
Flashback On
Puan Sri menatap lamat Afifah, sang putri. Mencoba mendalami penjelasan yang disampaikannya barusan.
"Are you sure, sweety?"
"Absolutely! Tentu saja Mama. Fah sangat yakin".
"Kalau macam tu, kita harus mengubah strategi, jalankan Plan B sekarang!"
"Iya, Mama. Itu juga yang dah Fah sampaikan sejak dulu. Kei bukan Ken. Mereka dua orang yang totally different!" Afifah menatap sang mama sejenak sebelum melanjutkan kembali kalimatnya.
"Kei itu paling tidak bisa ditekan, Mama. Dia seperti kita main basketball, semakin kuat kita menekan bolanya, maka dia akan semakin melambung tinggi, jauh meninggalkan kita".
Puan Sri Latifah terdiam. Perempuan paruh baya itu tercenung mendengarkan analogi yang disampaikan sang putri.
Bertahun ia 'meninggalkan' Kei. Membiarkan sang putra berjalan sendiri, mengambil persimpangan yang berbeda tanpa panduan, berharap suatu hari mereka akan bertemu di jalan yang sama.
Namun masa berlalu, musim berganti. Kei seperti tersesat tak tahu jalan pulang. Putra lelakinya itu seakan semakin menjauh, tenggelam dalam dunianya sendiri.
Adalah Ken, putra lelaki satunya lagi, anak bungsu mereka, yang sentiasa menjadi penawar bagi seorang Puan Sri Latifah.
Ken, seorang anak lelaki yang selalu bisa membuatnya bangga sebagai orang tua. Ken yang tidak pernah membantah, yang senantiasa menuruti semua kemauan mereka.
Ken, putranya yang punya segudang prestasi di sekolahan, dari juara kelas hingga juara di bidang olahraga. Menjadi utusan sekolahnya mengikuti kegiatan Kapal Pemuda ASEAN, hingga kemudian kuliah ke Inggris dengan full scholarship. Orang tua mana yang tidak bangga?
Namun Kei? Jauh panggang dengan api. Seorang Kei Hasan adalah antitesa dari Ken Husein, sang adik. Dua pribadi yang bertolak belakang.
Kei selalu melakukan apa yang ia suka, tidak begitu ambil pusing dengan sekelilingnya. Bagi seorang Kei, tidak ada yang bisa mengatur hidupnya, kecuali dua saja. Allah dan dirinya sendiri!
__ADS_1
Kei mungkin mau jika sekedar untuk mendengarkan orang lain, namun bukan berarti automatically ia akan melakukan apa yang diminta orang tersebut. No! Big no!
Di mata seorang Puan Sri Latifah, Kei adalah pribadi yang keras kepala, tanpa mau mengalah. Ia selalu melakukan sesuatu yang dianggapnya benar, meski hanya ia sendiri yang melakukan hal tersebut.
Bila Kei sudah mengatakan 'No', maka jangan berharap lagi ia akan mengatakan 'Yes', sampai kapanpun. Nampaknya prinsip Kei itu masih berlaku hingga sekarang. Ah, entahlah.
Puan Sri menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali seraya menghela nafas panjang. Tak lama kemudian perempuan yang sudah tidak muda lagi, namun sentiasa terlihat cantik itu memijit-mijit kepalanya yang terasa sedikit berat.
Afifah yang sedari tadi memperhatikan sang mama, terkesiap. Calon ibu muda itu bangkit dari duduknya, mendekati sang mama.
"Mama, are you okay?" Afifah perlahan juga memijat lembut kepala sang mama.
"Sure! No need to worry, dear. I am truly okay. Mama hanya sedikit cemaskan Naya. Mama tidak mau dia jatuh dalam perangkap Kei", lirihnya hampir tak terdengar.
"What do you mean, Mama?" Afifah menautkan alisnya mintà penjelasan lebih rinci.
"Yaaahh, Mama takut saja bila Kei kembali berusaha mendekati Naya, hanya untuk mempermainkannya. Mama tidak mau Naya terjatuh semakin dalam. Kasihan anak itu". Mata Puan Sri berkaca, perlahan buliran bening itu mulai mengaliri wajahnya yang terlihat tetap cantik.
