
Keindahan Saujana Beach yang terbentang di hadapannya ternyata tak mampu mengalihkan perhatian Kei dari Naya. Lelaki itu lebih memilih fokus pada keindahan sejati di dekatnya sambil menikmati getaran-getaran halus di dadanya.
Kedua makhluk Tuhan yang sebenarnya masih saling meragu, dan belum sepenuhnya yakin dengan hati dan perasaan masing-masing itu, nampak menikmati kebersamaan mereka.
Kei masih menyandarkan dagunya di bahu Naya, sementara lengannya mendekap erat Naya yang ada dalam pelukannya.
Naya memejamkan matanya, mencoba mengenali desiran-desiran aneh yang muncul di sudut hatinya. Takut, cemas dan nyaman berkumpul, menjelma menjadi satu.
Ting ting!
Denting bel apartemen menyadarkan keduanya.
Naya bergerak, berusaha melepaskan diri dari dekapan Kei. Namun lelaki tersebut belum melonggarkan dekapannya sedikitpun.
Naya mendonggakkan kepalanya. Mata bulatnya bertemu dengan manik hitam kelam Kei yang juga tengah menatapnya, dalam.
Naya segera mengalihkan pandangannya saat menangkap sesuatu yang lain di manik hitam itu.
"Mhm ... Bang Kei, ada yang datang. Please ... Nay mo buka pintunya", Naya memohon dengan suara memelasnya.
Kei tersenyum kecil. Melonggarkan dekapannya sambil membalikkan tubuh gadis itu.
"Biar Abang saja yang buka, kamu segera mandi gih, tadi belum jadi mandi, kan?" ujar Kei seraya mencuri sebuah kecupan ringan di puncak kepala Naya.
Tak mau melewatkan kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya sedari tadi, Naya bergegas melepaskan diri dari Kei. Tubuh munggilnya bergerak ringan menuju kamar mandi. Berdekatan begitu intim dengan Kei beberapa jam ini sudah membuatnya gerah. Gerah raga, gerah jiwa.
Fiuwwhh! Naya menghembuskan nafas lega sesaat ketika sudah berada di dalam kamar mandi dan langsung Naya mengunci pintu dengan rapat sambil memulai ritual mandinya.
Sementara itu, Kei di pintu apartemennya sedang menerima dua buah paper bag dari kurir yang mengantarkan pesanannya. Kei tersenyum kecil ketika menaruh satu paper bag yang berisi makanan dan menenteng satu lagi menuju kamar tidur.
Sambil menunggu Naya yang masih di kamar mandi, Kei membuka gadgetnya. Terlihat notifikasi dua puluh tujuh panggilan tak terjawab dan beberapa kotak pesan baru di sana.
Kei yang tadi sengaja menonaktifkan gadgetnya setelah melakukan panggilan, segera mengaktifkannya kembali. Tidak lama kemudian terdengar gemerinting nada silih berganti menandakan pesan masuk.
Dari sekian banyak kotak pesan yang masuk, ada beberapa pesan dari satu nomor yang telah lama dihapus Kei dari daftar kontaknya, namun masih dikenalnya dengan sangat baik.
Kei tersenyum kecil. Perlahan jempol tangannya menyentuh nomor tersebut untuk membuka pesannya.
Kalian di mana?!
__ADS_1
Kei masih dengan senyum kecilnya membuka pesan ke dua, masih berupa kalimat singkat.
Kamu bawa kemana Naya?!
Kei berdecak sambil memutar bola matanya, namun jempolnya kembali membuka pesan berikutnya dari nomor yang sama. Kali ini kalimat pesannya cukup panjang.
Jangan terpikir untuk berbuat macam-macam dengan Naya! Apa pembicaraan kita yang semalam belum jelas?! Cukup lakukan satu hal saja, LEPASKAN NAYA SECARA BAIK-BAIK. Itu lebih TERHORMAT bagimu sebagai seorang lelaki!!
Kei menggeleng-gelengkan kepalanya demi melihat kata-kata tertentu yang sengaja dicaplock. Manik hitamnya menatap lekat barisan kalimat-kalimat pedas penuh intimidasi itu.
Puan Sri, bukankah semalam aku juga sudah menegaskan kalau itu tidak akan pernah berlaku?!! Aku TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKAN SESUATU YANG SUDAH MENJADI HAK-KU!!
Kei mencengkram kuat benda persegi panjang dalam genggamannya. Matanya berkilat penuh amarah. Nafasnya sedikit tersengal menahan gemuruh di dadanya.
Kalimat balasan yang sudah diketik, sengaja dihapusnya kembali.
Prraanngg!
Kei melempar asal benda persegi tersebut.
Naya yang baru keluar dari kamar mandi tertegun menyaksikan Kei yang melemparkan gadgetnya kesembarang arah.
