
"Setelah selesai semua acara di sini, nanti sore kita kembali ke KL untuk persiapan press confrence, esok pagi!"
Uuhuukk!!! What?!
Naya tersedak, padahal belum minum dan makan apapun. Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap penuh tanya pada tek Za yang duduk tepat di seberangnya.
"Iya, hari ini kita akan mengadakan acara, manaiki rumah jo badu'a syukuran saketek (menaiki atau memasuki rumah baru dan do'a syukuran kecil-kecilan). Kita akan mamangia urang kampuang (mengundang secara lisan para tetangga dan orang-orang sekampung), sekalian pertemuan keluarga besar. Etek ingin memperkenalkan Kei dan keluarganya secara resmi kepada para handai taulan kita di sini. Apalagi kamu, orang-orang sini kan belum mengenal kamu." Tek Za menjelaskan diiringi oleh senyum yang menghiasi wajah cantik keibuannya.
"Bahkan mereka lebih mengenal Kei dibandingkan kamu," lanjut tek Za sambil melirik Kei yang ternyata tengah mendengarkan pembicaraan mereka dengan seksama. Sesekali pandangannya juga mengarah kepada Naya.
"Ya, nanti pak Ngah Zainal dan keluarga besar almarhum ayah Zain juga akan hadir. Tadi etek kamu sudah menghubungi mereka. Tapi baiknya, sebelum mereka datang kesini nanti siang, kamu dan Kei yang duluan berkunjung kesana setelah makan pagi nih, ya?" Pak etek Rul ikut menimpali.
"Iyo, sebagai pertanda bahwa Nay pulang kampung, jadi pai manjalang ka rumah bako (pergi berkunjung ke rumah keluarga ayah, sebuah tradisi pada masyarakat Minang pada saat hari Raya ataupun pulang dari rantau). Nanti etek yang akan menemani kamu dan Kei berkunjung kesana." Terang tek Za.
"Iya. Baik, tek." Naya mengiyakan sambil menganggukan kepalanya.
Bagi gadis itu memang banyak hal yang patut untuk disyukuri. Bisa pulang dan menjejak langsung negeri kelahiran Ayah Zain dan Bunda Dijah adalah salah satu nikmat yang tak terkira. Bertahun memendam rindu, akhirnya hari itu datang jua.
Hubungan Kei dan keluarganya yang sudah mulai mencair, apalagi dengan sang mertua perempuan, Puan Sri Latifah. Harapan yang disandangkan di pundaknya oleh tiga perempuan beda generasi di keluarga Kei terhadapnya, nenek Syarifah, Puan Sri Latifah dan kak Afifah.
Naya tersenyum samar. Sedikit mengangkat kepalanya, gadis itu melirik satu persatu orang-orang yang barusan hadir di lintasan pikirannya. Alhamdulillah, ucapnya di dalam hati.
Saat kembali mengangkat kepalanya, mata Naya langsung bersirobok dengan sepasang mata yang ternyata sedang menatapnya dalam dan lekat. Senyum menghiasi wajah maskulinnya, bahkan berpendar hingga ke matanya. Kei!
Lelaki yang duduk disamping kiri tek Za itu masih belum memutus tatapannya, sehingga Naya segera menundukan pandangannya. Bagaimana tidak? Kei mengedipkan matanya dengan ekspresi sedikit nakal. Ish apaan, sih? Kang modus yang satu ini perlu disyukuri juga ngga, sih???
...*****...
"Malam ini pukul 00.00 kita kumpul di camp! Pastikan semuanya hadir!"
" ..... "
"Ya, lepas Maghrib nih, I langsung berangkat menuju KL."
__ADS_1
" ..... ?"
"Sure! Keep watching on them! Sedikit apapun pergerakan mereka, segera laporkan! Aku tidak mau kecolongan lagi seperti di Teluk Rhu kemarin. Nyawa istriku taruhannya!"
" ..... "
"See you tonight!" Kei langsung memutus panggilannya saat mendengar langkah kaki mendekati tempatnya saat ini.
Berdiri di balkon kamar dengan posisi membelakangi pintu masuk, dari aroma alami yang menguar dan tertangkap oleh penciumannya, Kei sangat yakin bahwa yang baru saja memasuki kamar dan sedang menuju tempatnya berdiri sekarang adalah Naya, sang istri.
Kei langsung membalikan tubuhnya dan menyongsong kehadiran Naya.
Terlihat wajah cantiknya mendung berawan. Kegundahan membayang jelas di matanya.
"Kenapa? Masih belum yakin, nak balik KL? Nay masih ingin semalam lagi di sini?" Berondongan pertanyaan Kei menyambut kedatangan sang istri.
