Di Ujung Sayap Rindu

Di Ujung Sayap Rindu
Nadia Jefferson; Mengenali Lebih Dekat


__ADS_3

Nadia Jefferson, gadis cantik blasteran Indonesia-Irlandia. Ayahnya, Edbert Jefferson seorang diplomat Inggris yang pernah bertugas di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan menyunting Alina Abyasa, seorang perempuan berdarah Jawa-Manado.


Nadia lahir di Singapura saat ayahnya bertugas disana, namun besar dalam asuhan neneknya dari pihak ayah yang menetap di Manchester, Inggris.


Gadis cantik lulusan Imperial College London ini sebenarnya adalah sarjana ekonomi, namun sedari kecil ia yang sudah tertarik dengan dunia modelling, lebih memilih untuk menekuni hobbynya.


Mewarisi darah Eropa dan Asia di tubuhnya, menjadikan sebuah perpaduan kecantikan yang unik dalam diri seorang Nadia Jefferson. Tingginya yang 170 cm dengan bentuk tubuh yang proporsianal, mata biru khas Eropa dengan rambut gelap dan kulit putih sedikit kecoklatan khas Asia sukses menjadikan dirinya warawiri menghiasi sampul majalah-majalah mode di Inggris dan dikontrak beberapa perusahaan iklan untuk beragam produk sejak masih duduk di Secondary School.


Nadia Jefferson tidak hanya seorang catwalk model yang berjalan di red carpet, ia juga menjadi brand ambassador dari beberapa produk kosmetik.


Perjalanan Nadia mengunjungi kedua orang tuanya yang menetap di Jakarta sambil berkelililing ke beberapa tempat wisata di Indonesia enam tahun yang lalu menjadikannya jatuh cinta dengan negeri kelahiran ibunya.


Selama satu tahun ia sering bolak balik Jakarta-London untuk menyelesaikan beberapa kontrak kerja, hingga suatu hari di bulan November saat ia menyempatkan diri menghadiri Jakarta Fashion Week, sebuah pameran mode tahunan terbesar di Asia Tenggara, Nadia bertemu dengan lelaki yang membuat jantungnya berdebar kencang saat bertatapan. Lelaki berahang kukuh yang tidak banyak bicara itu berhasil menarik perhatiannya. Lelaki muda bernama Kei Hasan, yang kemudian diketahuinya sebagai salah seorang putra dari pengusaha kaya raya asal Malaysia, Tan Sri Abdul Hamid.


Pertemuan kedua mereka terjadi saat Nadia menghadiri pesta ulang tahun temannya di sebuah klub malam, di pusat kota London. Kei yang sedang melakukan business trip di Eropa, kebetulan juga sedang mengabiskan malam di sana bersama dengan teman-temannya sesama pengusaha muda.


Nadia Jefferson, seorang gadis metropoฤบis yang biasa hidup bergelimang dunia gemerlap. Keluar masuk night club bukanlah sesuatu yang tabu baginya, baik untuk urusan kerja maupun sekedar hang out dengan teman-temannya.


Namun ada dua hal yang senantiasa dihindarinya selama ini, minuman beralkohol dan free s***x.


Nadia mungkin dianggap konservatif bagi sebagian besar temannya, namun tak sedikit yang juga menghargai prinsipnya.


Namun malam itu ternyata adalah malam kesialannya. Nancy, temannya sesama model di sebuah agensi yang menaungi mereka sengaja merecokinya dengan minum alkohol berkadar tinggi dengan rasa blueberry. Nadia yang memang buta dengan rasa minuman beralkohol, langsung meneguk saja saat temannya itu meyakinkannya bahwa minuman tersebut adalah jus buah rasa bluebery. Meski sedikit kaget ketika merasakan minuman itu agak menggigit lidahnya, Nadia menghabiskan minuman yang disajikan dalam gelas ukuran kecil itu.


Nadia baru menyadari bahwa telah dikerjai temannya, saat tubuhnya serasa seringan kapas dengan pandangan yang mulai mengabur. Orang-orang mulai terlihat mendua dalam pandangannya.


Nadia mengutuki kecerobohannya, biasanya ia tidak pernah mau menerima minuman dari sesiapapun, kecuali dia sendiri yang minta langsung ke waitress.


Namun Nadia tidak mau memperlihatkan kebodohannya karena telah berhasil diperdaya oleh temannya malam itu. Dengan langkah perlahan, gadis yang saat itu berusia 22 tahun itu berjalan menuju toilet. Di sana Nadia berusaha memuntahkan kembali cairan yang sudah diminumnya dengan memasukan jari-jarinya kedalam mulut, sejauh yang ia bisa.


Usahanya sedikit berhasil, ia muntah meski tidak semua cairan bisa ia keluarkan. Ketika merasakan efek mabuknya semakin memburuk, Nadia dengan terseok berusaha untuk keluar dari klub tersebut. Ia sengaja keluar tidak melewati pintu utama untuk menghindari teman-temanya.

__ADS_1


Nadia berhasil sampai di parkiran saat tubuhnya terasa semakin melayang ringan. Tanpa memastikan dulu mobil yang akan dimasukinya, tangan Nadia langsung menarik handle pintu depan mobil dan masuk, sebelum akhirnya ia ambruk di sana.