"Mama, Naya itu bukan budak kecik lagi, dia tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi seorang Kei. Mama tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya", lanjut Afifah.
"Dia pribadi yang sangat tangguh, Mama. Terbukti Naya bisa bertahan sampai detik ini. Fah yakin, Naya akan melakukan serangan balik, bila memang Kei tidak bisa diajak 'berdamai'." Afifah tersenyum penuh arti.
"Ya, Mama juga bisa merasakan, di balik sikapnya yang lembut dan terlihat polos, tersimpan kekuatan yang mama yakini bisa merubuhkan benteng pertahanan Kei, bahkan menyerang balik si perempuan itu." Puan Sri jelas terlihat enggan menyebut nama Nadia Jefferson, kekasih yang kemudian menjadi istri kedua Kei.
"Well, deal! Kita jalankan Plan B. Kamu hubungi Andrian sekarang, sudah saatnya dia harus melibatkan diri dalam lv-cp's project ini. Dia harus tahu, siapa kali ini yang harus didengarnya, Mama atau Kei?!"
Flashback Off
Mobil sport putih yang dikendarai Afifah berhenti tepat di sebuah persimpangan.
__ADS_1
Kei yang berada persis di belakang mobil Afifah, pun serta merta menghentikan laju kendaraannya. Bukit Batu Putih Tanjung Tuan. Kei membaca plang yang berdiri kokoh di tepi jalan.
Bukit Batu Putih adalah sebuah destinasi wisata populer di Negeri Sembilan. Sebenarnya Bukit Batu Putih sendiri masuk ke dalam wilaya Melaka, namun karena lokasinya yang dekat dengan Port Dikson, sehingga orang-orang lebih mengenalnya sebagai Bukit Batu Putih Port Dickson.
Kei berdecak kesal. Apakah dua orang perempuan berkuasa di trah kerajaan Tan Sri Abdul Hamid ini akan memintanya untuk hiking?
Keluarga besar Puan Sri Latifah memang memiliki tanah warisan turun temurun di area yang berdekatan dengan tempat wisata tersebut.
Di tanah itu keluarga Kei membangun beberapa villa sebagai tempat peristirahatan. Di sana pula nenek moyang Puan Sri membangun area pemakaman khusus keluarga besarnya. Ken Husein dan kedua orang tua Naya juga dimakamkan di sana.
Di sini juga lah tempat peristirahatan terakhir Ken beserta pak cik Zain dan mak cik Dijah!
Seketika Kei tergidik. Kenapa mama dan kakaknya membawa Kei ke sini? Apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan?
Kei keluar dari mobilnya ketika melihat Afifah dan mamanya juga telah keluar dari mobil mereka masing-masing.
Berjalan mendekati kedua perempuan yang sebenarnya amat sangat disayanginya itu, Kei memindai sekitarnya. Mencoba menelisik segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kei tahu, dia sedang berhadapan dengan siapa sekarang. Bila menjauhkan Naya darinya selama lima tahun ini dianggap belum cukup oleh seorang Puan Sri Latifah, bisa jadi kali ini Kei yang harus dihilangkan dari kehidupan seorang Kanaya Khairunnisa! Masa sih? Ah, lebay lu, Kei!
Sembari melangkah, Kei menoleh ke sisi kanannya. Toyota Alphard SC milik sang mama terparkir di sana, dengan Putra yang masih berada di belakang kemudi. Sepupu Kei yang sekaligus merupakan asisten Puan Sri itu terlihat santai dengan hembusan asap rokoknya yang bergulung-gulung di udara.
Dam-n it! Kei merutuk sendiri. Ia seperti pesakitan yang sedang menuju vonis, menunggu apa yang akan dititahkan oleh kedua perempuan di depan sana.
Kei melangkah semakin dekat sambil terus berpikir, mencari upaya untuk bisa keluar dari tekanan yang sedang menghimpitnya.
Selangkah berada di depan Afifah dan Puan Sri Latifah, sayup Kei mendengar deru mesin helikopter.
Seketika lelaki gagah putra mahkota di keluarga Tan Sri Abdul Hamid itu menengadahkan kepalanya. Terlihat sebuah helikopter dengan lambang khusus milik keluarga besarnya, bergerak di atas kepala mereka, mencari tempat untuk landing.
_________*****_________
__ADS_1
To be continued