
"Look, Puan Sri! I warn you for the last time! This is about me and Naya. Not you at all! So, please ... Don't interfere us too much! Tolong! Jangan terlalu jauh turut campur!" Kei bicara dengan nada yang kembali meninggi.
"Kei, behave well! Jaga sikapmu! Apa kau lupa, kau sedang bicara dengan siapa?!" Afifah membentak luga. Matanya memerah menahan amarah yang siap untuk meledak.
Sikap dan cara Kei baginya sudah keterluan. Afifah tidak terima.
"Of course I am not. I won't forget! Aku sangat tahu, siapa yang sedang berbicara dengan ku saat ini. Puan Sri Latifah yang amat berhormat! Segala katanya adalah titah, yang tak tersanggah, tak terbantah!" Kei berucap penuh sarkas, diiringi bibirnya yang melengkung sumbang, membentuk sebuah senyum sinis.
"Kei Hasan!" Afifah kembali membentak dengan suara tingginya.
"Kenapa?! Apa aku salah? Tidak kan? Puan Sri Latifah, seorang yang sanggup berbuat apa saja, untuk memastikan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya!" Kei kembali melempar kalimat sarkastisnya.
"Listen! Bila sampai terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan Naya, aku pastikan kalian tidak akan pernah melihatnya lagi. Aku akan membawanya jauh dari kalian semua. Lima tahun ini, Puan Sri berjaya membuatku tidak bisa mendekatinya. Namun aku pastikan, jika sesuatu yang buruk berlaku pada istriku sekarang, aku akan membawanya pergi menghilang dari pandangan Puan Sri. Jaga! Bersiaplah untuk rela tidak akan melihatnya lagi, Puan Sri!" Kei menekankan setiap kata demi kata yang meluncur tegas dari lisannya.
Puan Sri menatap sang putra dengan pandangan tajam dan dalam.
"Oh, really?! What if you, yourself who made her in this trouble?! Bagaimana bila kau sendiri yang menyebabkan semua kekacauan ini? Bagaimana bila ternyata semua masalah ini terjadi karena dirimu? Kau yang selalu membawa masalah pada menantuku. Apa yang akan kau lakukan Kei Hasan Abdul Hamid?! Apa kau jua bersedia untuk melakukan hal yang sama?!" Puan Sri tersenyum sinis, melangkah perlahan mendekati Kei. Dekat tanpa sekat. Menyentuh pelan dada Kei seraya melanjutkan kalimatnya.
"Apa kau siap untuk melepasnya? Menjauh selamanya tanpa perlu merasa terkicuh? Melepas dengan rela tanpa harus merasa direnggas paksa?!"
Kei tercekat. Tubuhnya seketika menegang. Ia seperti baru dilemparkan dari ketinggian tak hingga.
__ADS_1
Lelaki berahang kukuh, pewaris Tan Sri Abdul Hamid's Kingdom itu terdiam.
"What do you mean, Puan Sri? I have no idea!" Kei berusaha keras melepaskan sesak yang tetiba menyerang pernafasannya. Sebongkah karang besar seakan sedang menghimpitnya.
Puan Sri kembali tersenyum tipis namun tetap sinis.
"You know what I mean. Don't be so stupid, boy! Kau tahu pasti apa yang sedang aku bicarakan!" Puan Sri menatap Kei dalam, sembari menepuk pelan pundak putranya itu.
"Bersiaplah untuk menghilang dari kehidupan Naya kami. Karena sekarang, bukan aku yang akan menghilangkannya dari pandanganmu, namun kau yang akan menghilang dengan sendirinya dari pandangan Naya kami!" Puan Sri tersenyum tipis, namun mengiris bagi seorang Kei Hasan.
Kei merasa seakan sedang terjebak dengan perangkap yang dibuatnya sendiri. Tekanan maha dashyat seakan sedang membelenggunya sekarang.
Namun bukan Kei Hasan namanya, bila ia tak mampu membebaskan diri.
Afifah yang sedari tadi hanya mampu diam, sambil menyimak dua orang terkasihnya sedang psy war, perang urat syaraf.
Ketika keduanya tidak ada yang mau mengalah, saling merasa paling benar. Lalu apa yang bisa dilakukan seorang Afifah?
Perempuan cantik itu hanya menggeleng-geleng dalam diam. Namun dua kata yang digaris bawahinya dari perdebatan tanpa ujung sang adik lelakinya dan mama mereka.
'Kesayanganku' dan 'Naya kami'. Mhem... Sama-sama posessive dalam mencinta.
__ADS_1
"Well, have we made a deal, boy?" Kembali Puan Sri bersuara.
"Kita sepakat kan, boy?!". Puan Sri masih dengan kalimat penuh intimidasinya.
Kei masih terdiam, menatap the queen of drama di depannya. Dua kali panggilan 'boy' mendenging di telinganya.
Lelaki dewasa itu berdecak kesal seraya memutar bola matanya. I'll show you that I am a man, Puan Sri! Aku bukan bocah kecil!
"Upss, sorry! Man ... I mean! Ini kesepakatan antara dua orang dewasa, kan?" Puan Sri menekankan kata 'man' masih dengan gaya sarkastisnya.
Tiba-tiba gawai di genggamannya berdering nyaring tanda panggilan masuk. Puan Sri terlihat sangat marah. Matanya langsung beralih kembali pada Kei, sang putra.
Matanya semakin tajam dan menukik sekarang.
"Aku pastikan, kau akan segera menghilang dari kehidupan Naya!"
..._________*****_________...
*To be continued
Hei...hei Kei dan Naya dah datang. Sekarang tinggalkan banyak comment ya. Yang belum favorite, yuk jadikan favorite. Biar aq semangat up siang nanti..π
__ADS_1
Sambil nunggu, yuk pantengin yang satu ini ππΌππΌ*