyamanan sang istri.


Kei melambatkan laju mobilnya dan menepi di pinggir jalanan yang agak lengang. Membuka seatbelt, Kei menghela dan menghembuskan nafasnya sedikit kasar.


Naya yang masih larut dalam pikirannya, menautkan kedua alisnya saat mulai menyadari mobil mereka yang berhenti.


Mengalihkan pandangannya pada Kei, gadis itu menatap sang suami dalam tanya. Namun ia masih menunggu dalam diam, berharap lelaki itu memberinya penjelasan.


"Sayang, Abang tahu apa yang sayang pikirkan. Abang tahu semua keraguan dan keresahan sayang."


Naya semakin menautkan kedua alisnya dengan kening yang juga berkerut. What is he talking about?


"Maksud Abang?" Naya menatap Kei dengan pandangannya yang dalam.


Kei tidak langsung menjawab sang istri. Ia lebih memilih menatap Naya dengan pandangan yang lebih dalam. Duh, my princess ... Syaratmu ringan di kata namun berat di rasa.


"Memangnya apa yang Nay pikirkan?" Lama menunggu tanpa jawaban, Naya kembali bertanya.


Kei tersenyum hangat. Kembali mengusap kepala sang istri. Kemudian menekan lembut kening Naya dengan telunjuknya.


"Abang Kei, how could I love you so much. It's a crazy love! Dammn it! Ha...ha...ha... Itu kan yang sedang ada di kepala Nay sekarang? Ha...ha...ha..." Kei tergelak lepas sambil mencubit ringan pipi sang istri.


Naya ternganga dengan mata yang membulat sempurna. Tangannya terulur, berniat untuk meluncurkan cubitan-cubitan kecilnya.


Namun Kei lebih antisipatif. Lelaki yang biasanya datar, dingin dan jarang tertawa itu sudah duluan menangkap kedua tangannya dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Sayang, bila Abang akan meminta sayang, bukankah harusnya Abang minta Nay pada etek Zainab dan pak Ngah Zainal, kan?" Kei menjeda kalimatnya sejenak.


"Kenapa Abang harus minta Nay sama si Ratu Dram..." Ucapan Kei langsung terputus saat merasakan gigitan kecil di dadanya.


"Awwgh" Kei menatap Naya dengan pandangan tak terbaca. Naya terkesiap, menggeliat berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan kuat Kei.


"Kamu menggoda Abang, hemm?" Kei menggeram saat merasakan sisi liarnya sebagai lelaki mencuat tetiba.


Naya menggeleng kuat dengan sorot polosnya. Gadis itu kembali menggeliat dalam pelukan Kei yang membuat lelaki dewasa semakin frustrasi.


"Please, tenang sayang ... Jangan bergerak terus. Jangan membuat Abang semakin ... Aarrgghh!!" Kei merem-as rambutnya kuat.


...__________*****__________...

__ADS_1


KeiNaya hadir lagi ke ruang baca teman-teman semua. Selamat menikmati!


Jangan lupa like, comment dan vote hari ini, ya...


__ADS_2