Semalaman Nadia tidak sadarkan diri. Ia baru membuka matanya saat sayup-sayup telinganya menangkap suara, yang baginya terdengar merdu dan sering didengarnya bila melewati tempat ibadah orang-orang Muslim.


Nadia melebarkan matanya, mencoba memindai suasana di sekelilingnya. Gadis yang jiwanya belum sepenuhnya terkumpul itu semakin membulatkan matanya saat sudut netranya menangkap sesosok tubuh tegap bersandar di badan mobil membelakanginya.


Nadia tersentak kaget, sontak tangannya meraba tubuhnya sendiri.


What a hell! What was going on with me?!


Nadia sontak memeriksa sekujur tubuhnya, mencoba menilik rasa yang berusaha dikenalinya, terutama daerah intimnya. Ia memang belum pernah mempunyai pengalaman berhubungan intim, namun tentu saja ia bukanlah gadis lugu yang sama sekali buta tentang itu. Ia memang relatif free of alcohol, drug and free s**x, namun ia tempat curhat bagi teman-teman perempuannya yang sebagian besar telah pernah mencoba hal tersebut.


Sekali lagi Nadia mencoba meraba bagian-bagian intim di tubuhnya, dan ia tetap merasa normal saja, hanya kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.


Gadis cantik itu terjingkat kaget saat secara tiba-tiba pintu depan mobil bagian kemudi dibuka secara tiba-tiba.


Sebuah wajah datar muncul di sana, menatapnya sekilas kemudian mendudukan dirinya di depan kemudi.


"You slept very well".


Tidur sangat nyenyak! Bagi Nadia itu lebih kepada sindiran halus. Sudah jelas ia pingsan semalaman, bukan tidur nyenyak!


Nadia tersenyum kecut, apakah lelaki di depannya ini sedang berpura tidak mengenalinya?


"Maaf, telah merepotkan anda, pak Kei", Nadia tersenyum canggung sambil melirik Kei Hasan, lelaki muda yang semalam telah menyelamatkannya.


Nadia tidak bisa membayangkan hal mengerikan yang bisa saja dialaminya bila semalam ia ditemukan oleh lelaki hidung belang yang sudah pasti banyak berada di klub malam seperti itu.


"Well, where should I take you now?


Kalimat yang datar namun kembali berupa sindiran yang teramat halus bagi telinga seorang Nadia Jefferson, seakan lelaki di depannya adalah supir taksi.

__ADS_1


"No! You didn't need to do that. Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri, and thank you so much for everything" tolak Nadia halus. Cukup sudah merepotkan lelaki di sampingnya.


Kei hanya diam, wajah datarnya tak bergeming.


"Just give me your address, please", kalimat pelan Kei penuh tekanan. Seakan menegaskan ia tidak menerima penolakan.


Nadia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyebutkan alamat apartemennya.


Masih dengan mode irit bicaranya, Kei melajukan mobilnya menuju alamat yang disebutkan Nadia.


Sebagai orang yang pernah menghabiskan waktu selama tiga tahun di London semasa kuliah dulu, Kei tidak mengalami kesulitan menemukan alamat apartemen Nadia. Apalagi Kei orang yang menyukai kebebasan, ia lebih suka menyetir sendiri dari dulu dari pada disupiri, kecuali di saat-saat tertentu, sehingga ia dengan cepat mengenali daerah sekitarnya.


Tidak sampai dua puluh menit, merekapun sampai. Nadia menoleh sejenak Kei yang ternyata juga sedang menatapnya. Hanya sekilas, kemudian mereka saling mengalihkan pandangan.


"Mhm ... Sekali lagi terimakasih pak Kei. Terimakasih banyak untuk bantuan anda yang semalam dan pagi ini. Bukan bermaksud untuk membalas kebaikan anda, tapi saya bisa menjadi tour guide anda selama di London jika anda butuh", Nadia kembali menoleh ke arah Kei.


Kei tersenyum teramat tipis, hingga Nadia tidak menyadarinya. Gadis itu hanya menangkap ekspresi datar seorang Kei Hasan, seolah dia tidak mendengar apa-apa.


Tak ingin berlama seakan menunggu jawaban dari Kei, Nadia segera turun. Ia mengangukan sedikit kepalanya sebagai ungkapan pamit dan terimakasih kepada Kei. Belum sempat ia mengangkat kembali kepalanya, Kei dengan sudah menghilang dari pandangannya.


Entahlah. Gadis itu merasa ada sesuatu yang hilang sekaligus hadir dalam hatinya. Duh, hati ada apa denganmu?


Tanpa sadar Nadia meraba dada sebelah kirinya. Di sana, ada detak yang entah kenapa terasa menyentak.


...***...


To be continued


Kasih comment dong, biar otor semangat untuk up lagi sore nanti, biar triple gitchu..๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€


Mohon berkenan untuk memberikan like, vote dan comment ya, biar authornya tambah semangat untuk update tiap hari...๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š Love you all.

__ADS_1


__ADS_2