Naya melangkahkan kakinya perlahan menuju Kei. Memberanikan diri, gadis cantik yang hanya memakai bathrobe dengan lilitan handuk putih di kepalanya itu menyentuh lengan Kei lembut.
"Bang, Nay lapar. Ada makanan, tak?"
Naya sengaja mengalihkan perhatian Kei dengan tidak mempertanyakan penyebab kemarahan anak kedua dari Puan Sri Latifah tersebut.
Kei masih diam, berusaha mengendalikan kemarahannya di depan Naya. Ia tidak mau membuat gadis itu ketakutan lagi seperti semalam, saat Kei bertengkar dengan kedua orang tuanya, Puan Sri Latifah dan Tan Sri Abdul Hamid.
Kei menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, sebelum akhirnya menjawab Naya.
"Mhemm ... pesanan makanannya sudah sampai. Abang sudah letak di meja makan. Pakaian ganti Nay juga sudah ready", ujarnya mengarahkan dagunya ke tempat tidur.
"Really?" Naya mengerjapkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa? Ia baru saja terpikir untuk meminta tolong Kei memesankan satu stel pakaian lengkap untuknya, namun sengaja diurungkannya saat melihat Kei yang sedang tidak baik-baik saja.
Sesaat kemarahan Kei teralihkan dengan tingkah Naya yang selalu terlihat menggemaskan di matanya. Hanya dengan kerjapan mata saja, Kei sudah kembali jatuh dalam pesona seorang Kanaya Khairunnisa.
Kei segera memalingkan pandangannya ketika secara tak sengaja matanya singgah di leher jenjang Naya yang terekspos sempurna. Fantasi liarnya berkelana seketika. Oh, shi**t! Kei merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Well, Abang tunggu di meja makan, ya?" berkata begitu Kei melangkah keluar kamar sambil menggaruk tengkuknya.
Naya yang masih belum sepenuhnya menyadari perubahan tingkah Kei, memilih untuk segera membuka paper bag yang tadi ditunjuk Kei.
Rekahan senyum sumringah langsung merona di wajah putih Naya. Matanya terlihat penuh cahaya saat tangannya terulur untuk menyentuh gamis berwarna pastel dengan jilbab dan niqab senada. Itu salah satu warna kesukaannya, dan Kei tahu itu.
Setelah berpakaian lengkap Naya segera keluar menuju ruangan makan. Terlihat Kei telah menunggunya dengan makanan yang sudah terhidang, siap untuk disantap.
Semakin mendekat, Naya mengernyitkan matanya dengan hidung yang kembang kempis membaui sesuatu yang sangat dikenalnya.
Naya membulatkan matanya lebar saat mendapati dua porsi makanan di meja makan. Sate Padang!
"Sate?! Woaww!! It's really a big surprise! Thank you so much, Abang!" Naya melonjak gembira, saking senangnya ia merentangkan tangannya pada Kei, berniat untuk memeluk.
Kei tersenyum simpul. Ia tahu gadis di depannya itu sedang berada di ambang batas titik sadarnya karena terlalu bahagia.
Kei yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut, bersegera membuka kedua tangannya untuk menyambut pelukan Naya. Namun,
Ting ting! Ting ting!
Denting lantang bel di pintu masuk menjeda pergerakan keduanya.
Naya terperagap. Kesadarannya timbul seketika. Wajahnya memerah seperti cherry matang siap untuk dipetik.
Kei berdecak kesal. Momen langka yang diidamnya sudah di depan mata, tinggal satu langkah lagi. Tetapi sepertinya semesta memang belum merestuinya.
Dengan gerakan malas, Kei melangkah menuju pintu. Membuka sedikit daun pintu, berniat sekedar melongokkan kepalanya. Namun baru saja Kei menyembulkan kepalanya, dorongan kuat dari luar memaksanya untuk membuka lebar pintu apartemen.
Kei terpaku. Sosok perempuan separuh baya, dengan wajah khas aristokrat yang tegas berdiri di depannya. Cantik, anggun dan selalu tampil elegant namun seperti biasanya, terlihat angkuh di mata seorang Kei Hasan.
Perempuan separuh baya itu menatap Kei tak berkedip. Manik hitamnya menyorot tajam.
"Mana Naya?!"
...***...
To be continued
Mohon maaf sebelumnya pada teman-teman yang sudah nungguin. Satu bulan tidak bisa update karena berbagai halangan, mulai dari tugas di dunia nyata, sampai dengan anak-anak yang harus dirawat di RS. Namun insyaa Allah, mulai hari ini akan rutin kembali updatenya. Terimakasih atas dukungan semuanya. Selamat membaca..😊😊
__ADS_1