"Press confrence-nya besok pukul 10.00 pagi, berarti masih terkejar untuk berangkat ke KL sekitar pkl 7 besok pagi. Jadi kalo Nay masih ingin di sini untuk malam ini, ngga apa-apa. Abang akan meminta Mama untuk menunda jadwal pulangnya hingga besok pagi." Kei kembali berusaha meyakinkankan Naya.
"No! Ini bukan masalah jadwal balik KL, tapi ..." Terlihat keraguan di mata bening gadis itu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Nay hanya ..." Masih ragu melanjutkan kalimatnya, gadis itu malah menatap sang suami sedikit lebih lama. Sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.
"Are you sure to do this?! Abang yakin dengan Abang ambil keputusan sorang-sorang je tanpa melibatkan Nay??? Apakah suara Nay tidak diperlukan sa...!" Kalimat protes Naya terputus oleh jari telunjuk Kei yang sudah lebih dulu hinggap di bibirnya.
"No, sayang! Don't say that! Udah, jangan teruskan lagi. Biar Abang jelaskan!" Sanggah Kei dengan tegas.
Tangannya membimbing sang istri, perlahan melangkah menuju tempat tidur yang berada tepat di tengah-tengah ruangan kamar.
Mendudukan Naya di pinggir tempat tidur, Kei kemudian duduk berjongkok. Tangannya mengenggam erat kedua tangan mungil Naya.
"Sayang... Pertama, bila sayang tanyakan keyakinan Abang, maka detik ini Abang sampaikan bahwa Abang sangat-sangat yakin. So, sayang tidak perlu ragukan keyakinan Abang. I am absolutely sure!" Kei berusaha meyakinkan Naya lewat pandangan matanya yang lekat menatap gadis itu.
"Yang kedua, ini bukan keputusan Abang sorang-sorang, tapi merupakan hasil kesepakatan dua keluarga. Kita sudah duduk bersama, membicarakan banyak hal. Mereka meragukan kesungguhan Abang terhadap sayang, menuntut Abang untuk tunjuk komitmen. Maka, inilah salah satu bentuk komitmen Abang, mengumumkan pernikahan kita secara resmi kehadapan publik!"
__ADS_1
Naya masih diam, mendengarkan penjelasan lelaki yang sedang duduk berjongkok di hadapannya.
"Maaf, Abang tidak meminta pendapat Nay karena bagi Abang, memberitahu pernikahan kita kepada khalayak ramai adalah komitmen Abang, salah satu bentuk kesungguhan hati Abang untuk memperbaiki semuanya. Namun bila ternyata langkah Abang ini membuat Nay tidak nyaman, merasa diabaikan, sekali lagi Abang minta maaf. Maaf juga karena Abang tidak bertanya dulu pada Nay. Tapi satu hal yang pasti, apapun yang Abang lakukan adalah untuk Nay, untuk kita!" pungkas Kei tegas.
"So, please ... Jangan lagi ragukan Abang, okay?!" Kei meremas lembut tangan sang istri yang masih berada dalam genggamannya, berusaha menyalurkan keyakinan lewat genggamannya.
"Sekarang kita turun. Semuanya pasti sudah menunggu. Abang takut, semakin lama di sini, Abang bisa khilaf. Kecuali ..." Kei sengaja menjeda kalimatnya dengan tatapan penuh goda.
"Kecuali Nay memang menginginkan kekhilafan Abang." Lanjut Kei membisik nakal.
Naya membulatkan matanya seraya menarik cepat kedua tangannya yang masih berada dalam genggaman kuat tangan Kei.
Kei tersenyum. Membiarkan tangan mungil itu terlepas dari genggamannya. Bangkit perlahan, ia menghela Naya untuk beranjak meninggalkan kamar tidur utama di rumah baru mereka.
Naya hanya menurut saja saat helaan Kei menuntunnya menuju pintu keluar kamar. Beberapa langkah lagi akan sampai di pintu, tetiba Kei membalikan tubuhnya.
Gerakan tiba-tiba Kei tidak dapat diantipasi dengan baik oleh Naya. Gadis itu menubruk keras tubuh kokoh di depannya. Hidung mungil Naya tepat menyentuh dada bidang berbalut kaos hitam body fit yang dipakai Kei.
Kei tersenyum penuh arti. Sambil sedikit menundukan kepalanya, lelaki itu kemudian menyentuh dagu mungil sang istri.
Kei menengadahkan wajah cantik itu. Menatapnya lekat, tepat di manik coklat milik Naya.
"Give me a little sweet moment in here, please? An unforgetable moment!"
Tanpa menunggu jawaban sang istri, Kei langsung melabuhkan bibirnya pada kelopak mawar merah milik Naya yang setengah terbuka.
Detik demi detik berikutnya adalah waktu-waktu penuh berkah, mengecap manis madu dalam cawan halal ijab kabul.
..._________*****_________...
To be continued
Alhamdulillah, KeiNaya hadir lagi. Terus dukung, ya?
__ADS_1
Happy reading!